***
"AXEEEEEL!!" teriak Binar saat memasuki apartemen Axel yang seperti kapal pecah. Ruang tengah apartemennya dipenuhi beberapa bungkus snack yang sudah kosong. Botol bekas air minum juga dibiarkan tergelatak begitu saja. Belum lagi sisa makanan yang tercecer dimana-mana.
Binar tak mendapati anak bungsunya itu. Setelah meletakkan makanan untuk Axel di dapur, Binar melangkah menuju kamar Axel. Membuka pintunya dengan kasar.
"Uhuk! Uhuk! Axel! Apa-apaan kamu? Matiin nggak rokoknya?!" Binar menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Bau asap rokok begitu menyengat saat Binar masuk ke dalam kamar Axel. Mendapat teguran seperti itu tak membuat seorang Axel bertindak dan segera mematikan asap rokoknya.
Binar mendengus kasar dan akhirnya memilih bertindak. Ia menghampiri Axel yang kini duduk dibawah, bersandar di sisi tempat tidurnya.
"Matiin!" Binar mengambil paksa rokok dari tangan Axel dan membuangnya ke asbak. Mata Binar seketika mendelik menatap puntung rokok yang ada didalam asbak itu.
Binar menoleh dan menatap Axel sambil mengernyit. Menggeleng pelan lalu beranjak meraih remote AC dan menyalakannya. Menyemprot kamar Axel dengan pewangi ruangan. Setelah itu Binar menutup pintu kamar Axel.
Axel masih saja diam.
"Udah jam berapa? Kamu nggak sekolah?" tanya Binar sambil melangkah kearah tempat tidur Axel, membereskan selimut yang menggulung. Tak ada respon dari Axel membuat Binar menoleh dan menghentikan aktifitasnya.
Ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya. Perasaannya sangat kuat. Binar mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur Axel, sementara Axel masih duduk dibawah.
"Kamu ada masalah, Ax?" tanya Binar lembut.
Axel menghela nafas pelan lalu memutar tubuhnya. Tiba-tiba Axel meletakkan kepalanya dipangkuan Binar. Binar tersenyum dan mengelus rambut hitam Axel.
"Mom," panggil Axel dengan suara pelan.
"Hm,"
Hening. Tangan Binar masih mengelus rambut Axel. Ia sengaja memberikan waktu untuk Axel, untuk menjelaskan semua kekacauan ini.
"Bagaimana caranya menebus kesalahan sama seseorang?"
Kening Binar mengernyit seketika. Ia tersenyum lembut sembari menjawab pertanyaan Axel. "Minta maaf. Itu salah satu hal paling utama!"
"Kalo nggak dimaafin?"
"Mm---ya kamu harus buktikan kalo kamu udah berubah. Kamu nggak akan melakukan kesalahan itu lagi!"
"Kalo sekarang aku melakukan kesalahan itu lagi. Apa aku masih dapet kata maaf darinya?"
Senyum Binar sirna. Ia tau saat ini Axel sedang ada masalah. Entah dengan siapa.
"Darinya? Memangnya dia siapa?"
Axel mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Binar. Ia tak menjawab dan kembali meletakkan kepalanya ke pangkuan Binar.
"Kalo Daddy punya salah sama Mommy, apa Mommy bakalan maafin Daddy?" tanya Axel lagi.
Binar tersenyum lagi, kali ini ia menepuk pundak Axel dengan pelan. "Semua itu tergantung dari kesalahan yang kita buat. Kalau kesalahan itu sangat fatal, mungkin----"
"Mommy nggak akan maafin Daddy?" potong Axel sambil kembali mendongak.
Binar masih saja tersenyum. Ia menggeleng pelan. "Kalau Daddy benar-benar menyesal dan nggak akan ngulangin kesalahannya, buat apa memperpanjang masalah?"
Axel terdiam. Ia kembali meletakkan kepalanya. "Mungkin kesalahanku benar-benar fatal dan nggak bisa dimaafkan!"
"Coba kamu ngomong baik-baik sama dia. Allah saja Maha Pemaaf kenapa kita sebagai makhlukNya tidak bisa saling memaafkan?"
Axel sama sekali tidak puas dengan jawaban dari Binar. Ia benar-benar yakin jika Sisi tak akan memaafkan kesalahannya.
"Butuh bantuan?"
Axel seketika mengangkat kepalanya, menatap Binar yang tengah tersenyum. Ia berdiri dari duduknya dan beralih duduk di sebelah Binar.
"Mommy serius?" tanya Axel dengan nada semangatnya. Binar hanya mengangguk. Axel langsung memeluk Binar dengan senyum mengembang. "Cuman Mommy harapan Ax!"
"Kamu lagi suka sama seseorang?" tebak Binar.
Perlahan Axel melepaskan pelukannya. Ia mengangguk. "Dia masa lalu Ax, Mom!" terangnya lirih. Axel menghela nafas panjang sebelum menceritakan semua masa lalunya bersama Sisi.
Axel yang tau kalau Sisi menyukainya, mencoba memanfaatkan gadis polos itu. Ia sama sekali tidak menyukai Sisi. Sisi si gadis dekil dan polos. Itik buruk rupa yang sangat cerdas di sekolahnya dulu. Itu merupakan satu keuntungan bagi Axel.
Apalagi Sisi adalah gadis yang sangat penurut. Apapun yang Axel katakan selalu Sisi turuti. Di sisi lain, Axel mendapat tantangan untuk memacari cewek paling cerdas di sekolah. Dan gelar itu Sisi yang menyandangnya.
Tapi Axel tak pernah memperlakukan Sisi layaknya seorang kekasih. Axel menyuruh Sisi mengerjakan PRnya, membersihkan apartemennya dan tak jarang Sisi menjadi jongos bagi Axel.
Sisi yang saat itu buta karena cinta, hanya bisa menuruti perintah Axel. Baginya bisa bersama Axel adalah hal terindah dalam hidupnya.
Sampai akhirnya kejadian malam itu menjadi awal dari hilangnya Sisi dari kehidupan Axel.
*Flashback On
"Pake ini!" Axel melempar gaun super mini kearah Sisi. Sisi nenerimanya dengan tangan bergetar.
"Ini---untuk apa Ax?" tanya Sisi ragu.
"Lo pake lah. Lo kira buat pel? Itu baju mahal! Ntar malem ikut gue!"
Sisi tak bisa menolak. Ia melangkah pelan keluar dari kamar Axel sambil memeluk baju mewah pemberian Axel.
***
Sisi tak tau kemana Axel membawanya pergi. Mobil Axel berbelok kesebuah rumah megah dengan berbagai lampu kerlap-kerlip menghiasi setiap sudutnya.
"Turun!" titah Axel dan hanya diangguki oleh Sisi.
Sampai saat ini Axel juga belum menjelaskan kemana mereka pergi. Akhirnya Sisi mulai bersuara.
"Ini rumah siapa, Ax?" tanyanya ragu.
"Temen gue ada party, kita diundang!" jawabnya singkat sambil melangkah masuk, meninggalkan Sisi yang masih berjalan sempoyongan dibelakang. Sepatu wedges yang dipakainya mempersulit langkah Sisi.
"Woi, Bro. Dateng juga lo!" sapa salah seorang cowok sambil merangkul Axel sebentar. "Lo bawa, kan?" tanyanya. Axel hanya mengangguk. "Good job. Gue siapin kamarnya ntar!"
Cowok itu menepuk pundak Axel sebelum pergi meninggalkannya. Ia tersenyum miring saat menatap Sisi dari kejauhan.
Suara hingar bingar membuat Sisi memilih sudut ruangan. Ia benar-benar tidak bisa berada di tempat seperti ini. Akhirnya ia memutuskan mencari Axel. Melangkah pelan sambil menyapukan pandangannya, berharap segera menemukan Axel.
"Mau minum?" tawar Axel tiba-tiba. Sisi menghela nafas lega melihat Axel ada didepannya.
"Ax, aku mau pulang!" rengek Sisi.
Axel melirik jam tangannya lalu kembali menyodorkan minuman itu kearah Sisi. "Minum dulu, gue punya kejutan buat lo!" Axel tersenyum lembut membuat Sisi mengangguk, meraih gelas dari tangan Axel dan meminum isinya hingga habis. Rasa haus membuat ia melakukan itu.
Sisi sedikit mengernyit saat merasakan minuman aneh itu. Axel tak berpikir lama, ia meraih pinggang Sisi dan membawanya pergi dari keramaian.
Axel menggiring langkah Sisi menuju sebuah kamar. Sisi berjalan sempoyongan dan kadang ia meracau. Rupanya efek alkohol itu sangat cepat. Kini Sisi mulai mabuk.
Axel membaringkan tubuh Sisi diatas tempat tidur. Menatap setiap lekuk tubuh Sisi sambil membasahi bibir merahnya. Ia menoleh kearah daun pintu dan melangkah cepat lalu menguncinya.
Kembali menghampiri Sisi yang sepertinya sudah tertidur. Axel melepas jas yang masih membalut tubuhnya. Malam ini ia tidak akan meniduri Sisi, bukan itu tujuannya.
Ia hanya ingin mempermalukan Sisi. Menunjukkan bahwa cewek paling cerdas dan pendiam ini ternyata mempunyai sisi buruk dalam hidupnya. Entah setan mana yang merasuki tubuh Axel malam ini. Tangannya perlahan melepas gaun yang dipakai Sisi hingga menyisakan dua benda yang menutupi dua area intim Sisi.
Axel merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, bersiap mengabadikan moment penting ini. Axel mengambil gambar tubuh polos Sisi sebanyak tiga kali. Dengan begini ia yakin, pihak sekolah akan mengeluarkan Sisi. Tak ada lagi siswa tercerdas dan tak ada lagi murid kesayangan para guru di sekolahnya.
*Flashback Off
"Kesalahan yang sangat fatal, Ax!" ucap Binar saat Axel mengakhiri ceritanya. Axel tak menjawab, ia lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju jendela kamarnya. "Mommy nggak percaya kamu bisa lakuin hal itu!"
"Maafin Ax, Mom---"
"Minta maaf sama Sisi, bukan sama Mommy, Ax! Ah--mungkin Sisi nggak akan pernah maafin kamu!"
Axel menundukkan wajahnya, menelan saliva dengan pelan. "Tapi Ax mencintainya, Mom---"
"Sejak kapan?" potong Binar cepat. "Sejak kamu kehilangan dia?"
Axel mengangguk. "Ax sangat menyesal. Dan selama itu Ax selalu kepikiran Sisi. Selalu berdoa bisa bertemu lagi sama Sisi. Ax ingin menebus semua kesalahan Ax dimasa lalu!"
Binar menarik nafas panjang dan membuangnya dengan pelan. Bagaimanapun juga Axel adalah anaknya. Kesalahan yang Axel lakukan memang benar-benar fatal. Binar ingat, dulu ia juga melakukan kesalahan fatal. Yang membuat ia hampir kehilangan Arlan.
Binar bangkit dan berjalan menghampiri Axel. Menyentuh pundaknya dan menggosoknya pelan.
"Mommy janji. Mommy bakalan bantuin kamu selesaiin masalah ini!"
Mungkin ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimanapun juga Binar tidak bisa melihat Axel hidup dibayangi rasa bersalah.
***
Surabaya, 18 Mei 2018
*ayastoria