RASA YANG TERBAGI

1006 Words
"Suamimu curiga lagi?" tanya seorang lelaki yang tengah memeluk Inara di atas ranjang. Posisi mereka tiduran tanpa busana, dengan selimut tebal berwarna abu-abu sebagai penutup. Inara ada di depan lelaki itu, miring ke arah kanan. Di belakanganya, lelaki itu memeluknya begitu posesif. "Wajar kalau mas Arya curiga, Bim. Kita sudah tiga hari di Paris, dan aku lupa untuk mengabarinya. Lagi-lagi aku ceroboh," sahut Inara tanpa menoleh ke arah lelaki bernama Bima itu. Bima merupakan mantan kekasih Inara saat mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Mereka berpisah tanpa kata putus. Bima yang harus ikut orang tuanya pindah ke luar kota, ditambah ponselnya yang saat itu hilang tercecer membuat keduanya tidak bisa berkomunikasi. Tidak ada yang salah dengan pernikahan Inara, dan Arya. Keduanya menikah karena saling mencintai. Keputusan Inara terikat pernikahan dengan Arya memang terkesan buru-buru. Saat itu dia merasa kalau Arya merupakan sosok yang tepat untuk hidupnya. Lelaki itu memiliki sisi menarik dari berbagai aspek. Tidak hanya soal visual, tetapi juga materi. Hanya saja, semua keyakinan Inara terpatahkan saat dia bertemu kembali secara tidak sengaja dengan Bima. Lelaki yang berprofesi sebagai fotografer itu kembali memikat hatinya. Apalagi kisah masa lalu mereka yang belum usai. Padahal posisi keduanya sama-sama sudah memiliki pasangan. "Aku sengaja tidak mengingatkanmu, karena jujur saja aku cemburu setiap melihat kamu berinteraksi sama suamimu. Coba kalau kita sama-sama belum menikah, kita tidak perlu menjalin hubungan gelap seperti sekarang," sesal Bima. Berbeda dengan Inara, Bima menikah dengan istrinya karena perjodohan. Semenjak kehilangan kontak dengan Inara, lelaki itu lebih memilih menutup diri. Dia hanya fokus pada bidang yang ditekuninya, fotografi. Hingga membuat orang tuanya menjadi resah, dan memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak rekan kerja mereka. "Cemburu sih cemburu, tapi kamu tidak perlu melakukannya dengan brutal di saat suamiku menelepon seperti tadi. Untung saja aku bisa menahan desahanku, kalau tidak, dia bisa langsung menceraikan aku, Bim." Inara melayangkan protes. Tadi dia memang hampir saja ketahuan oleh Arya karena tingkah nakal Bima. Lelaki itu dengan sengaja mengguncang tubuhnya di saat sambungan teleponnya dengan Arya berlangsung. Hingga Inara memilih cepat-cepat mengakhiri obrolannya dengan Arya sebelum Bima semakin nekat. "Aku memang sengaja, Sayang. Melihat ekspresimu menahan desahan tadi membuatku semakin ingin menjahilimu. Sayang sekali, kamu terlalu cepat mematikan sambungan teleponnya," sahut Bima sambil tertawa kecil. "Aku tidak mungkin membiarkan Arya mengetahui semuanya, Bim. Kita sudah komitmen untuk menjaga hubungan kita dengan pasangan masing-masing, bukan? Tolong jangan seperti itu lagi." Inara memperingatkan. Inara tahu, langkahnya menjalin hubungan gelap dengan Bima merupakan sebuah kesalahan besarnya, tetapi dia tidak ingin apa yang dilakukannya berdampak pada pernikahannya dengan Arya. Dia juga tidak berniat untuk mengakhiri kegilaannya itu. Sebagai publik figur, Inara tetap ingin menjaga nama baiknya. Selain itu, dia juga tidak ingin menghancurkan hati semua anggota keluarganya atas apa yang sudah dilakukannya sekarang. "Bagaimana kalau kita meninggalkan pasangan masing-masing, lalu menikah? Aku tidak bahagia dengan pernikahanku, Inara. Perjodohan itu membuatku terjebak." Bima berharap Inara mau mengikuti keinginannya. Dengan begitu mereka bisa bersatu. Berbeda dengan Inara, Bima tidak keberatan untuk melepaskan pernikahannya untuk bersatu dengan mantan kekasihnya itu. Mengingat, dia memang tidak pernah mencintai sang istri. "Maaf, Bima. Aku tidak bisa. Kita berjalan sesuai dengan kesepakatan awal saja. Aku tidak mungkin menceraikan mas Arya. Kamu tahu sendiri, bukan? Karirku bisa hancur kalau sampai perselingkuhan kita terendus media. Tolong mengertilah, Bima." Kali ini Inara pelan-pelan berbalik, menghadap ke arah Bima. Tatapan mereka bertemu. Terlihat begitu jelas sorot cinta di sana. Keduanya memang masih mencintai satu sama lain. Hanya keadaan yang menghalangi mereka untuk bersatu kembali. "Tapi kamu harus janji padaku, Inara. Jangan pernah kamu tinggalkan aku. Kalau kamu berani melakukan itu, aku tidak akan segan-segan membongkar semuanya. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, Inara." Bima berucap serius sambil membelai rambut Inara. Dia tidak akan membiarkan Inara untuk lepas dari pelukannya kedua kali. Bima tidak akan segan untuk melakukan apapun supaya wanita itu tetap berada dalam dekapnya. Perpisahan mereka selama bertahun-tahun sudah cukup membuat batinnya tersiksa. "Aku akan usahakan, Bima. Selama kamu bisa menjaga sikapmu, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Jangan melakukan apapun yang membuat mas Arya curiga. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai hal itu terjadi." Inara balik memberikan syarat untuk Bima. Dia tentu tidak ingin selingkuhannya itu menjadi boomerang untuk hubungannya dengan Arya. "Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin, Inara. Berdoa saja supaya aku bisa mengontrol emosiku. Karena saat melihatmu berinteraksi dengannya, aku sangat cemburu." Bima menarik Inara ke dalam pelukannya. Lelaki itu tampak begitu manja. Dia terlihat begitu lemah di dalam pelukan Inara. Wanita itu pun tanpa ragu membalas pelukan dari kekasihnya. Dia mengerti, seperti apa perasaan Bima sekarang. "Kita saling mengerti saja, Bima. Bukan mau kita untuk berada dalam posisi ini, dan aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu. Karena sampai kapan pun aku tidak akan bisa menceraikan mas Arya. Dia sudah terlalu baik padaku, dan juga keluargaku. Aku tidak mau melukainya lebih dalam. Apa yang aku lakukan sekarang saja sudah menyakiti perasaannya," ucap Inara dengan nada serius. Begitu juga dengan tatapannya yang begitu dalam ke arah Bima, saat dia membuat jarak di antara mereka. "Seandainya keluargaku tidak pernah pindah ke luar kota, kita pasti tidak akan terpisah, Inara. Aku dan kamu bisa menikah, dan menjalani hari dengan bahagia. Sekarang, apapun yang aku miliki tidak pernah terasa lengkap tanpa kamu." Waktu tidak akan pernah bisa kembali. Takdir sudah menggariskan mereka berada pada titik yang sekarang. Keduanya hanya bisa terjebak dalam hubungan terlarang. Hubungan yang seharusnya tidak pernah ada. "Penyesalan kita tidak akan mengubah apapun, Bima. Kita memang sudah diharuskan berada dalam kondisi ini. Terpenting, perasaanku masih sama seperti dulu, aku masih sangat mencintai kamu, Pangeran Stroberi ku," ucap Inara sambil mencolek ujung hidung Bima. Bima menatapnya lekat, dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Dengan gerakan cepat, Bima menarik kepala Inara, dan menyatukan bibir keduanya. Sebuah ciuman hangat menyalurkan perasaan mereka. Inara membalas apa yang Bima lakukan dengan perlahan. Membuat mereka hanyut dalam kenikmatan. Melupakan apa yang semestinya mereka ingat. Terutama pasangan mereka masing-masing. "Maafkan aku, Bima. Aku tidak jujur padamu. Sebenarnya perasaanku sudah terbagi. Aku juga mencintai mas Arya dengan sama besarnya denganmu. Memilih di antara kalian sungguh aku tidak sanggup untuk sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD