Hari Pernikahan

1320 Words
Akhirnya hari yang ditunggu oleh banyak orang terutama kedua sejoli yang saling mencintai dan menyayangi itu tiba juga. Tepat tanggal 10 September 2014 mereka akan melangsungkan pernikahan. Sudah sejak pukul tiga dini hari Sela terbangun dari tidur nyenyaknya untuk di hias. Awalnya ia ngedumel karena sepagi itu, mungkin di pikirnya merias pengantin itu mudah dan sebentar. Nyatanya? Kurang lebih tiga jam untuk pengantin. "Mah, kenapa sepagi ini, sih? Bilang sama tukang riasnya nanti aja! Sela masih ngantuk!" protesnya saat Mamah Vasya masuk ke dalam membangunkannya dari tidur nyenyak. "Sela, ini sudah siang tau bagi perias. Lagian, harusnya mulai di makeup itu pukul tiga pagi, lah liat dong sudah mau setengah empat saja kamu baru bangun, belum mandi dan siap-siapnya." "Kenapa gak jam enam saja, sih, Mah?" "Apakah kau bercanda Sela? Akad saja jam delapan, itu artinya jam tujuh kamu harus sudah selesai di makeup dan memakai kebaya juga perhiasan lainnya. Jangan ngaco deh, ayo cepetan bangun, mandi, kasihan Mbak makeupnya sudah datang dari tadi eh pengantinnya malah masih molor! Kebo banget, sih!" "Ah ribet banget, sih, jadi pengantin!" "Ya suruh siapa kamu mau jadi pengantin? Ya beginilah, harus mau ribet di hari pernikahan! Sudah deh ya, jangan protes saja! Heran Mamah, sih, kamu tuh ya kerjaannya protes saja! Jadi pengantin tuh ya yang nurut, patuh saja gitu loh." "Mamah tuh kenapa, sih, sensi aja!" "Bukan sensi, tapi kamu tuh ya pikirannya kemana sih, Sela! Bisa gak sih nurut saja gitu, patuh, biar acaranya berjalan lancar, kalau kamu kebanyakan protes Mamah khawatir akan banyak hambatan nantinya!" "Ya sudah iya, iya! Sela mandi!" "Nah dari tadi kek begitu, jadi 'kan gak usah ada drama dan urusan begini! Susah banget diaturnya, heran! Nanti kamu jadi istri jangan begini ya!" "Ribet Mamah! Bawel!" Sela melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam kamar mandi sembari membanting pintu kamar mandi tersebut, Mamah Vasya hanya mengelus dadanya saja dan menggelengkan kepala. Beliau khawatir kelakuan anaknya tetap seperti itu setelah menikah, bagaimana nanti tanggapan besannya mengenai kelakuan putrinya itu. Mamah melangkahkan kakinya keluar dari kamar anak semata wayang dan berjalan ke arah ruang tamu untuk menemui beberapa orang penata rias. Beliau menyambut mereka semua dengan rasa hangat dan senyum bahagia. Para penata rias juga menyambut wanita paruh baya itu dengan senyum sumringah. "Sebentar ya, Mbak. Pengantinnya baru bangun dan lagi mandi dulu," ucapnya lembut. "Iya gak apa-apa, Mamah. Masih keburu kok, tenang saja," balas Mbak Putri selaku bosnya, bagaimana Mamah Vasya bisa mengetahui namanya? Itu terlihat dari name tag yang tersematkan di salah satu sisi pakaiannya. "Mangga diminum dulu, Mbak. Seadanya saja, ya, hehe." "Ini bukan seadanya, Mamah tapi luar biasa hehe," timpal Mbak Cici. "Oh iya, Mamah nanti di rias sama Mbak Cici ya dan keluarga yang lain nantinya di rias sama dua asisten yang lainnya." "Iya baik, Mbak Putri. Mamah dirias sekarang atau bagaimana?" "Nanti saja sekalian sama pengantin gak pa-pa, sekarang ganti baju dulu ya sama Mbak Cici." "Mbak, tolong ya, Sayang," ucapnya lembut bahkan sangat lembut sekali. "Baik Ibu Bos." *** Sela sudah selesai mandi dan Mamahnya juga sudah selesai mengganti baju. Mereka mulai dirias, beberapa kali ada sedikit protes dari Sela namun hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Mbak Putri dan tidak luput dengan perdebatan sama sang Mamah. Mbak perias hanya menggelengkan kepala saja mendapatkan klien yang sangat rewel seperti itu. "Sela! Kamu bisa diam gak! Gak usah banyak protes! Mamah 'kan sudah bilang kalau jadi pengantin itu nurut dan patuh saja! Jangan kebanyakan protes! Kasihan Mbak riasnya pusing dengerin ocehan kamu! Terus nanti makeupnya rusak gimana!" "Kalau rusak ya artinya Mbak ini gak bisa makeup! Ya gak usah jadi perias lah!" "Kamu ini benar-benar ya! Kalau begitu batalkan saja acara ini! Percuma Mamah ngalah terus! Kamu selalu saja ngajak ribut terus! Biar saja keluarga malu! Atau mungkin ini memang yang kamu inginkan! Kamu itu gak tau terima kasih! Semuanya kami urus dengan sebaik mungkin agar kalian bisa menikah dengan acara yang luar biasa, tapi nyatanya pengantin perempuannya bar-bar!" "Malu Mamah kalau sampai nanti besan tau kelakuan menantunya seperti kamu! Mau di simpan dimana muka Mamah dan Papah nanti! Benar-benar kamu ini menguji kesabaran Mamah sekali!" "Sudah! Mamah muak! Batalkan saja!!" "Mamah! Kenapa bicara seperti itu! Ada apa?" tanya Papah Dedi tiba-tiba masuk ke dalam kamar karena mendengar teriakan sang istri. "Tuh anak kamu! Kayak gak punya adab! Jadi pengantin gak bisa nurut dan patuh! Banyak protesnya saja! Apa susahnya sih tinggal nurut dan patuh agar hasilnya bagus dan juga acaranya lancar tidak ada hambatan! Mamah, sih, gak habis pikir sama jalan pikirannya tuh! Bikin muak!" "Sudah Mamah. Tahan emosinya ya, jangan berbicara seperti itu, masa acara luar biasa seperti ini ingin dibatalkan, sayang sekali." Mbak Putri menenangkan agar Mamah Vasya tidak emosi lagi, terlihat sekali memang Mamah sangat emosi. "Sela! Kamu itu kenapa, sih! Jangan buat malu Mamah dan Papah! Kalau memang dari awal kamu tidak ingin menikah, kenapa harus memaksakan diri untuk menikah cepat! Papah gak habis pikir kamu bisa membuat Mamah sampai semarah ini! Jika Mamah sudah semarah ini, itu artinya kamu memang sudah keterlaluan!!" "Tapi, Pah --" "Gak ada tapi-tapian! Kalau memang kamu masih banyak protes, tidak nurut dan tidak patuh, sudah lebih baik dibatalkan saja semuanya ini! Lebih baik dibatalkan sekarang daripada nanti malu ketika kamu sudah jadi menantu dan tidak bisa bersikap baik di sana! Mau simpan dimana ini muka Papah!" "Maaf, Pah. Iya, iya, Sela tidak akan protes lagi. Mah, maafkan Sela." Mamah hanya membuang wajahnya ke samping, benar-benar terlihat sangat marah sekali. Putri dan Cici menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Sebenarnya, ini bukan kali pertama mereka mendapatkan klien yang seperti ini, tetapi mereka tidak menyangka bahwa akan ada huru-hara pembatalan pernikahan saat itu juga. Lagian, memang pengantinnya sangat rewel sekali, sejak mulai makeup selalu protes dan ajak ribut mamahnya. Putri dan Cici melanjutkan kembali merias wajah yang tadi sempat tertunda karena ulah pengantin yang menyebalkan itu. Putri mengoles wajah Sela dengan sangat hati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang dapat menciptakan huru-hara lagi seperti tadi. Pun dengan Cici yang berusaha untuk menenangkan hati Ibu hajat agar tidak emosi lagi seperti tadi. Merias wajah pengantin cukup memakan waktu kurang lebih tiga jam secara keseluruhan. Saat ini, Sela sudah selesai dirias dan lihatlah, gadis itu terlihat sangat cantik dan anggun sekali bahkan tak ada yang menyangka bahwa itu dia saking panglingnya. Beberapa orang yang ditugaskan menjemput pengantin pria sudah jalan menuju ke rumah Keluarga Bastian, disana Mamih Amora terlihat sangat cantik dan anggun sekali. Pun dengan Reno yang terlihat semakin tampan dan gagah dengan balutan beskap warna putih. Papih Bastian dan Kevin juga tidak kalah tampan, jelaslah keluarga mereka sangat cantik dan tampan. Mengingat jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, maka rombongan pengantin lelaki sudah datang dan menduduki tempat yang memang sudah disediakan, Reno sudah duduk di kursi akad dengan perasaan campur aduk dan dag-dig-dug begitu pula dengan Sela yang sedang harap-harap cemas menunggu di kamarnya. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dimulai, lantunan suara tersebut terdengar sangat lembut sekali dan merdua, membuat siapapun yang mendengarnya akan terenyuh dan menangis ketika mendengarnya. Penyerahan Ijab di mulai, Reno mulai mengucapkan ijab di hadapan penghulu, Papah Dedi, para saksi dan di saksikan juga oleh banyak malaikat yang akan mengaamiinkan setiap doanya. Alhamdulillah, akhirnya mereka berdua telah sah menjadi suami istri, Sela keluar dari kamar menuju pelaminan dan disambut dengan senyum bahagia dari semua orang yang hadir di dalam acara tersebut. Sela di antar oleh Putri menuju pelaminan dan betapa terkejutnya ternyata ia merias pengantin yang istri dari Reno. Bagaimana mungkin Putri tidak mengetahuinya? Jelas tidak akan mengetahui, sebab selama fitting dan lainnya mereka berurusan dengan Cici yang merupakan tangan kanan Putri, jadi Putri hanya muncul di hari pernikahan saja. Sebenarnya siapakah Putri? Dan ada hubungan apa ia dengan Reno sehingga keduanya merasa terkejut namun berusaha tenang dan tidak menunjukkan keterkejutannya. Apakah diantara mereka pernah ada benih-benih cinta yang hadir? Atau ada permasalahan lain di masa lalu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD