Chapter 11 :
Discharged (1)
******
Violette:
AKU meneguk ludahku. Apa-apaan ini?!
Aku menggeleng, lalu aku langsung mendekat ke arahnya.
"Club? K—Kau... Ya ampun, kau sekarang parah sekali," ujarku dengan nada yang dramatis. Justin hanya memutar bola matanya. Aku terus berjalan dengan cepat; aku menyamakan langkahku dengan langkahnya.
Namun, sialnya dia hanya diam.
"Justin, bukankah kau tadi sedang tidur di rumahmu? Kau mengusirku, ingat? Apa kau mengikutiku? Hey!!! Dengar aku!!!" teriakku karena sepertinya dia tak mengacuhkanku. Dia malah terus meninggalkanku. Aku lagi-lagi berteriak, "JUSTIN!!!!!!!"
Dia lalu berhenti.
Aku berlari mendekatinya dan aku terhenti ketika dia tiba-tiba berbicara dengan nada bekunya seperti biasa, "Aku tak tidur, Vio. Aku mengusirmu karena kau terlalu berisik. Jangan membuat keributan lagi di sini atau kau kukeluarkan dari pekerjaanmu."
Sial. Aku sampai bosan mendengar ancamannya itu.
"Lagi pula, bukan urusanmu apakah aku mengikutimu atau tidak," lanjutnya.
Aku terdiam. Mendadak aku merasa kalau pipiku memanas. Aku merona, ya? s**t! Apa-apaan ini? Mr. Sialan Alexander benar-benar tak bisa ditebak. Seberapa dingin bola mata karamelnya itu? Baru kali ini aku merasa bahwa warna karamel itu warna yang 'dingin'. Selama ini aku merasa bahwa warna biru lautlah yang terlihat dingin.
Sial. Apakah ini merupakan satu-satunya kelainan yang dimilikinya? Jika iya, aku akan tertawa sepuasnya.
Namun, mengapa aku sempat memerah? Damn.
Akhirnya, dia kembali berjalan. Dia sudah meninggalkanku lagi. Aku berdecak, kembali meneriakinya, lalu berlari mengejarnya. Itu sebenarnya dia sedang berjalan atau berlari, sih?!
Aku terus mengikutinya hingga kami sampai di depan sebuah club. Oh, Tuhan. Club ini besar sekali! Ini tidak terlalu jauh dari lorong tadi, tetapi mengapa aku baru melihatnya?
Tanpa sadar, aku menganga. Langkahku terhenti sejenak. Namun, dalam waktu yang singkat itu, aku sadar bahwa Justin hanya terus berjalan meninggalkanku.
Sialan!
"Justin!! Justin, wait! Apa yang mau kau lakukan di sini?!!" teriakku. Aku berlari dengan kencang. Aku sebenarnya tak peduli dengan tatapan orang-orang yang mulai tertuju padaku, tetapi ketika aku melihat bahwa ternyata ada yang menatapku dengan tatapan jijik, aku mulai mencoba untuk memperhatikan penampilanku.
Oh, ya Tuhan. Aku memang kelihatan seperti penghuni rumah sakit jiwa yang berhasil kabur. Dengan kaki tanpa alas, baju kerja yang sudah tak rapi lagi, dan—ugh—ternyata rambutku berantakan juga. Selain itu, hal yang tambah memperjelas bahwa aku terlihat seperti orang gila di sini adalah: aku mengejar-ngejar seseorang seperti sedang mengejar pencuri. Sial, apa jangan-jangan aku ini memang gila?
Aku menggigit bibirku, merasa malu bukan main. Namun, aku akhirnya menggelengkan kepalaku, mencoba untuk mengabaikan tatapan semua orang. Aku berlari lagi dan memanggil Justin hingga akhirnya kakiku membawaku ke sebuah tempat yang ketika aku dipersilakan masuk, aku sontak ternganga. Ini. Benar-benar. Club.
Musik yang bernada tak jelas mulai berdengung di telingaku hingga jantungku ikut berdegup tak keruan. Suara musik ini terlalu keras.
Aku meneguk ludahku.
"Argh—berisik sekali di sini..." bisikku sembari mengerutkan dahi; aku menutup kedua telingaku. Aku menatap ke depan lagi dan mendapati bahwa Justin ternyata telah hilang dari pandanganku. Aku tercengang, lalu mengedipkan mataku berkali-kali bak orang t***l. Aku kemudian berlari lagi dan menyelip-nyelip di antara kerumunan orang-orang yang sedang berdansa. Setelah itu, aku memanjangkan leherku demi mencari keberadaannya. Setelah lama aku mencari, gotcha! Aku mendapatkannya.
Namun, aku mengernyitkan dahi.
