12. Discharged (2)

1212 Words
Chapter 12 : Discharged (2) ****** AKU meringis. Aku langsung berpaling, membuang wajahku agar tak melihat adegan itu lagi. Namun, beberapa saat kemudian, aku sedikit melirik ke arah Justin kembali dan yang kutemukan adalah sama: mereka masih b******u dan malah semakin—err—panas. Aku menghela napasku. Dua detik kemudian, aku menggigit bibirku dan akhirnya aku memilih untuk berdiri. Aku ingin keluar dari club ini. Aku berjalan ke luar dengan sulit—menyelip di antara kerumunan—dan aku mengaduh kesakitan setiap kali ada bahu seseorang yang menabrakku dengan keras. Aku sekarang sudah sampai di pintu dan aku pun menghela napasku. Aku melirik ke arah Justin lagi yang sekarang sudah ada di dekat bartender. Aku bisa melihatnya tanpa harus mengangkat leherku. Aku melihatnya dan—astaga! Dia terjatuh! Para perempuan itu berusaha untuk menolongnya. Aku kontan pergi ke sana, menyelip dengan cepat. Aku sampai di sana beberapa saat kemudian dan aku langsung berjongkok untuk meraih Justin. Tanpa memedulikan tatapan semua orang termasuk tatapan dari para wanita itu, aku langsung mengangkat tubuh Justin, tangannya kutaruh di bahuku dan aku mengangkat tubuhnya. Dengan susah payah, aku berhasil berdiri seraya mengangkat tubuhnya yang lebih besar dariku itu. Tubuhnya sangat oleng dan aku nyaris beberapa kali terjatuh. Aku mengatur napasku agar terus bisa kuat untuk menahan tubuhnya, padahal aku tahu kalau aku sekarang sedang lelah. Namun, aku tetap mengusahakan diriku untuk berjalan dengan pelan, menyelip, dan mendorong orang-orang agar memberikan jalan untuk kami. Aku menahan amarahku saat ada yang protes padaku karena aku menyelip dengan sembarangan sebab sungguh, ini bukan sembarangan. Aku hanya melakukannya semampuku karena ini sangat menyesakkan. Aku kesulitan. Ketika sampai di luar club, aku berjalan menjauh dari gedung itu dan mulai beranjak ke pinggir jalan. Aku mengernyitkan dahi, lalu menatap Justin yang tubuhnya terus oleng. "Justin—hey! Apakah kau memiliki uang? Di mana dompetmu? Aku tak memiliki uang, tetapi aku harus mengantarmu dengan taksi. Hey!" teriakku. Kudengar dia hanya bergumam. Ergh, sialan. Rasa sesak di dadaku hilang, tetapi tergantikan dengan rasa kesal yang tidak main-main. Aku hampir tak mengerti dengan perasaanku sendiri. "Hei!! Oh ayolah, Justin, di mana dompetmu? Aku tak memiliki uang, sungguh!" teriakku sekali lagi, lalu aku meraba-raba kantung jasnya. Dia tiba-tiba menjauh dariku. "Stay a...way," ujarnya sembari memperingatiku dengan jari telunjuknya. Aku berdecak kesal dan memutar bola mataku. "Well, berikan uangmu." Aku membuka telapak tanganku, menyodorkannya ke depan dadanya. Dia mengernyitkan dahinya seolah merasa heran kepadaku. Aku mengangkat sebelah alisku kesal. Hah. Dia ini mabuk atau tidak mabuk tenyata sama saja menyebalkannya. "Justin, aku tidak sedang bercanda! Kau mau kutinggalkan di sini, eh? Pulanglah bersama wanita-w***********g itu dalam keadaan mati berdiri." Dia hanya menatapku dengan mata yang menyipit. "Aku lebih se…nang," jawabnya dengan terbata karena dia sedang mabuk. Dia tiba-tiba memijit keningnya sendiri. Aku langsung mendekat ke arahnya, tetapi dia menolakku. Aku mendengkus dan berkacak pinggang di depannya. Aku memutar bola mataku dan sesaat kemudian, dia nyaris jatuh. Aku langsung menangkapnya dan merangkulnya kembali. Okay, tidak ada pilihan lagi. Aku harus membawanya pulang dengan berjalan kaki. Terserah dengan apa yang akan dia katakan ketika dia sadar. Kemungkinan dia tak akan ingat. Eh, apa dia akan ingat? Soalnya, Justin ini, kan...makhluk jenius... Aku terus membawanya berjalan, meski terkadang mataku nyaris terpejam karena aku mengantuk. Aku lelah sekali. Aku kadang tersadar ketika tiba-tiba kami nyaris terjatuh dan mataku sontak kembali terbuka. Langkahku saat ini mungkin lambat sekali. Namun, akhirnya setelah kurang lebih satu jam—aku yakin sekarang sudah jam satu malam—kami pun sampai di depan gedung apartemennya. Aku membawanya masuk, menaiki lift, lalu akhirnya aku sampai di depan pintu apartemennya. Namun, tak lama setelah aku sampai di sana, aku mengernyitkan dahi. Ada suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah kami. Aku semakin gusar dan akhirnya aku menoleh ke samping kananku. Aku menyatukan alis tatkala mendapati bahwa ada seseorang yang berdiri di sana. Kini orang itu menatapku dengan tatapan yang tajam. "Siapa k—kau?" tanyaku, suaraku terbata-bata. Orang itu—yang merupakan seorang peria paruh baya—tampak kembali melangkah dan kini dia semakin mendekat ke arahku. Dia berhenti melangkah ketika posisinya sudah berada dua langkah di depanku. "Apa yang kau lakukan padanya di larut malam seperti ini?" tanya orang itu tajam. Dia adalah pria yang memiliki jenggot di rahangnya dan rambutnya mulai memutih. Dia memakai kemeja dan jas yang rapi. Aku mengernyitkan dahi. "Siapa...kau?" Aku bertanya balik kepadanya. "I'm Locardo Alexander." Aku terperanjat. Alexander? Wait. Mataku melebar. "Jangan katakan bahwa kau adalah—" "Kau benar. Aku pamannya," jawab pria itu sembari masih menatapku dengan tatapan yang tajam. Dia menyilangkan tangannya di depan d**a. Aku meneguk ludahku. Ternyata, ini pamannya Justin... "Justin tidak pernah ke luar sampai larut malam seperti ini, apakah kau tahu soal itu?" tanyanya dan aku menyatukan alisku kebingungan. Bukankah Justin sudah berubah menjadi 'Bad Guy'? Lantas mengapa Paman Locardo bilang bahwa dia tak pernah pulang selarut ini? Apakah Justin yang tak mau mengaku kepada pamannya? "Jika kau tahu, TINGGALKAN TEMPAT INI!" perintahnya dengan suara yang kuat, membuatku terperanjat. Aku mulai panik. "T—Tetapi aku—aku tidak melakukan apa—" "Tidakkah kau mendengarku? PERGI DARI SINI!!" teriaknya padaku. Aku kontan memejamkan mataku karena aku begitu terkejut dengan teriakannya. "Sekarang pergilah," ujarnya lagi, mendekatiku dan langsung menarik tubuh Justin dengan kasar dariku. Aku terdorong. Pria itu membawa Justin ke dekat pintu dan dia mendorongku lagi dengan tangannya, lalu melanjutkan, "Pergi atau kau akan kulaporkan kepada polisi. Kau hanyalah perempuan jalang yang berusaha untuk mendekati keponakanku." Mataku lantas membelalak. Justin hanya menggumam tak jelas sembari berusaha melepaskan pegangan tangan pamannya. Aku mengepalkan tanganku. Mataku menatap paman Justin dengan tajam. "Tuan, dengarkan aku. Aku bukanlah w***********g. Aku adalah executive assistant-nya dan aku hanya berusaha untuk membawanya pulang ketika aku menemukan dia sedang mabuk di dalam club. Hanya itu. Kumohon jaga ucapanmu," pintaku penuh dengan ancaman. Aku mengucapkannya dengan tegas. "Executive assistant? Sejak kapan kau dipekerjakan? Okay. Mulai hari ini, kukeluarkan kau dari pekerjaanmu. Jangan pernah datang untuk bekerja lagi. Pergi dari sini!" usirnya, lalu aku terperanjat. Aku tiba-tiba merasa ciut dan lemah, kakiku terasa seperti seonggok jelly. Aku mendadak lupa bernapas dan aku menggeleng, berkali-kali menarik dan mengeluarkan napasku dengan cepat. Aku—aku tidak bisa berhenti bekerja! Aku membiayai kehidupan Pamanku dan kehidupanku sendiri! Ya Tuhan, bencana apa lagi ini? "But Mr. Locardo!" teriakku. "Aku tidak melakukan apa pun pada Justin!! Aku tidak bisa kehilangan satu-satunya pekerjaanku!!" "AND DO YOU THINK I CARE?! NOW GET OUT OF HERE!!!" Dia berteriak, teriakannya hampir memecah gendang telingaku. Aku menangis dan dia memberiku isyarat—dengan telunjuknya—untuk menyuruhku pergi. Setelah itu, kulihat dia masuk ke dalam unit apartemen Justin ketika pintunya sudah terbuka. Aku langsung mendekat ketika pintu itu tertutup dan mencoba untuk mengetuk-ngetuknya; aku berteriak memanggil nama Mr. Locardo, tetapi tak ada jawaban. Ya Tuhan, aku tak bisa kehilangan pekerjaanku. Kumohon, aku sudah mengemis untuk Mr. Locardo, tetapi dia tak kunjung mendengarnya. Sesaat kemudian, aku meneguk ludahku, mengelap air mataku, dan aku berbalik. Aku masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar, lalu keluar dari gedung apartemen mewah itu. Melihat sejenak ke belakang, aku akhirnya mengeluarkan air mataku lagi dan pergi dari sana, menuju ke rumahku. Aku tak peduli aku tak bersepatu atau apa, yang lebih memusingkanku saat ini adalah: aku kehilangan pekerjaanku. Bagaimana ini? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD