Arten hari ini ingin bertransaksi dengan kliennya, karena tidak ingin meninggalkan jejak dia tidak pernah menerima uang lewat transferan. Melainkan uang tunai dan bertemu secara langsung.
Awalnya Arten dan kedua anak buahnya menyamar sebagai orang yang hendak masuk kantor. Akan tetapi begitu bertemu dan menyelesaikan urusannya dia langsung merubah diri menjadi lelaki setengah baya.
Tidak di sangka, jika setelah keluar dari toilet dia bertemu dengan Aluna.
"Pantas saja Pain dan semua anak buah terkecoh, sebab Aluna menyamar menjadi lelaki, " gumam Arten tertawa merasa dibodohi.
Meskipun begitu Arten langsung bisa mengenali, dari aroma tubuh dan juga setiap apa yang ada dalam diri Aluna tak luput dari pandangannya.
"Karena kamu sudah mempermainkan aku, maka akan aku lanjutkan dan gantian mempermainkanmu, " batin Arten.
Arten sengaja melepas Aluna, dia ingin tahu di mana dan dengan siapa Aluna tinggal. Karena Arten sudah mencari di seluruh wilayah tetapi tidak ditemukan. Apalagi Aluna tidak memiliki keluarga atau teman.
"Pain, suruh Minke dan Joni kemari untuk mengambil uang ini. Kita berdua ada misi untuk menangkap Aluna! "
"Aluna? Di mana? " tanya Pain heran.
"Itu, yang menyamar sebagai lelaki. Dan aku penasaran dengan lelaki yang satunya. Seakan tidak asing, " jawab Arten.
Walau melihat dari kejauhan tetapi Pain langsung paham yang ditunjukkan oleh bosnya. Tetapi Pain benar - benar tidak menyangka jika itu adalah Aluna. Sosok wanita lembut dan lemah dalam benaknya bisa menjadi pemuda tampan.
"Baik, akan saya hubungi Minke dan Joni terlebih dahulu. "
Dalam pikiran Arten sudah di penuhi beribu cara untuk mempermainkan Aluna, dia sudah hilang kesabaran karena Aluna membuat dirinya sampai mencari ke berbagai penjuru wilayah bahkan sampai ke puncak gunung.
"Bos, Kereta sudah mau berangkat, " bisik Pain.
"Ayo kita ikuti mereka, " jawab Arten menyeringai.
Pain ikut tersenyum, dari sekian misi baru kali ini dia tidak merasa tegang. Karena Bosnya tampak ingin bermain - main dan bersenang - senang.
Satu persatu para penumpang mulai naik ke dalam kereta, begitu juga dengan Arten dan Pain yang dalam keadaan menyamar.
"Pain, aku merasa seseorang yang bersama Aluna tidak asing. Tetapi aku tidak bisa mengenalinya, " bisik Arten.
"Saya juga berpikir seperti itu, pundak dan juga bentuk tubuh seperti tidak asing. Tetapi siapa ya? "
Arten dan Pain hanya dapat mengira - ngira, tetapi mereka berdua masih saja belum menemukan jawabannya.
Setelah dua jam perjalanan, Arten dan Pain juga ikut turun ketika Aluna turun.
"Wah, bukankah ini taman yang baru dibuka juga? Biasanya yang datang kemari adalah sepasang kekasih. Apa yang bersama Aluna adalah kekasihnya? " pekik Pain.
"Kau bodoh! Mana mungkin dalam waktu beberapa hari gadis jelek itu bisa mendapat pacar! " jawab Arten menahan emosi.
Pain hanya menggaruk - nggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ucapan bosnya mengenai Aluna jelek sangat jelas berbohong. Sedangkan mengenai kekasih Aluna dalam waktu singkat juga terlihat bosnya cemas.
"Apa bos jatuh cinta? Ah tidak mungkin, apalagi bos sangat membencinya, " batin Pain.
"Pain, tadi di jalan masuk ada toko pakaian. Carilah pakaian wanita seukuran ku dan juga rambut palsu beserta make up. Ingat! Jangan cari pakaian yang norak. Cukup celana jeans panjang dan kaos dan jaket yang tomboy. Walaupun aku ingin menyamar sebagai perempuan tetapi juga style nya yang keren, " pinta Arten.
Pain melongo, ide bosnya kali ini benar - benar gila.
"Kenapa bengong? Buruan cepat! Biar aku membuntuti mereka, nanti setelah kamu dapat akan aku kirim lokasi dimana aku berada, " bentak Arten tak sabar.
********************
Aluna bahagia sekali, sebab Januar merupakan sosok yang pandai membuat wanita bahagia dan nyaman.
"Januar, ini enak sekali. Aku tidak mengangkat jika bunga bisa dijadikan manisan seperti ini, " ungkap Aluna sumringah.
"Rasanya asam, walau ada manisnya tapi aku tidak suka. Dan juga teksturnya kenyal terasa aneh di lidah, " jawab Januar meringis.
"Ih, enak begini kamu bilang aneh. Sini berikan semua padaku, " balas Aluna langsung merebut manisan tersebut.
"Baiklah, dari pada aku buang kasihan juga nanti menangis, " ucap Januar.
Aluna tertawa, sebab Januar terkadang bisa melucu juga.
"Hey, apa yang membuat kamu tertawa? " tanya Januar heran.
"Aku jadi ingat masa kecilku, kalau aku tidak menghabiskan makanan nanti mamaku akan bilang makannya bisa menangis, " jawab Aluna.
"Mamaku juga begitu, " jawab Januar ikut tertawa juga.
"Dan aku sadar jika kebohongan seorang ibu hanya demi kita bisa makan tidak masuk akal, anehnya kita dulu yang masih kecil begitu mudah percaya. "
"Karena masa kecil masa yang penuh imajinasi dan rasa keingintahuan yang begitu tinggi membuat kita mudah percaya dan tertarik dengan sesuatu yang baru. Apalagi anak kecil juga masih percaya akan dongeng - dongeng dan keajaiban, " balas Januar memetik sekuntum bunga dan meletakkan ke rambut Aluna.
Seketika Aluna memerah malu, saking groginya dia jadi terasa ingin buang air kecil.
"Januar, apa di sini ada toilet? " tanya Aluna panik.
"Ada, tadi saat kita beli manisan ini kita melewatinya," jawab Januar.
"Aku ingin buang air kecil, kamu tunggu di sini dulu ya. Ingat jangan kemana - mana nanti hilang, " balas Aluna sembari pergi.
Januar tertawa, baru kali ini dirinya merasa tertarik dengan seorang wanita.
Sedangkan Aluna menyusuri jalanan tadi, dan memang benar tak jauh dari penjual manisan ada toilet umum.
"Astaga, aku hampir lupa jika aku sedang menyamar sebagai lelaki. Tapi untung saja sedang tidak ada orang, " batin Aluna buru - buru sebab salah masuk toilet wanita.
Setelah selesai dengan urusannya Aluna segera keluar, dan betapa terkejut nya jika ada gadis cantik yang tinggi semampai menghadangnya.
"Hey, kamu c***l! Mau mengintip para wanita ya? "
"Oh tidak, maaf karena aku tadi buru - buru dan salah masuk, " jawab Aluna gugup.
Wanita yang jauh lebih tinggi dari Aluna itu tidak lain adalah Arten. Dan pemuda itu juga sudah menyuruh Pain untuk melarang semua orang masuk ke dalam toilet dengan alasan sedang perbaikan.
"Kalau aku teriak ada lelaki yang hendak mengintip aku pasti kamu akan dipukuli oleh para pengunjung dan juga dilaporkan ke polisi, " bisik Arten.
"Aku minta maaf, tapi aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Tadi memang aku salah masuk, " jawab Aluna gemetar.
Arten langsung maju, dan menyentuh dagu Aluna yang menggoda serasa ingin menggigitnya.
"Kamu tampan juga, tidak rugi kalau aku dicium olehmu. Bagaimana jika kamu mencium ku dan aku akan melepaskanmu? " tawar Arten.
"Apa? Kamu wanita, apa kamu tidak punya harga diri? " pekik Aluna.
"Kamu juga masuk ke toilet wanita, bukankah kita sama - sama tidak memiliki harga diri? " balas Arten.
Aluna merenung, dari pada dirinya dilaporkan ke polisi juga akan memberikan masalah untuk Januar. Apa lagi dia adalah wanita. Aluna yang polos merasa tidak masalah mencium wanita juga.
Cup...
Aluna mengecup pipi Arten, tetapi Arten yang sedang menyamar sebagai wanita bengong.
"Apa ini yang kamu sebut dengan ciuman? " tanya Arten.
"Lah, emangnya kalau bukan begitu bagaimana lagi? " tanya Aluna semakin heran.
"Mendekatlah, akan aku tunjukkan padamu, " jawab Arten menarik tangan Aluna.