10. Club (3)

1971 Words
Chapter 10 : Club (3) ****** SHIT. Tidak ada taksi yang lewat sedari tadi. Aku sudah menunggu lama di depan gedung apartemen ini. Dengan napas yang berembus lumayan kencang, aku merengek karena menahan tangis. Aku pun mengentakkan kakiku tatkala berjalan di pinggir trotoar. Ya Tuhan!! Aku sudah lelah berada di kantor hingga sore (meski hanya mengobrol dengan Megan), lelah kemari hanya untuk dibuat emosi, diusir, lalu sekarang tidak ada taksi. Apa-apaan ini? Mimpi buruk? Aku masih mengentakkan kakiku di sepanjang jalan, mataku sudah berkaca-kaca karena terus menahan tangis. Aku lelah sekali! Bukan lelah karena berjalan, tetapi karena mood-ku yang sedang buruk. Tiba-tiba aku ingat tentang motorku. Di mana motorku? Mengapa lama sekali? Oh hell please, Megan, ini sudah malam! Di mana dia? Aku mengambil ponselku yang ada di dalam tasku, lalu langsung mencari nomor telepon Megan di kontakku. Aku langsung meneleponnya. Dia mengangkat teleponku itu di deringan pertama. Aku menghela napasku. "Halo, Vio? Nanti saja kuhubungi lagi, oke? Aku masih belum selesai. Nanti motormu kukembalikan. Maaf, ya," katanya dengan cepat, lalu dia mematikan sambungan telepon itu begitu saja. Aku tercengang. Aku bahkan belum berbicara sepatah kata pun!! Ya Tuhan, kurasa aku punya salah dengan orang lain hingga dijatuhi karma yang seburuk ini. Aku langsung berdecak kesal, lalu aku pun menaruh kembali ponselku ke dalam tas. Aku berjalan lagi dengan kuat dan cepat—karena merajuk—dan aku merengek di sepanjang jalan. Tak lama kemudian, aku memasuki sebuah lorong. Hell! Perjalanan dari kantor hingga ke rumahku saja sudah lumayan jauh, apalagi dari rumah Justin hingga ke rumahku! Aku tak menjamin kakiku akan baik-baik saja setelah ini. Sialnya belum ada satu pun taksi yang lewat di hadapanku dan kalau pun ada, pasti sopirnya tak melihatku, padahal aku sudah melambai-lambaikan tanganku dengan kuat bak sedang berjumpa dengan seorang artis. Aku bahkan sampai mengejar taksi-taksi itu, tetapi sopir taksi itu tetap tak melihatku. Ha. Mereka itu punya mata atau tidak, sih?! Ini tidak masuk akal. Aku berjalan lagi dan mulai memasuki sebuah lorong—lorong yang memang selalu kulewati ketika aku pergi ke kantor atau pulang ke rumahku—dan aku memandangi taman yang ada di samping lorong ini. Ada sebuah kursi yang panjang di pinggir taman itu dan aku melihat ada anak-anak yang menangis di sana. Tidak ada ibunya. Anak-anak itu hanya berdua—mereka duduk di kursi taman itu—dan yang satunya terlihat sedikit lebih besar. Aku mengernyitkan dahi, kemudian aku menghampiri kedua anak itu. Salah satu dari mereka yang lebih besar rupanya baru saja merebut es krim anak yang satunya. Oh, jadi itu masalahnya. Aku langsung menghampiri salah satu dari anak-anak itu—yang sedang menangis—dan berjongkok di depan anak itu. "Ada apa, hmm?" tanyaku. Dia tetap menangis, lalu dia mengelap ingusnya. "Ice cream... My ice cream!!!!!!" teriaknya kencang. Aku membulatkan mata. Lantas aku melihat ke sekeliling dan aku menemukan ada seorang penjual es krim yang berjualan di ujung taman. Aku langsung tersenyum, berdiri, dan berjalan ke dekat penjual es krim itu. Aku membeli satu, kemudian aku kembali lagi ke dekat anak itu. Setelah itu, kuberikan es krim itu kepadanya. "Ini. Jangan menangis lagi, ya?" rayuku agar bisa menenangkannya. Dia pun terdiam. Dia memang masih terisak, napasnya masih tersengal-sengal, tetapi dia tetap mengambil es krim itu dari genggamanku. Setelah itu, dia diam dan menatapku dengan mata bulatnya dan aku pun tersenyum lembut padanya. "Ah... Maafkan aku, apakah anakku nakal padamu? Maafkan aku, Nona!" Ada suara seorang ibu-ibu yang terdengar di telingaku dan aku mendongak, mencari keberadaannya. Ternyata dia sudah menghampiri kami dan dia lekas mengambil kedua anaknya. Aku tersenyum. "Tidak apa-apa, Nyonya," kataku. Dia mengangguk padaku dan ikut tersenyum. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian, hmm? Kau cantik, aku takut sesuatu akan terjadi padamu." Aku tertawa dengan canggung. "Ah...tidak kok, Nyonya." Lagi pula, cantik? Aku tidak cantik. Setelah itu, dia pun mengangguk lagi. "Baiklah. Cepatlah pulang, Nona. Kami duluan, ya? Terima kasih karena telah memperhatikan anakku." Aku mengangguk. "Ya, Nyonya. Sama-sama." Dia pun pergi menjauh dariku sembari menggandeng kedua anaknya. Aku menghela napas dan berbalik, lalu kembali berjalan lurus masuk ke dalam lorong. Di sini gelap sekali kalau sudah malam. Aku belum pernah berjalan kaki di sini dan ternyata rasanya jauh lebih mengerikan. Aku mengusap lenganku karena mendadak aku merasa dingin; napasku sepertinya mulai mengeluarkan uap. Aku terus berjalan dan berkali-kali mengeluarkan napas dinginku yang beruap itu, merasa bahwa seluruh tubuhku kini jadi kedinginan sekaligus pegal-pegal. Hari ini terasa lebih melelahkan, bahkan lebih melelahkan ketimbang saat ada Justin dua hari yang lalu. PLETAK! Oh, s**t!! Kakiku terpelecok dan aku baru menyadari sesuatu. Sebelah hak high heels-ku patah! Oh Tuhan, ini menyebalkan!!! Aku merunduk dan langsung melepas sebelah high heels-ku, menatap heels-nya yang sudah patah dan nyaris terlepas. Aku mendengkus dan menggeletukkan gigiku. APA LAGI INI?! MENGAPA NASIBKU BURUK SEKALI HARI INI? Sialan. Merasa kesal, aku pun membuka yang satunya dan kulempar kedua high heels itu asal. Dengan sekuat tenagaku, aku membuang mereka bersamaan dengan segenap emosiku. "SIAAAAAAALLLLL!!!!!" Tiba-tiba ada sebuah taksi yang lewat di depanku. Aku langsung melambaikan tanganku. Taksi itu pun berhenti di depanku, tetapi sontak aku teringat sesuatu. Aku langsung mengecek dompetku dan SIAL LAGI. UANGKU HABIS KARENA MEMBELIKAN ANAK-ANAK TADI ES KRIM... Kumohon, Tuhan, ampuni dosaku. Andaikan saja ada hujan uang saat ini... Dengan gaya orang t***l, aku lantas cengar-cengir dan menggaruk tengkukku—yang tidak gatal itu—sembari mengatakan 'tidak jadi' kepada sopir taksi itu. Sopir taksi itu pun hanya berlalu bersama taksinya. Whew. Untung saja dia tak marah padaku... Sialan dengan hari ini. Semuanya terjadi dan menimpaku begitu saja. Aku bagaikan terjatuh saat sedang menggali sebuah lubang, lalu tertimpa tanah. Menciut bagaikan kertas origami bekas di pinggir jalan, aku merasa malu sekali. Aku akhirnya berjalan dengan kaki telanjang. Rokku pendek selutut dan ini benar-benar menyakitkan sebab angin malam mulai menusuk tubuhku. Aku berjalan dengan wajah yang ditekuk dan kurasa wajahku memerah karena menahan amarah, tangis, dan juga rasa malu. Semuanya bercampur aduk!! Saat sudah masuk jauh ke lorong, mendadak aku merasa bahwa ada seseorang yang mengikutiku. Aku mengernyitkan dahi; aku tahu aku diikuti. Dulu aku sudah terbiasa melakukan berbagai taktik untuk melawan musuh sewaktu menjadi anggota Red Lion, jadi tentu saja aku tahu bila aku sedang diikuti ataupun sedang terancam. Aku langsung menyatukan alisku untuk fokus sembari terus berjalan. Aku tahu orang itu terus mengikutiku. Ketika sampai di dekat jalan yang lumayan sempit, aku pun berhenti. Namun, sepertinya dia terus berjalan untuk mendekatiku. Aku langsung berbalik dan menendang perutnya. "Mau apa kau, hah?" tanyaku dan aku berdiri tegap lagi. Dia terduduk di bawah dan mulai tersenyum miring padaku. Aku mengernyitkan dahi dan dia langsung berdiri. Ya ampun, ini Seth. Tetanggaku!! Dia adalah tetanggaku yang suka mabuk-mabukan dan aku sangat risi karena dia selalu mendekatiku. Entahlah, aku hanya tak ingin berurusan dengannya. Namun, ketika dia tak mabuk...dia sebetulnya merupakan orang yang baik. "Hah... Kau menendangku, ya? Ayolah, Vio... Kita bisa bersenang-senang," ujarnya, lalu dia mendorongku hingga tubuhku terimpit ke batang pohon besar yang ada di pinggir jalan kecil itu. Dia mendekapku dan sial! Aku ingin muntah tatkala mencium aroma bajunya yang bau alkohol! "Seth—kau mabuk!! Menjauhlah dariku!!" "Hei, kita bisa bersenang-senang... Come on, Baby, you are so beautiful... Do you know that, hmm?" katanya dengan nada yang menyebalkan. Aku menggeliat minta dilepaskan, lalu memegangi lengannya agar aku bisa mendorongnya. Aku juga mencoba untuk mendorong dadanya. SIAL! Mengapa dia kuat sekali? Tidak biasanya aku kalah dengan pria, kecuali dengan Justin! Ada apa ini? Apa karena Seth sedang mabuk? "Kau tidak akan bisa kabur, Vio..." "SETH!!! OH PLEASE, C'MON SETH! YOU'RE OUT OF YOUR MIND!!! SETH!!!!! KAU—" "What a bastard." Aku terlonjak saat tiba tiba ada suara orang lain yang terdengar di telingaku. Suara siapa itu? Mengapa terdengar familier? Aku langsung menoleh ke samping, begitu juga Seth. "JUSTIN?!!!" teriakku. Oh, pantas saja kata-kata yang tadi itu terdengar menyebalkan. Namun, mengapa Justin bisa ada di sini?!! "APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, JUSTIN?!!" teriakku, tetapi Justin tak sedikit pun menoleh ke arahku. Dia hanya memberikan tatapan dinginnya kepada Seth. Setelah itu, kulihat Seth tersenyum miring, melepaskan pegangannya dariku. Tubuhku nyaris saja oleng, tetapi aku berhasil berdiri dengan tegap kembali. Aku mengembuskan napasku dengan lega, lalu menarik oksigen sebanyak mungkin. Sial, aku hampir mati, kurasa. Seth langsung maju mendekati Justin yang berdiri sekitar empat meter di samping kami. Lumayan jauh, tetapi Seth masih berusaha untuk mendekati Justin dengan langkahnya yang oleng. Justin hanya berdiri diam di sana tanpa ekspresi. Ketika Seth sampai di sana, Seth langsung saja mencoba untuk memukuli Justin. Berkali-kali, tetapi semua pukulannya bisa ditangkis oleh Justin. Semua pukulannya gagal dan akhirnya Justin membalasnya dengan satu kali pukulan yang langsung membuat Seth terjatuh di aspal. Aku menutup mulutku dengan sebelah tanganku. Namun, aku tak heran karena Justin dulunya adalah mantan anggota Red Lion, sama sepertiku. Dulu Justin adalah orang yang selalu diandalkan oleh ketua kami. Aku hanya tercengang saat melihat tetanggaku sudah terkapar di jalan. Apa yang akan Pamanku katakan nanti? "Ju—Justin, di—dia itu tetanggaku," ujarku dengan gagap. Dia hanya menghela napas samar dan menaruh kembali tangannya di dalam saku celananya. Dia sekarang sudah memakai jas. Dia sudah rapi, tidak seperti ketika di apartemennya tadi. Tadi, di rumahnya, dia hanya memakai kaus putih polos dan celana piama panjang yang berwarna abu-abu. Dia terlihat imut dan polos sekali kalau berpenampilan seperti itu. Namun, ketika dia sudah memakai jas, sosoknya jadi terlihat berubah 180 derajat. Kekejamannya terlihat semakin kentara. "Pantas saja tingkah lakunya sama sepertimu." Dia berujar seenaknya. Kontan mataku terbelalak. Dengan langkah yang seperti kesetanan—dan napas yang berembus bak banteng yang mengamuk—aku lantas mendekatinya yang sekarang sudah berbalik berjalan memunggungiku dengan santai. Aku langsung menghampirinya dengan cepat dan hell! Mengapa aku masih tak bisa menyamakan langkahku dengan langkahnya? "APA KAU BILANG? SAMA DENGANKU?!! KATAKAN SEKALI LAGI, MR. ALEXANDER!" "Hmm." SIALAN!! "JUSTIN!!!!!" teriakku dan aku berlari lagi sekencang mungkin hingga akhirnya aku sampai di depannya, menghadang jalannya dengan kedua tanganku yang terbentang lebar. Aku berada tepat di hadapannya. Namun, dia hanya menaikkan sebelah alisnya padaku. Tanpa berkata apa pun, dia lantas melewati tanganku—yang sedang menghadangnya itu—lalu dia berjalan dari samping. Aku lantas membulatkan mataku. Dia sudah melewatiku dan sudah berjalan di depanku lagi. SIALAN! "HEI, JUSTIN!!!!!! Oh s**t," umpatku sembari berdecak. Aku langsung berlari lagi. Sekarang aku telah berjalan di dekatnya, mungkin hanya satu jengkal di belakangnya karena aku mendekatinya hingga nyaris menempel. "HEI, TUNGGU AKU!!! Setidaknya ceritakan padaku mengapa kau bisa ada di sini!!!" Dia hanya diam. "JUSTIN! KAU DENGAR AKU TIDAK, SIH?! BAGAIMANA CERITANYA KAU BISA ADA DI SINI, HAH?! BUKANKAH KAU SEDANG BERGELUT DENGAN SELIMUTMU DI DALAM KAMARMU?!" Dia berbalik, lalu menatapku dengan tatapan dinginnya. "Diam, Violette. Apakah sopan mengatakan bahwa atasanmu bergelut dengan selimutnya? Selain itu, jangan membuatku malu dengan kau yang berjalan menggunakan kaki telanjangmu serta tanpa kendaraan." Aku memelototinya karena kesal; aku benar-benar dibuat dongkol. "MOTORKU— ERGH. Okay. Cukup dengan itu. Hak sepatuku patah DAN AKU TAK BISA NAIK TAKSI KARENA UANGKU HABIS. SUDAH PUAS, MR. ALEXANDER?" "Aku puas jika kau diam," jawabnya singkat. Sialan. Bukankah tadi dia mengejekku seolah-olah ingin mendengar penjelasan dariku? Jadi, apa ini? Tanggapan sialan seperti ini selalu kudapatkan darinya ketika aku mencoba untuk menjelaskan. Dia ini manusia atau bukan, sih? Akhirnya, karena naik pitam sendiri, aku pun diam. Aku sudah lelah dan aku tak mau semakin lelah hingga pingsan di jalan hanya karena melawan dirinya. Setelah lama berjalan, aku pun tersadar. Mengapa aku mengikutinya? Oh. Ini karena aku marah padanya tadi. "Karena kau sudah dengan lancangnya mengikutiku, kau harus mengikutiku sampai aku selesai," ujarnya. Aku membelalakkan mata. Dia bahkan berbicara tanpa repot-repot berbalik untuk menatapku. "H—Hah?! Ke mana?!!!" teriakku kaget. "Ke sebuah club yang ada di dekat sini." What? A Club?! APA LAGI YANG AKAN PRIA INI LAKUKAN, EH? Mengapa semua yang ia lakukan selalu sukses membuatku emosi bukan main?! []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD