Tidur Seranjang

1217 Words
Usai luka Daffin diperban dan tangannya digips, dokter pun pamit dari ruangannya. Tapi sebelum pergi si dokter tampan itu meminta Daffin untuk tidak melakukan pekerjaan berat dan membebani otot lengannya yang patah. “Haah, ini lumayan sakit,” ucap Daffin menghela napas lelah. Dia merasa kelelahan bercampur sakit menahan ngilu yang timbul usai terluka tadi. Dia melirik Nathalie yang menatapnya khawatir di ujung sofa. “Hai, kenapa kau melamun begitu Nath? Mau membantuku berjalan ke kamar,” ujar Daffin menegur Nathalie yang sedari tadi memandanginya. “Oke… ya sudah. Aku akan membawamu ke kamar," sahut Nathalie segera beranjak dari tempat duduknya. Nathalie memapah sebelah lengan kiri Daffin dengan hati-hati, dan menuntun langkahnya pelan. Dia merasa bersalah melihat cedera yang dialami oleh Daffin kali ini. “Hmmm. Kamu pelan-pelan aja jalannya. Kakimu juga terkilir kan?” kata Nathalie mengingatkan sambil menoleh ke arah Daffin. Sesaat mata Nathalie dan Daffin bersirobok saat mereka saling menoleh. Nathalie merasakan deru napas Daffin yang hangat dan berjarak 5 cm dari wajahnya. Bahkan dia merasakan hawa panas badan pria itu saat tubuh mereka saling menempel seperti ini. Nathalie membenarkan pegangan tangannya ke pinggang Daffin, lalu kembali berjalan. “Ehemm, sediki sakit saat diinjakkan begini,” ucap Daffin menghilangkan kecanggungan dan membuang muka melihat ke depan. Saat Daffin menunjuk kamar miliknya, Nathalie pun membawanya masuk ke dalam. Dia membantu Daffin berbaring di ranjang. Namun melihat tubuh polos Daffin yang dibalut perban pada bagian bahunya, Nathalie merasa tidak nyaman. Apalagi saat ini udara terasa dingin karena AC menyala. “Daffin, apa kau mau aku bantu memasangkan baju. Takutnya nanti kau masuk angin kalau tidak memakai baju,” ujar Nathalie tersenyum kaku. “Baiklah, tolong ambilkan aku baju di lemari itu. yang agak besar sedikit, karena lukaku masih basah,” kata Daffin. Nathalie mengangguk paham dan berjalan ke lemari pakaian di sampingnya. dia mengambil satu kaos over size dalam rak pakaian. Lalu membantu Daffin berpakaian karena tangannya tidak bisa digerakkan saat ini. Daffin melihat pakaian pria yang dikenakan Nathalie kebesaran, dia merasa tidak suka melihat setelan pria asing menempel di tubuh sahabatnya ini. Kalau dia menebak, pasti itu adalah pakaian yang dipinjamkan. “Nath, kau carilah pakaian di sana. Ganti bajumu, itu terlihat agak kotor,” ucap Daffin menilai pakaian yang dikenakan Nathalie. Memang baju yang dipakai Nathalie saat ini agak kotor karena tadi duduk di lantai saat dia dikurung oleh penculik. Dia pun juga merasa tubuhnya lengket dan tidak nyaman. Apalagi tadi sempat kehujanan dan juga dibawa paksa ke ruangan kumuh. “Fiin, aku mau mandi ya. Aku pinjam baju, mau pakai pakaian kamu aja,” katanya. “Ya pakai saja. Pilih sana yang kau suka,” ujar Daffin membiarkan Nathalie membersihkan diri. Nathalie pun masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya hingga bersih. Aroma sabun dan shampoo Daffin masih seperti biasa. Dia menikmati sentuhan lembut saat membasuh tubuhnya dalam guyuran air hangat. Sedangkan Daffin yang berada di luar kamar, berusaha untuk membaringkan tubuhnya mencari posisi nyaman untuk istirahat. Kepalanya sangat pusing, ditambah lagi semua persendiannya terasa remuk usai bertarung dengan Cakra tadi. Tak terasa, dia pun terlelap sebelum Nathalie selesai mandi. Saat wanita cantik itu keluar kamar mandi, dia mendapati Daffin telah tertidur nyenyak dengan sangat lelap. Dia yakin bahwa Daffin sangat lelah setelah bertarung habis-habisan menghadapi penculik tadi. Nathalie pun mengambil celana jogger di dalam lemari Daffin. Dia memakainya dan merasa agak risih karena dirinya tidak terbiasa jika tak menggunakan dalaman. “Aduh.. gimana nih. Dalamanku tadi sudah kotor karena bekas keringat. Daffin udah tidur ngak ya?” ucapnya sendiri, lalu berjalan mendekati ranjang Daffin memastikan pria itu sudah benar-benar terlelap apa belum. Ternyata Daffin benar sudah tertidur pulas. Nathalie pun berjalan perlahan ke sisi ranjang sebelahnya dan perlahan naik ke atas kasur untuk bergabung dengan Daffin. Hari ini sungguh melelahkan, dia pun ingin beristirahat dengan nyaman. Keduanya pun terlelap dalam satu ranjang. Pukul 5 pagi, Daffin terbangun karena merasa kandung kemihnya sudah penuh untuk segera dikeluarkan segera. Sebelum bangkit, Daffin melirik ke samping dan ternyata dia tidur bersama Nathalie. “Astaga, ini anak ngak ada rasa antisipasi sedikitpun ya. Dari dulu selalu saja begini, untung orangnya aku, kalau pria lain sudah pasti kamu bakal diterkamnya Nath,” ujar Daffin menggeleng-geleng kecil melihat kelakukan sahabatnya ini. Daffin pun menyibak selimut dan menyelimuti tubuh Nathalie. Dia berjalan pelan-pelan ke kamar mandi untuk menuntaskan buang air kecilnya. Nathalie sama sekali tak bergerak, dia malah tertidur pulas di samping Daffin semalaman. Sedangkan Daffin, dia kembali berbaring di dekat Natahlie. Matanya tidak mengantuk lagi, mungkin karena ada Nathalie di sisinya. Wanita itu terlihat tak berubah sejak terakhir mereka berpisah 2 tahun lalu, malahan Nathalie telihat lebih cantik sekarang. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak pelan menyesuaikan bola matanya yang masih tertutup. “kamu membuatku tak bisa berpaling selama ini Nath. Entah mau manti rasanya aku ini, selama dua tahun kita berpisah dan tidak pernah berbagi kabar. Dan kini, aku takut membahayakan keselamatanmu, bila bersamaku Nath,” ujar Daffin lirih, sambil terus memandangi wajah Nathalie yang masih tertidur. Dia tahu bahwa Nathalie baru saja jadian dengan pria yang menjadi DJ di club tadi malam. Dan hal ini membuat perasaan Daffin berkecamuk untuk melarang Nathalie berpacaran dengan pria itu. Bolehkah dia egois kali ini saja? Tapi jika dia bersikap begitu, maka Nathalie akan merasa terkekang lagi dengannya. "Ngak, aku ngak akan terlalu posesif lagi sama kamu Nath. Kamu bebas menjalin hubungan dengan siapa pun kamu suka. Dan aku akan menjamin keselamatanmu saja. Salahkan hati kecilku ini yang diam-diam mencintaimu Nath. Aku akan tanggung konsekuensinya, karena merusak hubungan persahabatan jadi cinta,” katanya lirih. Daffin bersandar di dipan ranjang. Dia harus memeriksa latar belakang DJ yang menjalin cinta dengan Nathalie tersebut. Intinya Daffin tidak mau jika Nathalie terluka atau diincar musuhnya lagi. Udara pagi begitu sejuk, cahaya mentari menari-nari masuk di balik celah gorden yang tertiup angin pagi. Daffin sengaja membuka jendela kamar agar udara segar masuk ke kamarnya. Sedangkan Nathalie merasa terganggu karena cahaya itu mengenai wajanya. “Heeummm… Fiiin, tutup dulu jendelanya aku masih ngantuk,” ucap Nathalie dengan suara parau khas bangun tidur. Dia enggan membuka matanya karena masih capek. “Ayolah Nath, saatnya bangun. Ini sudah jam setengah sembilan pagi, jangan biasakan jiwa pemalasmu itu menguasaimu. Bangun, ayo!” kata Daffin mencolek pipi Nathalie dari samping. “Ckk, kau ini selalu begitu. Aku butuh tidur dua jam lagi. please, oke?” rengeknya manja. Daffin berdecak sebal melihat wanita pemalas ini. Padahal mereka sudah berpisah selama dua tahun, tapi jiwa malas-malasan Nathalie masih saja seperti itu. “Ngak bisa, aku ngak mau menampung orang pemalas disini ya. Yuk bangun, kita sarapan di bawah,” ajaknya. Dengan wajah kesal Nathalie bangun menguap lebar sambil merengangkan tangannya. “Baru juga bertemu, kau sudah begini. Selalu saja mengatur. Ck, aku itu butuh kebebasan Fin, dahlah, aku mau pulang habis ini,” ucapnya. Daffin tidak bisa membiarkan Nathalie pulang sekarang, akan beresiko baginya kalau-kalau anak buah Cakra kembali berulah. “Ngak Nath, kau harus menetap dulu disini beberapa hari, aku takut jika anak buah Cakra kembali mengganggumu,” kata Daffin. “Tapi kau nyebilin, aku ngak mau diatur-atur, ya Fin seperti dulu itu. Dan sekarang saatnya aku menikmati masa pengangguran usai wisuda kemarin,” jawab Nathalie. “Baiklah, sekarang ayo kita sarapan dulu. Aku butuh makan untuk minum obat,” kata Daffin, dan mereka pergi ke bawah untuk sarapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD