Bersamamu Aku Bahagia

811 Words
Sampai di rumahnya, Valeria segera melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Sementara Frederick hanya diam membisu menatap punggung istrinya yang kian menjauh dari pandangannya. Padahal ini adalah malam membahagiakan bagi Erick dan Valeria. Tapi malah menjadi malam menegangkan bagi keduanya. Yessinia, semua ini karena wanita itu membawa Aldrick ke tempat makan malamnya bersama dengan Valeria. Secara tidak langsung, Yessinia sudah memata-matai dirinya hingga wanita itu tahu benar di mana dan apa saja aktifitas Erick sehari-hari. Wanita itu memang gila! Tidak tahu terimakasih karena Erick sudah mengangkat derajatnya dengan memberi segala materi yang Yessinia minta kepada dirinya. "Sayang, kamu belum memakan apapun sejak tadi siang," ucap Erick membuka pintu kamarnya perlahan. Terlihat Valeria telah berganti baju dan menghapus make up tipis di wajahnya. Terakhir, Valeria melakukan rutinitas malam sebelum tidur khas para wanita tentu saja. "Aku ingin langsung tidur saja," jawab Valeria meminta pengertian kepada suaminya. Frederick mengangguk mengizinkan. Lelaki itu segera menuju walk in closet untuk berganti baju. Kepalanya rasanya ingin pecah memikirkan ketegangan yang kini terjadi di antara dia dan Valeria. Hembusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Erick. Lelaki itu membasuh wajahnya dengan kasar, membiarkan dinginnya air membasahi kepalanya yang kini terasa mendidih akibat ulah dari Yessinia. Andai saja saat itu Erick tidak mabuk, dan juga tidak bertemu dengan Yessinia. Mungkin Erick tidak akan pernah berada pada posisi serba sulit seperti sekarang ini. Ponselnya kini berdering, Valeri yang hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang lantas menoleh ke arah ruangan walk in closet. Berbagai pikiran buruk nampak berlalu lalang menghantui benak Valeria saat ini. Mungkinkah Erick benar-benar berselingkuh di belakangnya? Mungkinkah anak tadi adalah anak Erick? "Tidak, aku tidak boleh berprasangka buruk lagi dengan Erick. Aku tidak ingin membuat hubunganku dengannya semakin memburuk," gumam Valeria mati-matian menahan rasa penasarannya pada seseorang yang kini menghubungi Erick. Beberapa menit kemudian Erick keluar dari ruangan itu. "Siapa yang menelepon?" tanya Valeria penasaran. Erick menyodorkan ponselnya kepada Valeria. "Periksa saja, biar kamu percaya," sahut Erick tersenyum lembut. Sama sekali tidak merasa tersinggung atas pertanyaan Valeria kepada dirinya. Tangan Valeria terulur mengambil ponsel Erick. Wanita itu mengecek panggilan masuk pada ponsel suaminya. Ekspresi wajah Valeria yang tadinya tegang kini berubah ketika mendapati nomor Marchello berada di panggilan keluar. "Ello menginap di rumah Kak Nayna. Kita berdua malam ini," kata Erick mengedipkan matanya kepada Valeria. Valeria tidak bereaksi sama sekali. Jika biasanya dia akan bersemu merah ketika Erick mengatakan hal-hal intim seperti itu, maka malam ini dia hanya diam, enggan menanggapi suaminya sendiri. Tubuh Valeria bergeser saat Erick duduk di sampingnya. Erick mengelus wajah istrinya dengan lembut. Dibawanya sang istri ke dalam pelukan hangat d**a bidang lelaki itu. "Maafkan aku, malam ini kita gagal makan malam romantis," ujar Erick penuh penyesalan. Dielusnya rambut panjang Valeria, menghirup aroma tubuh wanita yang dia cintai dalam-dalam.  "Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi di antara kita," kata Erick menangkup wajah Valeria, mencium kening istrinya dengan penuh cinta. "Aku tidak mempermasalahkan yang tadi. Mungkin anak itu merindukan papanya," jawab Valeria mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat terganggu dengan kejadian tadi yang sempat menyita perhatian dan juga pikirannya. Sudahlah, itu hanya perasaan Valeria saja. Dia sering mencurigai suaminya tanpa bukti yang jelas dengan berakhir cek-cok keduanya sampai Erick memilih membiarkan saja Valeria semaunya daripada terus-menerus bersitegang. "Aku mencintaimu, Rose. Sungguh," lirih Erick dengan pandangannya menyiratkan kesungguhan dalam dirinya. "Hm, aku percaya sama kamu," jawab Valeria mencoba tersenyum meskipun berat. Erick memeluk Valeria begitu erat. Ada sedikit beban yang terangkat dari pundak Erick ketika Valeria mengatakan jika wanita itu percaya dengan dirinya. Awas saja nanti, Erick akan memberikan Yessinia pelajaran agar ibu dari anaknya itu tidak berani mengusik kehidupan keluarganya lagi. "Aku ingin mie rebus," ucap Valeria tiba-tiba. "Baiklah, aku akan minta asisten rumah tangga kita membuatkannya untukmu," jawab Erick mengacak pelan rambut istrinya. Valeria merajuk manja. "Tidak, aku ingin kamu sendiri yang memasakkan untukku. Ini kan salahmu jadi kita gagal makan malam di luar. Padahal aku ngiler lihat spagetti sea food tadi," kata Valeria kepada Erick. "Oke aku akan memasak untuk istriku tercinta ini sebagai permintaan maafku," tutur Erick membuat Valeria terpekik girang. Erick segera bangkit dari ranjang, disusul Valeria di belakangnya. Senyuman bahagia terlihat begitu jelas di wajah Valeria. Tentu saja Valeria tipe wanita yang sangat jarang bermanja dengan suaminya, apalagi meminta suaminya memasakkan makanan untuk dirinya. Tumben-tumbenan sekali Valeria ingin makan masakan suaminya yang entah bagaimana rasanya nanti. "Pedas atau tidak?" tanya Erick kepada Valeria. "Sedang saja, aku takut sakit perut nanti," jawab Valeria menatap suaminya antusias. Erick mulai menyalakan kompornya, mengambil panci untuk merebus mie, dan juga air. Sedangkan Valeria di kursi pantry terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Wanita itu bahkan sampai terpekik bahagia melihat Erick yang sesekali memainkan telur di tangannya. Astaga, ada-ada saja Erick ini. Mungkin, kebahagiaan keluarga mereka akan semakin lengkap jika Valeria bisa memberikan anak untuk Erick. Tidak pernah surut doa Valeria, meminta kepada Tuhan agar dia dan suaminya diberikan kepercayaan lagi oleh Tuhan agar bisa menimang momongan, buah hatinya bersama Erick. "Erick, kau ingin punya anak?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Valeria secara tiba-tiba tentu saja mengejutkan Erick. Lelaki itu hanya tersenyum menanggapi kalimat istrinya. "Bersamamu dan anak-anak sudah membuatku bahagia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD