Sebagian besar orang berpikir bahwa ini tidak penting
Namun sebagian lagi berpikir itu penting
Ingatlah bahwa setiap orang punya cara tersendiri untuk mengeskpresikan hidup mereka
***
Key berjalan malas, ia menatap hirup pikuk kota Jakarta yang sungguh nyaman dan tidak nyaman dalam waktu bersamaan. Nyaman karena ia sudah terbiasa, tidak nyaman karena berbeda ketika ia tinggal di Cambridge, US. Saat menempuh gelar masternya di Harvard, Key memang memilih untuk hidup di antara keramaian kota.Namun ramai di Cambridge, berbeda dengan di Jakarta. Di US, tidak seribut di Jakarta. Dan itu penyebab bagi Key, bahwa Jakarta itu kurang nyaman. Tapi, ia tak lagi bisa berkata apa-apa untuk sekarang. Ia hanya sedang meratapi nasibnya, bisa-bisanya dia bertemu dengan sosok yang paling tidak ingin ia temui sepanjang sisa hidupnya.
Padahal, Key selalu berdoa tiap malam untuk tidak bertemu lagi dengan sosoknya. Tapi apa coba? Bisa-bisanya ia malah bertemu dengannya disaat-saat yang sangat-sangat tidak ia inginkan. Key terus melangkahkan kakinya, menelusuri jalanan kota yang tidak terlalu panas. Meski sadar atau tidak sadar, sejak tadi. Key merasa bahwa ada mahluk-mahluk lain yang melihatnya. Bukan, Key itu bukan sejenis manusia indigo atau bisa melihat mahluk halus. Maksud Key itu adalah, seperti ada orang yang mengawasinya sejak tadi. Tepatnya sejak ia keluar dari apartemennya, memasuki bus dan berhenti lagi. Padahalkan Key itu bukan sejenis manusia yang terkenal di kalangan dunia nyata ataupun di kalangan dunia maya. Key bahkan tidak punya yang namanya sosmed atau semacamnya. Selain untuk hemat kuota, Key juga tau bahwa sosmed itu tidak terlalu berpengaruh padanya.
Key itu tidak terlahir dari keluarga kaya atau sejenisnya yang kehidupannya terjamin meski hanya mengandalkan harta orangtua. Tapi Key itu lahir dari keluarga yang tidak sempurna dan juga tidak kaya. Bahkan untuk bisa berkuliah di luar negeri, Key hanya bisa mengandalkan otaknya. Yang kebetulan diberikan pemikiran lebih daripada teman-temannya saat itu. Dan berpikiran ada orang yang mengikutinya sejak tadi membuat Key merinding mendengar isi pikirannya sendiri yang jelas-jelas sudah melayang jauh.
Key mengambil langkah bersama dengan orang-orang yang juga sedang berjalan kaki. Setidaknya, ia berjalan dikeramaian. Jika nanti kekhawatirannya itu benar, dan orang yang mengikutinya ingin berbuat jahat padanya. Ia masih bisa berteriak saat ada orang di sekitarnya. Ya jelaslah, masak Key berteriak kalau tidak ada orangnya? Bisa-bisa nanti Key dianggap kurnag waras dan malah dilarikan ke RSJ terdekat. Kan tidak lucu toh, baru saja ditolak kerja. Sudah masuk RSJ dengan alasan keparnoan Key. Sama-sekali tidak lucu.
***
"Kau ada rencana ke mana hari ini?"
Key menatap Keiko yang sedang merapikan toko butiknya. Key menggeleng, "aku akan melamar di perusahaan bisnis lain saja. Aku tidak suka jika harus berhubungan dengan lelaki itu!"
Key sudah sedikit lebih baik saat ternyata, orang yang mengikutinya tadi adalah orang yang ingin mengembalikan dompetnya. Key sekarang berakhir di toko butik milik Keiko. Key masih merasa malu jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat ia berlari dengan kecepatan kuda saat ia merasakan ada yang menyentuh bahunya. Ia terus berlari, dan sipemuda it uterus mengejarnya sambil meneriaki namanya. Key bahkan tau maksud dari pemuda itu untuk mengembalikan dompetnya setelah tidak sengaja ia bertemu dengan Keiko di bawah. Key merasa malu karena keparnoannya sendiri.
Keiko berhenti merapikan toko butiknya, ia menyerahkan kertas yang sedang ia lihat pada pegawai nya dan berjalan mendekati Key yang duduk di meja dekat dengan kaca. Bisa dikatakan bahwa sudut yang dipilih oleh Key untuk duduk adalah sudut terbaik. “Sudahlah, apa kau masih merasa malu karena tadi ? Jika aku menjadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama!”
Key menatap Keiko, “Ya, tapi aku masih merasa malu. Bagaimana jika kami bertemu kembali secara tidak sengaja? Akan kuapakan wajah ku ini Ki? Sangat-sangat ingin terjun ke laut saja aku!”
Keiko terkekeh “Ya meskipun terjun, kau kan masih bisa berenang Key!”
“Ya….Kau ini menyebalkan sekali !” Key memilih untuk memandang ke arah luar dan menatap jalanan yang sudah mulai longgar. Karena ini sudah pukul 8 pagi. Dan semua para pebisnis, orang kantoran sudah mulai bekerja.
"Apa kau benar-benar ingin masuk GH group Key? Dengar.. aku punya seorang kenalan. Aku tidak yakin apa kah dia bisa atau tidak, tapi dia cukup berpengaruh di pasar saham. Namanya Dary, karena dia lebih tua dari ku. Aku lebih sering memanggilnya nya mas Dary!"
Key masih menatap jalanan, ia memang sangat ingin masuk perusahaan pasar saham itu.
Selain perusahaannya benar-benar bergensi dan terbesar di Indonesia. Key punya alasan khusus kenapa ia harus masuk ke sana. Alasan yang tak seorang pun tau, bahkan Keiko saja tidak tau.
Tapi, masalah terbesar yang harus Key hadapi adalah lelaki itu. Aldo Prasetyo yang agung. Ia masih ingat masa-masa di mana lelaki itu selalu menjadikannya bahan gunjiannya di sekolah.
FLASH BACK
SMP NUSANTARA 01.
Key saat itu sedang duduk di bangku kelas dua, ia termasuk murid yang pintar. Dan sama seperti murid pintar lainnya yang menghabiskan waktu istirahatnya di kelas dengan buku, begitu juga dengan Key.
Bukan nya Key itu sok-sok untuk ikut dan berdiam diri di dalam kelas. Namun memang karena Key suka membaca.
Seperti saat ini, key sedang membaca novel populer di jamannya. Novel dari salah-setu penulis favoritnya. TERE LIYE, penulis yang memiliki nama asli Darwis itu adalah salah satu favorit nya.
Namun, saat sedang asyik-asyiknya membaca di pojok kelas bersama dengan teman-teman nya.
"Arkhggghh!"
Key meringis dan terkejut dalam waktu bersamaan. Ia lalu menatap Aldo yang berdiri di belakang nya. Tidak merasa bersalah meski sudah menarik rambut nya keras.
Key menatap Aldo dengan tatapan penuh permusuhan. Nafas Key langsung naik turun saat masih menatap Aldo.
"Belikan aku roti!"
Key menatap Aldo dengan kepalan tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca dan hendak melawan.
"Tidak ada penolakan Key, belikan aku roti dengan uang mu dan aku akan berkata bahwa kau anak baik-baik pada Paman!"
Key berdiri dengan kasar, ia mengembalikan buku yang ia baca pada rak buku. Mengabaikan tatapan teman-teman nya yang menatap nya iba.
Key langsung berlari ke kantin sambil menabrak bahu Aldo yang tersenyum seolah mengejek nya.
Sementara Aldo, ia menatap kepergian Key. Ia lalu mendekati seorang lelaki yang tadi tidak jauh duduk di sebelah Key.
"Kembalikan buku Key, atau aku akan melaporkan mu pada kepala sekolah!" Ancam Aldo menatap lelaki gendut itu
Lelaki itu langsung gelagapan dan mengembalikan buku ujian milik key. Lelaki itu langsung pergi dan menyebabkan orang-orang yang menatap nya dan tidak tau apa yang mereka bicarakan menarik kesimpulan sendiri.
Aldo tidak peduli, ia lalu menatap Key yang sudah berdiri di ambang pintu dengan roti kesukaan gadis itu. Meski Aldo tidak suka, ia tetap mau memakannya demi Key.
