Touring

1021 Words
"Gila lu, Bro! Lu baru nikah sudah berangkat touring bareng kita semua," ucap Rajendra salah satu kawan Reno. "Iya nih, bukannya pengantin baru harusnya indehoy ya, haha," timpal Gerry. "Halah! Kalian ini, malam pertama sama saja 'kan? Bedanya cuman gue pakai saja tuh perempuan, haha! Lagi pula, gue sedikit kasih pelajaran buat dia!" "Loh? Memangnya kenapa Ren?" tanya Tama penasaran. "Gue baru sekarang ini tau keburukannya, gila! Ucapannya bar-bar banget, kayak bukan perempuan aseli! Dia aja berani ngajak perang sama nyokapnya, gak menutup kemungkinan kalau akan ajak perang nyokap gue juga 'kan? Sedangkan nyokap gue itu lembut banget, gue gak mau tuh bini gue sampai melukai hati nyokap gue! Dan pasti akan ada pelajaran berharga nantinya buat dia kalau berani membuat nyokap gue sakit hati." "Loh … loh … kok bisa lu baru tahu sikapnya seperti itu? Memang sebelumnya tak pernah terlihat?" tanya Gery. "Dia nutupinnya pinter banget gila, dan kalian tau gak sih? Dia aja ajak ribut tuh periasnya, gila malu gue! Mana periasnya mantan gue." "Tunggu dulu, mantan lu? Perias? Putri Anastasya?" tanya Tama terkejut. "Iya, lu masih ingat?" "Anjir! Gue juga ingat Ren! Gila sih! Terus gimana?" timpal Rajendra. "Iya si Putri marah, ngambek dia gak mau ngurusin si Sela karena mulutnya itu sih, minta di cabein! Gue cuman gak nyangka saja, sih, berasa banget ketipu gue." "Eh bangke, lu pikir bini lu itu cabe-cabean ape, haha," ledek Gerry. "Iya kayaknya sejenis dan setipe! Sudahlah! Jangan ngomongin tuh perempuan bar-bar! Malas gue! Mendingan kita segera berangkat dan bersenang-senang, ayo," ajak Reno dan di angguki oleh teman-temannya. Mereka semua langsung menyalakan motor dan melajukannya dengan kecepatan sedang namun dalam seketika mereka berempat sudah dalam kecepatan tinggi dan saling menyelip satu sama lainnya. Reno merasa sangat bahagia sekali jika sudah bersama teman-temannya itu. *** Selama tiga hari Reno tidak ada kabar, Sela menunggunya di rumah dengan sangat cemas. Setiap malam wanita itu selalu meringkuk di atas ranjang dan menangis di dalam selimut. Ia merasa hidupnya seperti sangat menderita sekali. Baru saja ia merasakan bahagia karena memiliki suami dan baru akan memulai kehidupan lebih baik namun keadaan tak berpihak padanya. Hari-harinya hanya dihabiskan di dalam kamar saja. Seperti tak ada kehidupan yang seharusnya dijalankan olehnya. Ya memang benar seperti itu, hidupnya terasa hampa sekali tanpa suaminya. Ia rindu bahkan sangat merindukan suaminya. Rindu pelukan dan belaian lembut dari suaminya. Setiap kali diajak untuk makan selalu saja alasannya tidak lapar. Bagaimana bisa tidak lapar? Sedangkan tak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya itu, Mamih dan Papih hanya mengkhawatirkan kesehatannya saja sedangkan Kevin terlihat masa bodo. Memang dia sepertinya sejak awal tidak suka pada kakak iparnya, entah apa yang membuatnya tidak suka. Aneh juga. Seperti sekarang ini, mamih dan papih sudah bingung tidak tau lagi harus berbuat seperti apa dan bagaimana. Lagi-lagi Sela memilih tetap diam di dalam kamar tanpa punya keinginan untuk turun kebawah dan makan. Mamih takut sekali jika nanti menantunya itu akan sakit karena telat makan bahkan sempat tidak makan. Dalam pikirannya, jangan sampai menantunya itu sakit dan sampai masuk rumah sakit, harus memberikan penjelasan apa pada keluarga Sela jika semua itu terjadi padanya. Beberapa kali Mbok membawakan makanan kesukaan Sela ke kamarnya namun semuanya di tolak, ia lebih memilih minum s**u saja dan tak ada selera untuk makan. Entahlah, rasanya benar-benar hampa sekali. Ia hanya menginginkan suaminya pulang dan makan bersama dengannya seperti biasanya, seperti sebelumnya, seperti mereka sebelum menikah, namun keinginannya sepertinya harus di urungkan terlebih dahulu mengingat suaminya itu masih di kota lain. Mamih saat ini sedang berada di kamarnya, bolak-balik ke arah tak menentu, bingung dan berpikir harus berbuat apa. Suaminya hanya memandangnya bingung karena melihat istrinya mondar-mandir seperti setrikaan. "Mora sayang … kau sedang apa?" "Tian … anak kita belum juga pulang." "Lalu kenapa? Bukankah sudah biasa jika dia touring itu akan lama?" jawabnya santai seperti tak ada masalah, karena memang sebenarnya tidak ada masalah serius hanya saja keadaannya yang tidak seharusnya dipakai untuk touring sekarang. "Tapi ini 'kan sudah tiga hari, Tian. Reno itu janjinya tiga hari sudah pulang, ini sudah malam tetapi dia belum juga pulang." "Sayang, dia itu bukan anak kecil lagi. Kau tenang saja, dia pasti akan pulang." "Iya, memang kau benar dia bukan anak kecil lagi, tapi saat ini dia itu sudah punya istri. Kau bayangkan saja ya, malam pertama harusnya indehoy lah dia? Malah milih touring. Apa istrinya tidak menggoda dan dia lebih tergoda dengan touring? Anak kamu itu ada-ada saja, Tian!" "Haha … kamu ini! Sudah napa, Mih. Biarkan saja, nanti juga mereka punya waktu sendiri untuk honeymoon kok. Jadi, sekarang, lebih baik kau berhenti mondar-mandir seperti kitiran begitu! Paham!" "Ah, susah sekali bicara denganmu, Tian!" "Jangan ah ah, Sayang. Nanti aku terjang kau baru tau rasa!" "Dasar m***m! Kita itu seharusnya sudah punya cucu!" "Tapi kita masih bisa kok memberikan adik pada Kevin," goda Tian menaikkan satu alisnya menggoda istrinya yang sedang marah namun tetap terlihat manis itu. "Jangan menggodaku!!" "Aku akan selalu menggodamu, Sayang. Wajahmu itu sangat membuatku b*******h saat marah, haha." "Tiaaaannn!! Kamu ini, ya! Benar-benar menyebalkan!" teriaknya kesal. "Haha, Amora, please jangan membuatku akan menerjangmu saat ini juga!!" "Dasar Bastian mesuuummm!!" teriaknya kembali meninggalkan suaminya yang m***m itu di kamar sendirian dan ia memilih pergi ke dapur untuk membantu para asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam. Haha, istriku kau terlihat sangat menggemaskan jika sedang marah seperti itu. Aku akan selalu membuatmu berhenti marah dengan caraku sendiri. Kau tenang saja sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan anakmu itu, karena ia tau apa yang terbaik dan tidak untuk kehidupan selanjutnya. Sayang, andaikan saja kau tau bahwa menantumu itu seperti apa. Maafkan aku, maafkan aku telat mencari tahu tujuan Sela dan Dedi masuk ke dalam keluarga kita. Semua ini mereka lakukan hanya karena harta semata. Semoga, Reno bisa mengatasi istrinya itu dengan baik agar tidak seenaknya dengan kita semua disini. Alhamdulillah sayang, Reno juga menyadari sikap istrinya memang tidak baik, tapi kita doakan saja ya semoga mereka bisa lebih baik, semoga Reno bisa merubah istrinya menjadi lebih baik lagi dan bisa menghormati kita semua. Harapan baik selalu kupanjatkan pada Gusti Allah sayang, untuk menyelamatkan keluarga kita dari segala marabahaya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD