Memilih Mundur

924 Words
Prosesi pemakaman telah selesai, ditutup dengan bacaan doa yang dipimpin oleh salah satu ustad daerah sana. Dilanjutkan dengan ucapan terima kasih dari Erick sebagai wakil dari keluarga karena para pelayat sudah menemani mengantar Yessinia ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua pelayat menyalami Erick, mengelus pundak lelaki itu semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran, serta ketabahan melepas almarhumah kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Esa. "Terima kasih, Pak. Sudah menemani sampai ke makam," ucap Erick tersenyum menatap Pak RT rumah Yessinia. "Sama-sama, Pak Erick. Semoga putranya bisa diberikan ketabahan. Sayang sekali suami Bu Yessinia tidak bisa hadir, ya," jawab Pak RT menyesalkan di saat-saat terakhir Yessinia suaminya tidak bisa datang mengantarkan wanita itu beristirahat dengan tenang. Ya, Yessinia mengatakan kepada para tetangganya bahwa suaminya kerja di luar negeri. Tidak bisa dengan mudah pulang ke Indonesia. Yessinia juga membuat buku nikah palsu demi meyakinkan para tetangganya bahwa Aldrick adalah anak dari pernikahannya dengan sang suami. Yessinia mungkin tidak akan sanggup mendengar anaknya dihujat sebagai anak yang lahir di luar pernikahan. Terlebih, jika Aldrick tahu kalau kehadirannya hanya berdasarkan ketidaksengajaan. Kecelakaan satu malam yang membuat Yessinia mengandung anaknya. Meski, bagi Yessinia kehadiran Aldrick dalam rahimnya adalah suatu kebahagiaan tak terkira lagi harganya. Para pelayat berjalan berhamburan keluar dari komplek pemakaman. Erick, dan Aldrick berjalan bersama mereka dengan Aldrick yang kini dalam gendongan papanya. "Pak Erick kembali ke rumah naik apa? Mau bareng dengan mobil saya?" tawar salah satu tetangga rumah Yessinia karena tahu kalau Erick dan Aldrick datang ke pemakaman dengan naik ambulance. Erick menatap istrinya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Valeria tengah membuka pintu kemudi untuk dirinya sendiri. "Itu, istri saya sudah menunggu," jawab Erick menunjuk wanita pujaan hatinya dengan tatapan matanya. Tetangga Yessinia tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu," kata tetangga itu berjalan mendahului Erick. Mendengar dirinya tengah dibicarakan, Valeria menggenggam pintu mobilnya dengan erat. Jantungnya berpacu begitu cepat detakannya ketika Erick menyebut dirinya sebagai istri. Istri macam apa yang tidak tahu menahu perihal anak suaminya? Istri macam apa yang ... yang tidak bisa memberikan suaminya keturunan karena Tuhan belum mempercayakan Valeria menjadi seorang ibu lagi. Tiba-tiba saja Erick membuka pintu belakang. Meletakkan tubuh Aldrick di sana yang tengah tergeletak lemas saking lelahnya menangisi jenazah ibunya masuk ke dalam liang lahat. Aldrick sangat terkejut, itu bagaikan tamparan keras menurut bocah seusianya. Kehilangan sosok ibu dalam hidupnya bukanlah keinginannya. Hanya ibunya yang selama ini menemani dia bagaimanapun keadaannya. "Aku ikut denganmu," ucap Erick menggenggam tangan Valeria. Valeria menoleh menatap suaminya. Raut wajahnya tidak terbaca, akan tetapi Erick bisa menangkap sirat mata penuh kebencian dari mata istrinya. Lingkaran mata hitam, serta mata yang kini agak bengkak menandakan bahwa semalaman Valeria menangis, karena dirinya. "Masuklah, biar aku yang mengemudi," ujar Erick. Tak ingin beradu mulut, Valeria segera melangkahkan kakinya memasuki mobil. Valeria lantas memalingkan wajahnya ke luar jendela karena tidak sudi berhadapan dengan lelaki yang sudah mematahkan kepercayaannya. Erick melirik istrinya, suasana mobil terasa begitu dingin mencekam. Hanya suara deru napas keduanya, serta suara kendaraan di luar sana yang mengisi keheningan mobil Valeria. Mobil yang mereka kendarai melaju membelah jalanan menuju rumah Yessinia. "Kita akan ke mana?" tanya Valeria menatap suaminya. "Ke rumah Aldrick," jawab Erick. Tentu saja Valeria mengerti arti kata rumah Aldrick. Dia akan datang ke rumah wanita yang melahirkan anak dari suaminya itu. Beberapa karangan bunga di luar pagar rumah menyapa setiap orang yang memasuki rumah mendiang Yessinia. Rumah itu bisa dibilang cukup megah, dengan arsitektur minimalis, dan juga penataannya begitu rapi. Menandakan pemiliknya orang yang sangat cerdas dalam memilih. "Ayo, turun," ucap Erick mengajak Valeria untuk turun dari mobilnya. Erick membuka pintu belakang, membawa putranya ke dalam pelukannya. d**a Valeria lantas bergemuruh hebat. Kedua lelaki itu nampak seperti pinang di belah dua. Alis, bulu mata lentik, bahkan hidung, dan bibir Aldrick benar-benar menuruni papanya. Entah kenapa, tubuh Valeria langsung berdesir saat itu juga. "Den Aldrick." Dia adalah pengasuh Aldrick sejak kecil. Pengasuh yang sudah membantu Yessinia mengurus putranya sejak Aldrick lahir ke dunia ini. Bu Dhe Rika, sudah seperti ibu kedua bagi Aldrick. "Bawa Aldrick ke kamarnya, Bu Dhe," ucap Erick diangguki Bu Dhe Rika. Wanita sepuh itu langsung membawa anak asuhnya naik ke lantai dua di mana kamar Aldrick berada. Sedangkan Erick, ingin berbincang dengan Valeria. Erick menggenggam tangan Valeria, membawanya ke taman belakang. "Selama ini, kamu menyembunyikan mereka di sini?" tanya Valeria menaikkan alisnya. "Aku tidak menyembunyikannya, aku hanya menyembunyikan rahasia dari keluarga kita saja," jawab Erick. Erick menangkup wajah wanita cantik itu. "Aku mungkin akan di sini sampai tujuh hari ke depan. Aku harap kamu mengerti," jelas Erick kepada Valeria. Dia harus ada di rumah itu sampai tujuh harinya Yessinia. Sebagai seorang papa, Erick akan menemani Aldrick, membantu anaknya agar segera bangkit dari keterpurukannya. Lalu bagaimana nasib Aldrick setelah tujuh hari mamanya? Akankah dia hidup seorang diri di rumah megahnya itu? Bisakah Aldrick hidup hanya bersama dengan para asisten rumah tangga dan pengasuhnya saja? Aldrick pasti membutuhkan papanya, dan papanya sangat bergantung kepada Valeria. Maka kunci utama dalam masalah ini adalah Valeria. Mampukah Valeria menerima Aldrick dalam kehidupan rumah tangganya seperti Erick menerima Marchello? Seperti Valeria membesarkan Rebecca meski kala itu Valeria tidak tahu kenyataan jika Rebecca anak Pangeran Edward dan Margareth. "Rose, bisakah kita merawat Aldrick bersama-sama?" tanya Erick dengan tatapan mata sendunya. Erick menangkap keterkejutan dari kilatan mata istrinya. Entah apa yang kini berada dalam benak Valeria. Wanita itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Erick. "Kau bisa merawatnya, dia putramu," jawab Valeria membuat Erick berbinar bahagia. Hendak saja Erick ingin memeluk tubuh istrinya itu. Tapi kaki Valeria mundur ke belakang. "Aku akan keluar dari rumah itu," lanjutnya sangat mengejutkan Erick. Keluar dari rumah mereka? Bukankah itu artinya Valeria ingin mengakhiri biduk rumah tangganya bersama dengan suaminya? Itu tandanya, Valeria memilih pergi dari sisi Erick. Melepaskan Erick menunaikan tugasnya sebagai seorang ayah yang baik untuk anak biologisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD