Bagian 7 : Pecat Dary si Pengacau itu

2024 Words
Tau Tidak, Jika kamu saat ini sedang Berjuang Ada Beberapa hal yang perlu kamu Abaikan Pertama, mereka para pengganggu Kedua, rasa egoisMu Cuman mau bilang, bahwa Perjuangan itu butuh konsentrasi ***** Aldo langsung pergi dari perpustakaan itu, lalu menatap"Saya sudah melakukan rapat nya Bos, dan Iqbaal ketua dari divisi Humas sudah diamankan!" Ben sesekali melirik sang bosnya yang menatap layar ponselnya. Meski tidak menjawab, namun Ben yakin bahwa sang bos nya itu masih mendengarkannya. Karena sejarahnya, kapan sosok Aldo yang agung tidak mendengar lawan bicaranya? Aldo hanya terkesan cuek saja, namun meskipun demikian Aldo itu selalu mendengarkan apa yang dikatakan orang padanya. Meski begitu, ada beberapa hal yang sangat ingin Ben sampaikan pada Aldo secara pribadi. Mengenai kejadian 5 tahun lalu, apa yang terjadi saat itu dan siapa pelakunya. Namun, Ben sendiri tidak yakin dengan apa yang ingin ia lakukan. Ia terlalu pengecut dengan semua kenikmatan yang sudah ia rasakan saat ini. "Kau tau Dary?" Aldo menatap Ben "Dary? Anak dari Mr.Frans, salah-satu pemilik saham terbesar di perusahaan kita pak. Ada apa dengan nya?" "Apa jabatannya di kantor?" "Aku rasa.... kepala Human Resource Department divisi keuangan Bos, aku rasa dia tidak pernah ada masalah dengan anda. Dan sangat jarang bergabung dengan acara-acara besar. Banyak rumor yang berkata bahwa lelaki itu sering menghabiskan waktunya di perpustakaan dekat kantor kita. Aku tidak tahu karena, aku tidak terlalu suka dengan nya bos!" "Tidak suka?" Aldo sedikit tertarik dengan perkataan terakhir Ben, sang sekretaris dan juga tangan kanan nya. Sebenarnya ia sangat tidak tertarik untuk membahas gosip-gosip unfaedah seperti yang sekarang ia lakukan. Benar-benar menjijikkan, namun.. Aldo harus, karena ini menyangkut dengan sosok seseorang yang penting? "Apa bos tertarik dengan gossip girl sekarang bos?" Auhh.. Ben meringis saat merasakan kepalanya dilempar sesuatu yang keras "Ada apa sih bos? Kepala saya bisa benjol, istri anak saya mau makan apa jika saya geger otak karena kepala saya benjol d...!" "Aku rasa sekretaris baru bisa datang besok!" Ben langsung terdiam, ia langsung fokus untuk menyetir. Jika harus kehilangan pekerjaannya karena mulut yang yang tidak bisa diam, lebih baik Ben memotong bibir nya saja. Lebih-lebih, saat ini pekerjaan sangat sulit untuk dicari. Ia sudah punya anak, istri dan rumah pun masih ngontrak. Ben akui gaji nya sebagai sekretaris pribadi CEO dari GH-Group itu sangat lah besar. Namun, Ben istri nya adalah wanita yang matre. Semua gaji nya langsung mengalir ke dompet wanita itu. Namun, meski sifat matre itu tidak hanya dimiliki istrinya tetapi juga semua wanita lain. Ben tetap menyukai wanita. Syukur-syukur saja Ben tidak berpaling pada sesama kaum Adam Jika Ben sempat seperti itu, bisa dibayangkan ia akan masuk ke grup pecinta banci-banci. Ben bergidik ngeri saat merasakan aura membunuh dari belakang. Ben lagi-lagi gugup saat menatap bahwa bos nya menatap nya dengan mata setajam silet nya itu. "Mengapa kau tidak menyukai lelaki itu?" Aldo lagi-lagi bertanya "Dia terkesan cupu bos, karena sering ke perpustakaan. Dan... Ada kabar burung yang aku dengar, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun!" Aldo menatap untuk sekali lagi, "Aku akui bahwa kau memang benar-benar memiliki banyak sumber informasi terpercaya!" "Ahhh... Terimakasih bos. Lelaki tulen yang tidak miring dan tidak penyuka sesama jenis seperti saya memang sudah selayaknya masuk grup-grup gossip hot..!" Ben menutup mulutnya saat dengan sendirinya ia membuka aib dirinya. Ben putih dan gemuk, mudah keringatan jika gugup dan Aldo tau itu. Ben menelan air ludah nya saat menatap bos besar nya itu hanya geleng-geleng kepala saja. Ben langsung diam kembali dan tidak berani menatap Aldo yang juga sudah tak lagi melihat nya. Ben memang mengakui kehebatan boss nya dalam menjebak lawan bicaranya. Sungguh tidak terprediksi. Ia sudah sering mendengar bos nya menjebak lawan bicara, namun sekarang ia malah terjebak sendiri. Mobil mewah yang dikemudikan oleh Ben sampai di sebuah alamat yang mereka cari. Ben segera keluar dan membuka pintu belakang, membungkuk sopan pada Aldo. Sebenarnya Ben jarang seperti ini, kecuali jika ia ketahuan bergabung dengan grup gossip di kantor mereka. Seperti sekarang ini tentunya. Aldo melangkahkan kakinya yang dibalut dengan sepatu Stuart Weitzman Diamond Dream Stilettos yang Aldo beli dengan harga yang tidak pernah main-main. Semua sepatu kerja Aldo paling murah di bandrol dengan harga $500,000 USD. Benar-benar menunjukkan kekayaan yang ia punya. Percayalah bahwa jika jabatan CEO di kantor itu lepas dari Aldo, ia masih sanggup untuk membeli barang-barang mahal dengan brand termahal sekalipun. Aldo Prasetya , sulung dari Prasetya itu memiliki segudang penghasil uang yang tidak akan pernah habisnya. Meski terkadang sebagian orang berasumsi bahwa kekayaan Aldo berasal dari perusahaan yang dibangun oleh sang ayah. Namun nyatanya tidak, selain menjabat sebagai CEO dari perusahaan saham itu. Aldo masih memiliki beberapa pusat bisnis yang hanya diketahui oleh orang-orang kepercayaannya saja. Bahkan Ben sendiri tidak tahu mengenai bisnis-bisnis yang saat ini sedang Aldo jalankan. Langkah kaki Aldo berhenti di sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah dan tidak seperti apartemennya. Namun begitu sejuk karena banyak pepohonan, ada taman di sekitar apartemen lantai 6 itu. Dan Aldo yakin bahwa Key pasti tidak pernah memilih apartemen yang tidak seperti sekarang ada di hadapannya ini. Nyaman, sejuk, ada taman dan tidak terlalu mewah. Semua itu mencirikan apa yang ada di dalam gadis itu. Dan Aldo sejak dulu sudah tau akan hal itu. Aldo sekali lagi menatap apartemen itu dan menatap Ben yang sudah kembali setelah ia berikan waktu untuk memeriksa sekeliling apartemen selama 5 menit. "Boss.. Apartemen ini aku rasa sangat nyaman, ada taman di sekeliling, rindang dan tidak terlalu dekat dengan daerah perkotaan. Benar-benar wanitalis sekali! Apa anda ingin membeli hotel ini? Aku akan segera mencarikan pemilik dari hotel ini" "Wanitalis?" Aldo yang hendak memasuki apartemen itu mengurungkan langkahnya dan menatap Ben yang lagi-lagi langsung berkeringat dan wajah putih nan gemuk itu terlihat memerah. Aldo menggelengkan kepalanya, ia yakin sekretarisnya itu sedang gugup saat ini. Aldo sangat yakin bahwa tidak ada kata-kata wanitalis di dalam KBBI. Jelas saja tidak ada, karena Aldo yakin bahwa itu adalah kamus tren di dunia gosip Ben. "M--maksud saya, Wanitalis itu adalah sebutan yang saya buat untuk wanita yang suka hal yang aneh-aneh bos. Bukan--saya bukan pecinta wanita lagi, saya sudah punya istri" Ben menjawab dengan gugup seperti biasa jika sedang di intimidasi oleh Aldo. Aldo menaikkan alisnya, ia rasa sekretarisnya ini punya banyak hal yang sangat tidak ia ketahui. Salah-satunya adalah pemikiran aneh yang Ben ucapkan ketika ia menatapnya dengan datar. Aldo lagi-lagi menggelengkan kepala "Aku masih tidak tahu apa kelebihanmu daripada kandidat lulusan luar negeri yang melamar menjadi asistenku. Yang aku tau, kau hanya punya kelebihan di perusahaan saja. Lebih nya kau benar-benar bernilai minus dan karena kau juga mantan sekretaris ayah!" Aldo menghela nafasnya. Sementara Ben langsung mengipas wajahnya yang sudah memerah, menatap Aldo yang sudah pergi. Ia langsung mengikuti bossnya itu. Meski secara usia, Ben lebih tua dan sudah punya anak serta istri. Ada hal-hal yang tidak memerlukan itu, contohnya adalah masalah pekerjaan dan Aldo. Pekerjaan tidak memiliki batasan usia dan juga jabatan. Meski diperlakukan terkadang seperti sesama sebaya, Ben tetap fine-fine saja dengan hal itu. Meski Aldo sangat jauh di bawah umur nya, lelaki itu selalu berbicara formal padanya. Bukan hanya padanya, namun semua orang tua yang bekerja di kantor saham Gh-Group. Tidak segan-segan memecat, meski mereka semua jauh di atas Aldo. Aldo memasuki lobby apartemen itu dan langsung disambut oleh resepsionis. Ruangan yang pertama masuk ke dalam indra penglihat Aldo juga sangat sederhana. Ruangannya putih, dan ada beberapa pohon-pohon kecil yang membuat ruangan itu terkesan santai. Ada sofa yang terletak di tengah ruangan. Aldo lalu menatap sosok itu sekali lagi. Masih menilai penampilan sosok yang sudah berdiri tepat di depannya "Apa kau lelaki tulen? Atau memiliki kelainan jiwa sepertinya?" Aldo menunjuk Ben yang baru saja masuk. Membuat Ben lagi-lagi harus berpikir keras, entah apa penyebab yang membuat bosnya menunjuknya lagi karena ia memang tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh bossnya itu. "Sa-saya lelaki tulen pak, saya suka seks dan wanita. Saya bahkan punya kekasih cantik yang bakalan saya jadikan istri saya! Dan selain itu, saya masih suka menonton blue film" Aldo menatap lelaki itu lelaki lagi, lalu menatap name tag nya --ZANE--. Aldo entah kenapa merasa tidak suka pada penyambut tamu itu, nama saja yang keren. Tapi otak nya lari. Batin Aldo. Bisa-bisanya resepsionis itu langsung membuka aib dirinya sendiri? Jika bekerja di perusahaan Aldo, sudah dipastikan lelaki dengan nama sok keren itu sudah akan tereliminasi lebih dulu. Karena setiap lelaki tulen pasti akan suka hal begituan. "Aku lebih suka kau sepertinya!" Zane menatap sosok di depan nya itu dengan alis yang berkerut. Ia hendak mengumpat, namun saat menatap setelan pakaian, sepatu dan kulit mulus terawat lelaki di depannya membuat Zane mengurungkan niatnya. Ia sangat yakin bahwa lelaki itu sangat kaya dan Sepertinya ia juga pernah melihatnya. Tapi dimana? Zane sama-sekali tidak ingat pernah melihat sosok di depannya itu dimana. Wajar saja sih, Zane itu memiliki sistem ingatan short term memory atau ingatan jangka pendek. Karena bagi Zane, itu tidak penting saat itu. Sebenarnya tidak hanya itu saja sih, nama pacar dan calon istrinya saja Zane sering lupa. Ya maklum saja, mereka itu bukan prioritas bagi Zane. "Maaf pak, saya tidak tahu apa maksud anda. Tapi, ada yang bisa saya bantu?" "Dengar, aku minta bantuanmu!" *** Key menyempatkan dirinya untuk berjalan sendiri sehabis menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan. Langkah Key membawa gadis itu menuju salah-satu restoran kecil yang berada tidak jauh dari lokasi perpustakaan. Ia turun dari dalam mobilnya dan berjalan memasuki restoran yang sangat rindang itu. Namun, belum sempat Key membuka pintu di depannya. "Arhhkgghh...!" Key langsung beranjak mundur saat pintu itu didorong paksa dari depan. Key sudah bersiap untuk jatuh, namun ia merasakan ada tangan yang memegangnya dari belakang. "Maaf..maaf mas, maaf mbak. Saya sedang buru-buru sekali, istri saya ingin melahirkan!" sosok yang tadi mendorong pintu itu tanpa melihat Key langsung meminta maaf padanya dan juga pada sosok yang berada di belakang Key. "Tidak apa-apa!" Key menjawab. Sehabis lelaki tadi pergi, Key lalu menatap sosok lelaki yang sedang menunduk untuk mengambil ponsel lelaki itu yang jatuh. Lelaki itu bangkit berdiri dan menatap kearah Key "Terimakasih mas, maaf tadi saya tidak sengaja! Apa ponsel mas rusak atau bagaimana?" Damian masih menatap sosok gadis yang ada di depannya tanpa kedip, rasanya warna bola mata gadis itu sangat mirip dengan sosok yang ia ketahui. "Mas? Mas? Anda tidak apa-apa?" Mendengar panggilan dari gadis itu, Damian langsung tersadar seketika. "Ahh... tidak ada apa-apa, ponsel saya juga tidak apa-apa!" "Ahhh syukurlah, terima kasih sekali lagi karena sudah menolong saya mas. Apa mas mau masuk juga? Biar saya traktir sekalian saja!" Damian lagi-lagi menatap netra coklat gadis itu, ia lalu tersenyum "tidak usah, saya ada urusan! Lain kali saja jika kita dipertemukan kembali!" Damian mengambil langkah mundur dan langsung memasuki mobilnya lagi. Dari tempat ia berdiri, Key hanya menggelengkan kepalanya lalu memasuki restoran itu. Damian masih menatap sosok itu dari dalam mobilnya, ia sangat yakin bahwa gadis itu benar-benar mirip dengan sosok yang ia kenal. Wajahnya, cara berbicara, dan senyuman gadis itu meskipun hanya senyum kecil mengingatkan Damian pada sosok itu. Ia menghela nafas, menatap sosok gadis itu yang terlihat dari balik kaca restoran itu lalu menekan pedal gas nya. Memilih untuk pergi saja dari area itu. Sementara Josua baru keluar dari dalam restoran itu, matanya langsung mencari kemana-mana. Dan tidak ada, "Yah? Kenapa mobil dan bossnya tidak ada?"  Mata Josua menatap ke area parkiran, dan benar saja bahwa mobil putih yang tadi ia kendarai sudah tak lagi berada di sana. Dengan perasaan kesal,  ia langsung mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dan dengan perasaan kesal, ia lalu menatap dua kata dari sosok yang sudah ia tebak sebelumnya.  "Dasar... bagaimana jadinya aku bisa pulang? Buang-buang uang saja, dasar...!" kesal Josua sambil mengehela nafasnya. Ia tidak tau alasan dari bosnya itu langsung pergi tanpa menunggunya yang hanya pergi 5 menit saja. Padahal kan, yang menyuruhnya untuk membeli minuman dari dalam restoran itu adalah yang mulia Damian. Josua hampir saja membanting handponnya, namun urung karena ia mendengar suara pintu itu terbuka dan menampilkan sosok gadis yang juga sedang menatapnya.  Bahkan sampai gadis itu memasuki mobil dan pergi, Josua masih tidak sadar bahwa sejak tadi ia sedang menatap gadis itu. Benar-benar tidak beruntung ia saat ini, sudah ditinggal pergi bertemu lagi dengan sosok yang sangat-sangat....  Tidak ia kenal hehehehe
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD