Tiada usaha yang menghianati hasil, dengan bakat dan kemampuannya akhirnya Alea bisa mewujudkan impian Ibunya satu persatu.
Hasil saweran dari manggung semalam Alea bisa membeli dua ponsel baru dan gelang emas seberat sepuluh gram.
"Kok beli dua?" tanya Hana yang menemani Alea di konter.
"Yang satu untuk ibuku, supaya nanti kalau komunikasi jarak jauh lebih mudah," jawab Alea.
"Punya ibu kamu yang lama rusak ya?" tanya Hana lagi.
"Tidak, tapi sudah dijual buat beli beras dan membayar hutang," ucap Alea jujur.
Dia tak pernah menutupi keadaan yang sebenarnya pada Hana.
"Masih ada lagi yang mau dibeli nggak?" tanya Hana yang bolak-balik melirik jam tangannya karena takut waktu istirahat sekolah habis.
"Sudah, yuk kembali ke sekolah!" ajak Alea puas.
Hana mengendarai motornya dengan sangat cepat, membuat rambut keduanya berantakan meskipun sudah memakai helm.
Sampai di sekolah ternyata sudah sepi karena pelajaran dimulai lima menit yang lalu.
"Bagaimana ini?" bisik Alea takut sebab di dalam kelas sudah ada gurunya.
"Kita coba masuk saja," jawab Hana.
Akan tetapi baru sampai di pintu sudah mendapat teguran dari sang guru.
"Bapak paling tidak suka dengan murid yang kurang disiplin, kalian kemana saja kenapa tidak masuk begitu bel berbunyi? Sekarang kalian berdiri di luar kelas!" perintah Guru yang terkenal paling tegas itu.
Mau tak mau Alea dan Hana mematuhi perintah gurunya dan bersandar di tembok luar kelas.
Siapa sangka jika dari kejauhan tampak Anggara yang baru keluar dari kantor hendak menuju ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Alea.
"Wah gawat, bisa malu banget aku kalau ketahuan dihukum," batin Alea cemas.
Alea menundukkan pandangannya berharap semoga Anggara tak melihatnya, tapi tanpa diduga Anggara sudah berdiri di depannya dan mencupit pipi lembut Alea.
"Kenapa bisa dihukum?" tanya Angga tersenyum manis, membuat wajah tampannya semakin menawan.
Hana dan Alea terkejut, sebab biasanya Anggara selalu malu- malu terhadap perempuan.
"Tadi pas istirahat keluar sebentar membeli ponsel, malah sampai sekolah sudah mulai pelajaran," jawab Alea gugup.
Anggara menarik lengan Alea dan menulis nomor di telapak tangannya.
"Sepulang sekolah hubungi aku ya! Nanti sore aku jemput ke rumahmu. Sampai ketemu lagi," kata Anggara berlalu pergi dengan senyuman manisnya.
Alea hanya tertegun karena barusan merasakan lembutnya tangan seseorang yang selama dua tahun ini dikagumi.
Hana yang dari tadi hanya jadi penonton kini tertawa melihat temannya.
"Cie... yang lagi PDKT," goda Hana.
"Aku tidak mimpi kan? Sepertinya aku tak mau mencuci tanganku setelah ini," kata Alea saking senangnya.
"Yek, jorok ah," ejek Hana.
"Biarin," balas Alea tak mau kalah.
Ini untuk pertama kalinya Alea dihukum, akan tetapi juga menjadi kenangan manis sebab bisa bertemu bahkan di sapa oleh Anggara sang pujaan hati.
Jam empat sore Alea baru pulang sekolah, dia sudah tidak sabar memberikan hadiahnya kepada ibu tersayangnya.
"Wih, Ibu dapat hadiah nih . Terima kasih banyak ya, Anakku sayang," kata Arum terharu.
Wanita separuh baya itu merasa bahagia karena Alea gadis penurut dan sangat sayang padanya.
"Iya, Bu. Sama-sama, semua ini berkat do'a Ibu juga," jawab Alea langsung bergegas masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian Alea mandi dan berdandan cantik. Dia memakai gaun selutut dengan lengan pendek warna putih bermotif bunga warna pink, penampilannya sangat anggun dan manis. Rambutnya dibiarkan terurai dengan make up tipis natural. Tak lupa dia juga memakai kalung bermata hijau membuat Auranya semakin mempesona.
Ibunya heran juga melihat penampilan Alea yang berdandan cantik saat tidak manggung.
"Mau kemana?" tanya Ibunya Alea.
Belum sempat Alea menjawab terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka, segera Alea berlari keluar menyambut Anggara.
"Sebentar ya, Bu. Ada temanku yang mau datang," sela Alea.
Anggara bengong, begitu juga dengan pemuda tampan itu terpesona melihat Alea yang terlihat berbeda. Seperti ada magnet dalam tubuhnya yang membuat anggara jadi ingin lengket terus.
"Ayo masuk dulu!" ajak Alea ramah.
"Iya," jawab Angga tak mampu mengalihkan pandangannya.
Anggara belangkah mengikuti Alea dari belakang.
Arum terkejut melihat pemuda yang lebih tampan dari Zaky, penampilannya juga terlihat seperti anak orang kaya.
"Bu, perkenalkan, dia Anggara. Teman sekolah," kata Alea malu-malu.
Anggara menjabat tangan Ibunya Alea dengan sopan membuat pemuda itu langsung mendapat kesan baik.
"Ayo nak silahkan duduk! Maaf ibu tadi kaget karena baru kali ini Alea mengajak teman lelaki ke sini," jawab Ibunya jujur.
Anggara tersipu malu karena dia juga baru kali ini datang ke rumah teman wanita.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak," jawab Angga patuh.
"Angga, aku masuk ke kamar mengambil tas dulu ya?" pamit Alea sambil menenangkan hatinya yang berdebar- debar.
Apalagi ini untuk pertama kalinya dia akan pergi keluar dengan seorang lelaki, terlebih lagi dengan cinta pertamanya.
Setelah mengambil tas yang berisi dompet beserta ponsel, Alea segera menghampiri kepada ibunya.
"Nak Angga, kamu makan dulu ya? Ibuk baru saja selesai memasak," pinta Arum pada teman putrinya.
"Maaf, Bu. Niat saya ke sini mau mengajak Alea menonton pertandingan basket. Lain kali saja saya mampir ke sini lagi, karena sekarang pertandingannya hampir dimulai," jawab Anggara berharap mereka dapat Izin dari Ibunya Alea.
"Iya, tapi tolong jaga Alea ya! Dan sebelum jam delapan antarkan Alea pulang, karena nanti Alea ada acara," jawab Arum ramah.
Bu, Alea pamit dulu, ya?" ucap Alea sopan.
"Iya, sayang. Hari- hati ya?" jawab Arum senang melihat putrinya sudah mulai beranjak dewasa dan mengerti cinta.
Setelah mendapat Izin Alea dan Anggara segera berpamitan berangkat.
Arum bisa melihat Anggara yang memperlakukan putrinya dengan baik dan sopan. Sebagai seorang ibu tentu dia berharap jika kelak putrinya mendapat jodoh yang baik dan mendapatkan kisah cinta yang manis.
Di luar Anggara dengan sopan membukakan mobil depan dan mempersilahkan Alea untuk masuk.
Setelah itu Angga memutar arah dan ikut masuk juga. Sambil menjalankan mobil Anggara curi-curi pandang ke arah Alea.
"Angga, kalau sedang menyetir sebaiknya fokus ke depan," tegur Alea gugup.
"Eh maaf, habisnya kamu cantik sekali, Alea," jawab Anggara jujur apa adanya.
Alea tersipu malu, gadis siapa yang tidak akan melayang jiwanya kalau di puji oleh pujaan hati.
"Alea..." Panggil Angga lagi, tapi pemuda itu seperti tidak bisa berkata-kata.
"Iya?" tanya Alea penasaran.
"Oh tidak, maksudku nanti setelah pertandingan selesai kita makan sebentar ya?" ajak Anggara kikuk.
"Iya," jawab Alea.
Keduanya saling senyum-senyum sendiri karena sedang kasmaran, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.