Bab. 1. Tanpa Sengaja.
"Zyan .... Kau pulang?" tanya Arunika dengan wajah waspada saat melihat tatapan suaminya.
Lelaki tampan yang berjalan memasuki kamar dengan jas di sampirkan di pundak itu terus mendekat ke arah istrinya. Sedangkan wanita cantik itu terus mundur menghindari Zyandra.
Kemudian dia berkata, "Sejak kapan kita sedekat itu, hingga kau memanggilku begitu?"
Mata Arunika terbelalak kaget, dia kemudian mengerjap pelan, sambil mencoba menenangkan hatinya yang terasa kacau.
"Maaf!" satu kata itu keluar dari mulut wanita cantik dengan rambut sebahu itu.
Dalam sekali tarik, tubuh Arunika sudah berada dalam dekapan lelaki bertubuh tinggi tegap itu.
"Ka-kau mau apa?" tanya Arunika dengan wajah gugup dan suara terbata.
Dia takut suaminya mendengar degup jantung yang bertalu hebat. Ia juga tidak ingin kalau lelaki yang menikah dengannya selama dua tahun ini mengetahui perasaan yang sudah lama ia cintai.
Zyandra membungkam bibir Arunika dengan ciuman menuntut dan brutal. Wanita itu terpaku untuk beberapa detik, sebelum kesadarannya kembali. Ciuman pertama akhirnya direnggut oleh suaminya.
Selama menikah dengan Zyandra, Arunika tidak bersentuhan secara intim selayaknya pasangan yang sudah menikah. Meski mereka tinggal sekamar, nyatanya sikap dingin lelaki itu memberikan batasan yang tidak bisa diruntuhkan dengan mudah oleh dirinya.
Kedua tangan Arunika terus memukul d**a bidang suaminya. Berharap agar perlakuan Zyandra berhenti. Namun semua sia-sia, saat pelukan lelaki itu mengerat dan sentuhan intim terus dilakukan lelaki tampan itu.
"Emm ...!" suara lenguhan teredam oleh ciuman keluar dari bibir Arunika.
"Diam dan nikmati!" bisik Zyandra di telinga istrinya.
'Apa aku tidak salah dengar?' tanya Arunika dalam hati.
Tatapan kosong yang tertuju pada wajah tampan Zyandra itu tidak lama, karena lelaki itu kembali melakukan hal yang membuatnya kuwalahan.
"Ahh, apa yang sebenarnya terjadi, Zyandra?"
Arunika masih mencoba waras dan bertanya kepada suaminya atas apa yang terjadi. Karena dia tidak ingin disalahkan esok hari. Selama ini, mereka hanya menjalankan peran untuk dua keluarga saja.
Tidak ada sentuhan atau kata manis layaknya pasangan suami istri. Dan malam ini, Zyandra menuntut haknya dengan paksa atau mungkin tidak sadar, karena mabuk.
"Zyandra ....!"
Lelaki itu menatap dalam ke arah wajah istrinya yang malam ini berbeda. Lebih cantik dan terlihat anggun meski keadaannya sudah setengah tel@nj*ng karena ulahnya.
Suara lembut itu terasa mendayu dalam pendengarannya. Hingga dia kembali melakukan hal yang tertunda itu lagi. Tangannya meraba pada gundukan yang terasa pas di telapak tangannya.
Kenyal, padat dan membuatnya ingin terus bermain di sana. Ia juga memberikan beberapa tanda keunguan di sana. Bermain dengan puas yang ternyata membuatnya sangat senang.
"Ahh, Zyandra ...!"
Ciuman lelaki tampan itu turun ke perut, bermain dengan jemarinya di atas puasaran Arunika. Membuat lenguhan semakin terdengar keras keluar dari bibir wanita cantik itu. Tubuhnya melengkung karena merasakan sensasi yang aneh dalam tubuhhya.
Meski dia sering bermain ke tempat terlarang bersama sahabatnya, namun Arunika tahu batasan untuk menjaga kesucian tubuhnya. Selama menikah, malam ini pertama kali mereka bersentuhan intim.
Hal itu membuat pikirannya melayang dengan rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.
"Zyandra ....! Jangan lakukan ini! Kamu sedang tidak sadar, aku tidak mau kau menyesal!"
Suara lirih yang terdengar gemetar itu tidak dihiraukan oleh Zyandra. Yang lelaki itu piiirkan adalah mendapat pelampiasan atas segala rasa yang ia tahan selama bersama istrinya.
Dalam sekali hentak, Zyandra sudah berhasil melucuti pakaian istrinya tanpa sisa. Ia masih bisa memandang tanpa kedip ke arah lembah basah yang berwarna pink sempurna itu.
'Menajubkan! Dia merawat dengan baik dan aku sangat menyukainya,' monolog Zyandra dalam hati.
Dalam jeda yang sementara itu, Arunika mencoba bernafas dengan leluasa. Dia bangun namun hanya mengangkat setengah badannya. Dia menatap suaminya dengan wajah memohon agar berhenti saja, meski dia sudah masuk dalam birahi yang memuncak.
"Zyandra .... Aku tidak ingin kau menyesal!" Arunika terus mengingatkan.
Namun Zyandra tidak berhenti. Ia melahap dengan rakus lembah Arunika. Lidahnya bermain menusuk dan menariknya dengan tempo pelan kadang cepat. Membuat Arunika bergerak gelisah dengan bibir terus merancau nikmat.
"Ahhh .... A-apa yang kau lakukan, Zyan? A-ku tidak tahan lagi. Aahh ...."
Cairan kental dengan aroma khas itu keluar dan menyembur langsung ke bibir Zyandra. Lelaki itu tanpa rasa jijik melumat kasar dan menyentuh bagian sensitif istrinya dengan sentuhan lembut.
"Aaah, Zyan!"
Nafas Arunika terdengar berat dengan irama tidak teratur. Setelah beberapa detik berlalu, ia bangun dan memulai permainan.
'Jika kau tidak mau berhenti, aku akan mencoba memainkan peranku dengan baik. Apa pun yang terjadi besok, setidaknya aku tidak menyesal setelah menunggu selama dua tahun lamanya,' ucap Arunika dalam hati.
Wanita itu mencium brutal bibir Zyandra. Lelaki itu pun menerima perlakuan istrinya. Keduanya saling mencecap, hingga terdengar irama yang memabukkan.
Ciuman Arunika turun ke leher dan menberikan tanda di sana. Tangannya terus bergerak pada d**a bidang suaminya. Hal itu membuat Zyandra mengerang merasakan nikmat.
"Arunika, kau —"
Bibir Zyandra terbungkam oleh ciuman Arunika sehingga tidak melanjutkan ucapannya. Setelah puas dengan ciumannya, Arunika mulai menggoda senjata suaminya yang sejak tadi sudah meronta ingin keluar dari sarangnya.
Ia tanpa takut dan ragu meloloskan kain terakhir itu. Kemudian bermain dengan lincah menggoda senjata Zyandra. Lelaki itu mendesah pelan dengan memejamkan mata merasakan nikmat yang susah di jelaskan.
"Ahh ...."
Tangan Zyandra sengaja menekan kepala istrinya agar pusakannya masuk lebih dalam pada bibir istrinya itu. Merasa tidak tahan lagi dengan godaan Arunika, lelaki bertubuh kekar itu membalikkan keadaan dan menindih istrinya.
Keduanya bertatapan dengan mata sayu. Mata Arunika jelas sekali memancarkan cinta untuk suaminya. Namun Zyandra terlihat dingin tak tersentuh.
"Ini pertama kalinya untukku, pelan-pelan ya!"
Bisikan lembut di telinga Zyandra membuat lelaki itu tanpa ragu mengangguk pelan. Dia mencium bibir istrinya dengan lembut, hingga pusakanya perlahan menembus lembah basah milik Arunika.
"Ahh .... Sakit, Zyan!" rintihan dengan air mata menggenang di pelupuk mata Arunika membuat tatapan lelaki itu melembut.
Lelaki itu menjeda kegiatannya sementara, sampai wanita di bawah kungkungannya kembali siap.
'Rasanya sungguh sempit namun terasa nikmat. Ini belum sepenuhnya masuk, tapi rasanya sudah senikmat ini,' gumam Zyandra dalam hati.
Zyandra kembali bergerak, dia mendesak pusakanya hingga masuk sempurna dalam lembah basah Arunika. Lelaki itu juga mengerang nikmat merasakan sensasi yang luar biasa.
Di bawah kungkungan suaminya, Arunika menikmati setiap momen yang diberikan Zyandra. Karena besok pagi, semua yang terlewati malam ini, hanya akan menjadi mimpi bagi lelaki tampan itu.
Gerakan lambat yang dilakukan Zyandra berubah cepat, saat dia merasakan milik istrinya terasa menjepit senjatanya. Dan dia merasakan kehangatan dan juga kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan dari wanita manapun.
"Ahhh, sakit, Zyan!"
"Ahhh, terasa penuh di dalamku."
"Ahhh, ahh, aku tidak tahan lagi, ada yang mau keluar!"
Rancauan Arunika yang terdengar di telinga Zyandra membuat lelaki itu semakin menggila dan terus menggoyang ranjang kamar dengan lampu temaram itu. Hingga hampir satu jam berlalu, lelaki itu memuntahkan cairan cinta dalam rahim Arunika.
Tubuh lelahnya ambruk ke tubuh polos Arunika. Keduanya saling berpelukan dengan suara nafas berat saling bersahutan.
"Shhh ..., ternyata sesakit ini rasanya. Tetapi aku sangat bahagia karena kehormatanku aku berikan kepada orang yang mungkin sudah aku cinta," gumam Arunika dengan suara pelan dan air mata jatuh membasahi pipinya.