Keenan sungguh benar-benar tampak bodoh. Banyak mata selama ini yang ternyata selalu mengawasi dia di mana saja dan harusnya ia tahu. Senyum sinis kedua orang tuanya masih terpatri dengan jelas di dalam otak laki-laki itu, ketika dia menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. Ternyata keduanya hanya menunggu Keenan untuk berkata jujur. Itulah sebabnya tidak terlihat sama sekali raut keterkejutan dari wajah mama atau pun papa Keenan.
Keenan menghela napas berat. Kepalanya sekarang dipenuhi oleh apa yang dikatakan kedua orang tuanya beberapa waktu yang lalu. Papa dan mama Keenan mengatakan, jika memutuskan pertunangan dengan Ana adalah perkara yang mudah, asal laki-laki itu siap dicoret dari daftar anggota keluarga Bagaskara. Tentu saja Keenan belum seberani itu. Ia masih sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Drrrrrt ... drrrrrrt....
"Halo. Apa! Iya ... iya, aku ke sana sekarang."
Keenan segera bergegas begitu mendapatkan telepon dari Sinta yang terdengar begitu panik. Tidak biasanya kekasihnya itu terdengar tidak bisa mengendalikan diri.
Keenan berlari memasuki kantor polisi. Khawatir dan cemas berbaur menjadi satu sekarang ini. Apalagi melihat kondisi Sinta yang jauh dari kata baik. Begitu berjalan lebih dekat laki-laki itu dapat dengan jelas melihat luka-luka yang ada di wajah sang kekasih. Pipi sebelah kiri tampak kemerahan, terluka, dan sedikit berdarah. Bibir wanitanya juga tak kalah mengenaskannya dan bahkan rambut yang selalu rapi itu sekarang tampak berantakan.
"Dia yang mulai duluan, Sayang ... dia ... issh!" Betapa terkejutnya Keenan, saat pandangan matanya mengikuti arah telunjuk Sinta. Di sana ia dapat melihat perempuan yang berstatus sebagai tunangannya tengah duduk tak jauh dari tempat mereka saat ini berdiri.
"Kebetulan macam apa ini?" batin Keenan sembari memijat keningnya frustasi.
Di sana Keenan dapat melihat Ana dengan tampilan yang tidak berbeda jauh dengan kekasihnya. Wanita itu memalingkan wajahnya begitu menyadari laki-laki itu tengah menatapnya. Terlihat ada darah yang mulai mengering di sudut bibirnya.
Keenan memegang kedua bahu Sinta. "Aku ke sana dulu," ucapnya lalu melangkahkan kaki menuju tempat Ana sekarang berada.
Keenan berjongkok di depan Ana. Menatap wajah tunangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue tahu, lo pasti yang salah."
Ana mengerjap. Walau dia tidak pernah berharap Keenan ada dipihaknya, akan tetapi mendengar kalimat singkat itu begitu menyentil egonya. Dia kira hubungan mereka sedikit lebih membaik, ternyata hanya pikiran bodohnya saja.
"Gue tahu cewek gue seperti apa." Sebab Keenan tahu siapa yang hobi berantem sejak SMA. Tak lain tak bukan itu adalah Ana.
Sebenarnya pun Keenan sadar, jika kalimat yang tadi diucapkannya juga bisa dikatakan jahat. Entahlah ... mungkin ini efek dari ceramah orang tuanya, sehingga Keenan melampiaskannya kepada Ana.
"Lo pasti yang bikin keributan."
Keenan bermaksud untuk lebih memancing amarah Ana. Dia harus membuat wanita itu setidaknya marah atau paling tidak memakinya. Tentu saja agar dia tidak begitu merasa bersalah. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Ana hanya diam, seperti tidak menganggap dirinya ada apalagi berbicara.
"Lo dari dulu ternyata gak berubah, ya? Gue pikir setelah dewasa, lo gak bakalan ngelakuin hal kekanak-kanakan kayak gini. Ternyata bertambah umur gak berpengaruh apa-apa."
Ana tertawa mengejek. "Udah?"
"Maksud lo?"
"Terserah ... gue gak mau susah-susah menjelaskan apa pun. Karena apa? Karena lo pasti gak akan percaya sama gue. Lo terlalu percaya dengan cewek lo itu."
Keenan lalu mencoba lebih mendekat, menyejajarkan tubuhnya dengan Ana. "Setidaknya lo jelasin ke gue, kenapa lo berantem sampai segininya sama cewek gue, An...," katanya lirih hampir tanpa tenaga. Hati kecilnya sebenarnya tidak begitu yakin, jika Analah yang memulai masalah terlebih dahulu.
Keenan mencoba memegang luka di sudut bibir Ana. Tetapi, buru-buru wanita itu menepisnya.
"Apa-an sih!" seru Ana terlihat tidak suka.
"Kamu sebagai penjamin dari siapa? Atas nama nona Sinta atau Ana?" Polisi berseru dari arah meja kerjanya.
"Saya..." Keenan menatap Ana. "Penjamin dari Sinta, Pak." Berjalan laki-laki itu menuju tempat kekasihnya.
Setelah mengurusi semuanya akhirnya Sinta diperbolehkan untuk pulang. Tanpa sedikit pun menoleh lagi ke arah Ana, mereka berdua meninggalkan wanita itu begitu saja di kantor polisi. Seorang diri.
Ana berdecak. "Mereka benar-benar cocok. Keduanya sama menyebalkannya!" seru Ana walau hanya mampu ia dengar seorang diri.
Ana menatap ubin kantor polisi dengan mata nanar. Tidak ... dia tidak boleh menangis hanya gara-gara hal sepele ini.
Menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya, ia memutuskan menekan lama angka satu yang ada di ponsel miliknya. Sebuah nomor yang beberapa minggu ini tidak pernah lagi ia hubungi.
"Halo, Ben ... aku boleh minta tolong sama kamu?"
Beni sampai tiga puluh menit setelah panggilan yang ia dapat dari Ana.
Rasa khawatir yang menyelimuti dirinya saat mendapat telepon beberapa waktu yang lalu semakin menjadi, saat di sini ia melihat tampilan mantan kekasihnya itu. Hal yang sama, seperti apa yang dirasakan Keenan tadi begitu melihat Sinta.
Tanpa membangunkan Ana yang telah tertidur, Beni mengurusi segala macam administrasi untuk keperluan pembebasan mantan kekasihnya itu.
Beni membopong Ana dan memasukkan wanita itu ke dalam mobil miliknya. Laki-laki itu sempat berpikir keras, sebelum akhirnya memutuskan membawa perempuan itu ke sebuah tempat yang menjadi kenangan bagi mereka berdua. Tempat Beni mengungkapkan isi hatinya kepada Ana dulu.
Sunyi, hanya suara deburan ombak saja yang bisa didengar Beni. Cukup lama laki-laki itu menunggu Ana untuk membuka matanya, sampai bunyi lagu dari ponsel milik perempuan itu yang membangunkannya sendiri.
Buru-buru Ana mengangkat panggilan dari ponsel miliknya. Ia menjauhkan ponsel dari telinga miliknya saat suara cempreng dari sang mama tidak mampu ia tangkal lagi.
"Udah jam berapa ini? Kamu memang enggak pulang atau mau gak pulang sekalian sampai Mamamu ini jadi mayat, haaaah!"
Ana memijat telinganya mendengar mamanya mulai memarahinya. "Aku nginep di rumah Cika, Maaaa.” Cika pasti paham jika nanti mamanya sampai telepon.
"Kamu kenapa gak izin sama Mama? Hah! Mama ini kamu anggap apaa?!!!"
"Maaf, Ma ... keasyikan bercanda tadi sampai ketiduran. Maaf ya, Maaa...."
"Ya udah kalo gitu Mama tutup teleponnya. Jangan macam-macam kamu!"
"Beres, Ma! Assalamualaikum."
"Walaikumsallam!"
Ana bernapas lega sembari memperbaiki posisinya duduk di atas kursi mobil? Kursi mobil? Buru-buru ia menoleh. Jantungnya langsung berdebar tidak karuan saat mengetahui Beni di sana tengah memandangnya dengan setengah senyumannya.
"Eh ... aku gak suka ya senyum kamu cuma separo gitu ... nyebelin tahu enggak." Ana memegang ujung bibir Beni yang satunya, agar laki-laki itu dapat tersenyum dengan sempurna. "Nah, gini kan enak." Ia menatap hasil karyanya lalu tersenyum bangga.
Berbeda dengan laki-laki di depannya yang mati-matian menahan debaran di dadanya.
"Maaf ya, Ben ... aku tadi mau telepon Cika tapi keburu ingat, jika cika sedang ada di luar kota. Renata enggak mungkin juga.” Temannya itu sudah pasti sibuk. Dan jelas cari mati jika Ana sampai menghubungi orang tuanya.
"Iya enggak apa-apa. Aku juga lagi gak ngapa-ngapain," bohong Beni. Sebenarnya saat dihubungi Ana tadi, dirinya sedang berada di kantor.
"Kok aku gak sadar, kamu bawa ke sini? Gak berat, kan?" Ana tahu mereka sedang di mana sekarang ini. Tetapi, wanita itu tidak mau membahasnya lagi. Mungkin hanya kebetulan Beni membawanya ke sini. Ya, dia harus tetap berpikiran positif.
Beni tersenyum dan menggeleng. "Mungkin karena kamu kecapaian."
"Minta tolong antar aku ke hotel dekat sini aja, Ben. Aku gak mungkin pulang dengan modelan kayak gini. Sorry banget jadi ngrepotin kamu."
"Iya sebelum itu aku bantu obatin luka kamu dulu." Beni mengambil kotak P3K yang selalu ada di dash board mobilnya. Ana sendiri dululah yang menaruhnya di sana.
"Aku bisa sendiri kok." Ana mengambi kapas dan obat merah yang dipegang oleh Beni.
"Kenapa sampai berantem?" tanya Beni pada akhirnya.
"Bukan apa-apa ... lagi pengen aja," balas Ana lalu tertawa garing setelahnya.
Beni mengusap kepala Ana dan tentu saja wanita itu sampai menahan napas karenanya.
"Kamu gak mungkin gak berantem kalau gak ada alasannya."
"Menurut kamu gitu, ya?"
Beni mengangguk.
"Kok dia gak paham sih...."
"Siapa?"
"Lawan aku," bohong Ana.
*
"Sudah mau cerita?" Keenan membereskan kotak P3K yang tadi ia gunakan untuk mengobati kekasihnya.
"Cewek itu yang mulai duluan! Aku juga enggak tahu Sayang penyebabnya apa. udah aku bilang kan dia gak suka sama aku," kilah Sinta.
Keenan menatap Sinta tanpa ekspresi. Sebenarnya saat ini pikirannya tengah bercabang. Dia juga merasa bersalah dengan Ana, sebab meninggalkan wanita itu seorang diri di kantor polisi dengan keadaan yang jauh dari kata baik.
Rasa kalutnya bertambah, begitu dia mengirim orang ke kantor polisi sebagai penjamin agar Ana bisa keluar. Akan tetapi, wanita itu sudah tidak ada di kantor polisi. Keenan bahkan sampai menghubungi orang tua Ana, tetapi kedua orang tuanya bilang, jika anaknya memang belum pulang.
Keenan melihat jam di pergelangan tangannya.
Pukul dua pagi ....
Ke mana anak itu?
"Ana gak mungkin berantem kalau gak ada alasannya, Sayang." Keenan ingat betul, di SMA dulu Ana pernah juga berkelahi, sebab Cika sahabatnya itu ditampar oleh siswa dari sekolah lain.
Sinta mengernyit. "Kamu kenal Ana?"
"Dia satu sekolah dulu sama aku."
"Cuma satu sekolah ... atau--" Sinta sengaja memberikan jeda, menunggu sang kekasih mengatakan sebenarnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Sinta tertegun. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Keenan yang biasanya selalu mengalah dan menuruti apa maunya.
Sekarang bahkan dengan tatapan Keenan saja, Sinta merasa terintimidasi. Tetapi dia juga tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Masih enggak mau ngomong?"
"Kamu nyalahin aku?"
"Aku gak nyalahin kamu. Aku cuma bertanya sama kamu, Sayang...."
Meskipun kata-kata Keenan terdengar lembut, entah kenapa malah bikin Sinta kalang-kabut. Wanita itu bahkan beberapa kali memperbaiki duduk saking gelisahnya.
"Tapi kamu terdengar mojokin aku."
Keenan menghela napas. Apa lagi-lagi dia harus mengalah?
Dan kenapa dia jadi segusar ini?