Sentuhan lembut di tangannya membangunkan Yessinia dari tidur panjangnya. Wanita itu sedikit tersentak saat melihat Valeria ada di sana. Erick benar-benar lelaki yang menepati janjinya. Mata Yessinia menatap sosok Nyonya Frederick Carollino dari dekat.
Jika semua istri sah akan menjambak, menampar, bahkan tidak jarang mereka mempermalukan para w*************a. Maka kali ini, Valeria menangkis semua persepsi itu. Valeria justru diam dengan tenang mengamati diri Yessinia yang kini terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Pantas saja Erick tidak ingin melepaskannya. Dia, bukan wanita sembarangan. Dia begitu angkuh meski hanya dari caranya menatap. Semua orang yang menatapnya akan tahu, kelas Valeria yang sebenarnya.
Begitulah kiranya pemikiran Yessinia saat ini.
Tangan wanita itu memberi petunjuk untuk Valeria mendekat ke arahnya. Erick menarik kursi yang ada di sana, mempersilahkan istrinya duduk. Sedangkan dia memilih keluar dari ruangan itu, memberikan ruang privasi pada Yessinia dan Valeria.
Selama beberapa menit, kedua wanita itu hanya diam saling menatap, mengamati, serta menilai satu sama lain.
“Dia tidak mencintaiku,” lirih Yessinia seperti menegaskan hubungannya dengan Erick.
Valeria mengangkat kepalanya, nampak menyimak segala perkataan dari wanita di depannya. Dialah wanita yang sudah memberikan keturunan kepada suaminya.
Air mata tiba-tiba keluar dari mata Yessinia. Dia menyesalkan perbuatannya karena sudah menggoda suami orang, dan memanfaatkan keadaan saat itu.
“Maafkan aku … semua ini kesalahanku,” isak Yessinia membuat Valeria menatapnya penuh khawatir.
Kondisi Yessinia sepertinya sedang tidak stabil. Jika Yessinia menangis, itu mungkin akan mempengaruhi kesehatannya saat ini.
Dengan susah payah, Yessinia mengatakan segalanya kepada Valeria. Napasnya nampak tidak beraturan. Hanya mengamati saja Valeria tahu, kalau Yessinia pasti kesusahan mengambil napas saat ini.
“Cukup, jangan mengatakan apapun lagi. Pikirkan kesehatanmu, dan … putramu,” jawab Valeria menjeda perbincangannya dengan Yessinia.
Meskipun berat mengucapkan kalimat perhatian, tapi Valeria bukanlah wanita yang kejam dengan menuntut orang sakit memberikan penjelasan kepada dirinya. Sekilas, Valeria bisa menangkap kejadian di malam itu ketika Yessinia dan suaminya melakukannya hingga membuat Yessinia hamil anak dari Erick.
Sekuat apapun, Valeria tidak akan mampu mengubah kenyataan.
“Aldrick, dia mungkin akan kehilanganku,” kata Yessinia sangat lemah.
Tubuh Valeria meremang seketika saat Yessinia mengatakan hal itu kepada dirinya.
“Apa yang kamu bicarakan. Dia putramu, dia tidak akan kehilanganmu,” sergah Valeria menjawab ucapan dari Yessinia.
“Vale … bisakah, bisakah kau merawatnya untukku?” pinta Yessinia menatap Valeria memohon.
Merawat anak suaminya dari wanita lain? Yang benar saja! Mendengar kenyataan pengkhianatan suaminya saja membuat Valeria ingin gila, apalagi sampai merawat anak yang sudah jelas hasil pengkhianatan meskipun terjadi tanpa disengaja.
“Kenapa aku harus merawatnya untukmu? Bukankah kau ibunya?” tanya Valeria tidak terima jika harus menerima tanggung jawab mengurus Aldrick.
Belum lagi masa depan pernikahannya yang saat ini tidak jelas ke mana arahnya. Sakitnya perasaan Valeria, bercampur dengan kekecewaan beradu menyesakkan relung hatinya yang paling dalam.
