Dalam perjalanan pulang, Nathalie mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal. Dia masih memikirkan sosok pria yang berpakaian hitam mirip Daffin tersebut. Sepertinya dia merasa keliru karena sudah lama tidak bertemu.
“Apa benar itu adalah Daffin. Tapi Liona tidak menceritakan apa-apa tuh…” ucap batin Nathalie.
Dia memutar setir kemudinya ke sebuah minimarket untuk membeli kopi hangat. Sejak keluar dari club tadi perutnya terasa agak kembung, mungkin masuk angin.
“Mbak, saya pesan indocafe capucino. Dan…. Croissant satu,” ucap Nathalie memesan pesanan minuman di meja kasir.
“Baik, ada tambahan lainnya Kak?” tanya pegawai.
“Enggak, cukup itu saja,” sahutnya. Lalu dia membuka smartphone di tangannya. Di sana ada chat dari Kris mengingatkan agar-agar berhati-hati di jalan.
Nathalie seraya tersenyum membalas chat singkat untuk pacar barunya itu. “Iya Kris, sampai ketemu besok,” tulisnya.
Pesanannya selesai, Nathalie kembali ke mobil. Dia melanjutkan perjalan pulang ke rumah. Namun, di dekat tikungan menuju masuk ke rumahnya, satu mobil hitam tiba-tiba menghadangnya dari samping sehingga dia kaget dan mengrem mendadak.
“Astaga! Ini orang kenapa sih?” katanya terkejut.
Tiga orang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut dan menghampiri mobilnya dengan wajah garang. Nathalie beringsut cemas karena dia tidak mengenali siapa orang-orang ini. Mereka berperawakan seperti preman. Yang satu membawa senjata seperti celurit, dan satunya lagi memegang tongkat bisbol. Kenapa ini, Tuhan aku takut, ucapnya gemetaran.
Tok. Tok. Tok!
Orang-orang itu mengetuk kaca jendela di samping kemudi Nathalie. “Buka pintunya!” ancam mereka.
Nathalie tak berani membukanya, dia melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pertolongan. Sepertinya tidak ada siapa pun yang bisa membantunya karena suasana jalanan sudah sepi. Apalagi di tempat ini memang sepi pada waktu tengah malam.
“Bukak pintunya atau kami pecahkan kaca ini!” ancam si preman garang.
Terpaksa Nathalie membuka jendela mobilnya. Tiga orang pria itu memaksa membuka pintu mobil Nathalie. Dan menarik wanita cantik itu keluar sehingga membuatnya semakin menjerit ketakutan.
“Jangan! Lepaskan saya. kalian siapa!” suara Nathalie semakin gemetar ketakutan.
“Ikuti saja kami, jangan melawan jika tidak ingin terluka,” ucap orang tersebut.
Nathalie ditarik paksa dan didorong masuk ke dalam mobil hitam itu. mereka membawa Nathalie ke sebuah tempat yang sangat terpelosok seperti bangunan tua di pinggiran kota.
“Cepat jalan!” perintah salah satu pria mendorong Nathalie berjalan duluan saat tiba di tempat gelap tersebut.
“Dimana ini, kenapa kalian membawa saya? Apa salah saya,” ujarnya menunduk takut.
“Kau tak perlu tahu. Diam, dan lakukan saja perintah kami,” tegas preman itu.
Nathalie semakin gelisah dan menggigil ketakutan. Saat berjalan menelusuri lorong, dia melihat ada banyak pria berjaga di sini. Tempat yang cukup menyeramkan karena ditutupi semak tinggi di pinggiran dindingnya. Dia berjalan pelan, sambil merapalkan doa agar mendapat perlindungan.
“Tuhan, kenapa aku bisa begini. Siapa mereka, kenapa mereka membawaku ke sini. Bantu aku Tuhan,” batin Nathalie.
Saat menaiki tangga berlumut, Nathalie sedikit ngeri. Cahaya di sini sangat minim. Sementara dia terus diawasi oleh tiga orang pria berbadan besar di belakangnya.
“Kau diam di sini, jangan bikin keributan,” ucap pria yang berkepala plontos kepadany. Dia dibawa ke salah satu ruangan yang lumayan bersih. Ada kasur kecil juga di sana.
“Pak, saya mohon bebaskan saya sekarang. Berapa pun uangnya, saya akan kasih, tapi jangan sakiti saya,” ucap Nathalie menangis.
“Kami tak butuh uangmu nona cantik. Kau tunggulah di sini sampai bos kami datang melihatmu,” ucapnya.
Mereka menutup ruangan 3x3 itu dan menguncinya dari luar. Nathalie terduduk lemas di lantai setelah ditinggalkan dalam ruangan kedap udara ini. Dia bingung dan ketakutan berada di tempat itu. Nathalie berharap ada yang datang membantunya.
“Siapa mereka, kenapa mereka membawaku ke sini,” ucapnya lirih.
Sambil memikirkan siapa dalang penculiknya, Nathalie berjalan ke kasur yang terlihat kotor dan usang itu. dia tidak selera untuk duduk sana, dan memilih duduk bersandar di lantai sambil memeluk lututnya ke d**a.
“Kenapa aku bisa begini,” dia menangis sedih.
Di tempat lain, Daffin baru saja mendapat laporan dari mata-matanya bahwa Nathalie baru saja diculik oleh tiga orang tak dikenal. Dan itu membuatnya mengamuk membanting semua barang di hadapannya.
BRAKKK!
Daffin melempar berkas di mejanya ke lantai dan melayangkan tatapan bengis kepada asistennya.
“Jef! Kenapa kau bisa kecolongan begini mengurusi satu wanita saja! Aku sudah perintahkan kau dan anak buahmu itu untuk mengikuti Nathalie kemana pun dia pergi. Lalu kenapa bisa dia dibawa pergi!” bentak Daffin marah.
Jeffri tak berani menatap mata bosnya itu. dia telah salah karena terlambat membantu Nathalie saat dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang dikawal tiga orang penjaga tadi. Awalnya, dia bersama anak buahnya sedang mengikuti mobil Nathalie dari belakang. Namun karena jarak mereka agak jauh, membuat Jeffri dan anak buahnya terlambat untuk mencegatnya.
“Maaf bos, saya salah,” ucapnya menunduk takut.
“Kumpulkan anak buahmu sekarang, kita cari dia sampai ketemu!” tegas Daffin bertegak pinggang.
Jeffry pamit keluar ruangan Daffin dengan buru-buru. Dia menghubungi semua bawahannya untuk bersiap mencari keberadaan Nathalie malam ini juga.
Di dalam ruangan, Daffin mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Suara pria di seberang sana membuat amarahnya semakin memuncak.
“Lama tak bertemu, Daffin,” ucap suara di seberang telepon.
“Kau…. Jadi kau yang sudah menculik wanitaku?” kata Daffin menuding.
“Oh.. hoho.. kau sungguh emosional sekali bos. Tapi.. itu benar sekali. Sekarang wanita yang selama ini kau dambakan itu sedang berada di tempatku. Jauuuh sekali,” katanya.
Daffin memijat keningnya dengan kuat. Dia telah salah menemui Nathalie di club tadi. Pasti pria yang kedapatan mengikutinya tadi adalah mata-mata dari pihak Cakra. Pria yang menjadi musuh bebuyutannya sejak kalah dari perebutan kekuasaan beberapa bulan lalu.
“Lepaskan dia, jangan jadikan wanita sebagai ancaman. Apa kau tak punya nyali menghadapi aku langsung,” tanya Daffin bernegosiasi.
“Hmmm. Ck. Gimana ya, tapi aku tertarik juga melihat wanita cantik ini. Lumayan juga buat penghangat ranjangku,” jelasnya.
“Jangan berani menyentuhnya! Akan kupastikan kau menyesal telah mengusik wanitaku, Cakra!” bentak Daffin memaki.
“Ohoho, aku menjadi takut…. Tapi booong…” Cakra tertawa renyah mengejek ketidakberdayaan Daffin di seberang sana.
“Selamat mencari keberdaan wanita cantikmu Daffin. Jika dalam dua jam ini kau tak bisa menemukannya, maka jangan salahkan aku akan menjadikan dia sebagai sumber keuangan baruku,” kata Cakta menutup panggilan telepon.
Daffin melontarkan sumpah serapah di teleponnya. Dia sangat benci berada di posisi ini. Itulah mengapa dia berusaha menutupi dirinya dan tidak bisa mendekati orang yang dia sayangi saat ini. Semuanya menjadi beresiko dan menjadi titik kelemahannya di hadapan musuh.
Cakra adalah salah satu musuh bebuyutannya yang tidak terima dengan posisinya sebagai ketua mafia saat ini. Pria licik itu memilih jadi musuhnya demi membalaskan dendam atas kematian adiknya saat berhadapan dengan Daffin pada ujian terakhir mereka 3 bulan lalu.
Dan kabar buruknya, kini Cakra mendapat investor asing yang bergerak di bidang obat-obatan terlarang dan prostitusi kelas atas.
“Maafkan aku Nath. Gara-gara aku, kamu mengalami bahaya begini,” Daffin merutuki dirinya.
Tak lama, pasukannya telah berkumpul lengkap dengan senjata dan pistol untuk pengamanan. Mereka akan mencari keberadaan Nathalie, lewat bantuan Jeffri yang ahli dalam meretas kamera CCTV jalanan. Dengan begitu, mereka bisa melihat plat mobil dan rekaman kemana orang-orang itu membawa Nathalie.
Ternyata, mobul hitam yang membawa Nathalie itu melaju kencang ke daerah industri terbengkalai yang berada di sebelah barat kota. Di sana memang ada beberapa gedung lama yang terbengkalai dan diperkirakan tempat transaksi jual beli dan pengedaran obat-obatan terlarang.
“Jeff, kau sudah memperrsiapkan rencana B? aku akan membuat si b******k itu mati malam ini juga,” ucap Daffin.
“Sudah bos,” sahut Jeffri.
Saat tiba di lokasi, mereka mendapati anak buah Cakra sudah berkumpul di depan gedung tua itu. mereka siap menyerang dengan senjata tajam. Daffin berserta rombongan, maju menghadapi para b*****h itu. baku tembak terjadi, banyak di antara yang terluka parah. Daffin, menyerbu masuk ke sisi atas gedung. Mereka berjalan hati-hati karena tangga di sana sudah rapuh dan serpihan semennya berjatuhan.
Namun, sebelum Daffin mencapai ujung tangga atas, dia malah dihadang oleh beberapa anak buah Cakra. Daffin terjatuh di anak tangga, dan berguling-guling sampai ke dasar. Sementara Jeffri dan anak buah lainnya membantu mengamankan keselataman Daffin yang terluka.
“Bos! Cepat bersembunyi di balik pilar itu,” Jeffri meminta bosnya mencari tempat aman.
Daffin berdiri dengan kaki pincang. Keningnya mengeluarkan darah, dia merasa agak kesakitan saat tangan kirinya diayunkan. Kemungkinan, tangannya patah karena membentur dasar tembok.
“Akh! Ssshh. b******k!” umpatya marah.
Jeffri masih berusaha melawan anak buah Cakra yang semakin berkerumun mengepung mereka. Namun Daffin memberi kode agar Jeffri menjalankan rencana B. “Maju dari sisi utara,” perintah Jeffri lewat panggilan singkat.
Para bantuan datang, mereka menggunakan senjata laras panjang. Daffin berusaha berdiri dan berjalan melewati kerusuhan di sana. Dengan luka yang cukup dalam, dan darah mengalir di kepala, Daffin menarik langkah hati-hati ke lantai atas. Di sana ada satu ruangan terkunci, Daffin mendobrak dengan kuat dan melihat Nathalie yang berjongkok di sudut ruangan sambil memeluk lututnya di d**a.
“Nath!” suara Daffin tercekat melihat wanita yang dia cintai menangis ketakutan dalam kegelapan.
Seperti adegan slow motion. Nathalie seperti terbangun dari mimpi panjangnya kala mendengar suara pria yang selama ini dia rindukan memenuhi ruangan kecil itu.
“Dafin… fin?” ucapnya mengedarkan pandangan ke pintu. Di sana Daffin berdiri dengan penampilan lemah.
Nathalie bangkit dan berlari kencang menabrak tubuh kokoh Daffin yang berdiri lemah di sisi pintu. Mereka berpelukan erat, Nathalie menangis meluapkan rasa rindu bercampur takut kepada sahabatnya itu.
“Daffin…. Aku takut. Kamu kapan pulang, kenapa bisa di sini?” deretan pertanyaan seperti kereta api yang bersambung-sambung, membuat Daffin tersenyum geli mendengarya.
“Kamu masih saja cerewet ya. Jangan banyak bertanya dulu, sekarang kita harus pergi dari sini,” ucapnya.
Nathalie melepaskan pelukan dan menatap mata Daffin dengan rindu. Dia merindukan sosok pria di hadapannya ini. Namun penampilan Daffin yang sangat kacau membuat Nathalie terkejut hingga menutup mulutnya. “Darah? Kamu berdarah Fin!” jerit Nathalie cemas.
Dia baru menyadari jika luka di kepala Daffin sangat parah karena tadi tertutup cahaya.
“Ohoho… sekarang bukan saatnya bermesraan di depanku Tuan Daffin yang terhormat,” sebuah tepukan tangan terdengar di belakang punggung Dafin.
Itu adalah Cakra yang menodongkan pistol tepat ke wajah Daffin saat berbalik.