Ada bagian yang akan selalu sama
Sejauh apapun kita melangkah
Sehebat apapun kita.
Percayalah, bahwa saat itu
Saat dimana kita sangat membutuhkan
Itu adalah hal yg akan tetap sama
hal yg terkubur jauh di dalam pikiran
KESALAHAN dan KEADAAN, MASA LALU BUKAN LAH HAL YG MEMALUKAN.
TAPI SESUATU YANG MEMBUAT KITA SEMAKIN DEWASA
****
SELAMAT MEMBACA
****
"kakak, mau jajan!"
Mendengar bisikan kecil itu, sosok gadis yang sedang bergelut dengan tulisan-tulisan di atas meja itu mengalihkan fokusnya dan menatap anak kecil yang masih berusia 5 tahun itu. Gadis itu mengambil dompetnya yang lusuh, dan tidak tebal. Ia tersenyum kecut, hanya ada dua lembar uang lima ribuan. Gadis itu menatap sosok itu lagi, lalu menghela nafasnya. Mengambil selembar uang lima ribuan "Ini Will, jangan jajan sembarangan ya! Kakak gak bisa nemani, masih ada tugas yang belum siap!"
Will, anak kecil berusia 5 tahun itu mengangguk lalu beranjak dari duduknya. Mengambil sandal kusamnya dan juga jaketnya. Lalu keluar dari kontrakan kecil mereka, meninggalkan sosok gadis berusia 15 tahun itu yang terduduk menatap kosong.
"Hanya lima ribu lagi, bagaimana kami makan hari ini?"
Tes..Tes..Air mata itu turun dan membasahi kertas berisi angka-angka yang ada di kertas. Kirey, gadis itu langsung menghapus air matanya. Dadanya terasa sangat miris, ia meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang menyatu.
Semuanya terasa gelap, tidak ada arah tidak ada tujuan. Kirey hanya hidup demi adiknya--Will--dan juga demi kakaknya yang masih kuliah tahun ini. Kehilangan orang tua dalam waktu dekat membuat Kirey tidak tau apa tujuan hidupnya. Rasanya hampa saat menatap adiknya yang masih berusia 5 tahun itu memanggil nama ayah ibu mereka ketika malam menjelang. Ketika tidak ada lagi suara kehidupan, ketika malam sudah menguasai siang.Dan saat itu pula, Kirey harus menguras air matanya.
"Apa yang aku lakukan ?" isak Kirey semakin keras. Ia bahkan menekan perutnya yang juga merasa kelaparan. Sejak pulang sekolah dan menjemput adiknya yang sudah beranjak kelas 1 sekolah dasar, ia sama-sekali belum makan.
Ini akhir bulan, dan gaji Kirey sebagai pengajar less dan juga sebagai penulis sudah habis digunakan sebulan ini. Untuk membiayai rumah kecil nya, uang sekolahnya dan juga uang sekolah adiknya. Uang makan mereka, dan semua keperluan lainnya. Kirey selalu mengusahakan 24 jam waktunya terpakai tanpa terbuang barang sedikit pun. Namun, akhir-akhir ini banyak pengeluaran yang harus Kirey pikirkan.
Kakaknya yang masih kuliah juga sesekali mengiriminya uang, namun Kirey selalu menolak. Karena kakaknya pasti punya kebutuhan lebih daripada ia dan adiknya.
"Ma...Pa.. Kirey rindu saat Kirey masih bisa makan donat harga 15.000 yang setiap akhir bulan ayah belikan. Kirey benar-benar rindu ma, Kirey tidak kuat!" isak tangis gadis itu semakin keras. Kirey menahan suaranya dengan kedua tangan yang menahan bibirnya untuk tidak meraung lagi. Setiap hari, semakin sulit bagi Kirey.
Satu hal yang Kirey inginkan, kembali pada saat waktu kedua orang tua nya ada.
Bunyi decitan pintu terdengar membuat Kirey lekas menghapus jejak air matanya. Ia merasakan pelukan kecil di kakinya. Perhatian Kirey tertuju pada tangan kecil yang merangkul kakinya. Saat Kirey merasakan kakinya basah, ia langsung mengambil tangan Willy dan membawa adik kecilnya itu ke dalam pangkuannya. Ia yakin bahwa adik kecilnya itu pasti lagi-lagi mendengarnya menangis.
"Will rindu mama papa kak, Will rindu. Will lapar kak, will belum makan!"
Air mata Kirey yang sebelumnya sudah berhenti mengalir. Kini tak lagi bisa ia bendung, ia meraung sekeras yang ia bisa. Tak lagi kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Ia mencium kening Will yang juga ikut menangis, ia membawa laki-laki kecil itu semakin dalam ke ruang kehampaan dimana ia juga terjebak di sana.
"Will, Will itu harus makan ya dek. Maafin kakak tadi lupa, uang kakak cuman ada sepuluh ribu aja tadi. Kakak belum dapat uang sayang, maafin kakak ya!"
Will berhenti menangis, meski masih sesenggukan dan menatap Kirey. Tangan kecil itu meraih wajah Kirey dan mencium kening Kirey. Lagi-lagi Kirey tak bisa membendung air matanya di depan sang adik kecil. "Will beli gorengan di warung, sama dikasih nasi sama tante itu. Will bilang, Will belum makan, jadi disuruh makan!"
"Maaf Will...Maafin kakak dek, kakak bukannya mau gitu. Tapi uangnya mau beli nasi untuk malam nanti. Maaf dek, maaf!" Kirey lagi-lagi melunturkan kata-kata maaf untuk sang adik.
"Kakak sama Will ma-m-makan ya. Kakak jangan nangis lagi, Will juga jadi ikut nangis!"
Kirey langsung mengangguk, dan membawa Will ke dalam dekapannya.
***
Aldo menatap jam dinding yang terpajang di dalam ruangan pribadinya. Seharusnya ia tidak malah ketiduran di kantornya. Ia menghela nafas saat sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aldo mengambil kunci mobilnya, mengabaikan Ben dan juga Oliver yang menyapanya saat ia hendak beranjak menuju lift pribadinya. Ia berjalan ke arah mobilnya dan menjalankan mobilnya. Namun bukannya melewati jalur untuk kembali ke apartemennya, ia malah membelokkan mobilnya dan Aldo berhenti lalu menatap sosok gadis yang sedang duduk di halte. Aldo menarik nafasnya lalu memasang senyumnya. Menatap pantulan dirinya di kaca spion depan mobil nya. "Aku sudah bersinar, aku sudah tampan dan... !"
Aldo langsung mengambil parfum kesayangannya, menyemprotkan parfum itu ke segala arah mobilnya "Mobil Aldo juga harus wangi tentunya!" Aldo menganggukkan kepalanya dan segera berhenti tepat di depan halte itu dan keluar dari dalam mobilnya. Sambil mengambil jaketnya.
Sementara Key yang masih asyik dengan ponselnya tiba-tiba menatap ke depan saat merasakan ada sebuah jaket yang terpasang di badannya. Tatapan Key langsung terkunci pada tatapan lelaki yang menatapnya dengan senyum menyebalkan itu. Key menghela nafasnya, tidak di apartemen, tidak di halte. Mengapa selalu saja Aldo yang ia lihat?
"Masuk lah, aku sedang tidak mengajakmu ribut seperti tadi pagi!"
Aldo langsung membuka pintu sampingnya, menatap Key yang juga sedang menatapnya. Key ingin menolak, namun ia merasa suara Aldo sedikit serak dan tatapannya seperti seseorang yang baru saja menangis. Key memejamkan matanya lebih dulu 'kau tidak harus peduli Key!' ia membisikkan pada dirinya sendiri, lalu beranjak dan memasuki mobil Aldo.
Lelaki itu segera masuk dan menjalankan mobilnya. Key menatap Aldo, dugaan Key benar. Mata Aldo sedikit sembab dan masih terlihat bahwa Aldo baru saja menangis.
"Apa kau menyukaiku sekarang? Apa kau tersentuh dengan perbuatanku barusan? Jika iya, kau bisa langsung menembakku Key. Kau bisa meminta ku untuk menjadi pacarmu, aku akan dengan senang hati menerima tawaran mu itu!"
Key mengepalkan tangannya dan BUKK-- "Arkhh...." Citt......Aldo langsung mengerem mendadak. Membuat Key hampir saja menabrak dashboard mobil Aldo jika lelaki itu tidak menahan kepalanya. Namun posisi mereka juga sangat merugikan bagi Key saat ini.
"All!"
****
Key duduk di atas sofa dengan Aldo yang berada di depan Key, tangan Key dengan ogah-ogahan membersihkan darah yang ada di kening Aldo.
"Kalo kamu gak mau, pulang aja Key!" Aldo menahan tangan Key yang mengobatinya dengan tidak ada manis-manisnya sama-sekali.
"Benar nih?" Key langsung beranjak dari depan Aldo, hendak kabur dari apartemen Aldo. "Ya, kalo kamu tega aja lihat orang kesulitan sendiri. Padahal udah nolongin nyawa seseorang juga!"
Key urung membuka pintu di depannya, ia menatap Aldo yang mempermainkan kelemahannya. Key paling tidak tahan dengan sesuatu yang berbau bawang. Pasalnya, beberapa menit lalu saat mereka masih di dalam mobil. Aldo berhenti mendadak bukan karena ia memukul lelaki itu. Namun karena mereka hampir saja menabrak sosok anak lelaki kecil yang masuk jalan. Aldo bahkan mengantar anak kecil itu pulang ke panti asuhan. Membeli anak-anak panti itu makanan dan sempat berbincang dengan pemilik panti itu. Tidak menghiraukan luka di keningnya sendiri. Bahkan Key yakin tangan Aldo juga sakit karena menahannya saat di mobil.
Key bisa melihat tatapan Aldo seperti terluka saat menatap para anak panti itu. Entah apa alasannya, tapi Key punya firasat bahwa Aldo punya kenangan yang tidak terlalu menyenangkan dulunya.
Key kembali duduk dekat dengan Aldo, mengobati luka dan lebam Aldo dengan penuh perasaan. Tidak saat seperti key dipaksa untuk melakukannya. Key bahkan meniup kening Aldo yang sudah ia obati.
Aldo tidak bergerak di tempat ia duduk, selain jarak yang sangat minim antara ia dan Key. Hembusan nafas Key di keningnya juga membuat Aldo seketika teringat dulu. Mata Aldo tiba-tiba berkaca-kaca terbawa perasaan ketika ia mengingat sosok itu.
"All? All? Kamu kenapa? Ada yang sakit?'" Panik Key sambil menyentuh wajah Aldo dan mata lelaki itu yang berkaca-kaca.
Aldo langsung berdiri dan memalingkan wajahnya dari Key. Jujur saja, Aldo juga tidak tau mengapa ia tiba-tiba menangis. Key menatap Aldo yang membelakanginya, ia menghela nafasnya dalam. Melangkah mendekati Aldo, dan menarik lelaki itu ke dalam pelukannya. "Jika kau ingin menangis, maka lakukanlah!"
Kali ini Aldo benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi, ia mendekap Key dengan erat. Melampiaskan semua yang ada di dalam pikirannya dengan air matanya. Key terus mengelus punggung Aldo, dan menarik nafas dalam-dalam. Berusaha untuk tidak ketularan tangis Aldo saat ini.
"Makanlah!"
Beberapa menit yang lalu, Key akhirnya memutuskan untuk memasak di apartemen Aldo. Lelaki itu juga sejak tadi masih diam, tidak seperti biasanya. Dan Key sadar bahwa Aldo sepertinya sedang ada masalah. Tapi Key tau bahwa itu bukan tentang mereka, dikarenakan sudah jelas tadi pagi mereka sudah berbaikan.
Aldo tersenyum "Terimakasih Key!"
Mereka makan dalam hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Dan sama seperti beberapa menit yang lalu. Aldo juga masih terdiam di dalam kursinya. Bahkan sampai mereka usai makan, ia membantu Key membersihkan piring kotor namun tetap diam. Entahlah, Aldo saat ini hanya merasa nyaman saat Key berada di sampingnya. Meskipun Aldo tidak tau apakah moment ini bisa bertahan lama atau tidak. Yang ia inginkan, hanyalah keselamatan gadis itu selama ia hidup. Tidak peduli siapapun orang yang ingin mencelakai Key, Aldo akan tetap berada di barisan paling depan untuk melindungi Key.
"Kau ada waktu?"
"Eh..hah?" Key yang sudah duduk di sofa menatap Aldo yang tiba-tiba bertanya. Ia menganggukkan kepalanya namun masih menatap Aldo. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu saat ini.
"Apa kau mau menemaniku keluar sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan!"
"Baiklah!"
***
Kireyna yang masih menatap lauk di depannya saat ini hanya menghela nafasnya dalam. Ia hanya menatap Will yang makan dengan pelan-pelan. Ia tersenyum saat adiknya itu menatapnya. "Kak, kakak makan juga ya. Kakak hanya makan sedikit dari tadi!"
"Ahhh...gak Will, kakak harus makan sedikit biar gak gemuk. Kalo cewek gemuk itu jelek!" elak Kirey dengan memaksakan senyumnya.
"Berarti Will juga harus makan dikit dong,nanti Will gemuk gak tampan!"
Kirey menarik kedua sudut bibirnya dan mengacak rambut Will yang mulai tumbuh panjang lagi. "Kalo Will kan masih anak-anak, jadi Will harus makan banyak dong!"
Tok...Tok...
Kirey menatap ke arah pintu, lalu baru sadar bahwa dari luar seperti ada cahaya yang dinyalakan. Will langsung berdiri mengikuti Kirey, mereka mengintip sedikit dari celah pintu sebelum membuka. Kirey menatap sosok lelaki yang sedang berdiri di depan pintu. Ia membukakan pintunya lalu menatap bahwa bukan hanya sosok seorang lelaki, namun juga sosok gadis yang Kirey akui sangat cantik.
"Maaf mengganggu adik, apa kamu namanya Kireina ya?"
"Iya pak, saya Kirey! Ah....Silahkan masuk!"
"Kak...!"
Kirey menatap Will yang bersembunyi di balik badannya seolah melarang orang asing itu masuk ke dalam rumah kecil mereka. Yang tidak ada apa-apa, hanya ada tikar kecil. Kirey tersenyum sambil berkata tidak apa-apa.
Aldo dan Key sudah berada di dalam rumah kecil itu, duduk di lantai yang hanya berlapiskan tikar kecil. Aldo menatap sosok anak kecil yang sepertinya terlihat ketakutan namun sesekali mencuri pandang pada Key yang duduk tepat di sebelahnya.
"Ini pak bu, maaf di rumah kami tidak ada apa-apa. Hanya ini saja!" Kirey yang tadi meminta izin ke dapur kembali dengan dua gelas teh tawar. Key tersenyum lembut dan berterimakasih.
"Ahh...mungkin kalian tidak tau siapa saya, jadi beberapa hari terakhir ini. Perusahaan kami membuat program subsidi untuk anak yang berkekurangan. Dan kebetulan, saat orangku melakukan survei di sekolahmu. Kepala sekolah merekomendasikanmu adik. Aku langsung datang untuk meninjau, itu maksud kedatangan saya!"
Kirey yang tadi sedikit menaruh rasa curiga langsung membulatkan matanya. "S---su--subsidi?"
"Iya sayang, kenapa kau kelihatan pucat? Apa kau belum makan?" Key meraba kening gadis itu lalu menghela nafas dan menatap Aldo yang juga sedang menatapnya.
"Kakak belum makan dari tadi!"
Mendengar jawaban dari adik kecil itu, membuat hati Key langsung tersentuh. Ia menyentuh tangan Aldo seolah memberikan lelaki itu sebuah kode.
"Kalau begitu, kakak ambil makanan dulu ya!" Key langsung bangkit dan mengambil beberapa makanan yang memang tadi mereka sengaja beli dari warung terdekat. Key memang sangat tidak bisa tahan jika sudah berhubungan dengan anak-anak yatim piatu seperti apa yang dijelaskan Aldo sebelum ia menyetujui ajakan lelaki itu. Key masuk dan meletakkan makanan itu di di depan kedua anak kecil itu.
"Ini, kakak tadi beli makanan. Di makan aja!"
Kirey tak kuasa menahan air matanya, ia langsung menangis dan menundukkan kepalanya di depan Aldo dan Key. "Makasih pak bu, terimakasih banyak. Sa--saya tidak tau harus berkata apa-apa lagi. Kami kehilangan kedua orang tua tidak lama ini, dan itu membuat saya sudah putus harapan untuk bersekolah. Trimakasih!"
"Sayang....hey, jangan menunduk seperti itu. Angkat kepalamu!" Key langsung memeluk gadis itu dan juga lelaki kecil itu. Ia mencium puncak kepala mereka berdua dengan rasa sayang. Dan Aldo benar-benar tidak bisa menahan senyumnya saat menatap interaksi mereka.
Mereka memilih untuk ikut makan bersama, dan Aldo langsung memberitahukan bahwa Kirey mendapatkan beasiswa darinya full. Untuk sekolah dan melanjut ke perguruan tinggi nantinya. Tidak hanya Kirey saja, namun juga dengan lelaki kecil bernama Will itu. Saat menatap Will, entah mengapa. Ada rasa sesak yang ada di dalam d**a Aldo, ia hanya tersenyum berusaha untuk menahan genangan air matanya saat menatap kebahagiaan di antara kedua kakak beradik itu.
"Makasih buk, pak!"
"Ahh. Tidak usah memanggil seperti itu sayang, panggil saja kakak!"
Kirey tersenyum bahagia,"Terimakasih....kakak!"
"Sudah larut, kami pergi dulu. Jangan keluar-keluar lagi dan belajar yang giat!" Aldo memeluk mereka berdua sebelum pergi dari rumah kecil itu bersama dengan Key.
Di perjalanan pulang, Key hanya bisa mengagumi sosok Aldo saja. Ia baru saja sadar bahwa sosok Aldo memiliki rasa simpati yang melebihi dirinya sendiri.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Aldo menatap Key yang tersenyum menatapnya, "Lebih baik! Terimakasih sudah menemaniku untuk hari ini dan juga untuk pelukan di apartemen ku. Aku akan merindukan pelukan seperti itu setiap harinya"
"HEY.. DASAR m***m " Key memukul bahu Aldo lalu memalingkan wajahnya yang sedikit merona. Ia jadi merasa bodoh ketika ia memeluk lelaki itu. Seharusnya kan tidak harus memeluknya juga, karena Key sadar. Meski Aldo itu memasang wajah sedih, Aldo tetaplah jenis manusia dengan segala kenarsirannya. Tidak akan berubah selama ia mengenal lelaki itu.