Valeria memalingkan wajahnya saat raut wajah Yessinia nampak begitu lemah.
“Tolong, rawat dia. Besarkan dia seperti putramu sendiri, Vale,” lirih Yessinia dengan bibirnya bergetar menahan tangis.
“Aku ti-“
Kalimat Valeria terhenti ketika suara bedside monitor yang berguna memonitor vital sign pasien mendadak berdengung memekakkan telinga. Erick berlari masuk ke dalam ruangan, di saat itu juga dokter dan perawat UGD masuk ke sana.
Erick mengajak Valeria untuk keluar, kepala Valeria menoleh ke belakang, menatap wajah Yessinia yang kini sangat pucat pasi dengan air mata membasahi kecantikan Yessinia.
Wanita itu telah tiada, meninggalkan pesan mendalam kepada Valeria untuk merawat Aldrick. Yessinia pergi, usai menitipkan anaknya kepada seseorang yang pantas merawat anaknya. Dia sudah melimpahkan kewajibannya kepada Valeria, agar dia bisa pergi dengan tenang.
“Ibu Yessinia sudah meninggal, pada pukul dua puluh lebih lima belas menit, waktu Indonesia bagian barat,” ucap dokter yang menangani Yessinia sekaligus berbela sungkawa kepada Erick dan Valeria.
“Meninggal, Dokter?” tanya Valeria menutup mulutnya.
Valeria memejamkan matanya, air matanya kembali meluruh. Dia diberikan kepercayaan sebelum Yessinia meninggal. Belum sempat Valeria memaki, belum sempat Valeria menyalahkan Yessinia karena sudah menghancurkan pernikahannya. Malah Valeria harus menunaikan pesan-pesan terakhir Yessinia sebelum wanita itu menghembuskan napasnya.
Erick menatap kosong tubuh Yessinia yang kini diselimuti kain putih. Padahal Erick belum meminta maaf kepada Yessinia karena sudah menyusahkan hidup wanita itu dengan membesarkan serta merawat anak mereka seorang diri.
“Yessinia, maafkan aku,” isak Erick bersimpuh menggenggam tangan Yessinia yang kini sudah tidak lagi berkedut nadinya.
Harusnya Erick memahami, bagaimana perasaan Yessinia sebagai seorang ibu yang melihat anaknya harus disembunyikan selama ini. Padahal seharusnya Erick bangga mendapatkan seorang putra, anak kandungnya sendiri. Tapi Erick malah menutupi, menyembunyikan darah dagingnya karena takut keluarganya akan hancur jika rahasianya mulai terbongkar.
Bangkai pasti akan tercium juga, sebaik apapun, serapat apapun Erick menyembunyikan bangkai pasti tetap terendus aroma baunya.
“Apa yang harus aku katakan kepada Aldrick, Yes? Dia pasti mencarimu, dia membutuhkanmu,” lirih Erick tidak tahu harus melakukan apa pada Aldrick.
Tanpa sadar, Valeria kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang Aldrick. Dari tempatnya berdiri, Valeria mengamati wajah anak itu dengan berbagai perasaan berkecambuk dalam hatinya. Wajah anak itu sangat mirip dengan suaminya.
Kenapa saat itu Valeria tidak menyadarinya?
Valeria menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar. Anak itu, bukti pengkhianatan suaminya. Mampukah Valeria menunaikan amanah yang Yessinia berikan kepada dirinya?
Merawat anak dari wanita lain?
“Kenapa? Kenapa aku terus mengalami kejadian naas seperti ini!” gumam Valeria dengan suaranya serak menahan tangis.
Baru saja selesai praharanya dengan Rebecca yang ternyata bukan anak Erick. Kini dia harus menemui satu kenyataan baru tentang suaminya. Kenapa dunia sebercanda ini kepada dirinya? Kenapa?!