Sepulang sekolah Alea langsung bersiap pindah kontrakan.Tak lupa dia berpamitan pada tetangganya, walaupun kadang mereka ada yang suka mencibir tapi Alea tak peduli.
Di kontrakan yang baru Alea merasa senang. Rumahnya bagus dan lebih luas. Mulai sekarang dia takkan malu lagi mengajak teman sekolahnya mampir ke rumahnya.
Setelah selesai membereskan rumahnya Alea dan Ibunya istirahat sejenak sebab nanti malam akan ada acara manggung.
"Bu, semoga penghasilan nanti malam banyak ya? Aku ingin membeli ponsel yang bagus," kata Alea.
"Iya, Nak. Ibu juga pengen bisa beli perhiasan, dulu ibu sering di ejek tetangga rasanya sakit sekali," jawab Arum ikut senang.
"Tenang saja, Bu. Ibu bisa pergunakan hasil manggungku untuk beli keinginan Ibu," kata Alea membuat Ibunya bangga padanya.
"Ibu juga pengen suatu saat punya rumah sendiri, mobil sendiri. Membayangkan saja rasanya menyenangkan," ucap Arum semangat.
"Iya, Bu. Do'akan saja semoga bisa ya, Bu," balas Alea tak kalah semangat.
"Sekarang kamu tidurlah, nanti kalau mau berangkat manggung Ibu akan membangunkanmu!" pinta Arum lembut.
Alea dengan patuh masuk ke kamarnya yang kini lebih luas dan juga bagus.
Adzan Maghrib sudah berkumandang, dulu Alea akan langsung bergegas mengambil air wudhu lalu sholat. Akan tetapi dia kali ini merasa begitu lelah dan ngantuk sampai akhirnya ketiduran.
Dalam mimpinya Alea melihat dirinya lagi yang tanpa lemah dan tidak berdaya.
"Siapa kamu?" tanya Alea dalam mimpi.
"Aku adalah kamu, kembalikan aku seperti yang dulu," pinta gadis yang mirip Alea itu.
Gadis yang mirip dengannya itu mencoba tertatih - Ratih berjalan mendekatinya. Alea merasa kasihan dan hendak mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu bangun.
Namun sesuatu terjadi, rantai besar langsung menyambar tubuh gadis yang mirip dengannya lalu memasukkan gadis itu di sebuah kaca besar berwarna hijau.
"Tidak….." teriak Alea terperanjat bangun.
"Ada apa, Nak?" tanya Arum sambil berlari ke kamar putrinya.
"Hanya mimpi buruk, Bu," jawab Alea jujur.
"Sebentar ibu ambilkan minum, setelah itu kamu bisa tidur lagi," jawab Arum berlalu pergi.
Tak lama kemudian Arum datang membawa segelas air putih dan membantu putrinya untuk minum.
"Terima kasih, Ibu," jawab Alea tertidur lagi.
Arum masih duduk di sana memandang Alea yang semakin cantik.
"Bahagia rasanya melihat putriku kini sudah besar dan bisa hidup kecukupan selayaknya gadis lain, sungguh rugi kedua orang tua kandungnya yang dulu membuang gadis secantik dan sebaik Alea," batin Arum.
Arum mengenang lagi kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana saat dirinya dalam putus asa tapi diberi kekuatan untuk bertahan hidup.
Arum waktu itu berumur 30 tahun, karena tidak bisa memberi keturunan dia diusir suaminya setelah selingkuhan suaminya hamil.
Arum ingin kembali ke rumah orang tuanya juga di usir, sebab dulu mereka kawin lari. Jadi kembalinya dia hanya membawa aib bagi keluarga.
Dengan membawa tas jinjing, Arum berlarian mencari tempat berteduh karena hujan deras, dia akhirnya menemukan masjid yang terletak di pinggir jalan.
Ketika memasuki masjid itu, Arum kaget karena mendengar suara bayi menangis. Setelah di cari ternyata ada bayi perempuan yang cantik, di sisi bayi itu ada tas berisi baju bayi lengkap dan dua kardus s**u formula serta serta sebotol s**u yang siap minum.
Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat orang lain.
"Kasian sekali kamu, Nak. Nasib kita berdua sama -sama tidak diharapkan dan terbuang. Mulai sekarang kita berdua akan menjalani kehidupan ini bersama," tekad Arum ingin membesarkan anak terbuang itu.
Arum merasa bersyukur, karena meskipun dia tak bisa hamil namun Tuhan telah memberikan dia kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Biarpun tidak melahirkan akan tetapi Arum menyayangi Alea sepenuh hati.
Arum mengangkat bayi tersebut dan menimangnya, ternyata ada sepucuk surat yang terselip dibalik selimut.
"Tolong rawat anak ini, namanya Alea."
Setelah bertemu Alea kecil, Arum memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Setidaknya demi bayi yang tak berdaya itu Arum mencoba bertahan di atas lukanya.
Arum dengan bahagia memberi minum Alea dan mendekapnya dengan segenap kasih sayang. Mereka berdua malam itu tertidur pulas di masjid.
Paginya hanya ada bekas hujan sisa semalam yang membasahi jalanan. Sebelum adzan subuh Arum segera pergi dan mencari kontrakan untuk tempat tinggal.
Lewat info dari warung di pinggiran jalan ada kontrakan murah, sebenarnya kontrakan itu terlihat tak layak. Namun Arum terpaksa mengambilnya dari pada tak punya tempat tinggal, karena dia hanya mempunyai uang sedikit.
Setelah menemukan tempat tinggal kesulitan tidak berhenti sampai di situ. Uang sudah habis untuk makan dan membeli s**u, ingin mencari pekerjaan yang baik tidak bisa meninggalkan Alea terlalu lama dan ijasahnya tertinggal di rumah mantan suaminya.
Akhirnya Arum bekerja menjadi biduan. Pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak waktu tapi dengan hasil yang lumayan. Arum akan menitipkan bayinya itu ke tetangga dengan memberi upah perhari.
Arum mulai tersadar dari lamunannya, saat di lihat jam dinding sudah waktunya untuk berangkat ke tempat acara.
"Alea, ayo bangun," ucap Arum lembut.
"Iya, Ibu," jawab Alea merasa sudah baikan.
Kedua ibu dan anak itu segera bersiap - siap untuk berangkat, karena belum memiliki kendaraan pribadi maka mereka naik taksi.
Seperti biasanya, sebelum berangkat Alea akan memakai kalung bermata birunya. Dan setelah di rias penampilannya semakin memukau bak Dewi dalam negeri dongeng. Bahkan perias sendiri selalu merasa senang saat mendandani Alea yang memiliki paket komplit. Cantik, tubuh tinggi semampai bagus dan suara uang begitu merdu. Dan keistimewaan yang dimiliki Alea di banding biduan lain itu tidak sombong.
Alea masih rendah hati, akan tetapi tak sedikit juga yang merasa iri sebab Alea menjadi kesayangan Nang Jeky.
"Ibu, kenapa biduan yang lain seolah tak suka padaku?" tanya Alea polos."
"Sudah biarkan saja, itu karena mereka iri dengan keberhasilanmu," jawab Arum santai.
Tentu saja sebagai orang yang sudah bertahun - tahun menjadi biduan Arum sangat berpengalaman, jadi tidak akan membiarkan siapapun melukai putrinya dengan cara apapun.
Malam ini penampilan Alea semakin panas, bahkan goyangannya juga semakin berani membuat para penonton hampir gila.
Alea seperti memiliki dua kepribadian, sebab saat di panggung dan di keseharian Alea sangat berbeda jauh.
Akan tetapi tidak ada yang menyadarinya, bahkan Arum sendiri tidak sadar dengan perubahan putrinya itu.
Aura Alea yang di panggung bahkan membuat kaum lelaki selalu terbayang dan tidak segan-segan menghamburkan uang yang ada di dompet sampai habis. Para lelaki seperti itu memang condong melupakan anak istri di rumah demi memenuhi kesenangan pribadi.