Ambisi

1332 Words
"Kita pulang ke Jawa, Pah." "Untuk apa? Jangan gila Sela!" "Menemui seseorang yang akan merubah hidup Sela." "Siapa?" "Makam buyut!" "Jangan ngada-ngada kau, Sela!" "Sela gak mengada-ngada, Pah!" "Kita cari orang pintar!" "Untuk apa?" "Meluluh lantahkan Reno." "Jangan gila! Kenapa kamu mau melakukan itu!" "Lalu pakai cara apa lagi, Pah? Hanya itu satu-satunya cara untuk menjatuhkan hati Reno." "Sela, dosa!" "Persetan dengan dosa, Pah! Sela hanya ingin lelaki itu bertekuk lutut dan tidak macam-macam! Mengikuti semua keinginan Sela dan menjadikan Sela satu-satunya ratu di hati dan kehidupannya." "Cinta membuatmu, gila!" "Bukan, Pah! Tapi ambisi, Sela sangat berambisi untuk melakukan semua ini! Papah hanya harus mengantar Sela, selebihnya itu urusan Sela!" "Jika Mamahmu tau semua ini, maka hancur sudah kita semua, Nak." "Maka dari itu, Papah diam dan jangan banyak bicara! Mamah tidak akan tahu jika Papah tetap diam dan tidak memberitahunya!" "Kau kenapa Sela? Kenapa menjadi seperti ini!" "Sudahlah, Pah! Jangan banyak tanya! Besok kita berangkat, atau kalau perlu sore ini juga kita berangkat ke kampung." "Tapi sepertinya, lebih baik sore ini berangkat. Lebih cepat lebih baik bukan Pah? Sela gak mau tau ya, Pah. Papah harus menemani Sela kesana." "Sekarang, Sela mau mantau pekerja dulu. Ingat, Pah. Sore kita berangkat!" "Sela!" Papah berteriak namun tak digubris oleh anaknya. Ia menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala. Tak habis pikir, bagaimana bisa anaknya berpikir seperti itu. Sebenarnya, ada apa dengan anak itu? Kenapa tiba-tiba akan bersikap gila seperti ini! Apa dia tidak memikirkan sebab dan akibatnya? Bisa-bisanya berpikir untuk membuat suaminya sendiri bertekuk lutut dengan cara magic seperti itu. Ya Allah, maafkan aku dan anakku jika memang banyak dosa. Sungguh, aku tak paham dengan jalan pikiran anak itu. Aku tak ingin dirinya semakin terperangkap dalam sebuah ambisi yang entah aku sendiri tidak memahami ambisi apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku harus menggagalkan rencananya, tapi bagaimana bisa? Dan bagaimana caranya? Dia pasti akan sangat marah jika tau aku yang menggagalkannya terlebih lagi selama ini aku selalu mendukungnya namun untuk hal ini, sungguh aku tak bisa mendukungnya. Aku takut akibatnya akan sangat luar biasa. Kejadian masa lalu, yang membuatku cukup trauma tak ingin lagi melihatnya lagi. Ya aku cukup trauma bahkan sangat trauma karena kejadian di masa lalu. Dimana keadaan rumah menjadi porak-poranda karena semua makhluk itu marah. Mereka merasa apa yang diinginkan tidak lagi diberi oleh Amih-Ibuku-, mereka berpikir Amih sudah berkhianat dan membuang mereka maka dari itu mereka sangatlah marah. Dan, kali ini, tidak mungkin aku melihat hal yang sama lagi. Aku khawatir jika Sela tak bisa memenuhi keinginan mereka semua, maka nyawanya adalah gantinya. Terlebih lagi, aku paham betul bagaimana anak itu. Semoga saja dia berubah pikiran dan tidak lagi berpikir untuk berangkat. *** Sela berkeliling perusahaan, melihat satu persatu kinerja para pekerjanya di bidang yang berbeda. Memang, perusahaannya tak seluas perusahaan suaminya, namun ia yakin kelak akan menjadi setara dan itu adalah janjinya. Ia berjalan dengan sangat anggun, membalas satu persatu sapaan dari pegawainya yang melihatnya. Beberapa pegawai lelaki melihat bosnya itu terlihat sangat manis dan menggairahkan. Entah apa sebabnya, tetapi mereka merasa ada yang beda dengan bosnya itu. Ada yang menggelitik di bawah sana membuat mereka tidak konsentrasi dalam bekerja. Sela merasa ada beberapa mata pegawai lelaki yang mulai nakal melihatnya. Sela langsung memandang lekat, manik elangnya itu terlihat sangat mematikan namun dalam sekejap senyumnya tersungging dan terlihat sangat manis sekali membuat mereka semakin menggila berkhayal. Sela melangkahkan kakinya mendekati beberapa diantara mereka hanya sekedar untuk bertanya dan bertegur sapa. Jangan ditanya lagi, mereka terlihat sangat senang bahkan bahagia sekali mendapati anak bosnya yang cantik itu mendekat. "Bagaimana kabar kalian?" "Ba-baik, Bos," ucap mereka terbata melihat Sela yang sudah di hadapan mereka dan terlihat sangat cantik dalam jarak yang sedekat ini. "Kerja yang rajin ya, jika kalian rajin, nanti gue sampaikan pada Papah untuk memberikan kalian bonus." "Siap Bos, pasti kami akan rajin. Apalagi jika Bos selalu berkunjung seperti ini." "Gue pasti akan selalu berkunjung. Ya sudah, lanjutkan kerjanya, gue keliling dulu ya," ucapnya lembut meninggalkan para pegawai lelaki yang masih menatapnya dengan lekat. Gila! Memang pesona Sela terlihat sangat luar biasa. Pesonanya semakin terlihat saat ia sudah menikah dan semakin keluar auranya yang luar biasa. Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan lebih terpana sekarang. Mereka seperti terkena sihir atau mungkin magnet agar selalu mengagungkan dan mendambakan wanita itu. Sela melangkahkan kakinya menuju lift, dia ingin naik ke lantai selanjutnya. Lantai yang akan bisa melihat semua pekerjanya bekerja dengan baik atau tidak. Namun, tak disangka ternyata ia bertabrakan dengan seseorang. "Aw!" "Ma-maaf Ibu Sela. Saya tidak sengaja." Sela memandangnya dari atas hingga bawah dan terpana melihatnya, ternyata lelaki itu terlihat sangat tampan sekali. "Lu pekerja disini?" "I-iya, Bu." "Bagian?" "De-desain, Bu." "Jangan panggil Ibu, gue belum tua, kali!" "I-iya, ma-maaf, Bu. Eh." "Hm … panggil Sela saja." "Tapi, saya tidak enak, Bu eh Sela." "Tidak apa-apa. Itu khusus lu boleh panggil gue, Sela." "Ba-baiklah Sela. Saya permisi dulu." "Eh, tunggu dulu." "Ada apa lagi, Sela?" "Tadi, lu bilang bagian desain?" "Iya, betul. Kenapa?" "Tidak apa-apa. Siapkan beberapa desain motor custom ya, nanti gue mampir ke ruangan lu dan lihat beberapa desain." "Baik. Permisi." Sela mengangguk dan mempersilahkannya pergi. Lalu ia masuk ke dalam lift, dan memencet tombol tempat tujuan ia ingin singgah. Sampai juga ia di lantai paling atas, ini adalah tempat pribadinya, namun di tempat ini ia bisa melihat seluruh pegawai bekerja. Tempat yang hanya bisa dimasuki olehnya sebab tempat tersebut membutuhkan sidik jari. Sebenarnya, Papahnya juga tau tempat tersebut namun membiarkan saja dan merasa anaknya itu butuh tempat privasi. Sebentar lagi! Sebentar lagi semua keinginanku pasti akan terwujud. Perusahaanku ini, akan menjadi luas dan pegawai pasti menambah. Lalu perusahaan Mas Reno akan menjadi tandinganku dan perlahan pasti akan bisa kuhancurkan! Aku harus menguasai semuanya, menguasai harta suamiku agar tidak jatuh pada orang lain. Aku harus berusaha sebaik mungkin agar mendapatkan hatinya dan membuatnya bertekuk lutut. Apapun itu, aku akan melakukannya demi keluargaku. Sekarang, langkah pertama yang harus aku lakukan adalah membuatnya bertekuk lutut di hadapanku. Aku harus mencari seseorang yang bisa mewujudkan keinginan dan impianku. Aku yakin, di kampung pasti dapat menemukan orang yang akan membantuku. Persetan dengan dosa, aku tak peduli akan semua itu! Yang terpenting sekarang adalah meluluhkan dirinya. Reno Alvian, lelaki tampan yang berhasil aku luluh lantahkan dengan keliaranku di atas ranjang. Haha, tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa ia sudah berhasil masuk dalam genggamanku dan akan tergila-gila padaku. Aku sudah memasang susuk di dalam inti tubuhku yang akan selalu membuatnya menggila. Sayangnya, malam pertama kami tidak berjalan dengan mulus maka dari itu aku harus menghabiskan waktu sia-sia dengan menangis, tapi sekarang tidak lagi. Aku harus bisa membuatnya masuk lagi ke dalam perangkapku! Aku harus memuaskan dirinya di atas ranjang, sia-sia aku memasang susuk jika tidak bisa membuatnya tergila-gila. Dan sebentar lagi, aku sepertinya akan menambah susuk di wajahku, agar keluarganya semakin menyayangiku dan itu harus. Semua keluarga itu harus masuk ke dalam genggamanku. Sore ini juga, aku harus pulang ke kampung bersama Papah. Bagaimanapun caranya aku harus pulang, mencari dan menambah sesuatu yang luar biasa pastinya. Sebab, menurutku tak cukup jika hanya susuk saja, aku harus berbuat lebih. Haha, lihat saja nanti Reno! Kau dan semua keluargamu akan masuk ke dalam perangkapku! Kakap besar akan masuk ke dalam kandang yang sudah aku buat dan atur! Tunggu tanggal mainnya, aku akan menjalankan semua ini dengan sangat mulus bahkan kau tidak akan pernah sadar bahwa pelakunya adalah aku, haha. Bukankah kau menganggap aku adalah gadis lugu? Iya! Aku akan selalu menjadi gadis lugumu, Sayang. Aku akan menjadi yang terbaik di dalam hatimu, duniamu dan keseharianmu, lalu menyiksamu secara perlahan baik lahir dan batin, setelah itu membuangmu!! Entah mengapa, pikiran Sela sepertinya agak sedikit terganggu. Dia bukan lagi menginginkan harta tetapi juga Reno menjadi miliknya. Apa ia dendam karena malam pertama ditinggal oleh suaminya? Entahlah. Jika memang dendam, mengapa ia ingin membuat Reno bertekuk lutut? Apa karena ingin menguasai hartanya? Ataukah ada dendam lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD