Ayahku pernah berkata
Manusia itu punya tiga nasib kehidupan
Pertama, ketika ia kecil
Kedua ketika ia beranjak besar dan dewasa
Lalu ketiga, ketika ia sudah tua nanti
****
"Done!"
Key menatap resume kerjanya yang baru. Key sudah memutuskan, bahwa ia akan mengambil kerja di tempat lain saja. Karena Key tidak ingin berhubungan dengan orang itu. Sangat tidak ingin, hingga rasanya Key ingin menyewa jasa santet detik ini juga. Tapi beruntung niat Key masih belum terluruskan, ia masih bisa berpikir untuk jernih. Mengingat bahwa orang itu adalah sesamanya manusia. JIKA TIDAK?? Key sudah pasti akan melayangkan jasa santet detik ini juga. Di samping itu, Key memilih untuk mengabaikan hal ‘itu’ dan memilih untuk berdamai dengan hatinya saja. Tidak mudah memang, tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang sangat penting. Terutama ketika sesuatu yang penting itu adalah pesan terakhir dari orang yang kita sayangi. Key berusaha untuk menahan gejolak yang sedang meronta di dalam pikirannya. Mencoba menyelami hati nuraninya yang sulit untuk mengambil andil dalam masalah kali ini. Seolah hati kecilnya tidak setuju dengan kemunduran yang ia pilih saat ini. Tidak ada yang setuju memang, dan Key sangat tau akan hal itu. Tapi apa yang bisa diperbuat untuk saat ini ?
"Ki, aku akan pergi dulu ya!" Key berjalan menghampiri Keiko yang sedang melayani beberapa pelanggan. Pagi ini, ia lagi-lagi nongki di toko butik gadis itu. Selain Keiko dan tanpa gadis itu, Key pasti akan selalu merasa kesepian.
Keiko menatap Key "akan ke mana?"
"Aku ingin ke perpustakaan dekat sini, ada beberapa yang harus aku kerjakan. Sekalian untuk mencari referensi untuk resume kerjaku!"
"Benarkah? Kalau begitu...!" Keiko mencari ponselnya dan segera kembali lagi pada Key yang sudah menunggu "ini, perpustakaan yang paling rekomended di sini adalah dekat dengan pasar saham GH?" Keiko memicingkan matanya saat menatap lokasi perpustakaan itu "Tapi ingat untuk selalu hati-hati ya Key, jika kau ada masalah. Kau bisa langsung memberitahukannya padaku!"
"Tidak apa-apa, lagi pula aku hanya akan ke sana. Tidak ada yang akan aku lakukan, tenang saja!"
Keiko lagi-lagi menyerahkan kertas di tangannya pada salah-satu pegawainya. Bisa dipastikan bahwa pegawai laki-laki Keiko curi-curi pandang ke arah Key. Selain cantik, Key memang tidak seperti orang lokal. Rambutnya pirang, dan kulitnya yang putih. Bahkan sampai Key pergi, mereka masih saja curi-curi pandang lagi.
"Ini, kamu bisa meminjam mobilku! Aku rasa jika memakai bus. Kau akan telat, dan aku jamin kau belum hafal jalan di sini!"
Key menerima kunci mobil Keiko, "aku pergi dulu Ki!" Seru Key dan memasuki mobilnya
Key melajukan mobilnya, melewati jalanan yang kembali ramai. Butuh 20 menit berkendara dan akhirnya Key sampai juga di perpustakaan terbesar itu. Key menatap gedung bursa saham itu sekilas. Menghela nafasnya dan segera keluar dari dalam mobil Keiko yang sedang ia pinjam dan memasuki perpustakaan besar itu.
*****
Ruangan besar nan putih yang berisi bangku-bangku berjejer itu sedang diduduki oleh manusia-manusia yang sedang menatap ke depan. Menatap sosok Logan yang sedang presentasi di depan. Sebenarnya tidak banyak orang di sana, hanya beberapa saja dan dari divisi-divisi penting di perusahaan mereka. Dan percayalah bahwa Aldo sejak tadi tidak fokus, ia terus memikirkan Key. Bagaimana jika gadis itu mencari pekerjaan lain? Di tempat yang jauh dan itu akan sangat-sangat membuat pikiran Aldo ke mana-mana. Dan, bagaimana jika Key melamar di perusahaan saham lain? Dan itu artinya, J-Group adalah tujuan dari gadis itu. Tidak...tidak boleh, Aldo tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dan bagaimana jika mereka tidak tahu penyakit Key dan juga masa lalu gadis itu? Tidak akan ada yang menjaga Key jika gadis itu tiba-tiba pingsan atau kenapa-napa. Arghhh...memikirkannya saja sudah membuat Aldo dihantui bayang-bayang awal dari kesalahpahaman mereka dulu.
Meskipun sebenarnya yang paling membuat Aldo merasa khawatir pada Key adalah karena perkataan ayahnya tadi malam. Ia sudah mencari tahu semua informasi dari Ben, sang sekretaris pribadi ayahnya itu dulu. Namun lelaki paruh baya itu berkata tidak tahu mengenai masalah itu. Bahkan berkata bahwa lelaki itu tidak kenal dengan lelaki yang bernama Sebastian. Lalu, apa ayahnya disini sedang berbohong?
Logan dan Oliver, dua kepercayaannya itu juga belum memberinya informasi. Mereka berdua berkata bahwa sosok yang sedang mereka cari itu sedikit sulit untuk ditemukan di jejaring sosial, internet dan jejaring lainnya. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi dari sosok lelaki itu.
"Baiklah, sekian rapat kita untuk hari ini!" Logan selesai presentasi di depan. Semua tatapan kali ini tertuju pada Aldo.
Sang CEO sejak tadi diam dan tidak menyimak jalannya rapat. Tampak bukan seperti CEO yang biasanya. Dan mereka sadar betul, bahwa sang CEO itu pasti sedang ada sesuatu yang benar-benar menyita perhatian Nya. Ben yang menatap itu langsung berdiri, paham betul bahwa mood dari bosnya sedang tidak ingin diganggu.
"Bagian divisi utama perlu revisi di nomor 32. Aku akan meminta hasil revisi nya nanti sore. Hanya itu saja, aku rasa rapat nya cukup untuk kali ini!" Ben menatap Aldo sekali lagi namun sang CEO itu masih saja terdiam.
"Rapat selesai dan kalian bisa kembali bekerja!"
Semua orang yang ada di sana langsung beranjak, hanya meninggalkan Ben, Logan, Oliver serta Aldo yang masih menatap ke arah luar. Menatap hamparan gedung-gedung yang menjulang tinggi di depannya. Terlihat dari kaca yang berada di hadapannya.
"Boss...!"
Ben memberanikan diri untuk memanggil Aldo. Dengan kode dari Oliver dan juga Logan yang duduk di sebelah Ben.
Aldo menatap Ben, "Poin 32 dari divisi utama aku minta direvisi, poin 5 dari divisi keuangan. Aku minta mereka perbaiki juga, laporan dari humas tidak sesuai dengan laporan yang kau berikan. Pecat ketua divisi Humas. Dan....!" Aldo yang tadi menatap ke luar kaca, membalikkan kursinya dan menatap tiga orang andalannya "Pecat ketua divisi Umum, dia melakukan penggelapan dana. Lakukan rapat keseluruhan detik ini juga! Dan jangan sampai lupa dengan data yang aku minta!”
Ben, Oliver dan Logan terdiam di tempat mereka duduk. Bahkan saat sampai Aldo pergi dari ruangan rapat, mereka masih tidak bergeming.
"Daebak, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar!" Logan langsung heboh sendiri. Membuat Oliver ingin ikut-ikutan heboh. Namun Ben lebih dulu menginterupsi mereka
"Berikan pengumuman, semua nya rapat di aula. Aku harus menyiapkan bahan dulu!" Ben juga keluar dari dalam ruang rapat itu
Logan dan Oliver saling menatap, "benar-benar zona yang mengerikan!" Ucap Oliver
"Ada yang butuh jasa santet online?" Logan menatap Oliver dan lekas membuka ponselnya. "Aku mendapat sebuah situs jasa santet online, siapa yang ingin ikut?" lanjutnya sambil menunjukkan ponselnya yang sedang memperlihatkan situs penjual jasa santet itu.
"Daebak, aku ingin ikut!"
Bruk...plakkk "Jangan membuat kehebohan dasar bodoh, sudahlah. Lagipula kalian harus lekas bekerja!" Ben menatap Logan yang ingin ikut-ikutan dengan Oliver yang jelas ada kurang-kurangnya.
“Baiklah-baiklah, tadi aku hanya bercanda saja!" Jawab Logan " sudah lah, mari segera kita kerjakan! Aku tidak ingin lembur lagi!"
Oliver dan Logan adalah partner khusus yang dimiliki oleh Aldo. Hanya lelaki itu berdua yang tau apa rencana perusahaan. Bisa dikatakan, mereka berdua adalah tangan kanan dari Aldo. Selain daripada Ben yang lebih tahu dari mereka tentunya.
Logan dan Oliver tak pernah ingin bermacam-macam dengan Aldo, karena sebelum mereka meneken kontrak kerja di sini. Mereka sudah lebih dulu tau, apa konsekuensi jika mereka melanggar aturan di perusahaan bursa saham itu.
Mereka berdua bahkan tidak tahu seperti apa nasib dari pendahulu mereka. Karena sebelum jabatan General Manager atau GM ditempati oleh posisi mereka. Posisi ini sebelum nya di tempati oleh seorang gadis dari universitas terkemuka. Namun, sayang nya gadis itu menghianati Aldo.Aldo memecatnya, namun setelah di pecat. Kabarnya gadis itu menghilang entah ke mana. Sebenarnya tidak hanya di perusahaan Aldo saja, jika dikaji lebih jauh lagi. Dan jika dibaca dari banyak sumber-sumber terpercaya. Banyak perusahaan-perusahaan dengan kasus seperti itu.
"Tapi, apa kau tidak merasakan bahwa sudah mulai banyak umpatan ringan terdengar? Yang baru selesai rapat itu pasti mengumpat lagi ahhahahah!" Oliver terkekeh yang disetujui oleh Logan.
Bagaimana tidak ? Bukan hanya sumpah serapah saja, tapi sepertinya seisi kebun binatang akan meluncur pada atasan mereka itu. Tapi, jika tidak seperti itu maka semua pegawai dari perusahaan terbesar itu akan berleha-leha saja dan tidak akan pernah sadar bahwa setiap pelajaran itu bukan disaat kita belajar, tapi dari setiap menit kehidupan kita.
****
Aldo berjalan ke luar, ia butuh untuk merilekskan otak nya dengan buku-bukunya.Selain daripada lokasi perpustakaan yang memang berada di sebelah kantornya. Perpustakaan itu juga yang paling besar di ibu kota ini. Aldo menatap ke arah luar, memastikan bahwa tidak ada paparazzi yang sedang berkeliaran di luar gedungnya. Jika sampai-sampai mereka berkeliaran dan menatapnya, bisa dipastikan Aldo tidak akan jadi pergi ke dalam perpustakaan besar itu.
Aldo melangkah memasuki perpustakaan itu namun perhatian Aldo langsung tertuju pada sosok seorang gadis yg sedang berbicara dengan seorang pria. Tangan Aldo langsung mengepal, ia langsung melangkah mendekati gadis itu. Namun, tiba-tiba akal sehat Aldo kembali bekerja. Ia berhenti setelah beberapa langkah dan memilih untuk mendengarkan mereka dari rak buku yang tidak jauh dari mereka. Aldo sudah yakin jika ia muncul saat ini juga, Key pasti akan langsung pergi.
"Jadi, kau sekarang bekerja dimana Key?"
" Ahh... Aku sedang cari pekerjaan saat ini!" Jawab Key sambil tersenyum manis membuat Aldo yg menatap senyum Key langsung panas dingin. Enak saja Key bisa-bisanya tersenyum semanis itu pada lelaki lain? ‘Ahh..ingat Aldo, Key itu bahkan tidak ingin menatap mu. Jangan terlalu memunculkan aura mu!’ Pikiran Aldo muncul di benak lelaki itu.
"Benarkah? Tapi aku sempat membaca berita, bahkan kau gagal tahap Wawancara di GH group dengan posisi General Manager! Benar begitu?"
"Kau tau itu?" Key menatap sosok lelaki bernama Dary itu. Ia memang tidak sengaja menabrak buku nya tadi.
Alhasil, mereka berakhir dengan berkenalan. Dan, Key terkejut mendengar bahwa sosok itu adalah Dary. Sosok lelaki yg dibicarakan oleh Keiko. Dary juga kenal dengan Keiko, sesuai ucapan gadis itu.
"Keiko memberitahu ku, jadi bagaimana? Apa kau benar-benar ingin masuk ke perusahaan itu? Aku bisa membantumu, namun tidak lagi dengan jabatan itu. Karena jabatan itu tetap saja di duduki dengan orang pilihan Pak Aldo!"
Key menatap Dary, "aku rasa tidak usah. Aku ingin cari kerja di perusahaan lain sana. Aku saja di perusahaan bursa saham lainnya!"
Aldo memicingkan matanya menatap Key, ia menghela nafasnya. Lalu menatap bahwa sosok lawan bicara Key itu adalah salah-satu pegawai nya. Cukup berpengaruh karena orang tuanya adalah penanam saham terbesar di perusahaan GH group.
"Kalau begitu, ini nomor ku. Aku bisa membantu untuk masuk di perusahaan saham selain GH group, aku rasa J-group adalah perusahaan yang cocok denganmu. Meski akhir-akhir ini mereka sedang mengalami penurunan, tapi aku yakin kau bisa masuk ke sana. Cobalah disini, tapi aku harus pergi dulu. Ada rapat dadakan!"
Dary pamit pada Key, sementara Key hanya menatap kartu nama itu. Sama sekali tidak menyadari Aldo yg sudah mengepalkan tangannya.
Bagaimana jika Key akan benar-benar mencari kerja di J-group? Tidak...tidak, saham satu itu adalah rival nya. Dan Aldo kenal betul seperti apa sosok CEO dari J-group itu. Jika begini , maka Aldo tidak punya pilihan lain.
***
Sosok lelaki dengan tatapan sendu menatap lurus kedepan. Ruangan itu seharusnya putih bersih, berkilat dan menenangkan. Namun, karena tidak ada penerangan yang masuk melalui celah jendela membuat warna itu menghilang ditelan oleh gelap dan samarnya ruangan itu. Hanya ada satu ranjang, dan satu sofa. Ranjang itu sedang diisi oleh satu sosok lelaki paruh baya yang sama-sekali bahwa ada sosok lain berada di dalam ruangan itu. Hening, hanya bunyi air jatuh dari infus yang terpasang di pergelangan tangan lelaki tua itu lah yang mengisi kekosongan ruangan itu.
Damian, sosok itu beranjak dari duduknya. Mendekati lelaki paruh baya itu dengan hati yang masih penuh dengan keraguan. “Sudah cukup lama anda tertidur disini, apa anda masih betah dan tidak ingin menatap mentari luar?”
Hening, tidak ada jawaban. Hembusan nafas yang samar-samar terdengar dari balik selang nafas itu membuat Damian tidak bisa berkata-kata. Ia menatap sosok lelaki paruh baya itu dengan rasa bersalah.
5 tahun yang lalu, saat itu ia sedang berjalan sendirian di gelapnya jalan tanpa arah. Bahkan, ia sudah hampir menyerah dengan hidupnya. Ia sudah ingin menyerahkan dirinya pada mereka yang terus mengejarnya kemanapun ia pergi. Namun sosok di depannya membantunya pergi. Hingga, sosok lelaki paruh baya itu sekarang tak sadarkan diri.
Damian menarik nafasnya dalam, lelaki itu juga sama hancurnya dengannya saat itu. Tidak ada identitas, tidak ada petunjuk yang bisa Damian temukan untuk mencari tahu siapa keluarga korban di depannya. Kata yang Damian ingat terakhir kali sebelum lelaki itu berakhir di ranjang adalah ‘Bahwa setiap manusia itu memiliki nasib yang berbeda. Berjuang adalah pilihan, dan menyerah adalah jalan pintas. Selagi masih menginginkan, maka pilihlah.’
“Boss?”
Damian membalikkan badannya, menatap sosok lelaki yang sedang berada di belakangnya. “Bagaimana?”
“Sudah diamankan bos, dan dokter juga bilang bahwa keadaan dari tuan itu sudah semakin membaik!”
“Baik, kau bisa pergi lebih dulu!”
Josua, lelaki itu menganggukkan kepalanya dan berlalu dari dalam ruangan itu. Damian kembali menatap sosok lelaki paruh baya itu. Damian tidak punya ayah sejak ia kecil, ia adalah anak yang besar di panti asuhan. Damian tidak mempermasalahkan siapa orang tuanya. Dan saat ia menatap sosok di depannya berjuang untuknya saat itu, ia jadi bisa merasakan seperti apa rasanya punya orangtua. Dan Damian berjanji akan mengobati lelaki itu sampai sembuh. Apapun keadaannya, Damian harus terus berjuang seperti apa yang dikatakan oleh lelaki itu dulu.