Pukul 7 malam, Nathalie telah bersiap untuk pergi ke club yang dipesan oleh sahabatnya. Dia menuruni tangga sambil menenteng tas dan juga hoodie kesayangannya. Di bawah Bi Lastri keluar dari dapur, sambil melirik ke arah tangga.
“Non? Mau kemana non?” Bi Lastri buru-buru menghampiri Nathalie di ujung tangga.
“Bi, aku mau keluar dulu ya. Hari ini teman ngajak pesta kecil-kecilan,” ujarnya.
“Tapi bibi pesan jangan lama-lama pulangnya ya non. Kalau butuh disupirin, biar Pak Bowo aja yang anter non ke sana,” kata Bi Lastri agak kahwatir.
Wanita tua ini selalu memiliki perhatian yang lebih kepadanya. Bahkan perhatian dan kasih sayangnya sudah melebihi seorang ibu kandung.
“Bi Lastri sayang, sekarang aku udah gede loh ya. Nanti aku janji bakal pulang cepat, dan aku pengen nyetir sendiri. Oke, sayaaang mmmuach,” Nathalie mengecup singkat pipi pembantu kesayangnnya itu.
Bi Lastri hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah gadis centik yang sudah dia rawat sejak kecil itu. perasaan baru beberapa tahun lalu saya menggendongnya, sekarang dia sudah sebesar ini dan makin bertambah cantik saja seperti ibunya, ucap Bi Lastri lirih.
Ibu Nathalie memang cantik. Apalagi dia juga seorang model internasional yang kian kemari melenggang di catwalk. Dan papanya yang juga tampan, merupakan pengusaha otomotif terkenal di Singapura. Namun keduanya sama-sama egois dan mementingkan karier daripada kebahagiaan dan kasih sayang untuk Nathalie.
Di luar, Pak Bowo telah memanaskan mobil sport kesayangan Nathalie. Dia menyerahkan kuncinya seraya berkata, “Hati-hati di jalan ya non, kalau butuh apa-apa kabari aja saya,” ujarnya.
“Sip Pak Bowo,” sahutnya menyambar kunci di tangan pria 50 tahunan itu.
Di depan pagar juga sudah ada Kang Deden yang membuka pagar, dia menunduk sopan mempersilahkan anak majikannya ini keluar.
Tanpa disadari, satu mobil Range Rover mengikuti Nathalie dari jarak lumayan dekat di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Daffin, yang kini sedang mengikuti kepergiaan sahabatnya itu keluar. Dia baru saja mendapat laporan dari seorang mata-mata di dekat Nathalie, bahwa ada party di sebuah club X.
Seperti biasa, jalanan kota Jakarta selalu macet, Nathalie melirik jam tangan pintar di tangannya, yang menunjukkan bahwa dia agak sedikit terlambat tiba di sana. Apalagi cuaca di luar juga gerimis, jadinya banyak mobil yang mengurangi kecepatan lajunya.
Dia tidak mau teman-temannya menunggu terlalu lama, karena biasanya dia adalah ratu party yang paling ditunggu kehadirannya tanpa pernah ada kata terlambat. Namun kini dia terpaksa sabar mengekori kemacetan di jalanan ibukota tersebut.
“Ck, pasti anak-anak bakalan kesal setengah mati nungguin aku nih.” Pikirnya, sambil membuka ponsel dengan sebelah tangan.
Ada chat dari Hani, “Nath, kamu jadi datang kan?”
Dia melemparkan ponselnya ke bangku sebelah, percuma untuk membalas karena Hani tidak akan membaca pesannya. Dentuman musik dan DJ keren di sana pasti lebih menarik perhatian sahabatnya itu daripada satu notifikasi pesan darinya.
Akhirnya, Nathalie tiba juga di club itu. dia memberikan kuncinya kepada penjaga untuk ditempatkan di parkiran biasa. Semua karyawan di sana pasti tahu dengan Nathalie, karena dia juga salah satu pemilik saham pusat hiburan malam tersebut. Bukannya apa-apa, selama ini dia memang suka menghabiskan waktu bersenang-senang di club, dan bila dirinya teler, maka karyawan di sana bisa menjaganya selamat sampai ke rumah.
“Makin cantik aja nih bos,” goda seorang penjaga di pintu masuk.
“Yoi dong, di dalam ada si ganteng ngak?” tanya Nathalie balik.
“Ada, dia juga baru datang barusan, mungkin lagi bersiap-siap,” sahut si penjaga.
Nathalie memutar bola matanya sambil tersenyum senang. Well, selama ini dia menyukai seorang DJ tampan dan cool bernama Kris. Bahkan dia mati-matian menawarkan DJ itu untuk menghebohkan clubnya.
Di dalam, semua orang sedang asik menikmati lagu yang dibawakan Dj Kris. Nathalie berjalan sambil menggerakkan kepalanya menikmati hentakan musik di panggung sana. Semua tamu di sini memang diatur secara tertib, tidak seperti hiburan malam murahan di luaran sana.
Dia berjalan ke area VVIP, ada lima belas orang teman kampusnya yang ikut bergabung dalam party kali ini. “Hohoho, ini dia sang ratu party kita! Tumben lama banget sih!” ujar Roy dan Hani yang sedang menonton aksi panggung Dj Kris.
“Biasalah, di luar macet karena hujan. Kalian udah pesan minum dan camilan?” tanyanya.
“Sudah dong, ini semua cukup kan?” Hani menunjuk minuman di meja mereka.
“Mantap, mari berpesta!” seru mereka cheers.
Dari panggung, DJ Kris mencuri-curi pandang kepada Nathalie yang baru duduk bersama teman-temannya itu. jarak mereka tidak terlalu jauh, jadi memudahkan Kris memandangi Nathalie dari atas.
Dia sengaja memutar lagu kesukaan Nathalie agar wanita itu melirik ke atas panggung. Kecantikan Nathalie dan jiwa bebasnya membuat Kris menaruh rasa suka kepada wanita ini. Mungkin Nathalie juga merasakan hal yang sama, tapi mereka belum bisa mengutarakannya.
Dan saat lagu remix itu berputar, Nathalie langsung menengadah melihat ke atas panggung, dia mengajak Hani dan teman wanitanya maju ke panggung. “Yuk kita ke atas, jangan diam di sini aja dong biar badan kita panan dikit” teriaknya.
“Kuy lah!” sorak yang lain. Mereka melenggak lenggok di lantai dansa. DJ Kris mengangkat gelasnya untuk menyapa Nathalie. Dan mereka saling bertegur sapa lewat senyuman.
Rupanya, hal ini tak lepas dari pandangan Daffin. Lelaki dingin itu sedang duduk di dekat pojokan yang agak kurang cahaya. Dia sengaja memakai topi hitam agar tidak ada yang curiga. Jujur saja, keberadaannya memang mengundang musuh. Apalagi baru ini Daffin mendapat gelar ketua mafia Asia, jadi semua lawannya yang dulu kalah bertarung memperebutkan nama, pasti balik memusuhinya.
Matanya memicing sengit tak kala melihat Nathalie yang meliuk-liukkan badannya berjodet bersama teman-temannya di atas panggung. Wanita itu terlihat begitu menggoda iman, bahkan jakun pria di sini naik turun ingin melahap tubuh indah itu.
“Ck, dasar wanita ini, apa dia tidak bisa menjaga diri, lihatlah tatapan orang-orang ini seperti melihat mangsa lezat,” gerutunya marah.
Namun Daffin masih berusaha menahan diri untuk tidak menarik pinggang wanita itu turun panggung. Dia belum bisa menampakkan dirinya di depan Nathalie, karena dia yakin bahwa wanita itu juga belum siap bertemu.
Flash back. Di hari ketika Nathalie pamit latihan basket bersama Bima, Daffin amat marah besar. Dia tidak bisa memendam perasaannya terhadap sahabat baiknya itu. meski dirinya telah berusaha mati-matian menghilangkannya, nyatanya cinta tidak bisa dipungkiri.
“Jangan pergi Nath, aku ngak mau kamu dekat dengan pria mana pun. Please,” ucapnya lirih sambil menarik sudut baju Nathalie.
Nathalie tercengang, matanya melebar penuh tanda tanya. “Kenapa? Aku hanya main bersama teman-temanku, kamu jangan berlebihan dong Fin!”
Daffin menarik Nathalie ke dekapannya hingga bibir mereka pun saling bertabrakan. Rasa sayang sebagai sahabat dan perhatian tulus Daffin selama ini musnah berganti dengan cinta yang menggebu. Jantungnya tak bisa dikendalikan lagi lantaran menyatakan perasaan yang sulit dijelaskan ini.
Nathalie termangu, otaknya mendadak blang karena pria yang selama ini menjadi teman keluh kesah, senang dan duka selalu bersama mendadak mencium dan memeluknya erat.
“Fin, Daffin! Kamu sadar! Lepaskan!!” bentak Nathalie.
Daffin mendekap tubuhnya erat sambil mengelengkan kepalanya, “Ngak, aku ngak sanggup melihat wajah kamu sekarang. Aku malu, aku teramat bodoh karena menyimpan rasa ini diam-diam di belakang kamu Nath. Please, jangan lihat aku. Biarkan sebentar begini,” Daffin terlanjur gegabah.
Seharusnya dia bisa menahannya sendiri, atau menunggu sedikit waktu agar bisa mencari cara terbaik mengungkapkannya. Tapi, rasa takut kehilangan, membuat Daffin nekat mengutarakan cintanya kepada sahabatnya ini.
“Oke, tapi lepaskan dulu.” Nathalie sama-sama kalutnya.
Bagaimana dirinya harus mengendalikan diri agar berpikiran jernih. Selama ini mereka sangat dekat, bahkan sering berbagi ranjang yang sama. Bukannya melakukan hal tak senonoh, tapi hanya sekedar berbagi ranjang saja.
“Sejak kapan Fin? Sejak kapan kamu menyukai aku?” tanyanya to the poin.
Daffin tak berani menatap matanya, dia menggelengkan kepala. Yang jelas perasaan ini begitu saja timbul setelah banyak teman pria Nathalie yang sering mengajaknya kencan.
“Aku ngak tahu, yang jelas saat ini aku minta maaf karena sudah merusak hubungan persahabatan kita,” ujarnya sungguh-sungguh.
Nathalie paham, bagaimana pun perasaan, cinta dan takdir tidak bisa diperkirakan. Tapi, dia belum sanggup jika perasahabatan mereka berubah jadi cinta. Dia takut, jika cinta ini bisa menghakimi hubungan mereka di masa depan bila tidak berjodoh.
Beberapa pun hari berlalu cepat, Daffin memilih pamit keluar negeri kepada Nathalie. Dia ingin melupakan rasa cintanya dengan mengejar masa depannya, walau pun itu adalah jalan berbahaya yang harus di tempuh.
Flash back berakhir. Kini Daffin terdiam seribu Bahasa menatap pemandangan di depan sana. Nathalie dan DJ Kris baru saja berpelukan. Bahkan pria bertindik di telinganya itu mengumumkan dengan mic bahwa dia menyukai Nathalie dan mengajaknya berkencan.
Tangan Daffin mengepal keras, urat-urat jemarinya bermunculan membentuk akar-akar keras. Otaknya menjadi panas karena wanita yang dicintainya selama ini malah ditembak oleh pria lain. Engak, aku ngak boleh marah. Ini masih bisa diperjuangakan, ucapnya berlalu pergi.
Daffin telah dilatih mengontrol emosi, segala rasa yang dia miliki tak boleh terlihat jelas di matanya. Dia tidak mau melampiaskan kemarahannya di sini dan memilih pergi meninggalkan suasana riuh itu.
Nathalie yang baru saja ditembak oleh pria yang selama dua tahun ini disukainya, merasa terharu. Tapi entah bangaimana, kenapa membuatnya ragu pada Kris. Padahal momen sekarang adalah hal yang paling dia nanti-nantikan selama ini, tapi kenapa tidak berkesan?
Dia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri untuk mengurangi rasa canggungnya, namun sesaat matanya membola saat menangkap sosok pria yang selama ini dia rindukan siang dan malam, tampak melintas berjalan keluar ruangan
“Daffin…” suaranya lirih seakan tak terdengar.
Mendadak netranya melebar mengeluarkan cairan bening. Hatinya berkecamuk, itu pasti Daffin tebaknya. Otaknya berhenti mencerna, bagaimana mungkin itu adalah dia? Nathalie berlari turun panggung dan membuat DJ Kris kebingungan.
“Nath! Nathalie…” panggil Kris.
Namun Nathalie tak menghiraukan panggilan pria itu, dia terus saja berlari dan menabrak beberapa orang di bawah sana. Kakinya tak bisa berhenti mengejar sosok berjaket hitam dan bertopi hitam di pintu depan sana.
“Fiiiin!!! Daffin!” jeritnya dengan langkah cepat. Aku ngak boleh kehilang dia, itu pasti Daffin, aku yakin sekali ini dia, pikirnya kacau.