Chapter 13 :
Discharged (3)
******
TAK lama kemudian, aku sampai di lorong tempat aku bertemu dengan Seth sebelumnya. Oh, Tuhan, sudah jam berapa ini? Aku yakin Nathan akan marah padaku, apalagi ketika aku pulang dalam keadaan kehilangan pekerjaanku.
Tiba-tiba aku mendengar suara motor—suara motorku!—mendekat ke arahku. Apakah...apakah itu Megan? Oh! Aku bahkan hampir melupakannya yang tengah membawa motorku. Yang benar saja, dia baru pulang jam segini? Apakah bensin motorku dia isi ulang? Ha.
Aku langsung berbalik dan kutemukan bahwa ternyata dia sudah berada di sampingku. Kini dia mengklaksoniku dan sinar lampu motor itu sukses menyilaukan mataku. Dia berhenti tepat di sampingku dan aku mendekatinya, berkacak pinggang di depannya. Dia cengar-cengir sebagai respons untukku. Aku memutar bola mataku.
"Ke mana kau, hah?! INI SUDAH MALAM, GODDAMMIT! Kau tahu, aku seperti orang gila karena high heels-ku patah dan motorku tidak ada!!"
Dia langsung membelalakkan matanya dengan dramatis dan menatap kakiku. Aku merasa buruk sekali.
Megan berteriak, "OH TUHANKU—VIO!! APA YANG TERJADI? APAKAH ADA YANG MEMUKULMU? ATAU MENCURI SEPATUMU KARENA SEPATUMU MANIS? APAKAH KAU HABIS MELAKUKAN SESUATU? ATAU—"
Dengan cepat, aku menutup mulutnya. Aduh—membuat malu sekali.
"Megan, please, bisakah kau memelankan suaramu? Ini sudah malam!!" pintaku, aku memperingatinya dengan bisikan. Dia sibuk memegangi tanganku yang sedang menutup mulutnya itu, lalu dia mengangguk-angguk mengerti. Akhirnya, aku pun melepaskannya.
"Okay, okay. Aku mengerti. Ah—ya! Satu lagi, aku ingin meminta maaf padamu karena aku baru pulang dan—dan kau tahu, AKU BERTEMU DENGAN SEORANG PRIA TAMPAN DI TEMPAT AKU MENGANTARKAN BARANG TADI! OH TUHAN, DIA TAMPAN SEKALI! SEMOGA TUHAN MENJODOHKAN KAMI..." teriaknya sembari menyatukan jemarinya, memohon kepada Yang Maha Kuasa.
Menggeleng dengan ekspresi datar, aku langsung naik ke atas motor dan menepuk pundaknya. "Sudahlah, ayo antar aku pulang," ujarku, lalu dia mengangguk walau masih cengar-cengir. Dia langsung mengegas motorku dengan kuat hingga aku terlonjak ke belakang. Beruntung aku tadi memegang bahunya. Dia membawaku dengan kecepatan penuh.
Di jalan, aku hanya diam. Pikiranku masih kacau dan bercampur aduk.
"Vio," ujarnya, memanggilku. "mengapa kau diam? Jadi, bagaimana? Sepertinya kau menjenguk CEO kita. Apakah dia memelukmu dari belakang ketika kau membuatkannya bubur?"
Aku memutar bola mataku.
"Aku memang menjenguknya, tetapi ya Tuhan, Meg, kumohon berhentilah berpikiran terlalu dramatis. Apakah kau pencinta drama Korea? Kau kurang dimanja sewaktu kecil?" ujarku, lalu aku tertawa. Megan berhasil membuatku melupakan semuanya untuk sementara waktu dan aku merasa kalau pikiranku jadi sedikit lebih tenang.
Dia tertawa.
"Jadi?" tanyanya dan aku tersentak. Sial, masih ditanya juga?
Dia masih excited dan aku langsung menepuk bahunya.
"Yah—tidak melakukan apa pun," ujarku dan aku tertunduk. Aku menghela napasku dengan perlahan dan menjilat bibir bawahku. Dia sedikit menoleh ke arahku yang sedang duduk di belakangnya.
Aku lalu melanjutkan, "Kau tahu? Aku baru saja dipecat dari pekerjaanku."
Mendadak motor itu berhenti; Megan mengerem motornya dengan sangat kuat. Tubuh kami terdorong ke depan dan mataku membulat karena kaget.
"APAA?!! KAU DIPECAT?!! MAKSUDKU—MAKSUDKU BAGAIMANA BISA? APA SALAHMU?!!!" Megan berteriak histeris. Aku mengaduh kesakitan, mengetahui bahwa gendang telingaku rasanya bagai ingin pecah dan aku kembali menghela napas setelah itu. Dia sedikit memutar tubuhnya dan menatapku lewat ujung mata kirinya.
"Aku tak mengerti," ujarku seraya merundukkan kepala, lalu Megan menutup mulutnya dengan kedua tangannya secara dramatis. Kacamatanya hampir saja terlepas karena tersenggol oleh tangannya sendiri. Aku mendengkus.
"KATAKAN PADAKU, VIO!! KAU—APA YANG AKAN NATHAN KATAKAN NANTI?! YA AMPUN, SEBAIKNYA MALAM INI KAU DI RUMAHKU SAJA, AKU TAKUT KAU DIMARAHI NATHAN," tawarnya dengan suara yang kencang, lalu dia memegang bahuku. Aku menoleh padanya.
"AYOLAH! NANTI KITA CARI PEKERJAAN LAGI. NAMUN, KATAKAN PADAKU APA SEBABNYA KAU DIPECAT? APAKAH JUSTIN SI TAMPAN ITU YANG MEMECATMU? DAMN..." Dia berteriak histeris. Oh, hell, Meg, kau masih saja bisa menyebutnya sebagai pria tampan, padahal dia itu menyebalkan.
Aku memutar bola mataku.
"Tolong jangan katakan bahwa dia tampan, Meg," kataku seraya menghela napasku lelah. "Well, aku tak mengerti. Aku pulang dari rumahnya dengan cara diusir dan—"
"DIUSIR?!!!" teriak Megan.
Aku memutar bola mataku lagi, mengembuskan napasku lewat mulut. "Meg, biarkan aku bercerita dulu," ujarku dan dia dengan cepat cengar-cengir lagi. Aku menggeleng.
"Aku pulang jalan kaki karena kau bilang kau masih ada urusan. Aku kesulitan saat mau memberhentikan taksi, entah kenapa sopirnya tidak melihatku. Aku berjalan lagi dan aku menolong anak-anak yang ingin membeli es krim lalu ongkosku untuk pulang jadi habis. Aku bahkan tak ingat jumlah uang yang kubawa. Setelah itu, aku bertemu dengan taksi dan sialnya aku sadar bahwa aku tak punya uang. Aku lanjut berjalan lagi dan hak high heels-ku patah. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan Seth yang sedang mabuk—dia mau menyerangku—dan tiba-tiba sudah ada Justin. Aku tak mengerti bagaimana caranya Justin mendadak bisa ada di sana, tetapi dia benar-benar menghabisi Seth. Aku menanyainya dan tanpa sadar aku mengikutinya, lalu kami sampai di sebuah club. Di sana dia benar-benar...okay, dia b******n. Ketika aku mau pulang dan meninggalkannya, sialnya dia tiba-tiba terjatuh karena mabuk. Aku membopongnya, membawanya pulang, lalu ternyata aku bertemu dengan pamannya ketika kami sampai di depan pintu unit apartemennya."
Megan mengangkat kedua alisnya. "Mr. Locardo Alexander, ya?" tanya Megan kepadaku. Aku mengangguk. Well, wajar saja Megan tahu, soalnya dia sudah lama bekerja di perusahaan itu dan dulunya, sebelum Justin memimpin, Mr. Locardolah CEO di sana. Namun, dia tidak sedingin Justin.
"Ya," jawabku. "dan dia mengira bahwa akulah penyebab dari semua itu. Maksudku, dia kira akulah yang membuat Justin jadi mabuk malam-malam begitu. Kurasa dia tak tahu bahwa Justin berkelakuan seperti b******n dan dia malah menyalahkanku. Aku dipecat karena hal itu."
"Ya Tuhan, Violette... Sungguh, aku minta maaf..." ujar Megan, menggelengkan kepalanya tatkala menatapku. Megan langsung memelukku. Aku balas memeluknya dan aku merasa sedikit nyaman ketika berada di pelukannya. Megan mengusap punggungku dan mataku berkaca-kaca. Aku memeluknya semakin erat, mencengkeram bajunya dan aku menangis dengan pelan di pelukannya. Dia terus mengusap punggungku dan menenangkanku.
Setelah itu, dia menghidupkan kembali motorku dan kami pergi ke rumahnya. Setelah sampai di rumahnya, dia pun turun dan aku pulang membawa motorku sendiri. Megan memelukku dan menenangkanku lagi, kemudian dia meminjamkan salah satu high heels-nya kepadaku tanpa kuminta. Aku awalnya menolak, tetapi dia bilang dia prihatin melihat kakiku. Aku memang terlihat kacau sekali.
Aku akhirnya pulang sendirian dengan mengendarai motorku.
Aku melihat jam yang tersemat di tangan kiriku dan ternyata ini sudah jam dua lebih lima belas menit. Aku terkejut dan mulai mempercepat motorku. Aku sampai di rumah dan memarkirkan motorku di halaman, lalu aku langsung berlari dan membuka pintu. Pintu depan kami memiliki dua kunci. Satu kunci asli dan satu lagi kunci duplikat. Aku dan Nathan masing-masing memegang satu. Aku memutar kuncinya, lalu membuka pintu itu. Ketika aku menutup pintu itu kembali, aku berbalik dan langsung terkejut bukan main. Nathan sudah ada di depanku. Lebih tepatnya, dia masih duduk di sofa yang ada di depan TV, tetapi dia tidak sedang menonton. Oh sial. Dia pasti marah karena aku pulang kelewat larut bahkan hampir subuh.
"Dari mana saja, Vio?" tanyanya, nadanya terdengar seperti menginterogasiku. Aku meneguk ludahku dan tertunduk. Mengernyitkan hidungku, aku lantas berpikir keras. Aku menggigit bibirku.
"Aku...aku bermain di rumah Megan dan aku tertidur. Maaf, Nathan. Aku...aku tidur dulu," ujarku dengan cepat, lalu aku langsung berjalan ke kamarku. Aku yakin Nathan tengah menatapku dengan tatapan curiga. Namun, aku hanya langsung masuk ke kamar dan berbaring tengkurap di atas kasurku. Aku pun menangis hingga akhirnya aku tertidur dan bermimpi tentang sepasang mata karamel yang kembali menyiksaku. []