Aluna membuka kedua matanya, kesadarannya mulai pulih akan tetapi kepalanya terasa sakit.
Secara perlahan dia sadar jika tadi keningnya terbentur tembok dengan keras.
"Siapa namamu? " tanya seorang pemuda tampan yang memakai pakaian dokter.
"Aluna, aku ada di mana sekarang ? "
"Jadi kamu masih ingat namamu, berarti kamu hanya luka luar saja. Dan kamu sekarang berada di rumah Arten. "
Aluna menoleh ke kanan dan ke kiri, di seluruh ruangan kamar itu hanya dia dan dokter saja berduaan. Mumpung tidak ada Arten si iblis itu Aluna mencoba mencari bantuan.
"Dok, tolong saya. Saya ini diculik dan hendak dibunuh oleh Arten," ucap Aluna.
"Kalau dia mau membunuh kamu kenapa dia memanggil aku untuk mengobatimu yang terluka? "
Aluna terdiam, tetapi tetap saja dia punya firasat yang buruk.
"Dokter, saya mohon tolong laporkan ke kantor polisi jika saya di culik oleh Arten, " bujuk Aluna.
Dokter tersebut hanya tersenyum manis, dan tidak menanggapi Aluna dengan serius.
"Kak, bagaimana keadaanya? " tanya Arten yang baru muncul.
Aluna langsung mendadak mati kutu, seluruh tubuhnya gemetar menahan rasa takut yang luar biasa.
"Baik, hanya luka luar saja. Karena dia barusan juga meminta bantuan aku untuk melapor ke polisi atas tuduhan kamu melakukan penculikan. Bagaimana ini? Dia sangat cantik dan imut sekali, haruskah aku menolong dia dan melaporkan adik angkat ku? " ucap dokter tersebut santai.
Aluna syok, tidak menyangka jika dia meminta bantuan pada orang yang salah.
"Oh, jadi begitu. Sudah susah payah aku membawanya kemari dan malah ingin melaporkan aku, " sindir Arten dingin.
"Aku pulang dulu mau istirahat, nanti malam aku ada tugas penting. Kamu urus sendiri kelinci kecilmu, " pamit dokter tersebut sembari menepuk bahu Arten.
"Iya."
"Eh, aku diminta papa untuk meminta teh yang kemarin lagi kalau masih ada. "
"Di luar ada Pain, biar dia yang mengambilkannya, " jawab Arten.
Setelah dokter yang ternyata adalah kakak Arten itu pergi, suasana menjadi hening dan mencekam. Aluna sangat takut, sampai mau bernapas saja juga takut.
"Kenapa kamu diam saja? Bukannya tadi cerewet minta bantuan ingin memenjarakan aku? " tanya Arten kelam.
Aluna terdiam, pemuda di sampingnya ini selalu tidak masuk akal. Dalam seketika bisa lembut dan bisa meluap - lupa seperti kobaran api yang siap melahab habis dirinya.
"Arten, aku ingin pulang, " pinta Aluna memberanikan diri.
"Pulang kemana? Ke rumah Januar? " tanya Arten masih sabar.
"Tidak, pulang ke rumahku sendiri, " balas Aluna menunduk takut.
Arten tersenyum, sebab Aluna sosok gadis imut menggemaskan. Kemudian setelah sadar siapa Aluna membuat Arten menjadi kesal lagi.
"Jangan harap! Bukankah kamu terikat menjadi pelayan aku? Bahkan kamu yang kabur saja belum aku hukum. Dan tadi kamu menyebut namaku secara langsung? Berarti hukumanmu juga akan di tambah, " jawab Arten ketus.
"Arten... Maksud aku Tuan, sampai kapan aku akan menjadi pelayan kamu? Bukankah kamu bilang tidak akan menyentuh aku? "
Arten menatap Aluna, sangat memelas tetapi penuh daya tarik yang membuat dirinya ingin menunjukkan belas kasih dan kelembutan. Tetapi pikirannya menolak hatinya.
Arten langsung memajukan wajahnya, kini mereka begitu dekat sampai Aluna tidak berani untuk bernapas.
"Kamu akan mati kalau tidak bernapas, bodoh! "
Aluna memalingkan wajah, sebab Arten hampir saja mencium bibir nya. Sedangkan Arten kesal karena dirinya benar - benar ingin mencium Aluna.
"Untuk satu hari kamu bisa istirahat, setelah itu kamu mulai bekerja lagi, " sela Arten berdiri dan pergi.
**************
Sampai tengah malam Aluna menangis. Dan dia juga penasaran bagaimana dengan kabar Januar.
"Januar, maafkan aku. Karena aku kamu jadi terlibat dalam masalah," gumam Aluna memeluk dirinya sendiri.
Tiba - tiba saja dia mendengar suara keributan, dan samar - samar dia mendengar suara Januar.
"Januar? Apa dia nekat menerobos kemari? " batin Aluna syok.
Tak lama kemudian Pain datang.
"Aluna, ayo ikut aku, " ajak Pain.
"Tidak Pain, " jawab Aluna takut.
"Aluna, aku tidak suka memukul wanita. Tetapi beda lagi kalau sedang bertugas, " timpal Pain.
Aluna langsung menciut nyanyinya, biarpun kepala masih berdenyut pusing tetapi dia tidak berani lagi menolak permintaan Pain.
Aluna berjalan di balik tubuh kekar Pain, begitu sampai di ruang tamu semua orang memandangnya.
Arten menatap dirinya dengan senyuman yang sangat menjengkelkan. Sedangkan Januar terlihat lega melihat dirinya baik - baik saja.
"Aluna, bagaimana keadaanmu? " tanya Januar panik.
"Aku baik - baik saja, kamu kenapa kemari? " tanya Aluna terharu.
"Aku ingin menolongmu, segala cara akan aku lakukan untuk menebusmu, " balas Januar.
Arten menjadi kesal melihat Aluna yang begitu bahagia dengan mata berbinar terang saat melihat Januar. Arten benar - benar marah tetapi menahan rasa itu dan mencoba bersikap tenang.
"Arten, dari dulu kamu selalu ingin membeli tanah di bagian selatan kan? Kalau begitu bagaimana jika aku berikan tanah itu dan kamu lepaskan Aluna, " pinta Januar serius.
Arten tertawa, tertawa semakin kesal karena memang antara Januar dan Aluna terjadi sesuatu.
"Dulu aku tawar 200 Milyar kamu menolak keras, sekarang demi Aluna kamu memberikan gratis untukku. Bagaimana kalau aku jual saja Aluna, setiap tidur dengan lelaki aku hargai 200 Milyar pasti aku untung banyak, " jawab Arten.
"Kamu jangan keterlaluan Arten. Dia juga manusia, kamu tidak punya hak untuk melakukan itu! " teriak Januar.
Arten mendekati Aluna, dan memegang dagu Aluna sambil melirik ke arah Januar.
"Januar, bukankah kamu pecinta lelaki? Sejak kapan kamu jadi mencintai perempuan apalagi gadis jelek dan lembek seperti ini? Apalagi apapun yang sudah berada di tangan aku tidak akan pernah aku lepaskan lagi. Sekalipun orang tua kamu adalah pemimpin kota ini, tapi kamu jangan lupa siapa aku dan siapa papaku! " kata Arten dingin.
Aluna syok, dia tidak mengira jika Januar adalah homo. Pantas saja jika kedua orang tuanya begitu bahagia saat dia di bawa pulang. Aluna tidak ingin memercayai ucapan Arten, tetapi tubuhnya sudah lemas duluan.
Aluna belum makan, makanya dia lemas dan pingsan lagi. Yang dia ingat samar - samar melihat Januar memanggil namanya di saat dirinya dalam pelukan Arten.