Diederich bangkit dan melepaskan jubahnya sebelum kembali mengungkung Olevey dengan tubuhnya yang kekar serta terlihat begitu mengagumkan itu. “Sepertinya, aku sama sekali tidak mengulur waktu lagi. Mari kita mulai, kita lihat siapa yang akan kalah dalam permainan gairah ini,” ucap Diederich lalu mencium bibir Olevey yang sama sekali tidak bisa menghindar dan hanya bisa mengerang tertahan. Firasat buruk menghinggapi hati Olevey. Hari ini, Olevey yakin jika dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya sendiri.
Olevey menangis. Bukan karena rasa sakit yang menyerang tubuhnya, melainkan karena pergolakan hati dan benaknya. Otak Olevey meminta untuk menghentikan aksi gila Diederich saat ini. Namun, tubuh Olevey bergerak dengan sendirinya. Olevey mengulurkan kedua kakinya dan memeluk leher Diederich yang masih sibuk mencium bibir lembut Olevey. Kedua kaki lembut Olevey juga tampak melingkar dengan tidak tahu malunya pada pinggang Diederich, seakan-akan enggan untuk membuat Diederich menjauh darinya. Tanpa sadar, bibir dan lidah Olevey juga bergerak berlawanan dengan apa yang ia inginkan. Tentu saja, semua itu terasa sangat tidak masuk akal bagi Olevey.
Namun, ada satu hal yang aneh. Tubuh Olevey tidak menjerit karena kepanasan dan merasa tersiksa seperti sebelumnya. Semua rasa sakit dan panas itu terasa menguap bersamaan dengan sentuhan Diederich yang menyentuh kulitnya. Hanya saja, Olevey tidak bisa terbuai lebih daripada ini. Karena Olevey yakin, situasi ini sama sekali tidak baik baginya. Tentu saja, hal itu sudah dibaca oleh Diederich. Pria itu memilih menarik diri dari Olevey dan saat itulah, Olevey merasakan panas yang menyiksa menyerang sekujur tubuhnya.
Olevey mengerang merasakan panas yang menimbulkan rasa sakit tersebut. Diederich menjauh dan membuat Olevey menatapnya dengan nanar. “Sa-sakit, tolong aku,” pinta Olevey dengan derai air mata. Tanpa sadar, Olevey menggapai-gapai pada Diederich.
Pada dasarnya, sebagai iblis, apalagi sebagai seorang raja, Diederich tidak diciptakan untuk memiliki rasa empati. Namun, sepertinya karena ia sudah memiliki ikatan dengan Olevey, ia sama sekali tidak bisa terdiam menonton melihat Olevey yang merintih kesakitan seperti saat ini. Pada akhirnya, Diederich menerima uluran tangan Olevey. Ia mencium punggung tangan lembut Olevey sebelum kembali mengungkung tubuh Olevey dengan gagahnya. “Aku sama sekali tidak mengatakan omong kosong, Eve. Jika kau terus menolak ikatan yang sudah terjalin ini, kau sendiri yang akan tersiksa. Karena itulah, lebih baik kita memulai apa yang seharusnya kita mulai,” ucap Diederich.
Olevey sadar, jika dirinya memang tidak bisa menang saat melawan rasa sakit ini. Rasanya, lebih baik Olevey tidak sadarkan diri saja. Namun, Olevey tidak bisa jatuh pingsang, apalagi mati. Keduanya sama sekali bukan pilihan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya ini rupanya membuat Olevey terus terjaga dan merasa tersiksa. Benar-benar mengerikan. Olevey menyentuh kedua tangan Diederich dan memohon, “Tolong aku, ta-tapi tolong pikirkan cara lain selain penyatuan.”
Olevey berusaha menepis gelenyar aneh saat dirinya bersentuhan dengan kulit Diederich yang tak kalah panas. Diederich menggeleng. “Tidak bisa. Ini adalah pilihan dan jalan terakhir. Percayalah padaku, Eve. Aku sama sekali tidak berniat untuk melukaimu. Aku, akan membuat rasa sakit ini menghilang,” ucap Diederich menunggu apa yang akan diputuskan oleh Olevey.
Olevey tentu saja merasa bimbang. Namun, Olevey semakin teriksa saja saat merasakan jantungnya mulai terasa sakit. Air mata mengucur deras dari kedua netra indah Olevey. Hal itu membuat Diederich mencium kening Olevey dan berbisik, “Percayalah jika ini adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Diederich dengan penuh kelembutan mulai membuka gaun tidur yang dikenakan oleh Olevey. Gaun tidur itu sudah cukup basah oleh keringat Olevey. Ini sungguh gila, Olevey sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Sebagian dari dirinya menjerit untuk mendorong Diederich menjauh darinya dan menghentikan kegilaan ini. Namun, sebagian yang lainnya merintih dan menginginkan Diederich. Meraung menginginkan sosok Diederich yang mampu membuatnya mabuk.
Tanpa sadar, kini tubuh Olevey dan Diederich benar-benar polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka. Tentu saja, embusan angina malam yang masuk ke dalam kamar, membuat Olevey menggigil. Rasa panas dan rasa dingin yang berbenturan membuat Olevey bergetar karena sensasi yang tentunya tidak pernah dirasakan oleh Olevey. Kedua tangan Olevey terulur dan berusaha menyembunyikan bagian tubuhnya, sedikit banyak kini akal sehat Olevey sudah kembali, walaupun rasa panas di sekujur tubuhnya makin jadi saja. Rona merah merebak di kedua pipi dan leher Olevey hingga membuat Diederich kesulitan mengendalikan sesuatu yang tengah bergerak-gerak meminta untuk segera mendapatkan pelepasan.
Diederich mencium ujung hidung bangir Jolicia lalu berbisik, “Tidak perlu merasa malu. Apa yang kita lakukan ini adalah hal yang sewajarnya. Aku hanya akan melakukan kewajibanku, dan mengambil hakku.”
Olevey menggeleng pelan. “Ti-tidak, kita tidak memiliki hu-hubungan seperti itu,” ucap Olevey kesulitan karena dirinya sendiri masih berusaha untuk mengendalikan tubuhnya yang saat ini berteriak untuk menarik Diederich dan mendekapnya dalam malam yang b*******h.
Diederich mengulurkan tangannya dan menyentuh telinga Olevey hingga membuat Olevey tidak bisa menahan diri untuk mengerang. Olevey membulatkan matanya saat dirinya tidak menyangka mengeluarkan suara erangan yang terdengar memalukan seperti itu. Diederich terlihat begitu gemas dengan tindakan Olevey tersebut lalu tanpa permisi mengulum daun telinga Olevey yang sudah memerah tersebut. Olevey sama sekali tidak bisa menahan erangannya yang meledak begitu saja, pertahanan Olevey runtuh begitu saja.
Tentu saja, Diederich tidak melepaskan kesempatan itu begitu saja. Kedua tangan Diederich segera bergerilya memberikan sentuhan demi sentuhan yang jelas membuat Olevey mabuk kepayang. Olevey sadar, jika ini adalah hal yang salah. Namun, Olevey sama sekali tidak bisa menolak. Lebih tepatnya, tubuhnya menginginkan Diederich. Sangat. Semua rasa yang saat ini melingkupi dirinya, membuat Olevey mau tidak mau merasa frustasi sendiri. Rasa frusatsi yang rasanya hanya bisa menghilang dengan semua sentuhan yang diberikan oleh Diederich.
Lalu tiba-tiba, Olevey merasakan sentuhan yang benar-benar sangat memalukan, tetapi membuat gelenyar aneh yang meledak di sekujur tubuhnya. Olevey tersentak dan melotot penuh kejutan pada Diederich yang saat ini ternyata tengah memberikan sentuhan di bagian paling intim Olevey. Perasaan lembab dan aneh yang baru pertama kali dirasakan oleh Olevey ini, tanpa sadar membuat perut bagian bawahnya menegang, lalu sesuatu di bawah sana berdenyut-denyut hingga mengantarkan gelenyar nikmat yang membuat kepala Olevey berdenyut karena dentuman sensasi baru ini.
Tubuh Olevey melemas, dan saat itulah Diederich menghentikan aksinya. Diederich menarik diri dan mulai memposisikan dirinya. Olevey yang terengah dan tergeletak di tengah ranjang, tidak bisa bergerak sedikit pun. Ia terlalu syok dengan sensasi nikmat yang memeluk sekujur tubuhnya. Diederich menahan kedua kaki Olevey untuk tetap terbuka memberikan akses Diederich menyatukan diri dengan Olevey. Tentu saja, Olevey tidak bisa memberikan penolakan sedikit pun karena tubuhnya memang menjerit untuk mendapatkan Diederich dalam pelukannya.
“Mungkin ini akan terasa mengejutkan dan sakit pada awalnya, tetapi ini hanya benar-benar pada awalnya. Rileks, dan rasa sakit ini akan perlahan menghilang dan digantikan oleh sensasi yang tentu saja tidak pernah kau rasakan sebelumnya,” ucap Diederich lalu mencium kening Olevey yang masih tergeletak lemas.
Namun, tiba-tiba Olevey menjerit penuh kesakitan. Diederich segera memeluk Olevey dan memberikan ciuman yang ia harap bisa membuat Olevey bisa lebih tenang. Namun, Olevey tidak merasakan ketenangan itu. Rasa sakit dan asing yang disebabkan sesuatu yang memasukinya, membuat sekujur tubuh Olevey bergetar merasakan sakit. Jeritan, gigitan dan cakaran menjadi cara bagi Olevey untuk mengekspresikan rasa sakit yang menggerogoti dirinya. Untung saja, kali ini Diederich bertindak sangat sabar dan lembut, berbeda jika dirinya melakukan penyatuan dengan iblis betina yang biasanya menjadi pasangannya di puncak bulan merah.
Karena kesabaran dan kelembutan Diederich tersebut, satu per satu rasa sakit yang menggerogoti Olevey meluruh digantikan dengan sensai kenikmatan yang sebelumnya sudah dibicarakan oleh Diederich pada Olevey. Kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam membuat Olevey mabuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Pada akhirnya, Olevey sudah benar-benar jatuh ke dalam jeratan sang iblis. Tidak ada jalan baginya untuk kembali.