8. Keluar Dari Neraka

1063 Words
Aluna merasa bersyukur bisa bertemu dengan Januar, pemuda tampan yang mengeluarkan aura kedamaian dan berbanding terbalik dari Arten. "Tuan, Anda terlihat seperti orang baik. Kenapa bisa berada di sini? Bukankah ini adalah tempat judi dan hal - hal yang buruk? " tanya Aluna heran. Januar tersenyum, dan senyumnya itu begitu manis. "Kenapa Anda tersenyum? " tanya Aluna semakin heran. "Jangan panggil Tuan, panggil aku Januar saja. Oh iya, kenapa kamu bisa diculik oleh Arten? Dia bukan tipe orang yang suka basa - basi. Jika menargetkan seseorang dia pasti akan langsung membunuhnya, " tanya Januar balik. "Aku tidak tahu, katanya dia adalah musuh papaku. Tetapi dia sudah salah paham sebab aku hanyalah anak angkat, " jawab Aluna sedih. "Kamu sudah menjelaskannya? " "Sudah, tetapi dia tidak mau mendengar, " jawab Aluna pilu. "Lalu, apa yang sudah Arten lakukan pada mu dan bagaimana kamu bisa kabur sehingga kamu bisa bertahan hidup? " tanya Januar penasaran. "Dia hampir saja menodaiku, tetapi aku langsung menggigitnya dan melarikan diri. Tolong aku, Januar. Jika aku sudah bisa kembali ke negara aku apapun yang kamu mau akan aku beri asal bukan kehormatanku, " pinta Aluna memohon. Januar tertawa lirih, kemudian tersenyum manis. "Aku tidak akan meminta apapun darimu, karena aku juga tidak tega gadis sepolos kamu menjadi rusak karena dia. Habiskan makananmu dan santailah, jika bersamaku kamu akan aman, " bujuk Januar. "Apa kamu mengenal Arten? " tanya Aluna. "Tentu saja, kami adalah teman, " jawab Januar ramah. Aluna langsung berhenti makan, dia tampak ketakutan mengira bisa saja Januar dan Arten bekerja sama. "Eh, meskipun begitu aku juga tidak sama sepertinya. Kami hanya teman bisnis, " sela Januar yang tahu akan kekhawatiran Aluna. "Syukurlah, aku takut jika kamu juga sama seperti nya, " ungkap Aluna menghembuskan napas lega. "Kalau aku sama sepertinya, sudah pasti sejak kamu masuk dengan pakaian pelayan berantakan seperti itu sudah aku lakukan, " balas Januar. Aluna tertawa, entah kenapa bersama Januar begitu nyaman dan damai. Tidak lama kemudian datang seseorang yang membawakan paper bag. "Selesai makan kamu ganti baju itu, jangan lupa buang pakaian pelayanmu ke bak sampah biar tidak meninggalkan jejak, " perintah Januar. "Iya, " jawab Aluna senang hati. Aluna segera menghabiskan makanan dengan semangat, setelah itu dia menyambar paper bag tersebut ke kamar mandi. Rupanya isinya beneran pakaian lelaki. Di sana lengkap dengan topi dan kaca mata hitam. Aluna merasa puas melihat penampilan nya. Untung saja dia memiliki perawakan tinggi sehingga hanya berselisih sedikit dengan bodyguard yang lain. Untuk menutupi bagian dadanga, Aluna menyobek bekas pakaian pelayan dan menjadikan kemben sehingga dadanya tampak rata. "Tidak aku sangka jika aku bisa setampan ini, " batin Aluna senang. Begitu dirinya keluar, di sana sudah ada beberapa bodyguard yang lain. "Aluna, kamu jalannya nanti berada di tengah ya. Karena kalian pakaiannya sama pastinya kamu tidak akan terlalu menonjol dan mengundang kecurigaan, " ucap Januar. "Iya, terima kasih banyak, " jawab Aluna bahagia. Aluna lumayan deg degan juga ketika melangkah keluar, dia mencoba berjalan mengimbangi yang lain. Di depan memang sedang terjadi keributan. "Ada Pain, semoga dia tidak menyadari aku, " batin Aluna. "Tuan Januar, apakah Anda melihat gadis yang asangat cantik memakai gaun pelayan? " tanya Pain. "Aku tidak tahu, " jawab Januar. "Maaf sudah mengganggu, kalau begitu silahkan..." balas Pain tampak begitu hormat dengan Januar. Setelah melewati penjagaan yang begitu ketat, Aluna bisa keluar dari tempat terlaknat itu. "Aluna, kamu masuk mobil belakang biar tidak membuat curiga, " bisik Januar. