Hari ini Ana memutuskan untuk tidak masuk kerja dulu. Dia tidak mungkin masuk kerja dengan tampilan macam preman habis dikeroyok warga seperti ini.
Tidak apalah, hitung-hitung istirahat dari semua masalahnya juga.
Kemarin sesuai prediksi dari Ana, mamanya benar-benar menelepon Cika. Untungnya sahabatnya itu sudah tahu apa yang mesti dilakukan, walaupun tanpa adanya briefing terlebih dahulu tentunya.
Cika sudah sangat pro memainkan perannya dari zaman sekolah, sehingga Ana tidak perlu mengkhawatirkan masalah tentang dirinya berbohong kepada sang mama. Ada temannya yang selalu bisa diandalkan.
Saat Ana sedang asyik bergumul dengan selimut hangatnya, tiba-tiba bunyi ketukan pintu yang bertubi-tubi mengganggu indra pendengarannya.
Buru-buru Ana masuk ke dalam kamar mandi dan keluar tiga puluh menit kemudian. Dia sengaja berlama-lama kendati dia hanya cuci muka dan sikat gigi saja.
Biar saja orang di luar itu lebih lama menunggu. Itu setimpal dengan ulah dia yang mengganggu aksi tidur nyaman Ana.
Rahang Ana hampir saja copot karena saking lebarnya ia membuka mulut. Wanita itu benar-benar terkejut melihat seseorang yang dengan jahatnya kemarin meninggalkannya seorang diri di kantor polisi, sekarang sudah ada di hadapannya. Lihat sekarang, bahkan wajahnya tidak menampilkan raut rasa bersalahnya di hadapan Ana.
Dan Apa-apaan itu? Muka jutek? Harusnya Analah yang berekspresi seperti itu.
Keenan dengan wajah yang selalu songong, tanpa permisi masuk ke dalam kamar hotel yang ditinggali Ana begitu saja. Walau wanita itu belum mempersilahkannya.
Ana mau tidak mau sepertinya memang harus banyak menyetok kesabaran di masa mendatang. Karena dia akan sering bertemu dengan laki-laki itu. Sebab, yah ... dia adalah tunangan Keenan.
"Lama banget sih ... boker ya, lo?"
Ana langsung berancang-ancang hendak menendang Keenan dari belakang. Ia urungkan saat tiba-tiba laki-laki itu berbalik menghadap dirinya.
Keenan duduk di ranjang Ana tanpa menunggu pemilik kamar mempersilahkannya terlebih dulu.
Yah ... sangat sopan sekali....
"Gue tahu dari Cika kalau lo mau nanya," tutur Keenan yang ternyata menyadari kebingungan Ana. Laki-laki itu sok sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya, seolah lebih menarik memandangi benda pintar itu dari pada manusia di sampingnya.
Padahal tanpa Ana sadari, itu semua hanyalah kamuflase Keenan untuk menutupi perasaan gugupnya. Laki-laki itu sebenarnya masih merasa tidak enak, perihal sikap dan kata-katanya kemarin.
"Siapa kemarin yang bikin lo bisa keluar?" Kali ini baru Keenan menatap wajah Ana. Mati-matian mempertahankan ekspresi wajahnya, bersikap seolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ana beranjak naik kembali ke atas ranjang. Bermaksud menemui bantal guling yang menemaninya kemarin malam, tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Keenan. Pertanyaan laki-laki itu membuatnya mengingat kejadian menyebalkan kemarin malam yang menimpanya. Mengingatkannya pada dua pasang love bird yang begitu sangat menjengkelkannya.
"An, gak usah berlagak gak dengar, deh ... budek beneran tahu rasa!" Kenapa dari semua kata-kata yang bergumul di otaknya, malah selalu kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya?
Ana otomatis menoleh menatap sinis mata Keenan. Perempuan itu bahkan sampai melotot saking sebalnya dengan ucapan Keenan. Tidak habis pikir dengan Laki-laki itu yang tidak ada inisiatifnya meminta maaf terhadap dirinya.
Ana pun menutup kepalanya dengan selimut, mencoba memejamkan mata berharap Keenan tahu diri dan meninggalkannya sendiri. Dia butuh sendiri mengumpulkan kesabaran yang selalu saja diuji.
Keenan berdehem. "An ... ayo nge-es." Keenan memukul kepalanya. Bisa-bisanya ucapan random yang malah keluar dari mulutnya. "An?" panggilnya lirih. Nge-es? Sialan kenapa sih dengan mulutnya ini?
"Ngapain sih lo pagi-pagi ke sini? Berisik! Gue mau tiduuur...."
"Gue bawa brownis cokelat nih." Padahal Keenan sebenarnya tidak membawa apa-apa.
"Lo mau nyuap gue?"
"Nyuap buat apaan?"
"Buat cewek lo! Siapa tahu lo takut kalo gue sampai menuntut cewek lo itu yang bikin wajah cantik gue kayak gini!" Ana menunjuk mukanya sendiri yang terdapat sisa-sisa bekas kejadian kemarin malam. "Lihat ini!"
Begitu Keenan mengikuti permintaan Ana, wanita itu malah terbatuk-batuk tidak siap melihat wajah Keenan dengan jarak yang begitu dekat.
Bisa-bisanya laki-laki menyebalkan itu malah menampilkan wajah polosnya yang seolah tanpa dosa.
Ana tidak boleh goyah.
"Terserahlah ... cepat ganti baju! Gue juga uda lapar nih ayo cari makan."
Nah kenapa Keenan malah yang lebih galak dari pada dirinya?
"Kalo gue gak mau?" Ana kembali berbaring menyelimuti dirinya sampai badan agar dirinya benar-benar tidak terlihat.
Tindakan yang tepat, An! Lo harus jaga gengsi. Kelihatan mahal, biar laki-laki itu tidak seenaknya sendiri.
"Kalo lo gak mau..." Keenan mendekat dan berbaring di sebelah Ana. "Gue juga ikutan tidur di sini." Jujur Keenan juga mengantuk sekali. Dia baru tidur jam lima pagi dan jam tujuh ia sudah berada di rumah Ana karena rasa khawatirnya.
Ana spontan terduduk dan mendorong tubuh Keenan sampai laki-laki itu terjatuh.
"Jahat banget sih lo!" Baru saja Keenan akan benar-benar tidur tadinya. Ia mengusap siku tangannya yang berdenyut.
"Tunggu di situ gue mau mandi!!!" Akhirnya ia kalah juga melawan Keenan.
Laki-laki itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya saking senangnya.
Dua puluh menit kemudian begitu Ana siap untuk pergi, dilihatnya Keenan malah tertidur pulas di ranjangnya.
"Dasar menyebalkan," gerutu Ana.
Dia pemilik kamar tetapi dia yang harus tidur di sofa. Persetan dengan sifat baik dan gak tegaannya ini.
Lagian siapa juga yang bisa tega melihat wajah bayi yang tengah tertidur itu?
Dia memang lemah. Kamu bodoh Ana.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar hotel. Keenan terbangun, rasa kantuk yang tadi sempat melanda sudah benar-benar hilang, badannya pun sudah kembali segar.
Keenan menoleh ke sekitar mencari sang pemilik kamar. Ia mengernyit, merasa bersalah saat melihat Ana meringkuk di atas sofa.
Keenan memandangi wajah Ana. Bibirnya tanpa ia sadari malah membentuk senyuman.
Tok ... tok ... tok....
Keenan segera tersadar kembali dengan alasan kenapa ia sampai terbangun barusan. Ia menoleh malas begitu ketukan pintu lagi-lagi terdengar. Dilihatnya jam ternyata sudah menunjukkan pukul tiga sore, lama juga ia tertidur.
Tok ... tok ... tok....
Keenan menghela napas lalu beranjak membuka pintu.
"Keen! Lo?" Beni mundur satu langkah. Laki-laki itu kembali melihat nomor pintu kamar untuk memastikan, jika dirinya tidak salah kamar. Kemarin malam ia masih sangat ingat dengan betul, kamar yang di tempati Ana benar nomor empat puluh empat. Benilah yang mengantarnya sendiri.
"Iya gue. Ana tidur," jawab singkat Keenan.
Beni tersenyum getir.
Seharusnya dia tidak harus sekaget ini. Mereka bertunangan, hal seperti ini wajar, kan?
Benilah yang lancang. Berani-beraninya dia masih menemui Ana, apalagi ini di hotel. Dia berharap apa?
Ingin sekali ia marah, tetapi dia bukan siapa-siapa. Dia tidak berhak.
"Jangan salah paham ... gue cuma mau memberi ini. Gue kira Ana belum makan." Beni menyerahkan sekotak ayam goreng kesukaan Ana beserta minuman yang juga ia ketahui sebagai minuman favorit gadis itu dengan buru-buru.
Keenan yang baru sadar dengan situasi saat ini mencoba tersenyum. Walau dia yakin senyumnya saat ini pasti terlihat aneh.
Hampir saja dirinya yang akan bilang, jika seharusnya Benilah yang tidak salah paham. Sepertinya Beni masih mengingat jika dirinya adalah tunangan dari Ana.
"Mau masuk?" tawarnya basa-basi.
"Enggak usah deh gue cabut aja," balas Beni kikuk.
"Ben ... lo kemarin yang ke kantor polisi?"
Beni mengangguk.
"Makasih."
Beni tersenyum palsu. Beni ingin mengatakan jika Keenan tidak perlu berterima kasih kepada dirinya, akan tetapi semua itu ia tahan.
"Siapa?" tanya Ana, begitu Keenan kembali wanita itu sudah bangun dari tidurnya.
"Beni, dia beri ini." Keenan meletakkan apa yang diberikan Beni tadi di atas meja.
"Beni!!!"
"Kenapa?" tanya Keenan sambil memutar bola matanya.
"Kenapa juga Ana selalu sehisteris itu mengenai Beni?" batin Keenan, entah kenapa ia merasa begitu sebal.
Seketika Ana berdiri. "Dia pasti salah paham!!" Perempuan itu pun berancang-ancang untuk pergi menyusul Beni. Akan tetapi, Keenan menahannya.
"Mau ke mana?" tanya laki-laki itu.
"Nyusulin Benilah."
"Dia udah jauh! Kenapa sih?"
Buru-buru Ana mencari ponselnya berniat untuk menghubungi Beni. Setidaknya dia harus menjelaskan agar laki-laki itu tidak salah paham.
"Lo mau telepon siapa?"
"Benilah!"
Keenan langsung merebut ponsel Ana dengan paksa begitu perempuan itu baru saja menemukan benda pipih itu di dalam tas miliknya. "Gak usah," cegahnya.
"Apaan sih lo!"
"Emang kenapa kalo Beni salah paham?"
Ana kembali akan bersuara lalu mengatupkan mulut pada akhirnya. Setelah ia pikir-pikir memang ada benarnya juga pertanyaan Keenan. Dirinya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Beni.
"Siniin ponsel gue!"
"Makan dulu, gue laper." Keenan mencomot ayam dari Beni tadi dan mengantongi ponsel milik Ana ke dalam saku celananya.
Ana menatapnya sengit. "Itu ayam gue!"
"Siapa yang pegang pertama kali?"
"Benilah!"
"Bukanlah .... ya yang jual ayamlah ... tapi maksud gue, siapa yang mengambil ini tadi?"
"Lo!!" seru Ana. Dia jelas tahu maksud dari Keenan. Laki-laki yang selalu konsisten dengan sikap menyebalkannya itu.
"Ya berarti ini milik gue."
Nah ... benar, kan? Keenan akan selalu seperti itu. Selalu saja seenaknya sendiri.
"Tapi ... Beni beri ini buat gue."
"Ya udah indahnya berbagi kan, An."
"Malas banget."
Keenan terkekeh sambil tetap memakan ayam pemberian Beni dengan masa bodoh.
"Eh Keen, katanya lo tadi bawa brownis?"
Keenan malah tersenyum lebar menatap Ana.
Ana memutar bola matanya malas. "Lo asal ngomong pasti dasar!"
"Sorry An nanti aja gue beliin, ya?"
"Demi apa kita tunangan, Keen!" Bisa-bisanya orang tuanya menolak Beni dan malah menjodohkan dirinya dengan laki-laki macam Keenan.
Betapa suramnya masa depannya. Takutnya suatu saat nanti, saat dirinya hamil dan mengidam tengah malam, Keenan malah bilang nanti aja belinya ya, An kalau bayinya sudah lahir.
Ha! inginku berkata kasar.
Hamil? Dengan Keenan?
Ana pasti sudah gila!
Sepertinya memang dia banyak hutang di kehidupan sebelumnya.