Usai selesai dengan pekerjaannya hari ini. Key yang berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Josua berdiri. Lelaki itu masih terlihat sibuk dengan urusannya yang memang akhir-akhir ini cukup banyak.
Josua menatap Key saat merasakan bahwa gadis itu sekilas menatapnya tadi. Namun kali ini gadis itu sudah melangkah menuju lift "Key, mau kemana?"
Key berbalik dan menatap Josua "Ingin ke bawah sebentar, ini sudah jam makan siang. Percayalah bahwa perutku sejak tadi sudah berbunyi!"
"Ahh...aku bahkan sampai lupa jam makan siang karena pekerjaan yang sangat menumpuk. Tapi, kenapa kau tidak mengajakku untuk kebawah?" Josua baru sadar, bahwa Key memang tidak mengajaknya sama sekali. Gadis itu bahkan cukup jarang berbicara untuk hal yang penting. Membuat rasa penasaran Josua menggebu-gebu.
"Kau akan makan jika lapar!"
"Yak, astagahhh. Darimana hati nuranimu terbentuk Key? Aku tau akan makan jika lapar, tapi kan ada juga gunanya jika kau mengingatkanku!"
"Apa kau masih anak-anak?"
Key dan Josua yang masih menunggu lift langsung berbalik dan mendapati Damian yang sedang berjalan mendekati mereka. Key duga bahwa lelaki itu juga pasti ingin pergi makan. Karena selain sudah waktunya makan siang, ini memang sudah waktunya untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang masih banyak.
"Ahh...itu, maaf bos. Apa bos juga ingin makan bersama dengan kami?"
Damian menatap Josua, namun mencuri pandang pada Key yang hanya menatap lurus ke depan. "Ya, ini sudah waktunya makan siang!"
"Kebetulan sekali, kalau begitu. Kita bertiga makan bersama saja!"
Ting...Lift terbuka, Key, Damian dan Josua masuk ke dalam lift. Tidak ada yang memulai pembicaraan sama-sekali. Bahkan saat mereka sudah sampai di lantai dasar, mereka hanya diam sambil berjalan keluar. Key yang berjalan di belakang Josua dan Damian bisa merasakan banyak tatapan menusuk yang hanya tertuju padanya. Bahkan Key bisa mendengar dengan jelas mereka sedang membicarakannya.
"Key?" Damian yang sudah berada 5 langkah di depan Key berbalik dan menatap gadis itu yang sepertinya sedang menatap ke sekitarnya. Damian menghela nafas dan berjalan mendekati Key yang menghiraukan panggilannya. Damian menyentuh lengan Key, membuat gadis itu tersadar.
"Aku tau mereka tidak menyukaimu, tapi aku membutuhkanmu untuk tetap bekerja di perusahaan ini. Aku mohon jangan hiraukan mereka, karena mereka itu MANUSIA!"
Key menaikkan alisnya bingung sambil mengikuti sang CEO berjalan keluar. Mereka sedikit berbincang sebentar, menunggu Josua yang mengambil mobil. Sebuah mobil Ferrari 488 GTB terparkir di depan mereka. Key hanya menatap Josua yang sudah keluar dari dalam mobil itu dan membukakan pintu mobil untuk Damian. Key masih berdiri di tempatnya tadi, ia sepertinya tidak salah lihat saat mengalihkan perhatiannya beberapa menit yang lalu. Ia sepertinya menatap sebuah mobil yang cukup akrab dengannya.
"Key? Ayo masuk, kita makan bersama saja, jangan sungkan dengan kami!" Josua menarik tangan Key dan memasukkan gadis itu duduk di belakang. Bersama dengan Damian. Namun setelah menjalankan mobil yang sedang ia kemudikan, Josua terlihat menyesal. Ia jadi serasa sopir pribadi saat ini.
"Kalian ada rekomendasi tempat makan siang? Aku tidak terlalu sering bepergian di daerah sini!" Damian memulai pembicaraan dan sesekali menatap Key yang duduk di sebelahnya. Gadis itu hanya diam sambil memperhatikan ke arah depan.
"Ahh..bagaimana dengan cafe dekat dengan daerah sini? Aku rasa suasananya di sana cukup bagus!" usul Key
"Baiklah!"
Tidak lama, mereka akhirnya tiba di sebuah restoran yang langsung membuat Damian teringat. Pertemuan pertama dengan Key juga ada di restoran cafe sederhana itu. Malam itu, Damian juga tidak tau apa yang membawanya untuk pergi ke sana. Namun, ia hanya ingin saja. Dan tidak sengaja malah bertemu dengan sosok Key. Ia yakin sepertinya gadis itu tidak ingat saat ia membantu gadis itu. Damian, Key dan Josua turun dari dalam mobil dan memasuki restoran itu. Mereka duduk di dekat kaca yang memberikan pemandangan luar yang sejuk.
***
Aldo memukul tembok yang ada di depannya, ia mengepalkan tangannya. Hari sudah larut, dan ia masih berdiri di atas apartemen sambil menatap kebawah. Dan sosok yang sejak tadi ia tunggu tak juga kunjung menampilkan wajahnya. Namun tidak lama, ia melihat sebuah mobil yang menuju ke arah apartemennya. Aldo menaikkan senyumnya, berusaha untuk tetap berpikiran terbuka. Ia langsung turun ke bawah, bersama dengan seekor anjing kecil yang baru saja ia beli tadi sore. Aldo juga tidak tau mengapa ia masih bisa membeli anjing, padahal ia sedang dalam keadaan tidak bagus.
Aldo sengaja mengambil anjingnya--Milo--berjalan-jalan sekitar taman apartemen. Dan dugaannya benar, mobil itu memasuki area parkiran apartemennya. Dan tidak lama, ia menatap sosok gadis yang sedang ia tunggu keluar dari dalam mobil itu. Namun, gadis itu bersama dengan sosok itu?
"Hol, Aldo? Kamu di sini ngapain?" Key yang baru saja turun dari dalam mobil Damian menatap Aldo yang sedang di taman apartemen dengan seekor anjing kecil?
Damian juga ikut menatap sosok yang disebut oleh gadis itu. Ia menatap Aldo dan Key bergantian, "Apa kau kenal dengannya?"
Key mengangguk dan menatap Damian yang sudah berdiri di sebelahnya. Dan berada di depan Aldo. Dari tatapan yang dilontarkan Aldo dan juga Damian, Key bisa menarik kesimpulan bahwa mereka saling kenal. Namun sepertinya hubungannya sedikit kurang baik. Key menatap Damian, dan menggoyangkan tangan lelaki itu.
"Apa kalian saling kenal?"
"Tidak!" Jawab Damian singkat, dan Aldo juga tetap bungkam. Dan jawaban dari Damian semakin membuat Key sadar bahwa mereka itu saling kenal dan hubungannya tidak terlalu baik. Melebihi saingan dalam pasar saham.
"Kenapa kau pulang larut sekali? Aku rasa semua pegawai tidak akan pulang semalam ini!" Aldo mengabaikan keberadaan Damian dan memilih untuk bertanya pada Key.
"Bukan urusanmu Al, urusan kita sudah selesai. Dan meskipun kita sudah berdamai, kau tidak berhak mengatur kehidupanku."
"Dia kekasihmu?" Damian menatap Key
"Bukan, dia hanya tetangga apartemenku saja. Anda jangan salah paham!" Key tersenyum sambil menatap Damian.
"Aku tau itu, sudahlah. Ini sudah larut malam. Jika kau butuh bantuan, langsung hubungi saja. Dan jangan kembali terulang seperti tadi, aku pulang dulu!"
"Ya....terimakasih dan hati-hati di jalan!"
Damian membalas senyuman dari gadis itu, dan keluar dari area apartemen gadis itu. Namun dari jauh, Damian memperhatikan interaksi antara kedua orang itu. Dan bisa disimpulkan, Key sepertinya tidak terlalu suka dengan Aldo. "Cari tahu apa hubungan Key dengan Aldo, kirimkan jawabannya dalam 24 jam. Besok pagi aku sudah harus menerimanya di depan mejaku!"
"Baik pak!"
Aldo menatap Key yang juga masih menatapnya, ia menarik nafas. Key juga masih berdiri di depannya dengan tatapan yang tertuju pada anjing kecilnya. Gadis itu bahkan tidak pergi meninggalkannya karena anjing itu. "Kau sudah makan?" Aldo menatap Key yang menatapnya
"Sudah!"
"Tapi aku belum makan, aku menunggumu untuk makan malam bersama!"
"Pergilah makan sendiri, jangan menggangguku!" Key berdecak sebal pada Aldo. Dari tadi, Key sudah sangat ingin kembali ke apartemennya. Namun makhluk berbulu putih kecil yang sejak tadi menatapnya membuat Key ingin sekali memeluknya sekarang. Namun Key sadar bahwa pemiliknya itu pasti tidak akan membiarkannya.
"Milo juga belum makan, dia ingin ditemani makan bersamamu!"
"Milo? Milo siapa? s**u Milo?"
"Bukan, dia...!" Aldo menunjuk anjing kecil itu membuat Key langsung memusatkan perhatiannya pada si mungil kecil itu. Satu-satunya alasannya tetap berdiri bersama lelaki itu saat ini.
"Jadi dia Milo dan belum makan, baiklah. Ayo makan bersama, tapi boleh aku menggendongnya?"
Aldo tersenyum lalu mengacak rambut Key. Mata gadis itu terlihat memohon saat menginginkan Milonya. Aldo mengangguk dan bersamaan dengan Key yang langsung membawa Milo ke dalam pelukan gadis itu. Bahkan Key menggantikan Milo dengan tas yang sedikit berat itu padanya. Key dengan santainya langsung menculik milo dan bahkan mencium peliharaan kecil itu. Aldo berdecak tidak suka, bisa-bisanya ia iri dengan anjing? Yang benar saja? Tapi...tapi Aldo memang iri sekali saat ini.
"Hummm....makan yuk aaaaa!"
Milo kelihatan sangat senang makan bersama dengan Key yang duduk diatas kursi. Milo sesekali menatap Key dengan tatapan imutnya. Key menambah porsi makan Milo, namun sama-sekali tidak peduli dengan Aldo yang terasa ngenes sendirian. Merasa jadi jomblo dan iri pada hewan.
Padahalkan memang Aldo itu seorang jomblo toh
Milo sudah kenyang, anjing kecil itu langsung berlari ke kaki Key yang baru saja datang usai mandi. Rambut Key masih terlihat basah dengan handuk yang masih terletak di bahu gadis itu. "Utu...utu...Milo masih belum bobo? Ini kan sudah malam, bobo ya"
Guk
Key tersenyum, Milo sepertinya sangat paham dengan bahasa manusia. Key membawa anjing kecil itu ke dalam pangkuannya. Lalu duduk di sofa, Milo sesekali menggesekkan kepalanya pada perut Key. Membuat Key terkekeh kesenangan, dan mengelus bulu halus Milo. Tidak lama setelah Milo hampir memejamkan matanya, pintu apartemennya terbuka. Lalu Aldo muncul di depan Key, dengan laptop lelaki itu.
"Milo udah tidur?"
"Sttt...nanti dia bangun!"
Aldo tersenyum, ia menatap Key yang memakai baju sport lagi. Gadis itu memang sering kali memakai pakaian seperti itu. Perhatian Aldo tertuju pada rambut Key, ia mengambil alih handuk gadis itu dan membantu Key mengeringkan rambutnya.
"Ihhh....Al, apaan sih? Gak usahh!"
"Sttt...kamu diam aja, biar aku yang urus rambut kamu. Kamu lihat Milo aja, nanti dia bangun!"
Key menegang saat Aldo benar-benar mengeringkan rambutnya, seperti biasa. Lelaki itu pasti akan selalu lembut jika sudah bersangkutan dengan kepalanya. Aldo juga mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang masih terasa basah. Suara dari hair dryer membuat Milo yang sudah tidur pulas sedikit bergeliat di pangkuan Key. Membuatnya langsung mengelus kepala Milo lagi. Milo kembali nyaman dan terus masuk ke dalam pelukannya.
Aldo sudah usai mengeringkan rambut Key, sesekali Aldo akan merasa sakit jika harus melakukan hal ini. Namun kali ini Aldo memilih untuk diam, ia ingin Key sendiri yang sadar dengan apa yang sudah dilakukan oleh Key padanya.
Usai mengeringkan rambutnya, Key menatap Aldo yang duduk di depannya dengan layar laptop yang menjadi fokus lelaki itu. Key jadi merasa sedikit bersalah, terlebih Aldo sepertinya sedang banyak pikiran. Dan ia sangat sadar bahwa Aldo sepertinya sedang mengurus perusahaannya. Key masih tetap hening, memilih untuk mengamati bulu Milo yang sangat halus. Seperti kulit bayi dan itu membuat kedua sudut bibir Key terangkat. Key, sangat suka dengan anak kecil. Key juga berkeinginan untuk menikah suatu saat nanti dengan sosok yang memberikan rasa nyaman dan Key juga bermimpi untuk memiliki seorang bayi nantinya. Namun itu nanti, sampai tujuan Key tercapai dan ia bisa tenang.
"Apa kau tidak ingin berkata apa-apa?" Aldo akhirnya memulai pembicaraan di antara mereka. Sejak tadi ia hanya menatap Key yang terfokus pada Milo. Aldo sebenarnya masih ingin membiarkan malam ini berlalu dengan cepat. Namun sesuatu mengusik hati Aldo, ia.....Aldo harus memutuskan.
"Mengenai investasi dari J-Group?" jawab Key sambil tetap mengelus bulu Milo yang kembali bergeliat karena mungkin terganggu dengan suaranya dan Aldo. Key beranjak dan memindahkan Milo ke ruang tengah. Ia kembali dan duduk menghadap dengan Aldo yang masih tetap menatapnya.
"Apa yang ingin aku katakan? Perusahaan kalian mengalami penurunan saham, beritanya sudah tersebar sampai kemana-mana. Kami hanya memberikan bantuan saja!"
Aldo mengepalkan tangannya, ia menatap Key yang masih tetap menatapnya dengan tatapan biasa. "Apa kau punya masalah dengan keluargaku Key? Jika ia, tolong beritahu padaku. Karena aku tidak tau apa yang dilakukan keluargaku padamu. Kau bisa membalaskan dendammu, tapi tolong jangan khianati kepercayaanku padamu Key!"
Key terkekeh, ia menatap Aldo dengan tatapan bertanya "Hianati? Hubungan dengan keluargamu? Apa kau sedang mengajakku bercanda Al? Aku hanya mengenalmu seorang saja, dan aku bahkan tidak tau siapa keluargamu. Tapi apa perkataanmu sedikit ambigu? Kau sendiri yang bilang bahwa perusahaan saham itu penuh dengan otak-otak kotor, dan aku setuju. Aku sekarang berada di perusahaan J-Group, lalu apa yang kau pikirkan dengan jabatanku saat ini?"
"Aku juga bagian dari GH-Group Key, jika ingin menghancurkan perusahaan kami dengan investasi kalian. Maka mengapa kau tidak langsung meminta data perusahaan dariku? Kau tidak beda jauh dengan ayahmu!"
Key terdiam, ia menatap Aldo dengan tatapan bertanya. "Tidak beda jauh dengan ayahku? Apa kau kenal dengan ayahku?"
"Sudah, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Aku menitip Milo padamu malam ini!" Aldo berdiri dengan amarah yang memuncak di kepalanya. Aldo berusaha untuk tetap waras dan tidak melakukan kesalahan kali ini. Biar bagaimanapun, ia yakin bahwa ini sepertinya masih bisa ia tangani.
Key berdiri, ia menatap punggung Aldo "Apa katamu tadi? Sama saja dengan ayahku? Aku ingin bertanya padamu, apa kau kenal dengan ayahku Al? Apa kau dia seperti apa? Kau mengatakan aku mirip dengan ayahku. Dan itu benar, kau tidak salah sama-sekali. Tapi asal kau tau, kau tidak punya hal untuk menilai seperti apa ayahku dan juga aku. Aku berada di perusahaan J-Group, bekerja di sana. Aku tulus bekerja di sana, bukan karena ingin menjatuhkanmu. Tolong lain kali jaga ucapanmu!"
"Lalu, siapa yang bisa melakukan ini jika bukan kau Key? Sekarang aku tau, kau sengaja berbaikan denganku. Padahal kau ingin berniat menghancurkan ku juga, aku bodoh. Aku bodoh dengan masih saja percaya denganmu. Aku tidak bisa melihat siapa sebenarnya dirimu Key. Ayahmu dulu mencuri data dari perusahaan GH-Group, dan aku yakin kau juga sudah mencuri sesuatu dariku hingga bisa mengguling perusahaan. Kau sama saja dengan ayahmu"
Brak--Pintu Key di tutup dengan keras dari luar.