10. Kereta Bawah Tanah

1182 Words
Sudah dua hari kabar mengenai Aluna bagai ditelan bumi, membuat Arten semakin marah dan emosi. Dia tidak henti - hentinya melampiaskan kekesalannya dengan membunuh musuh yang tertangkap tanpa ampun.  Para pengawal yang melihat hal itu merasa ketakutan, sebab bisa saja mereka menjadi sasaran bila emosi Arten tidak stabil.  "Memang pantas menjadi penerusku Arten, berdarah dingin dan tidak memiliki kelemahan. " Arten menoleh ke belakang, dia langsung menunduk hormat ketika melihat ayah angkatnya yang merupakan ketua Mafia.  "Ayah angkat, kesehatan Anda kurang baik. Kenapa kemari? Jika ada kepentingan biarkan saya yang mengunjungi Anda, " sapa Arten.  "Kamu kira aku tidak bosan hanya berdiam diri di rumah, aku ingin melihat secara langsung bagaimana kamu menghadapi musuh. Dan sampai saat ini aku merasa puas dengan kinerjamu. Darah dinginmu benar - benar menurun dariku, " puji Syahru.  "Semua juga berkat Anda yang tidak lelah mengajari saja untuk menjadi orang yang kuat.  Mari masuk ke dalam, biar saya buatkan teh kesukaan Anda yang dipetik langsung dari puncak gunung. " "Siapa yang pergi ke sana? " tanya Syahru heran.  "Pain, dia sedang menjalankan misi dan tidak tahunya pulang - pulang sambil membawa ini, " jawab Arten mulai melupakan amarahnya.  "Asisten yang satu itu memang bisa diandalkan. Dalam menjalankan tugas masih sempat - sempatnya memikirkan aku. Ayo kita bersantai sejenak, karena setelah ini kamu ada misi besar. Kita ada pesanan senjata api skala besar lewat kereta bawah tanah. Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, " kata Syahru santai tapi membuat Arten siaga.  "Siap, Ayah angkat." Setelah cukup lama mengobrol, ayah angkat Arten berpamitan pulang.  "Arten, ingatlah jangan sampai gagal dalam misi ini. Karena keuntungannya sangat besar dan nanti semua anak buah akan dapat bonus besar pula! " "Siap, " jawab Arten.  Sebenarnya Arten tidak terlalu minat lagi mengejar uang, sebab kekayaannya sudah lebih dari cukup untuk hidup mewah sepanjang hidup tanpa bekerja. Akan tetapi baginya setiap misi merupakan tantangan sendiri, jika berhasil dia akan puas dan nilai kepuasan itu tidak bisa dibandingkan dengan uang yang dihasilkan.  "Pain, suruh anggota inti untuk berunding. Aku akan menyusun rencana agar kita bisa lolos tanpa perlu berkelahi! " "Siap, " jawab Pain.  Sambil menunggu anak buah yang sedang bertugas di luar kembali, Arten merenung lagi. Pain sudah menyusuri sampai pegunungan tetapi masih saja belum menemukan Aluna.  Dia memang sempat cemas jika gadis kecil itu nekat bersembunyi ke pegunungan yang tidak jauh dari kota. Sebab di seluruh perkotaan juga sudah tidak ada jejak sama sekali. "Aku yakin Aluna belum kembali ke luar negeri, karena data dirinya aku yang pegang dan tidak ada riwayat namanya yang tercatat dalam setiap penerbangan. Satu - satunya yang berhubungan dengan kasino ku dan belum aku geledah adalah rumah Januar, tapi aku ragu jika Januar membawanya. Karena Aluna benar - benar bukan seleranya, " batin Arten bingung.  ******************** Hari ini Aluna bahagia bercampur takut, sebab Januar berniat mengajak dia untuk jalan - jalan.  "Januar, bagaimana kalau nanti bertemu Arten. Kamu tahu kan betapa bengisnya dia? " tanya Aluna ketakutan.  "Serahkan saja padaku, lagian kita juga harus pergi melapor atas kehilangan semua barang dan juga kartu identitasmu. Jika tidak kamu takkan bisa kembali ke keluargamu. Apa memang kamu berniat ingin tinggal di rumahku saja? "  Aluna tersipu malu, mendegar ucapan Januar yang terakhir membuat dirinya gugup dan jantungnya berdetak lebih kencang.  "Aku ya mau pulang, tapi kamu bilang Arten sangat berkuasa di wilayah ini, " jawab Aluna.  "Seperti saat kamu keluar dari tempatnya, kamu bisa menyamar jadi lelaki dan aku juga akan menyamar. Kita berdua biar bisa seperti warga biasa yang sedang jalan - jalan, " saran Januar.  