Sedikit Permainan

805 Words
Anak lelaki berambut cepak dengan poni terbelah menghiasi wajah tampannya kini berlari menuju meja makan sang papa. Hanya ada satu pikiran dalam benak Aldrick, dia ingin makan bersama juga dengan papanya seperti beberapa bulan yang lalu. Entah kapan terakhir papanya mengunjungi dirinya di rumah. Papanya sudah tidak memiliki banyak waktu untuknya lagi karena pekerjaannya. Wanita cantik yang kini duduk di samping papanya mungkin dia adalah klien sang papa yang membuat lelaki itu sulit sekali menemui dirinya dan sang mama. "Papa!" seru Aldrick membuat mata Erick terbelalak. Degup jantungnya terdengar hingga ke telinga. Sayup-sayup dia mendengar langkah kaki kecil mendekat ke arah dirinya. "Papa! Aldrick kangen!" serunya sekali lagi membuat Erick yakin jika itu suara putranya. Erick mendongakkan wajahnya, begitu juga dengan Valeria yang kini tampak celingukan mencari sosok anak kecil pemilik suara tadi. Di depan sana, berjarak sekitar dua puluh meter dari meja mereka makan malam. Aldrick mengukir senyum menawan menyapa papanya. Erick terbelalak tidak mampu menggerakkan tubuhnya lagi. Diliriknya kini Valeria, wanita itu tengah menautkan kedua alisnya kebingungan. Sosok Aldrick kini kian mendekat, suaranya terdengar begitu riang karena bisa bertemu dengan papanya. "Papa, Aldrick merindukan Papa," ucap Aldrick merentangkan tangannya, menghambur ke dalam pelukan papanya yang kini menegangkan tubuhnya saking kagetnya. Valeria menganga tidak percaya, dia tak tahu apa yang sekarang ini dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. "Erick? Apa maksud anak ini?" tanya Valeria dengan bibirnya terbuka, bingung sekali. Erick mengelengkan kepalanya. "I-ini, tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang," jawab Erick mencoba menenangkan dirinya sendiri. Aldrick mendongkan wajahnya, menatap manik mata sang papa yang kini terlihat kebingungan. "Papa tidak merindukan Aldrick ya?" tanya Aldrick dengan mata berkaca-kaca menatap papanya. Anak itu tidak menyangka jika dirinya sama sekali tidak dirindukan oleh sang papa. Padahal Aldrick kerap kali memimpikan papanya saking rindunya dia berkumpul bersama lelaki super hero itu. "Erick!" sentak Valeria semakin kebingungan dengan kejadian malam ini. Jika seharusnya makan malam ini dilakukan dengan penuh cinta. Kenapa harus terjadi hal-hal menyesakkan d**a seperti sekarang ini? Siapa anak kecil yang tengah memeluk suaminya dengan erat itu? "Jagoan, siapa yang kamu panggil papa?" tanya Valeria mencoba bertanya pada Aldrick yang kini masih melingkarkan tangannya pada tubuh sang papa. "Papa Aldrick, Tante," jawab Aldrick dengan polisnya. Mulut Valeria bergetar, matanya telah memerah berlinang air mata. Kaki Valeria rasanya seperti jelly, tidak mampu untuk menumpu tubuhnya yang kini terasa begitu lemas mendengar penuturan dari bocah kecil yang masih terus memanggil suaminya dengan sebutan papa. Tidak mungkin bocah itu sampai memanggil orang lain dengan panggipan papa. Kebanyakan seorang anak seusia Aldrick tidak mudah dekat dengan orang asing. Apalagi memeluk orang lain begitu erat, seperti apa yang dia lakukan kini kepada Erick. "Aldrick? Kamu di sini, Nak?" ucap Yessinia datang menghampiri kekacauan yang telah sengaja dia buat demi menggoyahkan ketenangan hubungan rumah tangga Erick dan Valeria. Beraninya Erick bermesraan, berbahagia dengan istrinya. Sedangkan dia seorang diri harus merawat, dan menenangkan anaknya yang terus saja mencari-cari keberadaan sang papa yang tidak kunjung datang seperti jadwal mereka bertemu. Yessinia menarik pelan tangan Aldrick. Wanita itu memcondongkan tubuhnya mengusap wajah putranya yang kini berderai air mata karena tidak ditanggapi baik kedatangannya oleh papanya sendiri. "Sayang, Papa siapa yang kamu maksud?" ucap Yessinia berlagak tidak mengenal siapapun di sana kecuali Aldrick. Yessinia menatap Erick dan Valeria. "Maafkan anak saya, dia begitu merindukan papanya sampai-sampai semua lelaki berpawakan seperti papanya dipanggil papa. Maafkan anak saya," pinta Yessinia membungkuk hormat meminta maaf kepada Valeria dan Erick. Padahal dalam hatinya, Yessinia sangat bahagia dengan apa yang dia lihat saat ini. Raut wajah Erick dan Valeria sudah pucat pasi dengan rona merah merona menghiasi wajah pasangan suami istri itu. "Tapi, Ma-"  Kalimat Aldrick terhenti ketika sang mama menariknya untuk segera menjauh dari sana. Aldrick memberontak, tapi cekalan tangan Yessinia pada pergelangan tangannya tidak mampu dia lepaskan. Sekuat apapun Aldrick mencobanya, tenaga mamanya lebih kuat dari pada tenaganya. "Aldrick mau sama Papa!" teriak Aldrick meronta, menangis begitu kencang hingga suaranya masih saja terdengar pada indera pendengaran Valeria dan juga Erick. "Besok papa pasti akan datang, percaya sama mama," jawab Yessinia mencoba membujuk Aldrick untuk berhenti membangkang lagi. Yessiania tertawa di dalam mobil, wanita itu begitu menikmati kesenangannya merusak makan malam anniversary Erick dengan istrinya. Mungkin setelah ini Erick akan marah kepada dirinya, tapi siapa yang peduli? Valeria mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Rasa lapar yang beberapa saat lalu menderanya, kini mulai menguap begitu saja semenjak kejadian malam ini. Perasaan itu, entah kenapa d**a Valeria terasa sesak ketika mengingat kedekatan anak lelaki tadi dengan Erick. Rasanya sangat tidak mungkin anak itu salah mengira orang lain sebagai papanya. Memangnya ke mana papa anak itu sampai tidak bisa membedakan mana papanya atau tidak? "Rose?" panggil Erick merasa tidak enak atas ketegangan yang baru saja terjadi. Valeria mengukirkan senyumnya, wanita itu menggeleng pertanda bahwa dia tidak apa-apa dan tidak mempermasalahkan semua yang baru saja terjadi. "Aku hanya tidak lapar lagi," jelas Valeria kepada suaminya. Erick mengangguk, tangannya terulur menggenggam jemari Valeria dengan erat. Perasaan Erick begitu tercabik-cabik ketika dia tidak bisa membalas rengkuhan tangan putranya, namun dia juga tidak mampu melakukan apapun lagi. Erick tidak mau Valeria mengetahuinya. Wanita sialan! Aku akan memberimu pelajaran!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD