***
"Lo kalo mau jadi cewek nakal jangan main kesana, gue punya cara biar bisa jadi cewek malam seperti yang lo harapkan!"
Sisi mengernyit bingung mendengar ucapan Axel. Tapi ia sedikit takut, kata-kata Axel terdengar ambigu sekali. Apalagi Axel mengatakannya sambil tersenyum miring.
"Maksud lo apa, Ax?" Sisi angkat bicara lagi.
Axel tak menjawab tapi ia membelokkan setir kemudinya, berlawanan arah dengan rumah Sisi.
"Kita mau kemana, Ax?" tanya Sisi bingung saat Axel memutar setir kemudi dan langsung menambah laju mobilnya.
"Lo pengen jadi cewek nakal, kan?" tanya Axel balik. "Gue kasih tau caranya!"
Sisi benar-benar tak mengerti maksud Axel. Apa mungkin Axel akan berbuat jahat kepadanya? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk dalam benak Sisi.
Deru mobil Axel menggeram membelah jalanan Surabaya yang masih ramai malam ini. Jam digital di dashboard mobil menunjukkan angka 22.50.
Sisi melepaskan pandangannya kearah luar kaca mobil. Ia tak tau ini daerah mana, diluar tampak begitu ramai dan banyak sekali wanita-wanita dengan pakaian minim sedang berdiri berjajar diteras depan rumah.
Apa yang mereka lakukan?
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Axel menghentikan mobilnya dan menoleh menatap Sisi yang tampak kebingungan.
"Sekarang lo turun!" titahnya singkat.
"Turun? Tapi ini dimana, Ax?"
"Turun aja dan lo bakalan tau jawabannya!"
Sisi tak menjawab lagi dan perlahan melepas seatbeltnya lalu turun dari mobil Axel. Axel tersenyum miring saat mengetahui ternyata Sisi masih menuruti ucapannya.
Sisi menoleh kekanan dan kiri, mengamati sekitarnya. Banyak sekali wanita-wanita dengan pakaian minim, sama seperti dirinya. Make-up tebal dan ada beberapa yang sedang memegang rokok. Sisi terus mengamati tingkah polah wanita disekitarnya.
"Mas, aku tahan 2 jam loh, Mas. Murah meriah, Mas!"
"Mas, aku nerima keluar didalem loh, Mas!"
Sisi meringis ngeri mendengar wanita-wanita itu mempromosikan dirinya sendiri. Dan kini Sisi tau, dimana ia sekarang berada.
"Halo cantik. Sendirian aja, Neng?" sapa seorang laki-laki dengan tubuh kekar dan lengan berototnya. Ujung telunjuknya menoel dagu runcing Sisi.
Sisi langsung menepisnya dengan kasar. "Apaan sih lo? Nggak usah pegang-pegang!" sentak Sisi.
"Lo baru ya disini? Udah dapet training belum? Sama gue aja yuk. Gue training pake cara halus!" rayu laki-laki itu sambil mencoba menyentuh anggota tubuh Sisi tapi Sisi lagi-lagi menepisnya.
"Jangan sentuh gue!" teriak Sisi.
"Nggak perlu jual mahal gitu donk, cantik. Lo habis dipake orang kan? Sini, gue servis ulang----"
"JANGAN SENTUH GUE!" Sisi mendorong d**a laki-laki itu dengan kedua tangannya.
Laki-laki kekar itu sempat terhuyung kebelakang. Ia tersenyum tipis mendapat penolakan dari Sisi. Ia kembali maju dan masih saja menggoda Sisi. Melayangkan tatapan liarnya ke sekujur tubuh Sisi dan pandangan matanya berhenti di paha mulus Sisi. Ia membasahi bibirnya sendiri sambil tersenyum nakal.
"Jadi istri gue aja mau nggak? Daripada lo jual diri disini, sayang sama body lo yang----ckckckck. Seksi abis!" Laki-laki itu tergelak setelah mengatakan hal itu membuat Sisi ingin berlari saja.
Matanya berkaca-kaca lalu tanpa bisa ditahan butiran bening itu mengalir dari kedua mata indahnya.
Axel yang sedari tadi menatap Sisi dari kejauhan akhirnya keluar juga dari mobilnya. Ia tak bisa tinggal diam melihat Sisi dirayu laki-laki hidung belang diluaran sana. Dengan langkah cepat ia menghampiri laki-laki itu.
"Jangan ganggu dia. Dia milik gue!" ucap Axel dingin. Laki-laki bertubuh kekar itu menoleh dan tersenyum miring menatap Axel.
"Lo siapanya dia? Bodyguard?"
"Gue cowoknya!"
Laki-laki itu terkekeh pelan lalu mendekati Sisi. "Lo ceweknya dia?" tanya laki-laki itu setengah berbisik sambil melirik menatap Axel. "Kalo emang bener dia cowok lo, nggak mungkin dia rela ngejual lo disini!"
Perkataan laki-laki itu terdengar begitu menyakitkan hingga airmata Sisi semakin tumpah. Ia hanya menunduk dan tak bersuara sedikitpun.
"Sialan!!" umpat Axel dan seketika ia melayangkan tinjuannya.
Laki-laki itu tersungkur ke tanah bersamaan dengan teriakan wanita-wanita disekitar mereka. Sisi sudah tidak kuat lagi melihat semuanya. Ia berlari meninggalkan kedua orang itu dan masuk kedalam mobil Axel. Tak ada pilihan lain, hanya mobil Axel tempat paling aman untuk saat ini.
Axel merogoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dan melemparnya kearah laki-laki itu. Tanpa berkata lagi Axel pergi dan menyusul Sisi yang saat ini berada didalam mobilnya.
Sebelum menjalankan mobilnya, Axel sempat menatap Sisi sebentar. Hatinya terasa sakit melihat Sisi diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain.
***
Mobil Axel menepi dan berhenti di depan rumah Sisi. Sisi masih saja terdiam. Tangan kiri Axel perlahan terulur hendak menyentuh kepala Sisi, tapi tindakan Sisi lebih cepat. Dengan kasar Sisi menepis tangan Axel.
"Don't touch me. NEVER!" desisnya lalu turun dari mobil Axel.
"Sisi. Tunggu!" Axel menyusul langkah Sisi dan mencekal lengan gadis itu. "Maafin gu----"
PLAK!
Airmata Sisi terus berderai. Nafasnya memburu. Tangan kanannya mengepal kuat dan terasa panas setelah menampar pipi kiri Axel.
"Telinga lo ditaroh mana, Ax? Lo nggak denger gue tadi ngomong apa? JANGAN.SENTUH.GUE!"
Axel tak menghiraukan panas yang menjalar di area pipinya. Ia harus menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Si, dengerin gue dulu---"
"CUKUP!!" teriak Sisi. Dengan gerakan kasar ia menyeka kedua pipinya dengan punggung tangannya. "Apa maksud lo ngelakuin hal tadi, hm?"
Axel menggeleng dan ia akan menjawab ucapan Sisi tapi Sisi memotong kalimatnya lagi. "Gue minta maaf----"
"Minta maaf?" potong Sisi sambil terkekeh pelan. "Lo kira dengan minta maaf semuanya kelar? Lo lupa sama apa yang lo lakuin ke gue dulu? Gue lo jadiin bahan taruhan ke temen-temen lo. Lo promosiin gue ke temen-temen lo. Lo kira gue barang obralan? Lo mana pernah mikirin perasaan gue, Ax?"
Axel tak menjawab tapi matanya menatap wajah Sisi dengan pandangan sendu.
"Bahkan lo rela----NGEJUAL FOTO TELANJANG GUE KE TEMEN-TEMEN LO. DIMANA HATI NURANI LO SAAT ITU, AX?" teriak Sisi. "Dan malam ini, lo ngejual tubuh gue ke mereka---ke cowok hidung belang!"
Axel mengeleng kuat. "Nggak, Si. Bukan itu maksud gue,"
"Lo nggak berubah, Ax!" lirih Sisi. "Lo nggak akan pernah bisa berubah!"
Axel menggeleng lagi. Kali ini ia berhasil mencekal lengan Sisi walaupun Sisi terus berontak tapi Axel tidak melepasnya. "Gue cuman becanda, Si. Gue nggak mungkin serius lakuin hal itu---"
"Becandaan lo bikin gue pengen pergi jauh dari kehidupan lo lagi, Ax!" sahut Sisi cepat.
"Please, Si. Maafin gue. Gue bener-bener nggak ada maksud lakuin hal kayak gitu sama lo. Gue nggak suka aja liat lo berubah kayak gini!"
Sisi terkekeh sambil menatap sinis wajah Axel. "Lo nggak bisa belajar dari kesalahan masa lalu, Ax. Lo tetep Axel yang dulu. Egois, pemaksa dan nggak punya hati!"
Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman tangan Axel, Sisi berlari meninggalkan laki-laki itu. Ia menutup pintu rumahnya dengan keras dan langsung menguncinya. Tubuhnya merosot ke lantai dan tangisnya pecah.
Hati Axel rasanya teriris mendengar tangisan Sisi yang begitu pilu. Ia hanya bisa berdiri diluar pintu. Meratapi kebodohannya yang membuat Sisi semakin jauh darinya.
***
Surabaya, 17 Mei 2018
*ayastoria