16. Terjebak Cinta Musuh

1103 Words
Alea sedang duduk di bangku penonton bersama Hana. Mereka berdua menyemangati pujaan hati masing-masing. Kebanyakan supporter adalah cewek remaja yang mengidolakan para pemain. Seluruh gedung bergemuruh penuh dengan suara jeritan dan tepuk tangan saat para pemain yang mulai masuk ke tengah lapangan. Alea bisa melihat Anggara yang melambaikan tangan pada semua penonton, wajah pemuda itu sangat tampan dan tubuhnya yang tinggi jangkung membuat Anggara terlihat sangat keren. Apalagi Anggara terlihat menonjol karena di lengannya memakai tanda sebagai kapten di tim. Alea tidak mengira jika Anggara juga terkenal di sekolah lain. Banyak sekali cewek-cewek yang histeris menyebut namanya. Alea yakin jika saingannya pasti banyak sekali. Pertandingan masih belum dimulai, semua pemain sedang melakukan pemanasan. Anggara yang melihat Alea langsung menghampirinya. Semua mata penggemar Anggara tertuju pada Alea, mereka merasa iri padanya karena mendapat perhatian dari Anggara. "Baik-baik di sini ya?" kata Anggara lembut. Pemuda itu mengusap rambut Alea mesra. Alea hanya tersenyum malu diperlakukan manis seperti ini. Anggara kembali ke lapangan lagi, dia juga memberikan ciuman jarak jauh. Seketika jantung Alea berdetak kencang dan hatinya melambung tinggi. Tanpa disadari ada tiga pasang mata yang melotot tajam pada Alea, mereka adalah Tiwi, Puri dan Caca. Ketiga gadis tersebut juga teman sekolah Alea, tetapi mereka berada di kelas Anggara. "Cie, ada yang sedang mabuk asmara nie," sindir Hana. "Sudah, jangan menggodaku lagi. Ayo kita lihat pertandingannya sudah hampir mulai," kata Alea tak ingin ketinggalan. Dalam menit pertama Tim Anggara sudah unggul, apalagi Anggara sebagai kapten bisa memimpin timnya bermain kompak. Gerakan pemuda itu sangat lincah. Alea diam-diam semakin mengaguminya. "Bangga sekali andaikan dia jadi pacarku. Tapi apakah mungkin? Karena banyak juga wanita yang menggemarinya. Aku tidak boleh menyerah, aku harus percaya diri karena aku tidak sama seperti dulu," batin Alea. Tepat jam tujuh malam pertandingan usai dan dimenangkan oleh tim Anggara. Alea dan Hana sampai loncat-loncat saking senangnya. Mereka berdua berlarian turun ke lapangan mengucapkan selamat. Hana tanpa malu langsung memeluk Zaky meskipun cowoknya berkeringat. Sedangkan Alea hanya berdiri tersipu malu. "Alea, terimakasih sudah mendukungku ya?Sekarang kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan ganti baju dulu," ucap Anggara kemudian berlalu pergi. Hana juga menggandeng pacarnya dan melambaikan tangan pada Alea. "Aku pergi duluan ya? Semoga sukses," pamit Hana tersenyum cerah. Alea mengangguk, dia tahu jika sahabatnya ingin memberikan kesempatan padanya untuk berduaan dengan Anggara. Tetapi Alea merasa ada yang janggal dengan tatapan Zaky. "Kenapa? Kenapa dia melihatku seperti itu?" batin Alea yang merasa Zaky marah. Alea masih setia menanti Anggara, sudah sepuluh menit dia menunggu tapi Anggara belum muncul juga. Kemudian secara tiba-tiba ada yang mendorongnya dari belakang. Alea terjatuh dan kedua lututnya sampai lecet. "Wah hebat kau! yang dulunya cewek cupu sekarang berani jalan dengan Anggara," bentak Puri. Alea tahu, jika Puri adalah salah satu cewek yang naksir sama Anggara. Aleahanya diam saja dan mencoba berdiri. Karena jika melawan mana mungkin sebanding, karena Puri membawa dua temannya. "Kalian tahu nggak? Dia bisa berubah drastis karena sekarang dia jadi biduan," timpal Caca. "Kamu serius? Pantesan dia sekarang tampilannya beda banget. Dia kan bisa mendapat banyak uang dari om-om hidung belang," balas Tiwi. "Kamu harusnya sadar diri, meskipun kamu sudah berubah cantik tapi kamu tak lebih dari w************n, jika kamu dekat-dekat dengan Anggara kamu bisa mencoreng nama baik keluarganya," bentak Puri meluapkan emosinya. Gadis itu sangat tidak rela kalau sampai Anggara jatuh ketangan Alea yang statusnya lebih rendah darinya. Puri adalah anak kepala sekolah yang sudah mengejar Anggara sejak SMP. Alea sadar diri, jika yang mereka katakan memang benar. Dia hanya diam menahan luka di kakinya juga sakit di hatinya. Anggara datang sambil berlarian, pemuda itu sudah berganti baju dan rambutnya basah karena habis mandi agar tampil segar dan bebas keringat saat didekat Alea. Anggara sangat terkejut melihat Alea yang matanya memerah, lututnya juga lecet dan berdarah. "Apa yang kalian lakukan pada Alea?" teriak Anggara tak terima cewek yang disukainya kesakitan. "Tadi aku tak sengaja menabraknya," jawab Puri gugup. Namun Anggara tak semudah itu mempercayainya. Pemuda itu sudah tahu sifat buruk Puri yang dari dulu selalu menindas para cewek yang mendekatinya. Dulu Anggara hanya diam saja dan tetap memperlakukan Puri dengan baik. Tetapi kini keadaanya berbeda, Alea adalah seseorang yang berarti baginya. "Aku tak sebodoh yang kamu kira, mulai sekarang jika kamu berani menyakiti Alea aku takkan segan untuk membalasmu," ancam Anggara. Pemuda itu memapah Alea yang berjalan menahan sakit. Puri semakin marah, gadis itu merasa harga dirinya diinjak-injak. Baru kali melihat Anggara membentaknya bahkan mengancam hanya untuk melindungi Alea gadis murahan. ******************************* Di parkiran lutut Alea yang lecet disiram air oleh Anggara, kemudian setelah dikeringkan diberi obat dan diperban. "Maafkan aku, tadi aku kelamaan mandinya," bujuk Anggara menyesal. "Tidak apa-apa. Eh kenapa di mobil kamu bisa ada obat banyak?" tanya Alexa penasaran. "Namanya juga anak cowok, hobinya main yang extrim-extrim. Jadi sejak Mama sering meletakkan obat-obat ini di mobil," jawab Anggara. Alea hanya tersenyum bahagia. "Maafkan aku, gara-gara kecerobohanku sampai membuat kamu terluka," ucap Anggara masih merasa bersalah. "Tidak apa-apa. Aku saja yang tidak tahu diri, mungkin mereka benar jika aku tidak pantas berjalan denganmu," jawab Alea sedih. "Tak perduli apa yang dikatakan mereka, aku hanya menyukaimu," balas Anggara tersenyum sambil mengacak rambut Alea. Kemudian Anggara menjalankan mobilnya. Seketika Alea wajahnya memanas, jantungnya berdetak lebih kencang. "Menyukaiku? Iya barusan dia bilang menyukaiku.Tapi kenapa dia tidak bertanya bagaimana dengan perasaanku? Bukankah kalau menembak kemudian meminta jawaban kan? Apa perkataannya barusan hanya sekedar menghibur saja supaya aku tidak merasa bersedih?" batin Alea bimbang. Alea tak tahu apa maksud Anggara. Tapi dia sedikit kecewa, merasa jika Anggara tak sungguh-sungguh dengan perasaannya. Sesungguhnya Anggara sendiri merasa menyesal karena keceplosan. Pemuda itu ingin menembak Alea dengan cara yang romantis bukan di saat yang seperti ini. "Alea masih ada waktu, bagaimana kalau kita makan dulu?" Anggara melirik ke Alea yang melamun. "Iya, tapi setelah kita makan langsung antarkan aku pulang ya?" jawab Alea. Anggara mengajak Alea masuk ke mobil, setelah menemukan restoran yang cocok mereka turun lagi. "Alea, makanannya sudah datang. Ayo dimakan!" kata Anggara membuyarkan lamunannya Alea. "Anggara, aku mau jujur padamu. Sebenarnya aku setiap malam bekerja sebagai biduan, Apakah kamu masih mau berteman denganku?" Alea sedikit bimbang, tetapi dia memberanikan diri supaya tidak menyesal akhirnya. "Iya tidak apa-apa. Asalkan kamu bisa menjaga diri baik-baik. Menjadi biduan bukanlah pekerjaan yang hina, menyanyi juga termasuk seni," jawab Anggara. Alea merasa lega dengan jawaban Anggara. Dia bisa menikmati makanannya dengan ceria, selesai makan mereka berdua memutuskan pulang. Karena Alea jam delapan harus segera ke lokasi panggung. "Bolehkah aku mengantar? Aku juga penasaran dengan penampilanmu," pinta Anggara. "Iya nggak papa, tapi kita jemput ibu dulu ya?" ucap Alea. Alea lega sebab Anggara tidak mempermasalahkan mengenai profesinya. Dan tidak bertanya kenapa bekerja sebagai Biduan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD