"Ambil makanan apa aja, aku yang bayar!" ucap Luna dengan nada cerita saat dia, Keyra, dan Nindi sampai di sebuah kafe. Mereka berdua merupakan teman akrab Luna sejak ketiganya masih SMP.
"Kayaknya ada yang lagi hepi, nih. Nggak ada angin, nggak ada hujan, mendadak traktir kita," kata Keyra sambil mengode Nindi.
"Iya, ya. Mendadak banget lagi, jam makan siang ngajakin ketemuan. Biasanya juga kita yang selalu ngajakin dia ketemu. Itu juga susahnya minta ampun," celetuk Nindi.
"Jadi kalian nggak seneng, nih? Dapet traktiran dari aku? Kalau nggak mau ya nggak apa, sih. Lumayan. Duit aku nggak jadi kepake," sahut Luna sambil melihat-lihat daftar menu. Tentu saja dia tidak serius.
"Makan gratis mana ada yang nolak , Lun. Tapi kayaknya kamu utang cerita deh ke kita, nggak mungkin kan kamu mendadak loyal gini kalo nggak ada sesuatu yang jadi faktor pendorongnya," selidik Nindi, dan Keyra menunjukkan gesture setuju dengan apa yang Nindi katakan.
"Sebentar, kita pesen makanan dulu, deh. Biar aku panggil mbak-nya," Luna melambaikan tangan ke arah pegawai kafe tersebut untuk memesan makanan.
Selanjutnya, ketiga sahabat itu sibuk memesan makanan. Setelah pegawai kafe tersebut selesai menulis pesanan mereka, dan melangkah pergi, barulah Keyra, dan Nindi kembali fokus ke Luna. Mereka sangat ingin mengetahui cerita dibalik acara traktiran kali ini.
"Jadi, sebenarnya aku lagi seneng banget," ucap Luna girang, tetapi dia sengaja menjeda kalimatnya. Membuat rasa penasaran kedua sahabatnya itu semakin membuncah.
"Seneng banget kenapa? Kamu bikin kita makin kepo, deh!" Keyra menyahut.
"Aku diajak pak Arya meresmikan perusahaan kosmetik barunya di Bali. Kita berangkat besok. Ini tuh rasanya kayak mimpi tau nggak, sih?" curhat Luna dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Nindi dan Keyra berpandangan.
Mereka berdua tahu siapa Arya. Sejak awal pertemuan Luna dengan bosnya itu, dia sudah menceritakan semuanya kepada dua sahabat karibnya itu. Pokoknya hampir setiap hari topik pembicaraan Luna selalu tentang Arya. Dia juga menceritakan rasa kecewanya saat tahu kalau lelaki itu ternyata sudah memiliki istri.
"Astaga, aku kira kenapa, ternyata cuma diajak Arya ke Bali," sahut Nindi dengan nada kecewa.
"Bagiku, diajak pak Arya pergi berdua itu bukan 'cuma'. Kalian tau kan, gimana perasaan aku ke dia? Bisa punya kesempatan pergi berdua sama pak Arya itu sesuatu banget."
"Iya, aku ngerti, Lun. Tapi tetap saja, kan ... kamu nggak perlu seseneng ini. Dia udah punya istri. Jangan sampai ini jadi bumerang buat kamu." Keyra berusaha mengingatkan.
"Kali ini aku setuju sama Keyra. Kamu harus hati-hati. Bisa jadi nanti mendadak istrinya nyusul ke Bali terus ngelabrak kamu. Ih, ngeri banget, Lun." Nindi bergidik ngeri membayangkan hal itu terjadi.
"Kalian berdua mikirnya kejauhan, deh. Aku cuma sebatas seneng karena punya kesempatan pergi berdua sama pak Arya. Bukan berarti aku mau ngelakuin hal macem-macem sama dia. Aku cukup tahu batasan, kok. Nggak mungkin aku ngerebut dia dari istrinya," jelas Luna.
Dia memang naksir dengan Arya, tetapi dia tidak berpikiran untuk merebut lelaki itu dari pasangannya. Luna hanya ingin menikmati kebersamaan bersama Arya, dan merasakan bisa berdekatan dengan lelaki itu berdua saja. Selebihnya, Luna tahu di mana posisinya.
"Ya siapa tahu setan hasut kamu, terus di Bali kamu ngapa-ngapain pak Arya," ucap Keyra sambil terkikik.
"Nah, itu yang aku takutin. Saking cintanya Luna sama pak Arya, dia bisa aja kan, godain pak Arya. Apalagi nanti mereka cuma berdua." Nindi menimpali.
"Astaga! Pikiran kalian emang udah nggak bisa diselametin, ya? Parah. Emang aku cewek apaan?"
"Permisi, Kak. Ini pesanannya," ucap sang pegawai kafe menyela.
Terpaksa ketiga sahabat itu menunda obrolan mereka. Membiarkan dua pegawai kafe menghidangkan pesanan mereka.
"Harum banget bebek bakarnya, seketika langsung laper," ucap Nindi begitu para pegawai meninggalkan mereka.
"Gimana mau kurus, bau makanan aja langsung ngiler. Astaga Nindi!" ejek Keyra yang direspon dengan tertawa oleh Luna.
"Besok diet. Sekarang gas aja, mumpung ada yang traktir," sahut Nindi cuek sambil menarik bebek bakar pesanannya supaya lebih dekat.
Kedua sahabatnya itu hanya menggeleng. Di antara mereka bertiga, Nindi memang yang paling gempal. Gadis itu memiliki hobi berburu makanan. Setiap melihat timbangan badannya, dia selalu histeris, dan berjanji untuk diet. Tapi ketika sudah melihat makanan, niat dietnya pun seketika lenyap. Dia selalu bilang kalau diet itu bisa ditunda besok lagi.
"Tapi Lun, bos kamu itu emang ganteng banget, sih. Kalau dia masih lajang, aku mungkin bakalan jadi salah satu saingan kamu buat bisa deketin dia," ujar Nindi di tengah-tengah acara makan mereka.
"Dia nggak cuma ganteng, Nin. Wibawanya sebagai bos itu kerasa banget. Apalagi kalau lagi deket sama dia, pesonanya bikin badan aku gemeteran." Seperti biasa, Luna selalu memberikan pujian untuk Arya.
"Kalau misalnya dia godain kamu duluan, kamu mau nggak jadi selingkuhannya?" tanya Keyra tiba-tiba.
Luna terdiam sejenak.
"Kayaknya nggak mungkin pak Arya godain aku. Di ruang kantornya aja ada foto pernikahan dia segede gaban. Pak Arya itu tipe setia."
"Ngenes banget kamu, Lun. Alih-alih dapet cowok baru, malah jadi pengagum rahasia suami orang," ledek Nindi sambil terkikik.
"Ngenes emang. Padahal pas awal ketemu aku udah doa supaya bisa jodoh sama dia. Eh, ternyata. Dianya udah punya bini. Dengan terpaksa doa dibatalkan," canda Luna.
"Ambil sisi positifnya aja, Lun. Siapa tau nanti di Bali kamu ketemu bule ganteng, terus diajakin nikah kayak para tiktokers gitu, kan?"
"Bener tuh kata Keyra. Di Bali nanti jangan terlalu fokus sama pak Arya. Fokuslah cari bule-bule tampan."
"Nggak, deh. Boleh aja kalau lokal, jangan bule. Kalau nggak beruntung, bisa ketemu bule nakal. Mendingan sementara jadi pengagum rahasia pak Arya, lebih baik. Tidak beresiko. Paling cuma sakit hati dikit pas dia telponan sama bininya."
"Payah kalo ngomong sama orang bucin. Dikasih solusi malah maunya tetep bertahan bucin sama laki orang. Intinya hati-hati, Lun. Apalagi kalian perginya cuma berdua. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Nindi kembali memperingati.
"Iya, janji sama kalian, di sana aku nggak akan aneh-aneh. Murni kerja. Kalian berdua doain aku, supaya masa jomblo-ku ini cepat berlalu. Dengan begitu, aku bisa perlahan lupa sama pak Arya."
"Pasti. Kita bakalan selalu doain kamu. Pokoknya bahagia kamu, bahagia kita juga. Begitupun sebaliknya," ucap Keyra.
"Iya, Lun. Kita itu sepaket. Pokoknya kamu kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita. Eh, berapa hari kamu di Bali?"
"Tiga hari kata pak Arya."
"Wih lama juga. Jangan lupa oleh-olehnya."
"Tenang, nanti masing-masing aku bawain kalian sekantong pasir pantai Sanur," ucap Luna sambil tertawa terbahak-bahak.
Ketiga sahabat itu larut dalam obrolan mereka, hingga tanpa terasa jam makan siang habis, dan mereka memutuskan untuk kembali ke kantor masing-masing.