Suara mobil memasuki halaman rumah Yessinia membuat pemilik rumahnya menyunggingkan senyumnya penuh kemenangan. Wanita yang kini tengah bersantai di sofa ruang keluarga sambari menunggui putranya Aldrick mengerjakan pekerjaan rumahnya merasa sangat bahagia karena usahanya untuk membuat Erick datang ke rumahnya menjadi kenyataan.
Aldrick menatap mamanya. “Itu suara mobil Papa, ya Ma?” tanya Aldrick kecil dengan tampang berbahagia.
Mamanya mengangguk, pertanda bahwa tebakan Aldrick memang benar. Itu adalah suara mobil papanya yang tengah datang bukan untuk menemui Aldrick, melainkan untuk mencaci maki Yessinia karena dianggap tidak becus menjaga anaknya.
Pintu rumah terbuka dengan kasar membuat Yessinia dan Aldrick langsung menoleh bersamaan.
“Yessi!” teriak Erick melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga guna mencari keberadaan wanita sialan itu.
“Papa!” sahut Aldrick nampak sangat antusias atas kedatangan papanya ke rumah.
Aldrick berlari menghampur memeluk papanya. Erick menangkup tubuh putranya, memeluknya dengan erat karena rasa bersalahnya sudah berpura-pura tidak mengenal darah dagingnya sendiri. Tangan Erick mengelus puncak kepala putranya dengan lembut, penuh cinta kasih seorang ayah kepada anaknya.
“Papa, Al merindukan Papa. Kemaren malam Aldrick yakin melihat Papa makan malam sama tante cantik. Tapi Mama bilang Al hanya salah lihat karena begitu merindukan Papa,” ucap Aldrick kepada ayahnya.
Erick menyamakan tingginya dengan sang putra. Lelaki itu mengacak lembut puncak kepala Aldrick.
“Sekarang Papa sudah datang menemui Aldrick. Kamu naik dulu ke kamarmu, Papa mau bicara sama Mama,” pinta Erick kepada Aldrick.
Anak itu mengangguk atas perintah Erick. Aldrick meminta Erick berjanji kepada dirinya agar bisa bermain dengan dirinya sebelum Erick kembali meninggalkan rumahnya untuk bekerja. Begitulah penjelasan dari mamanya kepada dirinya.
Setelah memastikan jika nanti papanya akan mengajaknya bermain, Aldrick langsung berlari kecil menuju kamarnya.
Kini hanya tinggal Erick dan Yessinia yang ada di ruangan itu. Rupanya Erick telah gelap mata, tanpa berkata satu patah apapun lelaki itu langsung melayangkan tangannya pada pipi Yessinia untuk yang pertama kali sejak mereka saling mengenal hingga Aldrick berumur sekarang.
“Beraninya kau!” geram Erick mencengkeram rahang Yessinia hingga ibu dari anaknya itu memekik kesakitan atas cengkraman tangan Erick.
“Le … paskan aku!” sergah Yessinia mencoba melepaskan tangan Erick pada rahangnya.
Tangan Erick turun ke bawah, lelaki itu mencekik leher Yessinia sampai wanita itu gelagapan karena pasokan udaranya terasa kosong dalam paru-paru. Erick melepaskannya saat wajah Yessinia sudah pucat pasi, lelaki itu menendang sofa kosong di depannya hingga membuat Yessinia meringsut ketakutan.
Yessinia sama sekali tidak menyangka jika Erick mampu melakukan hal seperti itu kepada dirinya. Yang selama ini dia tahu, Erick tidak akan bisa menyakiti tubuh Yessinia seperti sekarang ini.
“Sudah aku katakan, jangan berani-berani mengusik keluargaku!” pekik Erick di depan Yessinia.
Wanita itu menunduk ketakutan. “A-aku hanya-“
“Hentikan semua kegilaanmu, Yes! Sudah lebih dari cukup semua yang aku berikan kepada dirimu dan Aldrick! Jangan sampai aku menjauhkanmu dari Aldrick!” sentak Erick dengan mata membara penuh dengan kemarahan.
Yessinia bersimpuh di depan Erick. Dia meminta maaf karena telah lancing mengganggu rumah tangga Erick dan Valeria. Padahal sejak dulu Yessinia tahu, bahwa lelaki yang dia cintai telah memiliki istri dan keluarga yang begitu Erick cintai. Hanya untuk memuaskan egonya semata, Yessinia harus menerima kenyataan jika putranya tidak mendapatkan nama belakang papanya yang berarti Aldrick tidak memiliki kekuatan hukum tetap di mata negara.
“Maafkan aku,” isak Yessinia bersungguh-sungguh.
Sebagai seorang ibu, tentu saja Yessinia tidak ingin jika harus dijauhkan dari putranya. Yessinia juga tidak benar-benar memiliki niat mengganggu rumah tangga Erick dan Valeria. Dia hanya ingin mengingatkan Erick bahwa Aldrick juga membutuhkan perhatian seorang papa. Tidak hanya sebatas materi semata yang Erick berikan selama ini.
Tidak bisakah Erick memberikan sedikit waktunya untuk putra mereka?
“Aku hanya ingin putra kita mendapatkan kasih sayang dari papanya. Dia sering menanyakan tentangmu, Erick!” isak Yessinia.
Erick mundur ke belakang. Posisi Yessinia saat ini kepada dirinya bisa membuat anaknya salah paham jika melihatnya. Erick tidak mau anaknya beranggapan bahwa dirinya ini seorang lelaki yang kejam kepada Yessinia. Itu sama saja menghancurkan figure seorang ayah bagi Aldrick.
“Ini terakhir kalinya aku memperingatkanmu!” ucap Erick sebelum dia meninggalkan Yessinia menuju lantai dua rumah pembeliannya untuk menemui Aldrick putranya.
Kaki Erick terhenti, pemandangan pertama yang kini dia lihat adalah lukisan tangan Aldrick bertuliskan ‘Aldrick dan Papa’. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga.
“Al, sedang apa Sayang?” tanya Erick menghampiri Aldrick yang kini bermain game di kamarnya.
Aldrick sengaja mengeraskan volume game agar tidak mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Memang urusan orang dewasa itu sangat rumit, jadi Aldrick enggan memikirkannya.
“Main game, Pa,” jawab Aldrick tersenyum menampilkan gigi kelincinya.
“Boleh Papa ikut main denganmu?” Erick menatap putranya meminta izin.
“Tentu saja,” ucap Aldrick menepuk sisi kosong di sampingnya.
Kedua lelaki beda generasi itu tengah fokus pada game yang ada di depan mereka. Keduanya namak begitu menikmati permainan. Tanpa mereka sadari, sosok Yessinia berdiri di ambang pintu menatap ayah dan anak itu dengan pandangan miris. Sampai kapan Aldrick akan terus disembunyikan oleh Erick?
Apa yang harus Yessinia lakukan? Kalau sampai Yessinia mengatakan yang sebenarnya pada Valeria, mungkin Erick akan menjauhkan Aldrick dari dirinya. Kemungkinan terburuknya, seumur hidup Yessinia tidak akan bisa bertemu lagi dengan buah hatinya.
Haruskah Yessinia mati bersama Aldrick? Agar tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka beruda?
“Aldrick harus mendapatkan haknya di mata hukum!” pungkas Yessinia meyakinkan dirinya sendiri untuk berjuang kembali mendapatkan hak Aldrick apapun rintangan yang menghadang nantinya.