"Ini, dasar sialan!" Key melemparkan Roti itu pada Aldo yang menangkap nya
"Rasa nya enak, pastikan kau tidak ceroboh menaruh barang-barang mu!" Aldo berjalan keluar usai mengatakan hal itu
Key hanya mengepalkan tangannya, bisa-bisanya lelaki itu masih berani menasehatinya saat sudah memerasnya.
Key duduk di atas bangkunya, ia sudah tidak punya uang jajan lagi. Dan itu artinya, ia tidak akan makan siang lagi. Key meremas perutnya yang berbunyi. Ia hanya menatap ke depan, ia benci dengan Aldo.
Aldo itu hanya pecundang yang terus mengganggunya dan memerasnya. Key menundukkan wajahnya di atas meja. Ia sangat lapar.
Key merasa ada yang berjalan mendekatnya, ia lalu mengangkat kepalanya. Dan menatap lelaki gendut yang berdiri di depannya. "Key, makanlah. Kau pasti lapar! Aku pergi duluuuu!" Sebuah roti terletak di atas mejanya. Sementara sosok lelaki gendut itu langsung lari terbirit-b***t.
Key menatap ke arah luar, tidak ada orang. Ia lalu menatap roti itu, roti yang sama dengan yang ia belikan tadi.
Karena sudah lapar, Key langsung melahapnya. Membuat Aldo yang mengintip Key tersenyum senang.
Ia lalu membelikan lagi minuman, dan menyuruh lelaki gendut itu untuk memberikan ya pada Key. Ia tau uang jajan Key sudah di batasi karena ibu Key jatuh sakit.
Flashback end
********
Key kembali' mengingat moment sialan itu. Aldo selalu memeras nya sejak dulu, dan key benci.
"Key.....key!"
Merasa di panggil, Key langsung menatap Keiko. "Ada apa?"
Keiko menaikkan sudut bibirnya yang sedikit terbuka. Menatap Key "kau tidak mendengar ku lagi? Astaghh Key, kau sering melamun sejak kemarin. Jika kau memang ingin sekali masuk ke sana, aku akan membantu mu!"
Key menatap Keiko lalu tersenyum, "aku akan masuk dengan caraku sendiri. Aku hanya butuh kontak dari Mas Dary mu saja. Tapi ngomong-ngomong, dari mana kau kenal dengannya?"
Wajah putih Keiko sontak memerah membuat Key hendak menggodanya. "apa dia.....!"
"Sttttt...!" Keiko langsung meletakkan telunjuknya di atas bibir Key. Mencegah Key menggodanya dengan bibir tipisnya itu.
"Aku--aku, ahhh.. ada pelanggan yang datang. Aku pergi dulu Key!" Keiko langsung beranjak dari duduk nya dan meninggalkan Key yang hanya terkekeh.
"Padahal aku hanya ingin berkata bahwa Mas Dary nya Keiko itu orang penting yang membangun Butiknya ini. Dasar....!" Key hanya tersenyum lalu kembali fokus dengan laptop di depannya
***
Aldo terdiam di dalam mobil nya, beberapa menit yang lalu ayahnya sudah pulang. Dan kepulangan ayahnya itu membuat Aldo bertanya-tanya dalam hati.
Flash back
“Ayah? Mengapa ayah datang kemari?” Aldo menatap sosok lelaki paruh baya yang sudah ada di dalam kamarnya. Ia menatap lelaki itu teramat dalam, ayahnya itu sangat jarang masuk kedalam kamarnya seperti yang lelaki itu sekarang lakukan.
“Salahkah jika ayah mengunjungimu nak?” Frederik duduk di salah-satu sofa single yang berada di dalam ruangan itu.
“Katakan lah apa yang ingin ayah katakan padaku. Jika ini mengenai masalah perusahaan, tolong jangan singgung dulu ayah!”
“Hahahhahah, tidak…tidak nak, ayah sama-sekali tidak ingin bertanya seperti apa masalah kantor padamu. Karena ayah sudah mempercayaimu untuk memimpin perusahaan itu. Tidak ada lagi yang ayah ragukan dari kemampuan mu nak!”
Aldo menghela nafasnya panjang, ia bangkit dari posisi tidurnya dan menatap kea rah luar. Gedung-gedung menjulang tinggi menghalangi sinar mentari yang sudah mulai terbenam di ufuk barat. Warna orange menyambut penglihatan Aldo. Ia menatap kebawah, tepat pada jalanan ibukota yang sudah mulai terlihat ramai itu. Para pedagang kaki lima mulai mendorong gerobak mereka untuk memasuki pasar malam yang juga tidak jauh dari lokasi apartemen mewah milik Aldo. Kedua tangan Aldo terlipat di depan dadanya dan kembali menatap ke depan. Ia sangat suka menatap matahari tenggelam. Karena dulu, ia pernah mendengar bahwa ‘Mentari tenggelam itu sangat indah. Tidak hanya mentari saja yang indah. Tapi berlalunya hari itu juga sangat indah, tidak ada lagi rasa beban ketika di siang hari!’
Aldo menghela nafas dan berbalik, menatap lelaki paruh baya yang juga sedang menatap ke luar “Jika ayah memang tidak ada yang ingin dikatakan. Maka aku akan pergi dulu, ayah bisa tidur di sini jika ayah mau!”
“Tunggu!”
Frederick mendekal tangan Aldo yang hampir menghilang dibalik pintu, ia menatap putranya itu lekat. “Apa hubunganmu dengan gadis itu nak? Kenapa kau tidak pernah cerita pada ayah?”
Aldo menatap ayahnya yang juga sedang menatapnya. Aldo melepaskan tangan Frederick yang masih mencekal di pergelangan tangannya. “Jangan pernah mengikut sertakan gadis itu ayah, dia hanyalah teman masa kecil ku!”
“Apa dia anak dari Sebastian Bertson?”
Aldo yang sudah kembali melangkah keluar berhenti, lalu berbalik dan menatap sang ayah. Ia tidak yakin bahwa ini adalah sesuatu yang baik atau buruk. Seingat Aldo, ayah Key memang bernama Sebastian. Dan dari sepengetahuan Aldo, Key kehilangan ayahnya karena sebuah kecelakaan. Ia memang tau bahwa dulu, ayah Key pernah bekerja di GH-Group, namun setelah itu ayah Key keluar karena diterima bekerja di sebuah perusahaan yang lebih besar. Pertanyaan adalah, jika ayah Key adalah seorang pegawai biasa saja. Mengapa sosok Frederick, yang sejak dulu namanya sudah besar bisa mengenal lelaki itu ?
“Ya, dia adalah putri dari Sebastian. Aku tidak tau ayah mengenalnya!”
“Jangan pernah berhubungan dengan gadis itu Aldo, ini peringatan pertama dan terakhir untuk mu. Dia sama dengan ayahnya, mereka sama-sama penghianat. Aku yakin kau sudah besar sekarang, banyak gadis-gadis di luar sana yang bisa kau kencani. Dan ayah juga sangat setuju saat kau menolak gadis itu dari perusahaan kita!”
Kening Aldo berkerut. Penghiatat? Apa maksud dari hal itu dan apa tujuan dari ayahnya baru sekarang memberitahunya? Aldo hanya menatap sang ayah, lalu keluar dari dalam kamarnya. Untuk saat ini, yang berada di dalam pikirannya adalah Key seorang saja. Ayahnya tidak pernah mengungkit masalah itu padanya.
“Jangan pernah dekati gadis itu lagi Aldo, atau kau akan menyesal jika melanggar aturan ayah!”
Aldo berhenti melangkah lagi, namun tidak membalikkan badannya. Ia hanya menatap ke arah Oliver, Logan dan Ben yang juga sedang menatapnya. Namun ketiga lelaki itu langsung pura-pura sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna di depan mereka. Aldo menetap mereka lama, hingga ketiga lelaki itu langsung berhenti pura-pura sibuk. Aldo memberikan kode para mereka , membuat ketiga lelaki itu langsung menganggukkan kepalanya patuh dan keluar dari lift belakang.
Aldo berbalik dan menatap Frederick, “Aku tidak pernah menolak permintaan ayah. Selalu membanggakan ayah, tapi untuk masalah asmra. Aku mohon, ayah jangan ikut campur lagi. Cukup selama ini ayah selalu mengatur dan melarang ku!”
Aldo menatap ayahnya, sebelum kedua pintu lift didepannya tertutup. Membawa lelaki itu keluar dari perseteruan yang hampir saja terjadi. Aldo menatap pantulan dirinya, ia lalu menghela nafasnya lalu menutup matanya sejenak. Sebelum ia kembali membuka kedua bola mata tajam itu, disaat liftnya berhenti dan pintu itu terbuka otomatis.