Aluna langsung setuju, mereka berdua langsung bersiap - siap. "Januar, jika bawa bodyguard kamu apa tidak terlalu mencolok? " tanya Aluna.  "Siapa yang mau ajak mereka. Aku kan tadi bilangnya mengajak jalan - jalan berdua. Dan kita tidak perlu bawa mobil pribadi, kita bisa naik kendaraan umum. Aku ingin mengajak kamu naik kereta bawah tanah yang baru saja di bangun, di stasiun saja katanya banyak sekali menjual makanan enak - enak. Karena kamu sudah terlanjur datang kemari kenapa tidak bersenang - senang sekalian? " saran Januar.  Tentu saja Aluna sangat bahagia, sebab selama ini dia tidak pernah sebebas ini. Bahkan mau makan atau pergi juga sudah ada aturannya sendiri.  "Tapi kita mengurus data diri kamu dulu, karena itu penting," sela Januar.  "Iya, Terima kasih banyak, " jawab Aluna. Karena Januar membawa nama orang tuanya yang juga merupakan pimpinan di kita tersebut, sehingga dengan mudah menyelesaikan urusan.  Setelah itu mereka segera menuju ke stasiun yang merupakan tujuan mereka berikutnya.  "Januar, kamu pernah kemari sebelumnya? " tanya Aluna.  "Belum." "Lalu kamu tahu dari mana jika makanan di sini enak - enak? " "Aku hanya melihat di postingan i********: saja, aku sudah lama penasaran tetapi tidak pernah ada waktu untuk kemari." "Bukannya tidak ada waktu, tetapi kamunya yang minatnya kurang, " sindir Aluna.  "Iya, karena jika kemari sendiri terasa membosankan, " jawab Januar tersenyum manis.  "Loh, kan biasanya kamu kemana - mana bersama bodyguard. Jangan bilang sendiri, " balas Aluna.  "Maksud aku bukan dengan orang yang spesial, " jawab Januar kesal.  Aluna seketika salah tingkah, apa yang diucapkan Januar barusan secara tidak langsung mengatakan jika dirinya orang yang spesial baginya.  "Aluna kamu kenapa? " tanya Januar heran melihat sikap Aluna yang tidak biasa.  "Aku ingin buang air kecil, bagaimana ini? Nanti kira - kira tertinggal tidak keretanya? " bisik Aluna cemas.  "Nah.. Itu sudah datang. Sebaiknya kita naik di jam kedua saja. Masih ada waktu satu jam lagi, kita kan belum menikmati makanan di sini. Sebaiknya kamu ke toilet dulu sana, tapi ingat saat ini kamu sedang menyamar sebagai lelaki, " jawab Januar berbisik pula.  Kuping Aluna yang terkena hembusan napas Januar seketika langsung merinding.  "Iya, " jawab Aluna berbegas pergi.  "Januar benar - benar baik dan perhatian. Baru kali ini aku menyukai lawan jenis, " batin Aluna.  Kemudian dia ingat jika dirinya harus masuk ke toilet pria, ada perasaan tegang dan juga malu yang luar biasa.  Begitu masuk, seketika wajah Aluna memerah karena banyak dari mereka yang buang air kecil berdiri.  "Aku harus mencari toilet yang tertutup, " batin Aluna.  Akan tetapi, semua tertutup. Kemudian di paling ujung sudah ada tanda - tanda pintu terbuka. Aluna mendekat takut nanti direbut orang lain.  "Kamu! "  Aluna heran, lelaki setengah baya di depannya itu seolah kaget melihat wajahnya.  "Maaf, saya mau masuk, " jawab Aluna sopan.  Aluna masuk, bagaimanapun juga dia adalah perempuan, tidak mungkin baginya buang air kecil secara berdiri di luar.  Setelah itu dia membenarkan kembali topinya dan kaca matanya. Rambutnya sudah dia ikat sehingga dia memang tampak seperti lelaki.  Begitu ingin keluar, saat pintu terbuka tiba - tiba saja lelaki setengah baya yang tadi belum pergi bahkan langsung masuk dan mengunci dirinya di dalam.  "Eh, apa - apaan ini! " bentak Aluna memperbesar suaranya.  "Kamu anak muda, tampan sekali. Dan kebetulan aku juga menyukai anak seperti kamu. Katakan berapa biaya untuk memelihara kamu?" Aluna sangat jijik dengan senyuman yang tidak asing itu.  "Aku ini lelaki normal, dan aku tidak tertarik dengan uangmu. Minggir aku harus pergi! " jawab Aluna tegas.  Lelaki itu langsung melepaskan Aluna dan memandang punggung Aluna tersenyum penuh arti.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD