DELAPAN

1386 Words
*** Sisi masuk kedalam rumah dengan nafas memburu. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu rumahnya. Sebelumnya ia mengunci pintu itu dari dalam. Sisi merenung. Sejak Axel datang lagi kedalam hidupnya, sejak saat itu Sisi mulai tidak tenang. Ia juga tak tau kenapa Axel mendekatinya lagi. Apa laki-laki itu belum puas membuat hidupnya menderita? Suara ketukan pintu membuat tubuh Sisi berjengkit kaget. "Aduh. Ini pasti Axel. Ngapain sih dia ngintilin gue mulu?" gumam Sisi. Ia masih bersandar di daun pintu itu. "Sisi! Sisi! Lo nggak ada di rumah ya?" Mata Sisi membulat saat mendengar suara itu. "Dipta!" pekiknya girang dan langsung memutar tubuhnya, membuka pintunya dengan gerakan cepat. "Dipta?" Entah sadar atau tidak, Sisi langsung memeluk Dipta yang kini berdiri diluar pintu. "Si?" "Gue seneng banget lo dateng kesini!!" seru Sisi. Senyum Dipta merekah. Perlahan tangannya mengusap punggung Sisi. Beberapa detik kemudian Sisi melepas pelukannya dan menarik Dipta masuk ke dalam rumah. Dipta menurut saja waktu Sisi membawanya duduk di sofa ruang tamu, duduk bersebelahan. "Kelas sepi nggak ada lo!" ucap Dipta sambil menatap wajah Sisi yang dihiasi senyuman. "Iyalah. Lo pasti kesepian kan nggak ada gue?" timpal Sisi dengan pedenya. "Habisnya lo ngangenin, sih!" sahut Dipta sambil menarik pipi gembil Sisi. Sisi refleks mengusap pipinya. "Sakit anjir. Eh mau minum apa lo?" "Nggak usah," jawab Dipta sambil menggeleng. "Jalan, yuk. Cari makan!" "Siang-siang gini?" seru Sisi. Dipta hanya mengangguk. Sisi sempat berpikir sejenak. Mungkin tidak ada salahnya menerima ajakan Dipta. Apalagi ia juga belum sempat makan dan Sisi juga sedikit jenuh seharian berada di rumah. "Oke. Gue prepare bentar!" pamitnya dan langsung bergegas masuk kedalam kamar. *** Axel mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terpaksa kembali ke apartemennya setelah Sisi meninggalkannya begitu saja. Padahal hari ini ia berjanji akan membawa Sisi untuk menemui Binar. Setelah lama berpikir, Axel memutuskan untuk kerumah Sisi. Kembali menjemput Sisi. Hanya Sisi yang bisa menolongnya. Sementara di lain tempat, Sisi dan Dipta tampak sedang menikmati makan siang mereka. "Jumat besok kita udah mulai, Si!" ucap Dipta sesaat setelah menghabiskan minumnya. Sisi mengangguk sekali. "Ada perubahan rencana lagi nggak?" "Nggak ada sih. Nggak ada perubahan sama hasil rapat kemarin. Tinggal cetak trus tempel di mading." Sisi mengangguk lagi. "Setelah ini kita kemana lagi?" "Pulang aja ya, capek banget gue!" "Ntar malem cabut, yuk!" Sisi terdiam sejenak lalu memasukkan potongan terakhir steaknya. "Boleh. Boring juga gue 3 hari ngeram di rumah!" "Yuk, gue anter pulang!" ajak Dipta saat Sisi sudah selesai dengan makan siangnya. *** Mobil Dipta melaju pelan membelah jalanan kota Surabaya yang lengang. Sisi mulai sibuk dengan ponsel birunya. Sesekali ia tertawa saat menatap layar smartphonenya. Sementara Dipta memilih fokus menyetir walau sekali-sekali Dipta sempat melirik, memperhatikan senyum Sisi. Selang 20 menit mobil Dipta berhenti di depan rumah Sisi. Arah pandang mereka langsung jatuh pada sebuah motor sport merah yang terparkir di depan rumah Sisi. "Rumah lo kedatangan tamu, Si?" seru Dipta lirih. Sisi tak menjawab tapi ia berpikir kira-kira siapa yang datang. Dipta bergegas melepas sabuk pengamannya tapi pergerakannya ditahan oleh Sisi. "Lo balik aja nggak apa-apa, Dip!" "Tapi gue harus mastiin dulu dia siapa---" "Dip, gue bisa atasin sendiri. Okey?" Sisi mencoba meyakinkan dan Dipta hanya mengangguk pelan walau sebenarnya ia ingin sekali memastikan siapa yang datang kerumah Sisi. "Thanks ya, Dip. Ati-ati dijalan!" seru Sisi saat turun dari mobil Dipta. Sisi memilih menunggu Dipta pergi baru setelah itu ia masuk kerumahnya. Langkah Sisi tampak terburu-buru dan ia mendengus kasar saat mendapati Axel sedang berdiri bersandar di daun pintu rumahnya. "Mau ngapain lagi?" seru Sisi dengan nada ketus dan melewati Axel begitu saja, masuk ke dalam rumah. Tapi langkah Sisi terhenti saat Axel mencekal lengannya. "Darimana aja lo sama dia?" tanya Axel dengan nada dinginnya. Sisi menelan salivanya pelan dan melirik kearah pergelangan tangannya. "Apa urusan lo? Lepasin!" Sisi meronta tapi tak membuat tangannya terlepas dari cengkraman tangan Axel. "Udah gue bilang kan sama lo, hari ini lo ikut gue pulang---" "Ogah. Gue udah bilang kan sama lo. Gue nggak mau lagi berurusan sama lo. Pergi jauh-jauh dari hidup gue---AAAWSSSH!!" Tiba-tiba Axel menarik tangan Sisi, membuat tubuh Sisi terhuyung dan hampir saja menubruk d**a Axel. Axel lalu mendorong tubuh Sisi hingga punggung Sisi menempel sepenuhnya pada dinding rumahnya. "Ax---" "Apa yang harus gue lakuin biar lo percaya kalo gue udah berubah, Si. Gue nyesel, gue pengen memperbaiki kesalahan gue?" "Caranya gampang. Lo pergi jauh dari hidup gue dan jangan pernah kembali!" Axel menatap bolamata hazel itu dengan penuh emosi. Rahangnya mengatup rapat dan nafasnya terlihat naik turun. Axel kemudian menggeleng pelan. "Gue nggak mungkin bisa lakuin itu---" "Kenapa nggak bisa?" potong Sisi. "Lo bisa, Ax. Dulu aja lo bisa nindas gue, lo bisa mainin perasaan gue yang tulus sama lo, lo bisa seenaknya sama gue, lo bisa jadiin gue bahan taruhan sama temen-temen lo dan lo bisa ninggalin gue gitu aja setelah apa yang lo lakuin ke gue. Kenapa sekarang nggak bisa?" "Oke. Oke. Gue salah. Gue minta maaf. Gue akan perbaiki kesalahan gue dan akan mencintai lo---" "Sayangnya, semuanya udah terlambat Ax," Sisi terkekeh pelan lalu menepis tangan Axel yang bertengger dipundaknya. "Lo ada dimana saat gue butuhin lo? Lo kemana saat gue terpuruk karena bullyan temen-temen lo? Lo sama siapa saat gue sendirian?" "Saat itu lo pergi gitu aja, Si!" nada bicara Axel sedikit menurun. Ia teringat saat kepergian Sisi waktu itu. Sisi yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Tak ada seorangpun yang tau keberadaannya. "Kalopun gue kasih tau, apa lo bakalan peduli? Apa lo bakalan jadi Malaikat penolong buat gue? Nyokap gue sekarat dan semua rumah sakit menolaknya hanya karena gue nggak bisa bayar, hanya karena gue orang nggak mampu. Lo ada dimana saat itu, Ax?" Axel terdiam sambil menelan salivanya pelan. Hatinya sangat teriris melihat luka yang terpancar dari mata Sisi. Airmata itu jatuh berderai dan Axel tidak bisa berbuat apa-apa. "Saat itu, yang gue butuhin lo, Ax. Tapi--tapi gue salah berharap sama lo. Yang emang dari awal nggak ada rasa sama gue. Nggak ada rasa empati sama gue. Sejak saat itu, gue bersumpah. Nggak ada seorangpun yang bisa menghina gue lagi. Gue bersumpah nggak akan pernah maafin orang-orang yang udah nyakitin gue, TERMASUK LO AXEL!!" Axel memejamkan matanya sebentar saat Sisi berteriak di depan wajahnya. Sisi langsung masuk ke dalam, meninggalkan Axel yang terpaku di tempatnya. Satu fakta yang baru saja ia ketahui, kepergian Sisi waktu itu karena orangtuanya. Orangtuanya sekarat dan ia tak bisa berbuat apa-apa. *** Axel menghisap batang nikotinya dan menghembuskan asapnya ke udara. Ia terkekeh kecil saat menatap tubuh mungil Sisi yang dibalut dengan gaun super mini. Sisi tampak berlenggak-lenggok ria di dance floor. Ia sengaja mengikuti Sisi kemanapun gadis itu pergi. Apalagi Axel tau, Sisi pergi dengan Dipta. Axel tak akan membiarkan Sisi pergi berdua dengan Dipta. Axel masih setia mengawasi Sisi dari kejauhan sambil terus menghisap rokoknya. Sedetik kemudian Axel membalikkan badannya saat Sisi dan Dipta menyudahi aktifitasnya. Senyum Sisi melebar dan langkah kaki mereka menuju meja bartender. Sisi dan Dipta mengambil duduk bersebelahan menghadap meja bartender dengan posisi Dipta bersebelahan dengan Axel sementara Sisi ada diseberang Dipta. Mereka berdua rupanya belum menyadari kehadiran Axel. "Wine!" Dipta mengucapkannya sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Setelah minuman itu datang, Dipta dan Sisi langsung menyambarnya. Axel hanya melirik kearah Sisi sambil mengepulkan asap rokoknya. Gadis polosnya telah berubah. Sisi dengan santainya menghabiskan minuman itu dan lebih parahnya seorang bartender kembali menuangkan minuman itu kedalam gelas Sisi. "Gue ke toilet bentar!" pamit Dipta dan hanya diangguki oleh Sisi. Kesempatan ini tak akan dilewatkan oleh Axel. Axel mematikan rokoknya dan beranjak dari tempat duduknya, mendekati Sisi dan langsung menarik tubuh Sisi keluar dari tempat ramai ini. "Udah cukup, Si!" ucap Axel tegas saat Sisi akan berontak. Sisi masih sadar dan tau siapa yang menyeretnya keluar dari tempat ini tapi ia seperti kehilangan nyali saat mendengar nada Axel yang begitu dingin. Sisi pasrah saja saat Axel memaksanya masuk kedalam mobil dan duduk di jok penumpang sementara Axel duduk dibalik kemudi. "Ngapain lo ngintilin gue?" tanya Sisi pelan. "NGAPAIN LO KE KLUB MALEM? MAU JADI APA LO?" teriak Axel sambil memukul setir kemudinya. Sisi mengerjapkan matanya sebentar mendengar teriakan Axel. Ia tak pernah melihat Axel semarah ini. "Apa salahnya? Gue nakal nggak bawa-bawa nama lo kan?" jawab Sisi santai. "Lo kalo mau jadi cewek nakal jangan main kesana, gue punya cara biar bisa jadi cewek malam seperti yang lo harapkan!" *** Surabaya, 16 Mei 2018 *ayastoria
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD