Bab 1, Daffin Kembali

1674 Words
Dua tahun kemudian, di sebuah universitas x, Nathalie baru saja merayakan hari wisuda bersama para temannya. Dia lulus dengan nilai yang memuaskan, meski pun dirinya hanya mengambil jurusan yang paling mudah yaitu sosiologi dia tetap berbangga hati. Kenapa Nathalie lebih suka jurusan sosiologi? Yang pasti karena dia tidak mau capek-capek menguras isi otaknya demi mendapatkan predikat sarjana yang terlalu rumit dan sulit. Seperti saat ini, semua teman satu jurusan berkumpul dengan orang tua dan keluarga dekat dan orang spesial mereka di aula. Namun tidak dengan Nathalie, dia memilih duduk di kursi paling pojok sambil memperhatikan kebagiaan yang terpancar yang dirasakan teman-temannya. Hanya dia yang tidak ditemani keluarga atau orang yang mau memberinya selamat di hari membahagiakan ini. Mama dan Papa sibuk dengan pekerjaan mereka di luar negeri. Mama sedang stay di New York melakukan pemotretan. Papa sibuk dengan bisnis dan pacar barunya. Entahlah, Nathalie tidak begitu peduli dengan hidup orang tuanya. Menurutnya, semua orang tak ada yang mau peduli dengan kebahagiaannya. Bahkan sahabat terdekat satu-satunya, Daffin juga tidak ada kabarnya setelah dua tahun pria itu pamit pergi keluar negeri. “Ah, kenapa aku merasa bodoh sendiri melihat yang lain bersuka cita dengan keluarganya,” ucap Nathalie menghela napas lemah. Dia menendang-nedang kecil gelas bekas minuman plastik di bawah kakinya. Acara sudah hampir selesai, dia berjalan keluar ruangan untuk mencari udara segar. Tak ada gunanya mengharapkan sesuatu yang tak akan pernah terjadi, seperti kedatangan orang tuanya yang memberi kejutan tiba-tiba mungkin? Itu sama sekali khayalan bodoh baginya. Tak mau ambil pusing dengan hal itu, Nathalie mengambil ponsel di hand bag dan berselfi untuk merayakan harinya sendiri. “Nath, nanti malam kita kumpul bareng teman yang lain di club X ya. Kita mau party sebelum berpisah,” tiba-tiba Hani datang menghampirinya dari belakang. “Oh, oke,” sahutnya dengan senyum terpaksa. Baiklah, setidaknya party bareng teman di club lumayan menarik daripada dirinya harus meratapi kesendirian. Toh, si tukang atur hidupnya sudah tidak lagi sekarang. Entah dimana dan kemana perginya Daffin kini, sejak pamit pergi keluar negeri 2 tahun lalu mereka sudah tidak lagi bertukar kabar. Jangankan mengirim satu chat, sedikit kabarnya saja sudah tidak lagi terdengar. Padahal selama ini dia paling merindukan sosok Daffin, pria dingin yang terus memberinya perhatian dan suka mengekang. Nathalie melepas jubah wisudanya dan melemparnya ke kursi belakang, dia berniat pulang ke rumah karena berpikir saat ini bi Lastri pasti telah membuatkan makanan enak untuk hari bahagianya ini. Di sisi lain, seorang pria yang selama ini paling ditunggu dan dirindukan oleh Nathalie terlihat berada di salah satu mobil yang tak jauh terparkir dari mobilnya. Pria tampan itu memiliki mata yang menawan, dalam dan tajam, juga dingin yang membuat orang tidak berani melihatnya. Dia adalah Daffin yang baru saja pulang ke Indonesia setelah melakukan pelatihan khusus dan berbahaya. Kini perawakan Daffin jauh berbeda dari yang dua tahun lalu, sosoknya terlihat lebih dewasa dan kuat. “Ikuti mobil yang di depan,” suara bariton itu memerintahkan sang sopir untuk mengikuti mobil Nathalie. Dia tahu bahwa hari ini Nathalie akan wisuda, dan dia juga tahu semua yang dilakukan Nathalie selama dirinya tidak di sini. Apa pun tentang wanita itu menjadi laporan khusus yang masuk setiap saat ke email Daffin. Mata-mata yang ditempatkan Daffin untuk berjaga di sekeliling Nathalie sangat membantu melaporkan semua kegiatan yang dilakukan wanita itu. Dia tidak ingin sahabat dan orang yang paling ingin dia lindungi terluka atau mendapatkan masalah saat dirinya tak ada. Dua tahun lamanya mereka tidak berjumpa, ini menjadi salah satu siksaan yang dirasakan Daffin dari lubuk hatinya yang terdalam. Namun itu bukan menjadi halangan untuk dirinya mendapatkan gelar orang yang paling berpengaruh saat ini. Cukup diriya yang tahu, semua orang terdekatnya termasuk Nathalie tidak boleh mengetahui ini karena apa pun yang menyangkut dengan dirinya saat ini sangat beresiko bagi keamanan mereka. Dua tahun Daffin menerima pelatihan khusus, bertarung dan beradu kekuatan, membunuh dan memusnahkan lawan adalah rutinitas yang dia lalui hari demi hari. Tak ayal, tubuh kekarnya mendapatkan bekas luka yang mengerikan, terutama punggung yang menjadi sasaran tembak dan sayatan senjata tajam. Meski begitu, wajah tampannya menjadi objek yang paling didambakan oleh kaum hawa. Tiga puluh menit berikutnya, mobil Daffin berhenti tak jauh dari mobil Nathalie. Mereka telah berada di perumahan yang menjadi tempat tinggal yang dulu memberi kenangan yang tak bisa dilupakan. Bagaimana Daffin kecil yang diam-diam memanjat pagar rumah Nathalie hanya untuk mengajak bermain ikan koi, seakan masih terlihat bayangannya saat ini. “Hmm, sudah lama rasanya aku tak merasakan kenangan ini. Nathalie, bersabarlah, aku akan datang padamu,” ucar Daffin menghisap cerutu yang ada di jari kanannya. Matanya tertuju pada sosok cantik yang baru saja keluar dari mobilnya. Sesaat, matanya memicing tajam ketika setelah seorang pria baru saja datang mengendarai motor, masuk ke halaman rumah Nathalie. Pria itu membuka helmnya dan langsung memeluk Nathalie dengan akrab. Dari jarak 20 meter, aura mengintimidasi dari Daffin membuat sopirnya sedikit begidik takut melihat amarah di mata bosnya. Pria di belakangnya ini sungguh berbahaya dan memiliki daya menginyimidasi lawan yang kuat dan mampu melemahkan musuh dengan auranya yang berkarisma. “Siapa pria itu? berani dia memeluknya?” Daffin mendengus marah. Tatapan matanya tak lepas dari dua orang di depan sana. Rupanya itu adalah Bima, pebasket yang dari dulu menjadi teman main basket Nathalie. Daffin penasaran sejauh apa hubungan Nathalie dengan pria itu, seingatnya ketika dia akan berangkat keluar negeri, Bima juga pindah keluar negeri karena di kontrak oleh salah satu club basket terkenal di Australia. “Hai, Nath! Selamat ya,” Bima turun dari motornya dan langsung memeluk Nathalie dengan riang. Nathalie terpelongo menatap pria yang sudah dua tahun ini muncul kembali. “Ha.. hai? Bim, kok kamu?” Nathalie terbata-bata karena mendadak dia dirangkul saat turun dari mobil. “Iya, ini aku. Dan pastinya aku datang mengucapkan selamat buat kamu. Aku baru saja datang dari bandara loh, dan langsung ngebut ke sini,” ucap Bima, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. “Wah, aku ngak nyangka banget kalau kamu pulang sekarang. Terakhir kita chatingan, kamu bilang ada Australia kan?” Nathalie mengingat pesan mereka beberapa bulan lalu. “Iya, dan sekarang aku lagi libur karena masa kontrak mainku di sana sudah habis,” sahut Bima senang. “Oh, oke oke. Kita masuk dulu yuk, aku baru saja datang,” ujar Nathalie sambil mengajak Bima masuk ke dalam. “Eh tunggu sebentar, aku mau kasih kunci ke Kang Deden dulu..” Nathalie buru-buru berjalan ke Kang Denden di depan pos satpam. “Kang, nanti masukin ke garasi dalam aja ya,” ucap Nathalie memberikan kunci kepada satpam rumahnya. “Baik non,” sahutnya. Di luar pagar, mobil Daffin masih parkir di sana. Dia meminta sopir masuk ke halaman rumah di depannya. Ini adalah hari pertama Daffin kembali ke rumah keluarganya setelah dua tahun menghilang. Sama seperti kepada Nathalie, Daffin juga jarang memberi kabar kepada orang tuanya. Mungkin mereka akan kaget karena melihat Daffin pulang sekarang. Mobil Rage Rover hitam itu meluncur masuk ke dalam halaman luas tersebut. Kebetulan satpam yang bekerja dulu masih bekerjadi sana, sehingga dia mengeni anak tertua tuannya datang. “Mas Daffin!” serunya kaget dengan wajah senang. “Iya, pak, tolong buka pintu gerbangnya,” ucap Daffin ramah. Saat keluar dari mobil, kebetulan Liona, adik perempuan Daffin membuka pintu rumah. Sepertinya dia hendak mau keluar karena berdandan rapi, dan dia terkejut melihat sosok pria tampan yang dia rindukan selama ini kembali. “Kak? Kkakak!” Liona berlari berhambur ke dalam pelukan Daffin. “Kakaakk… aku kangen kamu,” Liona merasa senang karena kakak laki-lakinya telah pulang. “Hai, kamu ngak berubah ya manjanya masih seperti dulu,” Daffin mengacak rambut adik kesayanganya. “Iya dong, habisnya kakak menghilang begitu saja tanpa mengabari kita lagi. mama paling sering merindukanmu,” oceh Liona diliputi rasa bahagia. Mereka masuk ke dalam, saat itu mama dan papa Daffin sedang duduk di ruang tamu sambil minum kopi. Mereka terkejut melihat kedatangan putra mereka. “Daffin? Sayang,” Mama langsung berdiri memeluk anaknya. “Halo Ma, Pa. aku pulang,” serunya senang. Mereka pun melepas kangen-kangenan yang selama ini tersimpan. Mama dan papa senang sekali karena Daffin kembali ke rumah. Begitu juga dengan Liona yang tak berhenti mengajak kakaknya itu mengobrol. Tak lama kemudian, Daffin pamit ke kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya, masih terlihat seperti dulu. Lalu dia berjalan ke arah jendela, yang mana posisinya sejajar dengan rumah Nathalie di depannya. Dia kesal karena motor Bima masih terparkir di sana. Apa yang dilakukan pria itu di sana? Pikir Daffin penasaran bercampur kesal. Daffin gelisah sendiri, lalu dia berbaring di kasur sambil memejamkan matanya. Dua tahun dia lalui dengan sangat berat di negeri orang. Awalnya dia mengaku kepada orang tuanya jika dirinya mendapat pekerjaan di luar negeri, tapi sebenarnya dia bergabung di dunia gelap. Hari menujukkan pukul 6 sore, Daffin menyibak gorden kamarnya untuk memantau rumah Nathalie. Dia sudah tak sabar dan kangen kepada sahabat sekaligus wanita yang diam-diam menjadi pujaan hatinya tersebut. mungkin saat ini wanita itu ada di kamarnya, pikir Daffin tersenyum misterius. Dia berjalan keluar rumah, lalu melompat masuk ke dalam pagar Nathallie. Pagar rumah Nathalie memang tidak tinggi karena didesain khusus untuk hiasan akuarium ikan koi di depannya. Menyelinap seperti ini sudah menjadi keahliannya, karena dia tidak mau orang rumah itu melihatnya dan mengetahui kepulangannya. Nathalie belum boleh mengetahui kedatangannya karena ini kejutan. Saat dia berhasil masuk ke balkon kamar wanita itu, dia mengintip dari celah jendela. Ternyata wanita cantik itu sedang tidur-tiduran di ranjang sambil memakai masker wajah. “Oh, ternyata dia sedang bersantai. Baiklah, sampai ketemu nanti sayang,” ucapnya langsung pergi. Di dalam kamar, Nathalie asik bersenandung mendengarkan lagu di laptopnya. Dia membaca majalah kecantikan untuk melihat tips merawat rambut agar tetap sehat dan kuat. Entah kenapa beberapa hari terakhir rambutnya sering rontok. “Apa nanti aku minta bi Lastri beli lidah buaya ya. Kayaknya tips herbal ini cukup ampuh untuk menumbuhkan rambut,” pikir Nathalie melihat tips dari majalah tersebut. Saat itu, dia tidak menyadari ada seseorang yang mengintipnya dari balik pintu balkon kamar. mungkin Nathalie sibuk membaca majalahnya dan mendengar lagu dari laptopnya. Lagian, selama ini dia juga tidak pernah peka terhadap apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD