Mari Berpesta!

1604 Words
Ini adalah hari ketiga Nathalie tinggal di kediaman Daffin. Selama itu juga dia tidak bisa pergi kemana-mana dan bosan membaca buku di perpustakaan kecil milik sahabat prianya itu. kali ini dia sedang duduk menyeruput teh di taman samping kolam renang. “Huhm! Sampai kapan sih aku bakal dikurung begini. Setiap hari hanya begini-begini aja. Aku butuh yang seger dan memanjakan mata, Fiiin,” ujar Nathalie kesal sendiri sambil melempar biji-biji anggur dari mulutnya ke dalam kolam renang. Ngak bisa sabar lagi, kini Nathalie berdiri dan berjalan buru-buru masuk ke dalam rumah. Dia ingin meminta pertanggungjawaban Daffin untuk segera mengantarnya pulang ke rumah. Club malam seakan melambai-lambai dan terngiang meneriaki namanya yang sudah absen selama 3 hari ini. Dalam perjalanan di ruang tamu, Nathalie bertemu dengan Jeffri, asisten kesayangan Daffin. Pria itu menyampanya dengan ramah. Namun Nathalie tidak mau mempedulikan sapaan itu. Dia tetap berjalan songgong sambil membuka kamar Daffin dengan kencang. “Fiiin!” Nathalie membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Dan alhasil, jeritan membahana meluncur dari mulutnya sendiri. “OH MY GOOD! Gede banget, sumpah!” teriak Nathalie yang tak sengaja melihat Daffin sedang berganti celana dalam. Pria itu benar-benar nyaris jantungan saat kepergok tak memakai celana. “Nath? Astaga Nathaliiie! Tutup pintunya!!” sorak Daffin yang tak kalah kencang. Keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain. Sepersekian detik, Nathalie tidak bisa menutupi wajah polosnya saat memandangi bagian tubuh Daffin yang terbuka terekspos begitu saja di depan matanya. Dalam jarak 3 meter itu, dia bisa melihat setiap lekukan maskulin yang seksi dari sahabatnya itu. Daffin buru-buru melemparkan celana dalam ke wajah Nathalie agar membuat wanita itu tersadar karena telah bertindak sembrono membuka kamarnya tanpa permisi. Dengan kesusahan, Daffin menarik baju apa pun di dalam lemari untuk menutupi bagian sensistifnya. “Ck, makanya pintu dikunci dong! Masak iya, kamu ganti baju dengan ceroboh begini,” kata Nathalie mengomel. Dan dia menutup pintu kembali. Daffin heboh tak jelas di dalam kamar karena kesal dengan kelakuan absurd Nathalie. Telinganya memerah karena menahan malu lantaran tubuhnya terekpos di mata Nathalie yang polos. “Dia itu cewek apa bukan sih, masa melihat tubuh polosku begini dia ngak ada malu-malunya,” gerutu Daffin kesal. Dia berusaha memasang celananya sambil duduk di kursi. Karena tangannya yang cedera masih belum pulih, Daffin pun kesulitan memakai pakaiannya. Bahkan buang air kecil saja dia kesulitan menurunkan celana. Dan apalagi di malam hari tangannya selalu keram karena sering terjepit dipeluk Nathalie yang selalu berkuasa tidur di ranjang. Bukannya apa-apa, padahal Daffin telah menyediakan kamar untuk wanita itu di seberang kamarnya, namun Nathaie malah kekeuh ingin satu kamar dengannya. Wanita itu, memang sedari dulu tidak mempermasalahkan perbedaan kelamin mereka. “Kau masih di pintu? Sini masuk, aku udah selesai,” kata Daffin memanggil Nathalie yang berdiri di luar kamarnya. Lalu pintu dibuka, Nathalie berjalan perlahan menghampiri Daffin yang setengah berbaring di ranjang. Pria itu sedang bersandar di dipan tidur sambil memengangi tabletnya. “Ehhem… hehe, sorry ya, tadi itu aku engak sengaja mengintip itu mu… sedikit,” ucap Nathalie malu-malu menahan tawa saat melirik sekilas ke arah milik Daffin. “Huuum,.. kenapa? Ada apa kok buru-buru ingin masuk ke sini?” tanyanya membuang muka. Nathalie membenarkan posisi duduknya, dan bersedekap menatap Daffin. Dia ingin meminta Daffin melepaskannya pulang sekarang juga. “Aku mau pulang sekarang.” kata Nathalie To the Poin. “Hah? Kenapa? Apa ada yang bikin kamu engak betah disini?” tanya Daffin penasaran. Nathalie menggeleng pelan. “Bukan begitu, tapi aku bosan banget disini terus. Aku butuh hiburan dan ketemu sama teman-temanku,” sahut Nathalie serius. Sejenak Daffin berpikir, dia yakin jika Nathalie pasti merindukan pacar barunya itu. Karena wanita mana pun itu, pasti merasakan kasmaran karena lama tak bertemu kekasihnya. Tapi, Daffin tidak bisa membiarkan Nathalie sendirian untuk saat ini karena musuh sedang mengintai mereka. Baru saja Jeffri mengabarkan jika saat ini Cakra sedang mencoba menggoyangkan bisnis Daffin di bidang kilang minyak. Dan dia juga sibuk mengurusi masalah izin pemasokan minyak ke dalam negeri saat ini tertahan di lautan. “Begini Nath, aku bukannya mau melarang kamu. Tapi.. masalahnya sekarang situasinya rumit, kamu baru saja diculik sama sekelompok orang dari bagian musuhku. Dan sekarang aku cemas jika hal itu terulang lagi,” tegas daffin mencobe memberi pengertian. Nathalie menghela napas lelah. Ini adalah waktu terlama baginya absen tidak menikmati party, sebaliknya sekarang keselamaatnnya juga terancam. “Tapi aku butuh hiburan,” ujar Nathalie bersungut-sungut. “Oke, aku paham. Malam ini aku bakal temani kamu ke party itu. tapi dengan syarat, kamu pulang lagi ke sini,” ujar Daffin. Nathalie sedikit tidak menerima, tapi ya mau bagaimana lagi. daripada duduk berjamur di mansion sebesar ini, lebih baik dia keluar menikmati hiruk pikuk pesta dengan pengawalan ketat. “Ya okelah. Aku ngak mau diatur-atur dekat teman-temanku ya Fin. Dan kamu, apa sanggup berpesta dengan kondisi seperti itu,” tunjuk Nathallie pada lengan Daffin yang masih disandang pakai gips. “Aku ini kuat loh ya, tapi hanya saja diharuskan dokter memakai ini, makanya tak ada pilihan,” ucap Daffin sombong. Nathalie tersenyum mengejek, lalu dia menjitak kepala Daffin dengan gemas. “Dasar keras kepala! Tuh rasain,” ucapnya menyentil kepala Daffin dan membuat dia tertawa puas. “Hmm, tapi kayaknya aku ngak bisa temani kamu deh Nath. Takutnya luka kepala ini bedarah lagi. nanti kamu pergi sama Jeffri saja gimana?” Daffin agak ragu berparty di club. “Ya bolehlah. Lagian asisten kamu itu kayak kurang hiburan deh Fin. Aku perhatiin dia sibuk sana sini mengurusi pekerjaan melulu. Akan lebih baik kalau dia berteman dengan orang seperti aku, maka hidupnya akan kembali ceria… hehehe,” kata Nathalie berbangga hati. “Dasar Queen Night,” sahutnya jengah. Malamnya, Nathalie diantar Daffin dan dua pengawal bersama Jeffri ke depan club. Daffin tidak ikut turun karena dia hanya memastikan saja keselamatan Nathalie di dalam ditemani Jeffri. Nathalie berpamitan dengan Daffin di depan pintu lobi club. Pria itu seolah begitu berat melepaskannya untuk pergi berpesta. "Daffin, nanti kita sambung lagi nasihatmu itu sepulang aku berpesta ya..," ucap Nathalie mendorong d**a Daffin yang mencondongkan tubuhnya memasangkan resleting jaket hingga ke leher Nathalie. Pria itu paling anti melihat Nathalie berpakaian terbuka. Namun sebaliknya, Nathalie malah bertindak kegerahan karena dipasangi jaket tebal. "Aku bukan pergi ke kutub ya Fin... sekarang cukup! Jangan mendadak jadi stylish aku," kata Nathalie menyudahi keposesifan sahabatnya ini. "Hmm... aku masih ingin memakaikan syal ini, Nath," jawab Daffin menggulung Syal ke leher Nathalie. "Tiiiiinnn... tiiiinnnn ...." Pengemudi mobil di belakang mobil Daffin membunyikan klakson dengan kesal karena mobil di depannya tak kunjung bergerak dari depan lobi Club malam itu. "Bye, Fiin!" pamit Nathalie buru-buru membuka pintu mobil untuk kabur dari keposesifan sahabat prianya itu. Dia tersenyum melambaikan kiss bye pada Daffin yang mencebik menatapnya sebelum menutup pintu mobil range rover hitam itu. Sekali lagi sopir mobil di belakang mobil Daffin membunyikan klakson panjang karena sudah membuat antrian panjang. Nathalie pun segera kabur ke dalam lobi sambil cekikikan. Akhirnya mobil Daffin beranjak dari sana. Daffin membuka kaca jendelanya dan mengulurkan jari tengahnya ke pengemudi mobil yang kehilangan kesabaran di belakang mobilnya. "Selamat malam, Queen Night" sapa bartender tampan berambut panjang sepinggang itu sambil berdiri. "Selamat malam juga, Kalvin," balas Nathalie lalu masuk ke area party kelas VVIP. Seperti dugaannya, 10 menit kemudian rombongan teman partynya datang satu per satu. "Night Baby" pekik Hani mencium pipi kanan dan kiri Nathalie senang. "Welcome Sob!" jawab Nathalie dari kursi duduknya Sejenak, matanya membulat saat melihat pria yang sedang dirindukannya selama beberapa hari ini datang menghampirinya dengan senyuman manisnya yang menggoda. "Helo Nath," sapa Kris dengan mengedipkan mata sekilas. Dan itu membuat Nathalie klepek-klepek kesenangan. Kris menarik tangan Nathalie mengikutinya ke belakang. Dia ingin melampiaskan rasa rindu yang tertunda dalam 3 hari ini. Tiba-tiba saja wanita cantik yang baru menjadi kekasihnya ini menghilang tanpa kabar. "Baiklah... baiklah. Jangan tarik-tarik begitu sayang. Kalau begitu, apa yang bisa kubantu di sini, Kris?" balas Nathalie mencoba menenangkan dirinya. Tatapan pria itu seolah menelanjanginya dan dia merasa tidak nyaman. Senyum terbersit di bibir tipis Kris, dia pun berkata, "Aku memiliki problematika kasmaran yang memuncak pada kekasih cantikku ini...." kata Kris mencubit dagu Nathalie. Tidak semua teman pria atau mantan pacarnya dahulu bisa bersikap bebas kepada Nathalie. Dia memang suka menjalin hubungan, tetapi itu hanya sebatas asmara ringan tanpa bermain di ranjang. Kali ini dia melihat ada rasa kerinduan lain yang terlihat dari mata Kris. Mungkin sejenis hubungan pacar menjadi partner ranjang? Dan itu tidak boleh! Akhirnya Nathalie membulatkan tekadnya untuk menjelaskan batas hubungan asmara di antara mereka. Sebaiknya dia harus membuat kesepakatan di depan sebelum memulai hubungan lebih lanjut. "Kris, aku mengerti perasaannmu. Namun, sebelum kita melangkah ke tahap selanjutnya, aku ingin membuat kesepakatan denganmu. Apa kau setuju?" tanya Nathalie tegas. Kris pun tertawa pelan menatap Nathalie. "Kesepakatan apakah itu, Nath?" balasnya. "Kau tidak boleh melakukan tindakan fisik yang sifatnya agresif kepadaku saat kita menjalin cinta. Jika kau melanggar, aku akan langsung mengakhiri hubungan ini. Bagaimana?" jawab Nathalie dengan nada tegas yang tak dapat ditawar. 'Oohh Wow!... wanita yang menarik. Mata cokelat indahnya berapi-api ketika berbicara. Tidak boleh ada tindakan fisik yang agresif? Hmm...,' batin Kris menimbang-nimbang. Dengan yakin Kris menganggukkan kepalanya. "Baiklah." "Oke, kita sepakat. Sekarang tolong mainkan musik DJ terbaikmu dan buatku melayang malam ini Honey! Aku kangen berjoged jedag jedug ya sayang," ucap Nathalie mengecup pipi Kris sekilas. Kris menarik pinggang ramping Nathalie dan menyesap bibir mungil itu dengan lembut, mengulum bagian luarnya yang terasa sangat lembut dan manis. Lalu mereka berjalan bersisian ke arah panggung. Aroma tubuh Nathalie yang menguarkan wangi vanila yang lembut itu membuat Kris ingin menerkamnya dan mencabik-cabik pakaian wanita itu sekarang juga. Namun dia menahan dirinya dengan kuat, mereka telah membuat kesepakatan. 'Wanita cerdas!' pujinya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD