Bertemu Mantan

1324 Words
Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga. Persiapan launching motor custom vespa yang didesain khusus oleh Reno untuk seorang wanita sudah seratus persen. Dan hari adalah hari launchingnya, Sela sudah merasa tidak sabar lagi menunggu waktu ini tiba. Gadis itu sejak tadi sudah mondar-mandir saja cemas menunggu waktu datang. Papah yang melihat anaknya merasa gelisah dan cemas hanya menggelengkan kepalanya saja. Beliau merasa, wajar apabila anaknya mengalami fase ini karena ini adalah kali pertama Sela turun langsung mengurus bahkan bekerja sama dengan orang untuk sesuatu yang baru. "Nak, apa gak capek mondar-mandir terus seperti itu?" "Eh? Hehe, gak kok, Pah." "Kamu kenapa, sih?" "Cemas aja, Pah. Papah tau sendiri, ini adalah pertama kalinya Sela bisa sampai di tahapan ini. Terlebih lagi, ada Reno yang membantu semuanya. Merasa semua ini bagaikan mimpi saja, Pah." "Beruntungnya kamu, Nak. Berusaha lebih baik lagi ya, dan ingat tujuanmu. Jangan sampai terlena oleh sebuah rasa ingin memiliki yang membuatmu lupa akan tujuan awal dekat dengannya." "Tidak akan pernah lupa akan hal itu, Pah. Semua ini Sela lakukan demi keluarga kita, demi Papah dan demi perusahaan kita. Sela akan memajukan perusahaan kita dengan bantuan Reno. Papah tenang saja, serahkan semuanya pada Sela dan percaya semua akan baik-baik saja." "Kamu memang anak Papah yang bisa diandalkan, Nak." "Pasti dong, Pah. Anak Papah 'kan hanya Sela saja, hehe," kekehnya membuat sang Papah ikut terkekeh. Bahagianya sungguh sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata untuk saat ini. Aku memang benar-benar sangat bahagia sekali karena tujuanku satu persatu mulai bisa terwujud. Dan peran lelaki itu ternyata cukup luar biasa. Kupikir, semuanya tidak akan berjalan baik seperti ini tetapi ternyata aku salah. Ini sangat baik sekali, dan aku merasa sangat puas sekali. Reno, lelaki yang awalnya hanya aku manfaatkan untuk kepentinganku dan perusahaan perlahan namun pasti mulai merambah masuk menyentuh hatiku dan memberikan rasa aman, nyaman juga tenang di dalamnya. Mungkin, aku sudah mulai merasakan jatuh cinta dengannya, namun aku tak boleh terlena sebab ada tujuan yang harus kujalani sebaik mungkin. Entah rasa apa ini, aku juga sebenarnya mulai terenyuh dengan sikap dan semua perhatiannya namun aku berusaha untuk menahannya agar pertahanan ini tidak runtuh, aku selalu bersikap biasa saja. Saat ini, aku sedang menunggunya untuk sebuah acara besar, acara yang akan menjadikan kami berdua pastinya akan lebih dekat ke depannya. Papah selalu mengingatkanku akan sebuah tujuanku agar tidak salah melangkah. Aku paham akan kekhawatirannya namun aku selalu menyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja dan akan selalu teringat tujuan tersebut. "Sayang, apakah kau gelisah menungguku?" sahut seseorang yang dari suaranya saja sudah bisa membuat Sela sangat bahagia. "Tuh, pujaan hatinya datang," ledek Papah. "Om, apa kabar?" tanya Reno menjabat tangan orang tua lelaki kekasihnya itu. "Alhamdulillah baik, Ren. Bagaimana kabar Papih dan Mamihmu?" "Alhamdulillah baik juga, Om. Mohon maaf, Om, Reno datang terlambat. Tadi ada sedikit masalah di kantor." "Sebenarnya belum terlambat, Nak. Hanya saja, gadismu itu sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Atau mungkin, ia merasa rindu?" goda Papah memiringkan kepalanya dan terkekeh melihat respon anaknya yang di luar dugaan langsung memerah pipinya. "Papah, ih." "Ya sudah, Papah tunggu kalian di depan ya." Mereka berdua mengangguk patuh. Papah harap, kamu tidak terlena dengan semua perlakuan baik Reno, Nak. Sebenarnya, Papah bisa melihat rasa cinta itu dari sorot matamu namun entah mengapa ada rasa takut kehilangan dari dalam diri Papah jika sampai kau benar-benar jatuh cinta padanya. "Kamu kenapa lama banget, sih!" "Aku 'kan sudah bilang, tadi ada sedikit masalah di kantor. Maaf ya, Sayang." "Memang, masalah itu harus kamu yang selesaikan?" tanyanya kesal. "Pasti dong, Sayang. Soalnya menyangkut kerja sama dengan perusahaan juga, ada salah satu perusahaan dari Tasikmalaya ingin bekerja sama dengan perusahaanku. Meminta beberapa desain motor custom masa kini sesuai dengan keinginan para pelanggannya. Budgetnya lumayan besar dan menguntungkan perusahaanku." "Oh begitu. Ya sudah aku mencoba mengerti." "Kamu harus selalu mengerti tentang semua ini, Sayang. Ayo kita keluar, gak enak ditunggu Papahmu nanti disangka kita berdua di sini macam-macam lagi," ucapnya asal. "Haha, kamu ini ada-ada saja, Reno! Mana mungkin seperti itu, lah!" Mereka berjalan menuju tempat dimana akan diadakan acara. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, banyak juga beberapa konsumen dari Reno yang memang sudah menjadi pelanggan satu sama lainnya. Acara dimulai dan berlangsung sangat meriah sekali, banyak sekali orang-orang yang memuja dan memuji hasil desain Reno. Memang, desainnya sungguh tak bisa diremehkan. *** Kedekatan mereka semakin intens, mereka lebih sering jalan bareng dan menghabiskan waktu berdua. Sela semakin sering berkunjung ke kantor Reno dan menghabiskan waktu dari siang hingga sore hari di ruangan kantor Reno. Sesil yang awalnya sedikit agak risi dengan kemesraan mereka lama-kelamaan menjadi biasa saja karena sudah terlalu sering melihatnya. Berusaha acuh saja, itu yang ada dipikiran Sesil. Ia juga tak ada keinginan untuk ikut campur masalah percintaan sang bos. Justru ia merasa senang akhirnya sang bos bisa menemukan pujaan hatinya dan tidak jomblo lagi. Dan ia berharap semoga bosnya itu bisa segera melanjutkan hubungan ke jenjang selanjutnya yaitu menikah. Semakin sering bertemu, semakin sering jalan bareng, semakin dalam juga semua rasa yang mereka berdua rasakan di dalam lubuk hati yang paling dalam. Reno semakin sering memberikan kode seakan-akan dalam waktu dekat akan menikah dengan Sela dan gadis itu pun semakin merasa terbuai dan terlena akan sebuah rasa aman dan nyaman. Saat ini, keduanya sedang asik dengan pikirannya masing-masing walaupun berada di dalam satu ruangan. Awalnya mereka bertemu untuk melanjutkan obrolan mengenai rancang-rancangan motor custom selanjutnya seperti apa dan bagaimana, namun keduanya merasa canggung karena sebuah kejadian sebelum sampai di kantor mereka bertemu dengan mantan Sela. Flashback on Kedua sejoli yang terlihat saling menyayangi dan mencintai saat ini sedang berada di sudut ruangan rumah makan jepang, keduanya sedang makan siang. Senyum dan tawa menyelimuti diri mereka sebelum makanan datang, namun tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Sela. "Sela? Wow tidak kusangka, kita akan bertemu kembali tanpa sengaja seperti ini," ucap seseorang terkejut melihat Sela di hadapannya saat ini. "Andri?" Andri Susanto, mantan terindah Sela semasa duduk di sekolah menengah atas, eh tunggu dulu, mantan terindah? Bukankah kalau terindah tidak akan menjadi mantan? Hehe, lagi pula mana ada mantan terindah? Jika terindah pasti sudah menikah, haha. "Syukurlah masih ingat aku." Sela hanya tersenyum canggung saja. "Sama siapa, Sel? Eh bukankah ini Kakak kelas kita dulu, ya?" tanyanya menerka-nerka dengan tingkah songongnya yang membuat Reno memutar bola matanya malas dan muak. "Ya, gue Reno. Kakak kelas kalian sekaligus calon suami Rasela." "Oh baru calon, haha," ledeknya. "Sebentar lagi akan jadi suami." "Baru akan, 'kan? Belum jadi suami? Jadi, gue masih punya kesempatan untuk bersaing bukan?" "Andri!! Apaan, sih, lu! Gak jelas banget! Pergi sono! Jangan ganggu gue lagi! Heran! Masih aja sibuk ngurusin kehidupan gue! Jangan-jangan lu nguntit gue, ya, kesini!" "Nona manis, jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang," godanya menoel dagu Rasela. Reno sudah mengepalkan tangannya, ia marah, kesal, emosi dan terbakar api cemburu. Sela juga merasa kesal dan muak dengan tingkah Andri. Ia bangkit dari duduknya dan seketika langsung menampar Andri. "Plakkk!!" "Lu!!" "Kenapa?! Hah?! Gak terima?!" "Lu! Akan tau akibatnya udah buat gue seperti ini, Sel!!" "Gue tunggu!!" Tantangnya, Sela menarik tangan Reno dan mereka berdua keluar dari rumah makan tersebut tanpa makan siang sedikit pun. Di sepanjang perjalanan, Reno hanya diam tanpa kata membuat Sela bingung harus melakukan apa. Ia ingin sekali berbicara, tetapi setiap kali membuka mulut pasti selalu di urungkan karena melihat wajah Reno yang terlihat seperti sangat menahan amarah. Sela menghembuskan nafasnya kasar, ia tak suka keadaan yang seperti ini tetapi ia juga bingung harus melakukan apa. Reno masih diam saja dan tidak mau bicara. Sela mencoba membiarkan saja terlebih dahulu, pikirnya mungkin Reno lebih baik diberi waktu untuk menenangkan diri, hati dan pikirannya juga. Sesekali Sela melihat ke arah wajah tampan di sampingnya itu, hatinya terasa sesak sekali ketika diacuhkan seperti ini namun ia berusaha tetap tenang. Sela berencana ketika sudah sampai di kantor Reno, ia akan mencoba merayu agar lelaki itu kembali tenang lagi. Flashback off
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD