"Sorry ... sorry uda lama nunggu, An?"
Ana menyenderkan punggungnya di sofa sebuah restoran cepat saji. Memutar bola matanya sembari melipat kedua tangan di d**a. "Lo yang minta ketemu dan gue yang selalu harus nunggu. Bagus banget! Nyebelinnya benar-benar gak tanggung-tanggung, ya?" sindir Ana.
"Sorry ... baru juga tiga puluh menit, An," Keenan seperti biasa selalu saja berkilah tidak mau kalah.
"Baru tiga puluh menit lo bilang? Lo kira gue gak ada kerjaan lain apa selain nunggu lo? Gue ini orang sibuk, kalau lo gak tahu. Tiga puluh menit itu berharga banget buat gue!"
"Mbak-mbak pesan coffe lattenya satu. Lo mau pesan lagi?" Keenan seperti biasa tidak mengindahkan amarah Ana.
Ana menarik napasnya jengkel. "Kenyang gue!"
Keenan terkekeh saat melihat bekas makanan dan bergelas-gelas minuman di atas meja. Cukup jelas menandakan seberapa lama Ana menunggu dirinya.
"Lo ada urusan apa panggil gue?"
"Gue kemarin udah ngomong sama orang tua gue tentang kita sebenarnya."
"Terus?"
"Ya mereka gak setujulah buat ngebatalin perjodohan kita. Malahan gue mau dicoret dari dalam kartu keluarga"
"Bagus dong."
"Bagus lo bilang?"
"Ya mana ada sih mantu seperfect gue sih emang." Ana mencondongkan tubuhnya mendekati Keenan. "Yang abal-abal sih banyak!" sambungnya.
Keenan melempar tisu ke muka Ana. Secara tidak langsung dia mengatai Sinta dong, ya?
Ana cemberut dan balik melempar gumpalan tisu ke arah Keenan. "Apa-apan sih lo!"
"Gantian lo yang bilang ke orang tua lo, kalau lo gak mau nikah sama gue."
"Kalo gue gak mau?"
"Lo mau nikah sama gue emang? Jangan-jangan lo sebenarnya ada rasa sama gue, An?"
"Sembarangan! Amit-amit!" seru Ana.
Ana hanya khawatir, jika orang tuanya malah bakalan menjodohkannya dengan orang lain. Meskipun kenyataannya dia tidak menyukai Keenan, setidaknya mereka sudah saling kenal satu sama lain.
Membayangkan jika harus menikah dengan seseorang yang dia tidak pernah lihat sebelumnya, seketika membuat bulu kuduknya meremang begitu saja.
"Terus?"
"Kalau gue dijodohin sama orang lain, gimana?"
"Bagus dong asal gak sama gue."
"Jahat banget sih lo, Keen...."
Ana memejamkan matanya berharap bisa mendapatkan sebuah ide, agar mereka tidak harus melanjutkan rencana kedua orang tua mereka.
"Lo kalo mau tidur jangan di sini deh, An."
Ana terjingkat. Hampir saja ia ketiduran beneran. Otak Ana memang susah jika diajak untuk berpikir.
Ana terkekeh. "Iya deh ... nanti gue bilang sama orang tua gue." Paling tidak dia harus usaha terlebih dahulu. Semoga orang tuanya berbaik hati membiarkan Ana mencari jodohnya sendiri. Laki-laki masih banyak di belahan dunia ini. Iya, kan?
Lagi pula Ana juga tidak setidak laku itu untuk orang tuanya ikut campur dengan siapa dia mau menikah suatu saat nanti. Dia hanya perlu waktu untuk menemukan siapa yang cocok dengan dirinya, selain Beni. Ya ... selain Beni.
Ana jadi teringat lagi kan jadinya dengan Beni. Mana bisa ia move-on dengan mudah, jika selalu seperti ini.
"Beneran, ya?"
"Gue gak suka ya, lo nyuruh-nyuruh gue!" Keenan selalu seenaknya sendiri, tanpa peduli dengan apa yang Ana rasakan.
Tapi, memang siapa Ana yang harus dipedulikan oleh Keenan? Dia harus tahu diri, kan? Yang laki-laki ini pikirkan memang selalu tentang dirinya dan kekasihnya. Ana mah apa cuma seonggok upil yang disentil lalu hilang terbawa angin.
"Minta tolong, Ana...."
"Pakai cantik dong."
"Ogah!"
"Palai cantik, Keen ... gimana? Minta tolong Ana cantik gitu aja, apa susahnya sih!"
"Susaaah bangeet, An. Gue gak bisa bohong orangnya."
"Resek lu!"
"Oke kalau gitu gue cabut, ya. Mau pacaran."
"Lo ninggalin gue? Lagi?"
"Jangan kayak istri pertama yang lagi cemburu deh, An ... bye!" pamit Keenan buru-buru.
"Lo yang ngajak ketemuan dan lo ninggalin gue? Gak percaya gue, lo ternyata setega itu orangnya," ucap Ana menggelengkan kepalanya.
"Manja banget sih biasanya juga pulang sendiri. Gue duluan!" Kali ini Keenan benar-benar pergi.
Ana cemberut menatap Keenan yang telah berjalan pergi. Manusia apa sih, itu anak? Jahatnya kok ya sampai ke tulang-tulang.
Ana hendak akan beranjak, ia urungkan begitu melihat Keenan kembali lagi menemuinya.
"Ayo jalan sama gue!" ajaknya dengan tampang masam.
"Katanya mau pacaran?" Ana kembali mendaratkan bokongnya di tempatnya semula.
"Cewek gue lagi repot katanya."
"La terus gue harus terima hibahan dari cewek lo? Ogah minggu-minggu gini enaknya rebahan."
"Eh An, lo tahu berita viral gak?"
"Berita apaan?"
"Ada cewek ditemukan meninggal dunia lantaran kebanyakan rebahan."
"Lo nyumpahin gue, Keen?"
"Enggak ... cuma ngingetin aja sih. Banyak rebahan itu gak baik tahu. Kalau aliran darah lo sampai tersumbat, karena saking banyaknya rebahan gimana, An? Gue sih mengingatkan aja sih, ya...."
"Masak ada yang kayak gitu, Keen?"
Keenan terkikik dalam hati. Otak Ana memang kadang kurang sepersen deh kayaknya.
Keenan mengangguk dengan tampang seriusnya. Bodohnya Ana percaya.
"Ya uda deh ayo jalan ke mana?" Keenan bersorak dalam hati.
"Dufan yuk!"
Ana melotot. "Gue harus cek akta kelahiran lo deh, Ken kayaknya."
"Kenapa?"
"Gak mungkin umur lo dua puluh tujuh tahun. Fiks lo persis kayak anak umur lima tahun."
Keenan mengerucutkan bibirnya lalu melipat kedua tangan di d**a. "Ada yang salah ke dufan emang? Orang dewasa gak boleh apa ke dufan?"
Ana mengibaskan tangannya pasrah. "Gak ada yang salah deh, Keen ... lo selalu benar. Bahkan cewek yang katanya selalu benar aja kalah kalau sama elo."
"Ok, legooooooo!!!"
"Ogah mau pulang aja gue." Ana berbalik arah menuju parkiran.
"Ayo An cuuus!" Tentu saja seorang Keenan tidak menerima penolakan. Ia buru-buru menggandeng lengan Ana agar bersedia menemaninya. Beruntungnya kali ini wanita itu tidak lagi berontak.
Hampir setengah permainan mereka jajal. Saling tantang satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah. Hingga waktu tak terasa sudah menunjukkan angka empat sore saja.
"Haduuuh kaki gue rasanya kayak mau meninggal!" Ana mengurut kakinya kelelahan.
"Hahahaah...."
Bahagia sekali Keenan melihat ekspresi Ana. Lagaknya saja tadi ogah-ogahan, sesampai di sini malah dia yang paling antusias. Perempuan itu tak henti-hentinya mengajaknya untuk bertanding. Menentukan siapa dari mereka yang paling kuat menaiki berbagai macam wahana.
"Beliin minum!"
"Lo aja deh."
"Ayolah, Keen ... capek gue."
"Oke deh." Keenan pun akhirnya beranjak untuk membelikan minuman untuk Ana. Hitung-hitung sebagai ungkapan rasa terima kasihnya karena telah bersedia menemani dirinya hari ini.
Kalau tidak ada Ana, dia pasti bakalan uring-uringan dikarenakan hanya berdiam diri di apartemennya seorang diri. Mendadak Sinta memiliki urusan penting, jadi ceweknya itu membatalkan janjinya.
Lima belas menit kemudian, Keenan datang dengan membawa minuman dan berbagai camilan untuknya dan Ana. Mereka duduk berdampingan sekaligus memandangi orang-orang bertampang tertekan yang sedang menaiki salah satu wahana ekstrem di sana.
"Kalau takut kenapa naik, sih?" celetuk Keenan spontan.
Ana menoleh "Apa kabar, Anda?"
"Gue gak takut ya...."
"Siapa yang panggil mama-mama, tadi?"
"Tiba-tiba keinget nyokap tadi, An." Mendadak Keenan teringat dosa-dosanya dengan orang tuanya begitu ia merasa dekat dengan ambang kematian.
"Ya uda iya ... sebahagia lo aja deh, Keen...."
Keenan tertawa sampai air matanya nyaris keluar. "Lo sensi amat sih An sama gue?"
Ana menoleh ke arah Keenan sambil menyatukan kedua alisnya. "Sensi dari mananya?"
"Dari matamu ... matamu ... matamu ... kumulai jatuh...."
"Stop! Jijik tahu gue.”
"Gue punya band lo, An."
"Band SMA lo itu? Ingat, lo itu bukan vokalisnya. Seingat gue lo pemain drum, kan?"
"Ya, kenapa kalo gue main drum?"
"Itu udah menjelaskan semuanya, Keen. Kalau saja suara lo bagus, lo gak mungkin bukan yang jadi vokalisnya."
"Tapi gue ganteng."
"Demi apa?"
"Demi Tapasya!"
Ana memukul kepalanya sendiri.
"Ayo Keen kita pulang, dari pada pikiran jahat gue keluar."
Keenan tersenyum. Lagi-lagi semenyangkan ini berdebat dengan Ana.