Justin sedang dikelilingi oleh banyak perempuan. Tiga orang—oh, bukan—lima orang, sepertinya. Salah satu dari perempuan itu tampak sedang menawarkan sebuah minuman kepadanya, lalu Justin mengambil minuman itu. Perempuan yang lainnya tampak menggeliat bagai cacing kepanasan di dekat Justin, ada yang duduk di pangkuannya sambil memegangi d**a serta bagian tubuh Justin yang lainnya. Aku menggeram dan mendekat ke arah mereka.
Apa-apaan yang sedang Justin lakukan ini?
"Justin! Apa yang kau lakukan di sini, eh? Kau itu sedang sakit! Kau—"
Dia mengangkat wajahnya, menatapku, lalu menaikkan sebelah alisnya padaku.
"Hanya duduk diam dan tunggu aku. Kau boleh melakukan apa pun."
Mataku membelalak. "Kau pikir aku sepertimu? Kau gila! Apa maksudmu dengan perempuan-perempuan ini?!" teriakku, menunjuk ke arah perempuan-perempuan itu dan mulutku terbuka karena keheranan sendiri. Hal yang membuatku mengernyitkan dahi adalah: para perempuan itu hanya tertawa saat melihatku. Justin pun hanya tersenyum miring padaku.
"Bukankah kau juga suka yang seperti ini?" kata Justin tiba-tiba padaku.
Sesuatu terasa seperti menohok jantungku. Berengsek! Aku tidak pernah sekali pun menyukai hal yang seperti ini! Sial. Dia itu temanku, tetapi dia bertingkah seolah-olah tidak pernah mengenalku.
Bahkan, aku terlihat seperti orang yang tidak waras di sini, aku terlihat seperti sedang memaksanya.
Aku menggeletukkan gigiku dan tertunduk, menghela napas sebanyak mungkin agar gemuruh di jantungku mereda.
"Kau ternyata tak lebih dari b******n yang ada di jalanan, Justin," ujarku dingin, lalu aku berbalik dan meninggalkannya.
Aku duduk di dekat bar counter, lalu memesan segelas air putih di sana. Mata bartender itu yang melihat ke arahku seraya mengernyitkan dahi karena mendengar aku memesan air putih. Namun, aku tak peduli. By the way, laki-laki di sini sepertinya sialan semua. Ha—okay, mereka sudah berjenggot, tetapi masih tak tahu diri. Seharusnya jam segini mereka sudah berada di rumah bersama istri dan anak mereka…bukan berada di sini.
Aku mendengkus, lalu meraih air putih itu dengan cepat ketika air putih itu diberikan oleh sang bartender. Hal itu membuat bartender itu tercengang melihatku. Aku pun meneguk air putih itu sampai habis. Well, perjalanan hari ini seratus kali lipat lebih melelahkan dan menyebalkan. Aku haus sekali. Aku bahkan jadi diperhatikan oleh semua orang karena keadaanku yang super kacau serta tanpa high heels.
Oh, please. Seseorang! Adakah orang yang kasihan padaku dan mau mengantarkanku pulang? Masalahnya aku lelah sekali...
Sesekali aku melirik Justin yang masih ada di tempatnya tadi. Aku memperhatikannya dengan saksama. Dia mulai meraba-raba tubuh perempuan-perempuan itu. Aku mengerutkan hidungku karena jijik. Justin terlihat mabuk berat. Aku kemudian melihat dia diajak oleh perempuan-perempuan itu ke lantai dansa dan dia pun menari dengan salah seorang perempuan. Tubuh perempuan itu meliuk di dekat tubuhnya, menempel hingga benar-benar mendesak. Tubuh mereka hanya dibatasi oleh helaian pakaian yang mereka kenakan. Oh, kurasa itu juga salah karena pakaian para perempuan itu tidak pantas disebut sebagai pakaian. Meski baju sehari-hariku adalah kaus santai dan celana piama—apabila tidak sedang di kantor—aku merasa kalau bajuku lebih menawan. Setidaknya bajuku tidak kekurangan bahan.
Beberapa saat kemudian, aku melihat Justin mencium salah satu dari perempuan itu. Aku kontan menggelengkan kepalaku ketika melihat adegan itu. Aku memalingkan wajahku sebab kurasa aku tak sanggup melihat seseorang yang kukenali ada di ujung sana dan sedang berciuman. Aku mengenalnya, tetapi mendadak dia terasa asing bagiku. Aku tak tahu mengapa Justin jadi seperti ini. Hal yang kulakukan sejak tadi hanyalah untuk melindungi temanku, apalagi dia itu sekarang adalah bosku. Percayalah, aku hanya ingin dia kembali menjadi Justin yang kukenal. Aku tak terima melihat dia jadi seperti ini. Apa aku egois? Hah.
Kini, kulihat dia menciumi leher perempuan itu. Kulihat perempuan itu mendesah kenikmatan. Aku merasa dadaku tiba-tiba jadi sesak. Aku bahkan tercengang saat menyadari bahwa dadaku terasa sesak ketika melihat adegan itu. []