Bianca mengambil ponsel, menekan informasi kontak untuk menghubungi Raymond, dan berhasil menemukannya setelah dua kali menggulir secara hati-hati. Ternyata kontak tersebut diberi nama "Ice Robot". Bianca mendesah panjang, kemudian tersenyum getir.
Raymond adalah lelaki tanpa hati yang hanya tertarik pada sesuatu secara fisik. Baik bisnis, wanita, maupun kesenangan, semua itu tak ubahnya objek mati sebagai aktifitas harian. Tak ada perasaan yang diinvestasikan, tak ada hati yang terlibat di dalamnya. Itulah kenapa Bianca sebelumnya menganggap Raymond sebagai manusia es. Sementara julukan robot, itu didasari pada kinerja Raymond yang terlalu terstuktural sehingga tak berbeda seperti mesin yang disetting khusus. Raymond kerja jam sembilan, pulang jam delapan malam, bekerja lima puluh jam lebih dalam seminggu, hanya bersenang-senang di hari akhir pekan, dan selalu menggunakan wanita yang sama tak lebih dari dua kali.
Bukannya Bianca terlalu ingin tahu urusan Raymond. Tapi ia tak sengaja mengingat kebiasaan Raymond secara otomatis. Selama satu setengah tahun, setiap kali Bianca tak sengaja melihat Raymond bersama seorang wanita, dia tak pernah melihat Raymond menggandeng seorang wanita yang sama lebih dari dua kali. Entah lelaki itu mengidap obsesif kompulsif, atau entah Bianca yang kebetulan terlalu memperhatikan detail tak penting. Apa pun itu, di mata Bianca, Raymond sudah terlanjur dianggap robot.
Setelah memanggil Raymond dua kali dan tidak mendapat respon, Bianca mengerutkan kening tak suka. Akhirnya, Bianca menghubungi kantor Raymond. Kali ini diangkat, hanya saja yang mengangkatnya Aro, asisten kepercayaan Raymond.
"Nyonya, Tuan sedang mengadakan rapat dengan dewan direksi." Aro menjelaskan dengan nada datar. Tak ada fluktuasi sama sekali dalam nada suaranya. Tidak Aro, tidak Raymond, mereka sama-sama berkarakter dingin.
"Aro, apakah Raymond berencana pergi dengan pesawat?" Tak ingin basa-basi, Bianca langsung menanyakan pertanyaan inti.
"Ya. Dua setengah jam lagi, kami memiliki jadwal penerbangan ke Rio de Janeiro." Raymond memiliki perusahaan cabang di sana, dan kini sedang membuka lagi perusahaan lainnya yang perlu evaluasinya secara langsung. Selain itu, ada proyek besar yang menunggu persetujuannya saat ini di sana.
"Berapa kode penerbangan pesawat?" Karena Aro yang selalu mengurus keperluan Raymond, Bianca pikir pasti laki-laki itu tahu semua detailnya.
Mendengar pertanyaan Bianca, Aro sedikit curiga. Tidak biasanya Bianca bertanya urusan pribadi seperti ini. Bukankah ini aneh?
"Maaf, Nyonya. Itu bukan urusan Anda!" Aro menjawab pertanyaan Bianca dengan nada yang lebih dingin. Benar-benar pantas menjadi asisten Raymond.
Jika Bianca masih menjadi Bianca sebelumnya, ia pasti akan menutup telepon, tertekan oleh aura dingin Aro yang mampu ditransfer melalui telepon. Namun, mental Bianca saat ini sangat kuat sehingga respon Aro sama sekali tak memengaruhi dirinya.
"Aku hanya ingin tahu. Apa kaupikir aku akan mencelakakan Raymond hanya dengan kode penerbangan?" Bianca terdengar kesal. Dia hanya ingin memastikan, tetapi Aro sengaja mempersulitnya.
"Siapa tahu? Jika Mr. Rivera meninggal, Andalah yang diuntungkan dengan warisan beliau!" Jawaban Aro terlalu lugas dan apa adanya. Bianca yang mendengar ini hampir muntah darah. Siapa yang cukup gila mencelakakan Raymond sejauh itu? Meskipun Bianca tak bermoral, setidaknya ia bukan pembunuh yang bisa merencanakan hal-hal buruk di belakang punggung seseorang tanpa alasan kuat.
"Katakan pada Raymond, aku perlu berbicara dengannya. Penting!" Menyadari tak bisa mengorek informasi dari Aro, Bianca tak terlalu tertarik untuk mencari tahu lagi kode penerbangan suaminya. Meskipun tanpa memastikan kode penerbangan, Bianca cukup yakin firasatnya benar. Dia hanya harus mulai bertindak secara nyata.
"Maaf. Jadwal Tuan padat!" Aro tak memberikan celah sama sekali untuk memberikan kesempatan pada Bianca.
Tangan Bianca memukul meja, mulutnya menyebut beberapa kutukan tanpa suara. Sialan Aro. Lelaki itu terlalu angkuh, terlalu sombong, terlalu menyebalkan, terlalu mudah membuat amarahnya bergulung-gulung seperti tsunami.
"Jika tak ada hal penting yang perlu disampaikan, ada baiknya Anda kembali pada aktifitas Anda. Nyonya, kau perlu melakukan pengembangan potensi untuk mempertahankan standar mentalmu!"
Sambungan terputus. Bianca menatap ponsel di tangannya, kutukannya semakin sering terdengar dengan jejak kekesalan.
Aro … dia benar-benar keterlaluan. Laki-laki itu tampaknya bosan hidup tenang. Berani-beraninya dia berkata seperti itu?
Melano membawakan air putih untuk Bianca, menatap ekspresi kemarahan atasannya degan bingung. Dia hanya meninggalkan Bianca tak lebih dari lima menit, tetapi tampaknya ada sesuatu yang tak menyenangkan telah terjadi.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Melano, ingin memastikan.
"Aku harus pergi. Ada urusan yang perlu kutangani. Mela, sampaikan beberapa agenda rapat untuk besok pada beberapa manajer yang terkait!" Tidak menunggu Mela merespon, Bianca sudah pergi terburu-buru dengan tas channel kecil di tangan, meninggalkan ruang kantor dengan suata langkahnya yang nyaring.
Bianca datang ke kantor Raymond, mengendarai bentley dengan kecepatan sedang. Sebenarnya, dia ingin menambah kecepatan, tapi mengingat Bianca tak ingin ditilang, dia terpaksa mengontrol kecepatannya.
Lima belas menit kemudian, Bianca tiba di kantor Raymond dengan alamat yang ia ingat dari warisan memori lamanya.
Kantor Raymond merupakan gedung lima puluh dua lantai dengan desain modern yang menggunakan warna-warna berani. Kantor Raymond sendiri menempati lantai satu hingga enam. Dari lantai tujuh ke atas, semuanya disewakan dan dijual pada pihak lain.
Saat Bianca tiba, kebetulan Raymond baru saja menyelesaikan rapat dan tengah bersiap-siap pergi. Mereka berpapasan di lorong lantai satu. Bianca yang melihat Raymond berjalan cepat diikuti Aro dengan tas hitam sedang, langsung menghentikan mereka.
"Raymond, aku perlu bicara denganmu!"
Hampir saja Bianca terlambat. Sedikit saja ia datang lebih lambat, Raymond dan Aro pasti sudah berangkat ke bandara.
"Aku tak punya waktu!" Raymond menatap dingin ke arah Bianca, terus berjalan cepat tanpa menoleh hingga ke area parkir. Bianca membuntutinya dengan setengah berlari.
"Ini sangat penting. Aku punya banyak pertanyaan terkait perusahaan yang aku tangani dan aku perlu beberapa saranmu. Kau ahli dalam bisnis, pendapatmu pasti sangat membantuku!" Bianca meraih lengan Raymond, mencoba menghentikannya.
Aro menatap Bianca dengan tatapan menyepelekan. Sebelumnya dia sempat penasaran, berpikir entah bagaimana Bianca telah berubah sikap menjadi lebih baik dan elegan. Tapi tampaknya semua itu ilusi. Lihat saja tingkahnya sekarang. Wanita itu menghalangi Raymond mendatangi kesempatan penting.
"Diam!" Raymond terganggu oleh tindakan Bianca yang tiba-tiba.
Seorang sopir segera membukakan pintu porsche untuk Raymond dengan terburu-buru saat melihat majikannya telah tiba di sisi mobil. Aro berjalan memutar, membuka pintu mobil dari sisi lainnya. Dia menatap arloji, memperhitungkan waktu yang tersisa dengan akurat.
"Ke bandara. Cepat!" Raymond yang melihat waktunya mepet, segera memerintahkan sang sopir.
Mendengar ini, Bianca kehilangan kepura-puraannya. Dia menahan saat pintu mobil akan menutup, menarik lengan Raymond dengan sekuat tenaga.
"Raymond. Ada sesuatu yang benar-benar perlu kubicarakan denganmu! Ayo kita ke restoran terdekat agar lebih nyaman!" Bianca bukan hanya membujuk, kali ini nadanya setengah memaksa. Seolah-olah dengan cara ini, Bianca bisa lebih mempertahankan Raymond.
"Jangan halangi aku. Ada pertemuan bisnis senilai jutaan dollar yang menungguku!" Untuk membungkam tindakan tak masuk akal Bianca, Raymond memberikan alasan utama dengan suara yang tak sabar. "Ayo!" pintanya pada sang sopir.
"Tidak. Tidak. Jangan pergi. Kau tak boleh pergi, Raymond! Terserah kau percaya atau tidak. Tapi baru saja temanku yang memiliki kemampuan khusus bilang, ada hal-hal buruk yang akan terjadi pada penerbangan tertentu!" Bianca mengucapkan kode penerbangan dan nomor ekor pesawat yang rencananya Raymond gunakan. "Aku mendapat firasat itu adalah penerbangan yang akan kaugunakan. Jadi tolong, batalkan saja penerbanganmu dan ambil pesawat sesudahnya!"
…