Bagian 17 : Hari Pertama Bekerja

2021 Words
KADANG, HIDUP ITU BERPUTAR DENGAN SANGAT CEPAT ORANG YANG KITA PERCAYA MENGHIANATI KITA DAN SAAT ITU KITA SADAR BAHWA KITA SUDAH BUTA AKAN SESUATU YANG TIDAK BISAKITA BUKTIKAN  **** SELAMAT mEmBaCa **** Bekasi, 07.30 Kegiatan Key di hari pertama kerja adalah langsung menangani bagian investasi bisnis. Naik golongan dalam hitungan hari, dan menjadi musuh dari beberapa orang yang benci dengan gadis itu. "Perusahaan GH sedang mengalami penurunan saham, apa menurut kalian kita perlu investasi di sana?" Damian menurunkan lembar kertas yang baru saja ia baca beberapa menit yang lalu. Perhatiannya tertuju ke depan, menatap gambar dari sosok yang memberinya keadaan sekarang ini. Meja bundar yang berada tepat di tengah ruangan bernuansa putih dengan sebagian pembatas kaca membuat siapa yang melihat mereka tahu bahwa suasana di dalam ruangan itu sedikit tegang. Damian mengalihkan perhatiannya, dan menatap semua para penanam saham yang ada di dalam ruangan yang sama dengannya. "Apa kau sedang bercanda? Jika mereka mengalami penurunan saham, ini adalah kesempatan terbaik untuk kita. Kita bisa menjadi peringkat nomor satu saat ini!" Alvian, 50 tahun. Dan sudah bekerja sama dengan J-Group selama 10 tahun terakhir. Sebagai salah-satu penanam saham terbesar di J-Group, ia sangat yakin bahwa setiap perkataannya tidak akan ditolak. Josua yang duduk di sebelah kanan Damian hanya menatap sang CEO mereka itu saja. Lain di wajah lain di pikiran, hal yang sangat ia ketahui dari Damian. Josua sesekali menatap gadis yang duduk di depannya. Key, gadis yang dalam beberapa hari bekerja di J-Group sudah langsung melepaskan masa orientasinya dan sudah bisa duduk bersama dengan mereka. Orang penting yang ada di perusahaan J-Group. Mengagumkan. Josua benar-benar tertarik dengan gadis itu saat ini. "Sepertinya anda memiliki keputusan lain, jika benar begitu. Maka kami akan mengikuti keputusanmu saja!" yang sejak tadi diam dan memperhatikan gerak-gerik Damian mengutarakan pendapatnya. Dan hal itu, membuat Alvian tidak terima. Marco lalu menatap sosok gadis yang duduk di sebelah Damian, terasa tidak asing baginya meski ia sudah berusia 50 tahun. "Bagaimana bisa kau menyarankan hal seperti itu padanya Marco? Jika kita berinvestasi pada perusahaan itu, maka sudah jelas bahwa kita hanya membantu mereka. Kita ingin menyaingi si sombong itu. Bukan untuk bersembunyi sebagai kucing saja. Aku jelas tidak terima jika kita harus berinvestasi di sana!" "Domba lemah akan selalu di incar oleh serigala, namun tidak memakannya. Dia membesarkannya lebih dulu, lalu ketika serigalanya sudah lelah. Maka ia akan memakan domba itu. Aku setuju dengan saran dari pak Marco untuk berinvestasi di sana. Bahkan, kita bisa mengambil alih perusahaan itu jika kita berinvestasi saat ini juga. Perusahaan itu memiliki berbagai macam strategi untuk menarik para penanam saham agar bergabung dengan mereka. Dari segi trik yang tidak mudah ditebak, maka kita juga harus peka dengan rencana mereka kali ini. Aku tau kalian mungkin tidak akan mendengarkanku, tapi jika kita tidak mencoba. Apa yang akan kita dapat?" Key berargumen. Membuat Marco bertambah yakin bahwa sikap dan sifat gadis itu sepertinya sedikit familiar dengannya. "Kau masih baru di dunia pasar saham, kau tidak pernah bekerja dengan saham sebelumnya. Tapi beraninya kau membantah ucapanku. Siapa yang mempekerjakan gadis belia sepertimu hah?" Brukk---Alvian memukul meja dan melempar berkas yang ada di tangannya. Hampir saja mengenai gadis itu, jika tangan Damian silap dalam hitungan menit. Damian berdiri, lalu mengambil berkas yang hampir mengenai kepala Key. Dunia pasar itu sangat kejam, bahkan saat rapat pun. Kita harus menghadapi berbagai macam etika orang yang jelas membuat kita ingin memukulnya saat ini juga. Namun dari sekian banyak orang yang Damian kenal, hanya lelaki paruh baya satu ini yang selalu membuatnya naik pitam. Damian memang sengaja diam sejak tadi, ia ingin melihat seperti apa masa mos General Managernya yang hanya 3 hari kerja saja. Masa orientasi tersingkat yang pernah ada. "Berapa saham yang dimiliki oleh bapak Alvian di perusahaan ini Josua? Apa beliau memiliki saham setengah?" "Sekitar 10 persen pak, dan beberapa hari terakhir ini mengalami penurunan!" "Lalu, apa jika kita memutus hubungan kerjasama dengannya. Maka perusahaan J-Group akan merugi?" Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut. Kecuali Marco yang sudah menduga sejak awal bahwa sang CEO itu memang tidak suka bekerja sama dengan Alvian. Key hanya membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Damian. "Aku rasa tidak akan merugi pak, selain karena saham dari pak Marco meningkat menjadi 30 persen dari total saham keseluruhan. Kita juga memiliki penyumbang saham yang ingin bergabung bulan ini!" "Kalau begitu, anda yang memutuskan hubungan kerjasama ini pak Alvian. Aku tidak pernah ingin melakukan ini pada anda. Bahkan pada kalian semua, para pemilik saham di J-Group. Namun, aku menghargai setiap keputusan yang kalian berikan. Dan aku sangat tidak menyukai kekerasan, terlebih pada anak buahku sendiri!" Damian sedikit melirik Key yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Damian tersenyum dalam hati, ia hanya melakukan apa yang terbaik bagi orang yang ia rasa benar. "Apa ayahmu mengajarkanmu hal ini Damian? Ingin memutus hubungan kerja sama denganku? Silahkan, dan kau akan tanggung akibatnya sendiri!" Alvian yang sudah kelewat marah langsung pergi dalam ruang rapat itu. Meninggalkan mereka yang terdiam dan tidak ada yang menghalangi kepergiannya. "Rapat saya lanjutkan, bagaimana pendapat anda semua?" "Sejujurnya, saya sangat setuju dengan pendapat anak muda itu Damian. Dulu, saya juga memiliki pandangan selalu ingin menghancurkan musuh saat mereka butuh bantuan. Dan ketika aku melakukan hal itu, aku kalah. Namun ketika aku mengulurkan tanganku pada mereka, kami bukan lagi musuh. Tidak menjadi saingan, namun aku mendapatkan mereka. Aku menang dalam keadaan itu!" Harry, lelaki yang paling tua di antara mereka. 70 tahun dan masih terlihat sangat segar sampai saat ini. Sosok lelaki paruh baya itu menatap satu-satunya gadis muda yang ada di dalam ruangan rapat mereka kali ini. Dan hal itu memberikan Harry sebuah semangat baru, sebelumnya ia memang ingin menggantikan posisinya pada putranya saja. Meski ia sedikit khawatir jika putranya itu tidak tau apa-apa. Dan ketika melihat anak gadis itu, ia seolah melihat dirinya beberapa tahun lalu. "Aku juga setuju dengan hal itu!" "Saya juga!" Damian menganggukkan kepalanya, ia lalu menatap Key yang terlihat tersenyum kecil. Ia sangat tau bahwa gadis itu memiliki sebuah prinsip yang jauh berada di luar pemikirannya. Meski ia masih baru beberapa kali ini bertemu dengannya, Damian sudah tau bahwa Key memang benar-benar layak menjadi GM nya saat ini. "baiklah, lalu bagaimana dengan pendapat anda sir?" Damian menatap Marco, lelaki paruh baya yang sudah mengajarkan banyak hal "Seperti yang aku katakan sebelumnya nak, aku setuju dengan keputusanmu!" Damian menganggukkan kepalanya lagi, ia lalu berdiri lalu menatap semua yang ada di dalam ruang rapatnya kali ini. "Karena ini adalah kesepakatan kita bersama. Maka kita akan berinvestasi pada mereka. Dengan catatan bahwa investasi ini adalah untuk tujuan dari J-Group ini sendiri! Sekian rapat kali ini, terimakasih atas waktu yang bapak dan ibu berikan semua pada hari ini. Jika beberapa waktu kedepan ada yang ingin merubah keputusannya, maka dengan senang hati saya selalu berada di ruang kerja saya!" Semua yang ada di dalam ruangan itu mulai keluar satu persatu dengan raut wajah senangnya. Damian tidak hanya mendengarkan siapa-siapa pemilik saham paling berpengaruh di dalam perusahaannya. Namun Marco mendengar saran dari semua orang yang ada di dalam perusahaannya. Marco terakhir keluar, ia berjalan bersama dengan Damian. Dan juga Josua serta anak muda itu. "Apa ayahmu bekerja di bidang saham juga nak? Kau kelihatan sangat berbakat sekali, jika kau ada waktu. Aku ingin mengunjungi ayahmu, karena kau rasanya sedikit familiar dengan orang yang aku kenal!" Key mendadak berhenti berjalan, ia menatap sosok Marco cukup lama. Sampai saat Josua menggoyangkan tangannya, Key lekas sadar dan tersenyum. "Jika anda senggang, bisa menghubungi saya sir!" "Ahahahahha....dengan senang hati nak. Ahhh, Damian!" Marco membawa Damian sedikit menjauh dari mereka. "Kenapa kau menatapnya tanpa kedip saat bertanya mengenai ayahmu Key? Ada masalah?" Key menghela nafas, "kau harus pergi ke alam baka jika ingin bertemu ayahku!" "Hah? Alam baka? A--apa maksud mu...!" "Stt.....Tidak usah ribut, aku hanya ingin melihat apa tujuan dari lelaki paruh baya itu. Karena aku juga memang sedikit familiar dengannya!" "Ahh...saya pergi dulu, sampai berjumap di lain kesempatan nak Josua, nak Key!" Josua dan Key kompak menatap ke depan, mereka menatap sosok itu yang sudah memasuki mobil sedan hitam dengan plat yang tidak sembarangan. Ken dan Josua kompak menunduk lalu bersamaan dengan mobil itu yang mulai berlalu dari depan perusahaan mereka. Damian mendekati Josua dan juga Key, "Jadi, apa kau mau mengatasi masalah untuk kali ini Key? Aku percayakan masalah ini padamu dan juga Josua!" "Baik pak!" Seru Josua, namun Key sedikit diam dan tidak menjawab. Damian menatap Key, ia mengerutkan keningnya saat gadis itu tidak menjawabnya dan sepertinya memikirkan sesuatu. "Ada apa? Apa kau masih sedikit tidak terbiasa? Atau kau tidak ingin mengambil kesempatan ini?" "Ahh...baik pak, saya akan mengatasi masalah kali ini!" ***** "Bos gawat, saham perusahaan kita turun beberapa persen. Dan penyumbang yang ingin bekerja sama hanyalah J-Group!" Aldo yang ingin menandatangani dokumennya langsung menghentikan pekerjaannya. Tidak hanya dia saja, namun juga dengan Logan dan Oliver yang masih sibuk dengan laptop di depan mereka langsung menatap Ben yang baru saja datang dengan berita tidak baik. "Berapa persen saham kita yang hilang?" "Hampir 40 persen bos, saya tidak tau persis mengapa pak Richard mengundurkan diri. Namun dari data yang saya peroleh, perusahaan beliau mengalami kebangkrutan. Dan beritanya sudah meluas sejak tadi pagi" "Shit..." Aldo mengumpat, ia memang tidak memeriksa saham mereka untuk saat ini. Ia menatap Ben, lalu tiba-tiba pemikiran Aldo langsung tertuju pada Key. Ia mengepalkan tangannya dan menatap Logan dan juga Oliver. "Tidak ada cara lain selain itu, terima tawaran dari mereka!" "T--tapi boss!" "LAKUKAN SAJA APA YANG SAYA KATAKAN!" Aldo menatap Ben dengan tatapan tajam. Ia langsung mengambil jaketnya dan pergi dari ruangan itu. Cecil yang hendak bertanya mengenai penurunan saham mereka hanya mengurungkan niatnya saat menyadari raut wajah Aldo benar-benar tidak baik. Cecil memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Aldo, dan mendapati Ben, Oliver serta Logan yang juga kelihatan pucat. "Kenapa, mengapa hal ini bisa terjadi?" "Nona!" Ben menyapa Cecil yang baru masuk ke dalam ruangan Aldo. "Pak Richard menarik sahamnya karena perusahaannya beliau bangkrut. Beritanya sudah beredar di internet mulai tadi pagi. Dan saat ini, kita hanya bergantung pada J-Group!" "J-group? Aldo sudah tau?" "Pak Aldo yang mengatakan setuju lebih dulu!" Logan menyahut sambil tetap fokus pada layar laptop di depannya. Cecil mengepalkan tangannya, J-Group? Key? Dan saat ini, Cecil sadar bahwa masalah ini sepertinya ada hubungannya dengan gadis itu. Karena Cecil tau bahwa Key ada kelemahan Aldo sehingga dengan mudahnya Aldo mengambil keputusan seperti ini. "Tangani dengan baik, aku percaya denganmu. Aku akan mengejar Aldo lebih dulu, aku yakin ada yang tidak beres dengannya!" **** Aldo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, kali ini benar-benar merasa emosinya tidak bisa dikendalikan. Baru beberapa hari yang lalu Key datang ke apartemennya dengan baik. Namun sepertinya gadis itu akan tetap membencinya sampai kapanpun juga. Namun ia tidak percaya bahwa rasa benci Key sampai pada perusahaannya. Aldo tiba-tiba teringat dengan perkataan sang ayah, bahwa ayah Key juga pernah bekerja di perusahaan mereka. Aldo berhenti lalu menatap sosok gadis yang sedang ia cari. Saat hendak turun dari dalam mobilnya, ia menatap Key sedang berbicara dengan sosok lelaki. Lalu tidak lama setelah itu, mereka pergi dari arena lapangan itu. Aldo mengepalkan tangannya, ia terlalu lalai. Ia sudah yakin bahwa Key pasti bersekutu dengan Damian. Lelaki itu, lelaki yang paling ia benci. Aldo menatap ponselnya yang berdering. "Al...kami sudah mendapatkan datanya. Beberapa...!" "Batalkan semua penelitian mengenai kasus itu, dan jangan bicarakan gadis itu lagi padaku. Aku akan balas dendam!" "All...halo? Halo..." Tito menatap layar ponselnya yang sudah terputus dengan Aldo. Ia mengerutkan keningnya. Padahal, datanya sudah berhasil ia minta dari polisi yang menangani kasus itu 13 tahun lalu. Dan tebakan Tito benar, bahwa sesuatu memang terjadi pada ayah Key. Namun mengapa Aldo sepertinya kelihatan tidak lagi ingin mengurus kasus ini? Tito menatap polisi dan juga intel serta jaksa yang ada di depannya. "maaf pak, aku rasa tidak jadi membawa kasus ini untuk sementara. Ada sedikit masalah dengan temanku. Tapi lain kali, jika aku memanggil kalian. Apa kalian bersedia mengatakan hal yang sebenarnya?" "Tentu saja nak, selama ini kami merasa hidup dalam kesalahan. kami ingin menebusnya sendiri bahkan sekalipun dengan kehilangan nyawa kami!" Tito menganggukkan kepalanya lalu pergi dari sana. Ia sudah yakin bahwa Aldo sepertinya sedang kacau saat ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD