Kehilangan sosok Yessinia yang tiba-tiba layaknya sebuah pukulan keras untuk batin Aldrick, bagi anak kecil sepertinya sang ibu adalah malaikat penjaga. Apalagi jagoan kecilnya itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Yessinia daripada ayahnya. Aldrick masih belum bisa menerima kepergian ibunya. Berulang kali ia menanyakan hal yang sama kepada Erick.
"Papa, Mama kenapa lama sekali tidurnya?" tanya Aldrick dengan mata berkaca-kaca.
Erick menghela napas dalam-dalam. "Mamamu tidak akan pernah bangun lagi, mulai hari ini Aldrick akan bersama Papa."
Sebagai seorang ayah, Erick tidak tahu harus mengatakan apalagi. Bagaimana pun ia tetap harus jujur kepada Aldrick. Berusaha semaksimal mungkin, untuk tetap membuat putranya dengan Yessinia itu tenang dan mampu menerima keadaan.
Nyatanya itu bukanlah hal yang mudah. Aldrick terus saja menolak pernyataan ayahnya, bahkan beberapa kali ia ingin berlari menerobos para tetangga yang sedang mempersiapkan pemakaman Yessinia.
Anaknya terluka, tentu saja. Luka di badan saja belum sembuh kini dia harus menerima kenyataan bahwa mamanya telah tiada.
"Tidak, Mama pasti bangun! Mama Aldrick orang yang kuat seperti super hero. Papa bohong!" pekik Aldrick dengan suara sengau.
Bulir-bulir bening meluncur bebas dari manik mata jagoan kecil itu. Aldrik memandang sekeliling rumah, ruang tamu yang biasa ia gunakan untuk bercengkerama dengan Yessinia kini telah dikosongkan. Hanya tergelar karpet berwarna hijau tua yang nampak hampa.
Beberapa orang berpakaian serba hitam mulai berdatangan, mereka memandang Aldrick dengan tatapan sendu. Namun, Aldrick tak peduli dengan kedatangan mereka. Manik mata polos itu terus menyusuri setiap jengkal rumah yang disebutnya surga kecil.
"Mama, ayo bangun! Aldrick capek nunggu di sini, Ma," gumam Aldrick lirih dengan tatapan lurus ke arah orang-orang yang memandikan jenazah ibunya.
Hati Frederick Carollino bagaikan diiris sembilu mendengar kalimat yang dilontarkan Aldrick. Mengapa dunia begitu tidak adil pada malaikat kecil itu? Memang benar Aldrick bukanlah anak yang dia harapkan, tetapi ikatan batin membuat Erick turut merasakan nestapa yang dirasakan Aldrick.
"Aldrick, kamu sayang Papa?" tanya Frederick mengalihkan perhatian putranya.
Aldrick mengangguk pelan sembari mengucek mata yang masih terasa mengganjal. "Aldrick sayang Papa Erick, dan Mama Yessi."
"Kalau begitu jangan menangis! Mamamu akan bersedih, jika-" Belum tuntas Erick menyelesaikan kalimat, tiba-tiba Aldrick berlari menuju kerumunan orang yang akan mengkafani jenazah Yessinia.
Bocah itu berlari menerobos para tetangga yang bersiap membalut tubuh Yessinia dengan kain kafan. Aldrick meraung-raung dan merancau tak karuan ketika seseorang menahannya agar tidak mendekati jenazah sang ibu.
"Mama! Bangun, Ma! Aldrick mau menyanyikan sebuah lagu untuk Mama. Mama 'kan sudah berjanji mau dengar Aldrick nyanyi." Tangisan jagoan itu pecah seketika, melihat kain putih yang terbentang mulai menutupi tubuh ibunya.
"Tidak! Jangan pakaikan mamaku kain itu! Mama Aldrick masih hidup!" pekik Aldrick sembari menyentak-nyentakan kakinya ke lantai.
Erick mengambil alih untuk menenangkan Aldrick. Pria itu memeluk erat jagoan kecil hasil hubungannya dengan Yessinia. Darahnya berdesir hebat, saraf-saraf kepalanya serasa menengang mendengar Aldrick meraung-raung. Batinnya sama terlukanya dengan Aldrick, walaupun hubungan yang ia jalin dengan Yessinia berada di jalur yang salah.
Perasaan kehilangan dan bersalah masih merobek palung hati Erick. Apalagi ia sangat jarang memberikan perhatian dan waktu untuk Aldrick dan Yessinia. Mereka bertiga kini berkumpul seperti keinginan Yessinia, tetapi sebagai kenangan terakhir sebelum jasad itu rata dengan tanah.
"Lihatlah, Yess! Kita sudah berkumpul sekarang. Aku masih menepati janjiku," gumam Erick lirih, nyaris tak terdengar.
Erick memejamkan mata, memorinya kembali mengingat saat-saat terakhir wanita yang saat ini terbujur kaku di hadapnya. Tanpa ia sadari sudut netranya meneteskan buliran bening. Betapa kejam dirinya telah melukai banyak hati karena kecelakaan itu.
Andai saja saat itu ia tak mabuk, tidak akan ada hati yang terluka. Aldrick pun tidak akan terlahir dan merasakan kesakitan di usianya yang masih sangat muda. "Maafkan Papa, Aldrick. Maaf."
Sedangkan di sisi lain, Valeria sangat terpukul. Malam itu segala alibi yang didengar dari mulut suaminya terus terniang. Apapun alasannya pria itu telah menghianati janji suci mereka. Namun, ketika ia melihat ibu satu anak itu meninggal dan menitipkan pesan padanya. Hati wanita yang masih tampak ayu itu terketuk.
Sepeninggalnya Yessinia, Valeria memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Di ruang tidur tempat ia memadu kasih dengan Erick, wanita itu menumpahkan segala emosinya. Selimut bermotif bunga di atas ranjang menjadi sasaran utama, ia menarik dan melemparkan benda itu sembarangan.
Kejutan tak terduga yang ia dapatkan hari itu begitu membuatnya hancur. Bagaikan butiran debu, seluruh tubuhnya terasa lemas. Mahligai cintai yang ia pikir semuanya baik-baik saja. Ternyata kosong di bagian dalamnya.
Valeria menarik kedua lututnya ke d**a dan menangis sesenggukan. Wanita itu memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Memberikan otaknya waktu untuk berpikir lebih jernih.
"Pak, segalanya sudah siap. Pemakaman akan segera dilakukan." Seseorang menepuk bahu Erick, seketika netranya kembali terbuka dan harus menghadapi kenyataan.
Erick mengangguk lemah, ia menggandeng Aldrick yang terus menangis. Betapa berat beban yang dirasakan jagoan kecilnya itu. d**a pria itu terasa sesak, mengapa ini semua garus terjadi? Apakah ini balasan karena ia terus menyembunyikan penghianatan itu?
"Ayo, kita ikut mengantarkan mamamu di peristirahatan terakhirnya!" Erick menggendong bocah yang masih tampak linglung itu.
Hamparan rumput tempat pemakaman itu terlihat terawat. Menghijau dan rapi menutupi berpuluh-puluh petak makam yang berada di sana. Langkah Erick terasa berat, karena jenazah wanita yang pernah ia tiduri itu kini akan menyatu dengan bumi.
Tiba-tiba manik mata Erick membulat sempurna. Seseorang bergaun hitam terlihat bergabung dengan para pelayat yang lain. Jantung Erick terasa berhenti berdetak, ia kenal betul siapa wanita itu. Ya, itu istri sahnya. Pria itu tak menyangka Valeria akan datang ke prosesi pemakaman ibu dari anaknya.
"Kita lebih mendekat ke sana ya," ajak Erick pada putranya yang bergeming.
Pria itu menurunkan darah dagingnya tepat di samping Valeria. Setelah jasad itu tertimbun tanah. Aldrick bagaikan kerasukan, ia meraung-raung di atas pusara. Tangan mungilnya berusaha menggali tanah yang menutupi jasad sang ibu.
"Mama, jangan tinggalkan Aldrick! Aldrick janji akan jadi anak baik. Mama, bangun!"
Sontak hati Valeria tersentuh, bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Aldrick. Wanita mana yang tega, melihat bocah kecil yang masih membutuhkan belaian lembut meratapi kesedihannya sendiri.
Nalurinya sebagai seorang ibu menggerakkan tubuhnya, membawa malaikat kecil yang terus meraung itu ke dalam pelukannya. Entah mengapa Aldrick terdiam, mungkin ia merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu dari pelukan Valeria.
"Tenanglah, mamamu tetap ada di sini, dia tidak pergi ke manapun!" Valeria menunjuk tepat di d**a anak biologis suaminya itu-Aldrick Carollino.