Aluna heran karena tenaga wanita yang menarik nya begitu besar, dan parahnya tanpa segan wanita itu mencium dia sangat agresif dan penuh nafsu.
"Dia wanita gila, aku harus segera keluar dari sini, " batin Aluna.
Tetapi bukannya melepaskan setelah mencium, Arten yang masih menyamar terus memanfaatkan kesempatan melumat habis bibir Aluna.
"Stop, aku bilang lepaskan sekarang juga, " teriak Aluna.
"Kenapa? Apakah aku kurang cantik dan kurang menggairahkan? " tanya Arten menggoda.
Aluna memandang wajah wanita dihadapannya dengan seksama, senyuman nakal dan menjijikkan itu tidak asing.
"Apakah… Apakah… "
Tanpa basa basi Aluna menarik rambut Arten, seketika kedua matanya terbelalak. Tida disangka dia yang sudah melangkah sejauh ini masih saja tidak luput dari jangkauan si iblis Arten.
"Hay, bagaimana kabarmu? " sapa Arten menyeringai.
Aluna ingin berlari keluar, tetapi tangannya langsung dicegat oleh Arten. Tanpa sungkan Arten memeluk tubuh Alun dari belakang.
"Apa kamu nyaman memakai pakaian lelaki? Aku saja tidak nyaman pakai pakaian perempuan, " tanya Arten dengan nada yang membuat Aluna ingin mual.
"Lepaskan aku, aku tidak kenal kamu! " bentak Aluna.
"Oh, jadi kamu tidak mengenali penolongmu sendiri? Baiklah, mari kita memulai perkenalan lagi, " jawab Arten santai.
Arten tanpa segan - segan melepaskan topi milik Aluna, rambut indah miliknya langsung tergerai.
Setelah itu Arten melepaskan menyudutkan Aluna pada dinding, menghimpit tubuh ramping itu dan menatap dengan pasangan yang dalam.
Untuk sesaat Arten sempat terpesona oleh kecantikan Aluna, wajah yang mulus tanpa noda. Putih bersih dan begitu lembut.
Sedangkan Aluna sudah panik, sampai mulutnya terkunci dan tidak bisa berteriak. Segala tentang Arten memang sangat menakutkan.
Ketika hidung Arten menyentuh hidung Aluna, dia bisa merasakan hembusan napas Arten yang memburu.
"Kemana saja selama ini? " tanya Arten lembut.
Aluna terperangah, sebab baru kali ini Arten berbicara dengan nada yang enak di dengar seolah sedang mencemaskan ya.
"Aku tanya kemana saja kamu selama ini? " timpal Arten masih menatap penuh arti.
"Aku diselamatkan oleh seorang pemuda yang baik hati, " jawab Aluna.
"Pemuda ya, aku penasaran siapa pemuda itu yang telah berani menentang aku. "
"Jangan, jangan libatkan dia dalam urusan ini! " pekik Aluna.
"Oh, kamu mencemaskannya? Apa kamu mencintainya?" tanya Arten.
Aluna terdiam, meskipun begitu Arten bisa mendapat semua jawaban dari sorot mata Aluna yang nanar.
"Kalau begitu akan aku habisi dia sekarang juga, akan aku pastikan dia mati di depan matamu, " ancam Arten.
"Jangan, jangan sakiti dia. Dia lelaki yang baik, " pinta Aluna.
"Baik?"
Arten tersenyum kesal, kemudian rasanya ingin marah dan menghajar lelaki tersebut.
Tiba - tiba saja terjadi keributan di luar, Aluna bisa mendengar jika itu adalah suara Pain dan Januar yang sedang berkelahi.
"Oh, mari kita lihat siapa lelaki baik yang kamu maksud itu, " gumam Arten tidak sabar.
"Pain, biarkan lelaki itu masuk! "
Kemudian Januar masuk, melepaskan topi dan kaca mata hitamnya.
"Januar, sejak kapan kamu tertarik pada wanita? " tanya Arten keget.
"Sejak aku melihat Aluna, lepaskan dia sekarang juga demi aku dan demi pertemanan kita, " bujuk Januar.
"Tapi kamu tahu, jika dia adalah anak dari Zoan, " balas Arten.
"Aku tahu, tapi aku percaya apa yang dia katakan. Jika dia hanya anak angkat saja, " bujuk Januar.
"Oh, kalau begitu kamu ambil sendiri dia dari tanganku. Maka sejak itu pertemanan kita juga akan berakhir, " tantang Arten.
"Arten, aku tahu jika aku tidak akan bisa menang jika berkelahi denganmu secara langsung. Tetapi karena aku memang mencintai Aluna maka aku tidak takut mati, " balas Januar serius.
Aluna panik, sebab Januar tampak pemuda yang kalem sedangkan Arten biasanya dan petarung.
"Tidak, Januar sebaiknya kamu pergi saja. Aku tidak apa - apa, Arten sangat kejam dan tidak punya perasaan. Jangan sampai kamu menyia - nyiakan nyawamu hanya karena aku, " pinta Aluna.
Arten semakin tertawa, tawa yang mengandung amarah besar dan tertahan.
Arten menghempaskan tubuh Aluna sampai membuat kening Aluna terbentur dan berdarah.
"Aluna!" pekik Januar.
Ketika Januar ingin menolong, Arten langsung menendang perut Januar sampai terjatuh pula.
"Aku tidak menyangka seseorang seperti dirimu juga bisa tertarik dengan gadis lemas seperti Aluna. Aku penasaran sihir apa yang Aluna gunakan sampai membuat kamu tergoda. "
"Arten, jangan banyak bicara lagi. Aluna sedang terluka ayo bawa ke rumah sakit, " sela Januar.
"Aku memang berniat menyiksanya secara perlahan, " jawab Arten menyeringai.
"Januar, pergilah, " gumam Aluna laku pingsan.
Arten menoleh ke Aluna, dia juga panik tetapi malu untuk memperlihatkannya.
"Pain, kamu hadapi Januar biar aku membawa Aluna pergi, " perintah Arten.
Januar kalau melawan Pain masih seimbang, tetapi juga membutuhkan waktu yang banyak karena Pain juga seorang petarung yang handal.
Sedangkan Arten yang masih memakai riasan perempuan acuh tak acuh dilihat oleh orang lain.
Arten memang sudah mati rasa, takut, malu dan rasa yang seharusnya dimiliki oleh manusia telah hilang.