Sinta dan Keenan

1257 Words
"Weeee ... beneran ini kalian memang pacaran?" Adit berlari memukul bahu Keenan dari belakang. Laki-laki itu begitu antusias melihat teman misteriusnya yang tidak pernah mengumbar hal-hal pribadinya itu sekarang kedapatan tengah dekat dengan seorang wanita. Keenan terlihat ramah dengan siapa saja, tetapi sebenarnya dari pada dengan yang lain, laki-laki itu yang paling jarang berbaur dengan yang lainnya. Hanya dengan Adit, Raka, dan Beni sajalah dia bisa berbicara dengan santai. Walau banyak perempuan yang tertarik dengannya pun, tidak pernah terlihat sama sekali dia menanggapinya. "Muka lo kayak abis ketangkap basah aja, Keen?" tanya Adit macam detektif. "Jadi beneran?" Adit menyenggol lengan Keenan. Niat Adit sih bukan apa-apa. Sekedar ingin bercanda saja dengan Keenan, mereka pacaran pun sebenarnya tidak penting juga buatnya. Akan tetapi mengapa ekspresi keduanya seperti orang yang tengah terciduk oleh Satpol PP? Keenan dan Sinta saling tatap. Laki-laki itu ragu apa yang seharusnya ia katakan kepada Adit. Apakah ia harus mengakui jika sebenarnya dirinya memang tengah menjalin hubungan dengan Sinta? Toh ini juga hanya Adit, bukan orang lain. Dirinya merasa tidak ada yang salah dengan hubungannya dengan Sinta. "Maksud lo?" Sinta menatap Adit sengit. orang-orang kepo ini yang paling dihindarinya. Kenapa pacarnya mau-maunya berteman dengan makhluk kepo ini? Sama sekali tidak ada manfaatnya. Jari Adit menunjuk Keenan dan Sinta secara bergantian. "Kalian pacaran?" ulangnya sekali lagi. "Kenapa sih muka kalian tegang amat? Santai aja kali...." Keenan masih belum tahu apa yang mesti ia katakan kepada Adit. Ia takut apa yang nanti dia katakan, akan membuat kekasihnya itu merasa tidak nyaman. Alhasil laki-laki itu hanya diam, memutuskan menunggu Sinta yang akan menjawab asumsi dari temannya itu. Jujur dia tidak pernah masalah, jika hubungan mereka diketahui oleh orang lain. Sinta melipat tangan di d**a mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berdecak. Jujur dirinya paling malas, jika harus meladeni orang-orang seperti Adit, yang selalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi orang lain. Dirinya pacaran apa tidak dengan siapa pun juga bukan urusan Adit atau teman-teman Keenan yang lainnya. "Lo kepo banget sih! Ayo Keen lo jadi nebengin gue gak?" Sinta menarik lengan Keenan dengan tidak sabaran, sebelum dirinya benar-benar marah. Bisa gawat kan jika ada orang lain yang lewat dan tahu kalau dia dan Keenan menjalin hubungan. Itu akan berdampak buruk sekali bagi dirinya. "Kalau setiap cewek mau nebeng teman kantor disebut jadian, bisa kali pacar gue satu kantor," sarkas Sinta. Hati Keenan mencelos. Sedih dengan apa yang baru saja didengarnya. Karena secara tidak langsung Sinta menyangkal hubungan mereka. Bahkan hanya di depan Adit sekali pun. Semalu itu kah sang kekasih berpacaran dengan dirinya? Meskipun Keenan sudah berkali-kali menyiapkan hatinya untuk ini, tetapi sayangnya hatinya tetap saja merasa sedih saat kekasihnya itu masih saja tidak mau mengakui dirinya. Tidak tahu lagi akan berbuat apa, akhirnya ia memutuskan menyudahi acara interogasi terselubung dari Adit. Sebelum suasana akan menjadi lebih canggung lagi. "Gue duluan, Dit. Makanya jangan sotoy lu?" Keenan mencoba memaksakan senyumnya. Ia lalu membalas pukulan Adit berharap bisa sedikit mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sangat akward ini. "Gue duluan," pamitnya kemudian. Adit mengangguk dan menggaruk kepalanya salah tingkah. "Kenapa suasana ini menjadi canggung sekali?" batinnya. Adit lalu berbalik, menunduk, memegang kaca spion mobil, lalu mengamati wajahnya yang jelas sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tadi. "Gak jelek-jelek amatlah muka gue. Ya ... asal memang jangan disandingkan dengan Keenan...," lirihnya sambil memegangi dagu, menoleh ke kanan lalu ke kiri. Duuuk...!!!! Kening Adit terpaksa bersilahturahmi dengan kaca spion mobil yang baru saja ia gunakan sebagai pantulan wajah tampannya, saat dengan sengaja seseorang mendorongnya dari belakang. Ia pun mengusap pelipisnya sembari menggerutu. Dia cemberut agar orang yang sekarang ada di depannya itu tahu, jika dirinya sedang marah. Tapi dasar manusia kadung laknat. Walau Adit sudah menampilkan tampang juteknya sekali pun, temannya itu malah tertawa. "Njiir... lo ngapain ngaca sambil cengar-cengir, Dit? Kasihan tahu kaca mobil gue. Dia gak salah apa-apa," ejek Beni. Adit menarik napas lalu menghembuskannya. "Gue cuma mengagumi ketampanan gue, Ben." "Gue pikir lo mendadak sarap." "Enak aja!!!" "Udah puas? Gimana, sudah ada tanda-tanda ganteng belum?" Adit menatap sebal temannya itu. Kalau ini film kartun mungkin asap mengepul sudah terlihat jelas di atas kepala miliknya. "Kenapa sih lo ngledekin gue mulu?" Beni terkekeh. "Ngambekan lo kayak cewek." "Mulut lo!" Beni kembali terkekeh. "Gue duluanlah..." Beni menggeser tubuh Adit dengan paksa. "Minggir lo! Buruan atau mau nebeng? Nyupirin gue gitu...." Adit menghela napas lalu menatap Beni serius. "Lo jomblo, Ben?" Beni menoleh menatap Adit geli. "Lo mau nembak gue?" tanyanya lalu. Adit bergidik pura-pura membersihkan badannya. "Amit-amit," balasnya kembali mendekati Beni. "Kenapa ya orang ganteng seperti kita ini kebanyakan jomblo? Lo ganteng jomblo ... Keenan jomblo ... gue jomblo...." Beni menggelengkan kepala lalu membuka pintu mobilnya. "Sok tahu!! Lo aja kali yang jomblo!" "Lo uda ada pacar, Ben?" "Geli tahu Dit! Lo tanya gitu, berasa lo mau nyatain perasaan sama gue." "Idiiih ... baperan!" "Nanti kalo gue tersipu gimana?" "Amit-amit!" "Ben ... gue nebeng." Jessi tahu-tahu sudah berada di dekat mereka. Perempuan itu tanpa aba-aba memegang lengan Beni dengan manja, itu semua tak luput dari pandangan Adit. "Ih jangan pegang-pegang Jess! Bukan Muhrim!" seru Adit malah yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Sinta. "Kenapa sih lo, Dit?" "Kalo pegang gue gak apa-apa ... gue tadi abis pakai hand body Wardah." "Apa hubungannya?" "Kan katanya halal." "Najis!!!" Beni seketika tertawa terpingkal sampai memegangi perutnya. "Nebeng gue aja Jess. Gue udah berstempel halal MUI," rayu Adit sekali lagi. Dia tidak akan pernah pantang menyerah, apalagi berhubungan dengan wanita cantik. "Gue mau nebeng juga pilih-pilihlah ... milih yang ganteng biar dikira gebetan. Kalau nebeng lo dikira naik gojek gue." Adit mencebik. Ini lagi cantik-cantik mulutnya juga pedas banget. "Abang gojek juga ada yang ganteng tahu, Jess!" "Ya uda pacarin aja." "Cantik-cantik mulutnya yaaaa...." "Seksi," sahut Jessi spontan sambil mengibaskan rambutnya. Beni lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Hiburan sekali melihat tingkah konyol dari teman-temannya ini. "Ben ... jangan tertawa gitu nanti gue suka," kata Jessi berusaha membikin Adit semakin panas. "Kecentilan lo!" "Kecantikan maksudnya?" Adit melengos ia harus segera pergi karena tidak baik melihat orang ganteng dan cantik berjalan bersama yang membikin jiwa julidnya semakin bergelora. * Sinta melengos begitu Keenan hendak akan menciumnya. Walau Keenan terkejut, tetapi ia masih bisa menyembunyikannya. Laki-laki itu lalu tersenyum dan mengusap kepala Sinta dengan sayang. "Istirahat ya...," ucapnya sambil menyerahkan makanan cepat saji yang ia beli di perjalanan tadi. "Jangan lupa makan," katanya lalu melambaikan tangan dan berbalik pergi setelahnya. Sinta mengangguk. "Hati-hati pulangnya,” gumamnya. Tentu saja tidak akan terdengar oleh Keenan, karena laki-laki itu sudah berjalan cukup jauh. Tanpa sadar Sinta meneteskan air matanya. Lagi, bukan karena ia tidak mau dengan ciuman yang akan diberikan kekasihnya. Akan tetapi, karena dia merasa tidak pantas untuk mendapatkannya. Sinta menatap kosong pantulan dirinya di dalam cermin. Ia menatap layar ponselnya yang sudah banyak sekali terdapat panggilan. Pertanda yang mengingatkannya pada aktivitas dia yang lain. Bayang-bayang raut wajah penuh kecewa dari Keenan sebenarnya begitu mengganggu Sinta. Dia menyukai kekasihnya dan yakin, juga sangat mencintainya. Akan tetapi rasa suka atau pun cinta saja tidak akan pernah cukup. Dia butuh sesuatu selain hanya rasa-rasa itu, uang misalnya. Sinta yakin Keenan akan mengerti dan tidak akan pernah melepaskannya. Bagaimana dia bisa hidup, jika hanya mengandalkan rasa suka terhadap lawan jenis? Bagaimana ia mencukupi kebutuhannya? Untuk tas-tas bermerknya, skincare, atau pun apartemen mewahnya. Itu semua tidak bisa ia dapatkan jika hanya menjadi seorang karyawan yang mengandalkan gaji UMR. Sinta keluar dari apartemennya. Kembali lagi ia keluar menuju taxi yang ia pesan dan pergi ke tempat yang telah dijanjikan. Dia cukup beruntung karena dalam beberapa tahun ini hidupnya terjamin. Ckckck ... apa itu bisa disebut beruntung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD