Setelah menunggu cukup lama, pelayanan yang baru Arten datang sembari membawakan bubur yang tadi dimintanya.
"Maaf lama, tadi beras habis jadi beli dulu. Soalnya Tuan Arten juga jarang makan nasi. "
"Iya, Terima kasih banyak. Jangan terlalu hormat begitu, aku di sini juga pelayanan. Lagian aku lebih muda seharusnya aku yang menghormati, " ucap Aluna.
"Pelayan?" pekik pelayan tersebut seolah tidak percaya.
"Iya, pelayan. Jadi panggil Aluna saja, bibik yang satunya kemana kok tidak ada? " tanya Aluna ramah.
"Oh… Dia sudah berhenti bekerja. Sudah tua juga makanya pengsiun. Oh iya nama aku Shasa. Jadi kamu pelayan pribadi Tuan Arten? Soalnya kamu tampak istimewa baginya. Selama ini belum ada wanita yang mendapat perlakuan baik, " bisik Shasa.
"Jadi menurut kamu aku ini sudah termasuk mendapat perlakuan baik? Memangnya wanita sebelumnya bagaimana? " tanya Aluna penasaran.
"Tuan Arten pemarah, memaksakan kehendak, kalau sudah menginginkan sesuatu pasti tidak ada yang bisa menolak. Dan yang jelas lagi kalau sudah membuat Tuan Arten marah, tidak akan pernah berakhir baik. Kamu malah masih diselamatkan dia, bahkan dipanggilkan dokter. "
"Aku juga tidak tahu, tetapi dibalik kebaikan dia aku malah merasa takut. Aku sangat takut sekali padanya, " rengek Aluna.
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu? " tanya Shasa penasaran.
"Hal terburuk yang pernah aku alami, rasa malu, penghinaan, kekasaran dan juga sesuatu yang membuat aku sampai tidak bisa tidur nyenyak, " jawab Aluna merinding.
"Oh ya ampun, buburnya hampir dingin. Ayo makan dulu. Harus jaga kesehatan baik - baik. Karena pasti Tuan Arten meminta kamu melakukan sesuatu yang berat. Kalau begitu aku permisi dulu. "
Aluna memandang kepergian Shasa, seorang pelayan tetapi memiliki bentuk tubuh ideal dan juga berotot.
"Mungkin dia tipe pekerja keras, sehingga membuat tubuhnya menjadi seperti olahragawan. Apalagi kerja bersama Arten memang berat, " gumam Aluna.
Aluna mulai memandang buburnya, sebenarnya dia sudah kelaparan. Dia pun segera menyantap makanan tersebut dengan senang hati. Walaupun di lidah terasa tidak enak tetapi karena perut sudah melilit sakit dia memaksakan diri.
Berkali - kali Aluna merasa mual, tetapi dua mencoba menahannya.
"Rasa ini sangat menyiksa, sepertinya aku emang sakit," batin Aluna.
**********************
Arten memandang layar CCTV sambil tersenyum, dari jawaban Aluna dia tahu jika Aluna dulunya benar - benar hidup bahagia dan mudah bak Tuan Puteri.
"Padahal aku belum memulai apa - apa dia sudah merasa begitu. Bagaimana bila aku siksa di di ranjang sampai aku puas? Mungkin dia bisa bunuh diri, " batin Arten dengan segurat senyuman tipis.
Akan tetapi saat melihat Aluna tampak mual dan terus memegang perut membuat dirinya heran.
"Kenapa dia mual? Apa dia mulai? Apa dia sudah melakukan nya dengan Januari? "
Arten bangkit dan langsung menuju kamar Aluna.
Brak...
Saking tak sabarnya Arten menendang pintu Aluna dengan kasar.
"Kenapa kamu memgangi pertumbuhan terus? Kamu mual karena hamil? " tanya Arten yang tidak suka basa - basi.
"Tidak mungkin aku hamil, aku ini masih perawan. Aku mual karena lambungku sakit, " jawab Aluna.
"Aku tidak percaya, beberapa hari kamu mengunap di rumah Januar pasti kalian sudah melakukan sesuatu, " balas Arten penuh amarah.
"Sumpah, aku tidak melakukan itu padanya. Lagian Januar lelaki sopan mana mungkin dia berani begitu padaku, " pekik Aluna membela diri.
"Kalau begitu aku harus memeriksa sendiri, " balas Arten.
Saking terkejutnya Aluna kehilangan kendali dan melepaskan mangkok dari tangannya tanpa sengaja. Dia segera sangat takut ketika Arten mendekatinya.
"Jangan... Jangan... "
Tetapi Arten tidak peduli, dengan sekuat tenaga pemuda itu mendorong tubuh Aluna sampai terbaring. Dengan jemarinya dia benar - benar langsung mengecek apakah Aluna masih perawan atau tidak.
"Ah... Arten kamu gila! " teriak Aluna kesakitan.
Arten tersenyum puas, kelinci peliharannya benar - benar masih suci
"Bagaimana kalau kita bermain sebentar? Akan aku ajarkan bagaimana rasanya sesuatu yang sekarang kamu tolak tetapi nanti kamu akan mengemis padaku, " goda Arten.
Aluna menangis ketakutan. Dia mencoba memegang tangan Arten agar melepaskannya.
"Arten, aku mohon lepaskan aku. Perut aku beneran sakit. Aku sejak kecil sakit lambung kalau sampai telat makan, " rengek Aluna dengan tatapan memelas.
Arten terperanjak, walau pikirannya tidak peduli hatinya ikut sakit melihat wajah Aluna yang sudah sembab dan menyerah
Arten langsung berdiri dan pergi meninggalkan Aluna, tetapi dia meminta Shasa untuk menelpon dokter karena hatinya tidak tenang.
"Gadis sialan, benar - benar makanan yang tidak enak di makan. Sangat tidak menarik, " gumam Arten kesal.
Sedangkan Aluna menangis sejadinya, tadi ketika Arten menyentuh bagian sensitif nya itu dia sangat terluka. Hatinya benar - benar terluka oleh penghinaan ini.
"Sampai kapan aku begini? Apakah aku mati saja dari pada hidup dalam kesuraman dan penderitaan? " batin Aluna.
Aluna menatap pecahan mangkok, dia mengambil dan dengan putus asa menggores lengannya sendiri. Darah mulai mengalir, rasa perih dan juga napas yang berat membuat dirinya memejamkan mata secara perlahan menunggu kematian.
"Aluna... Aluna.. "
Aluna samar - samar mendengar suara Shasa, tetapi dia kemudian tidak sadar lagi.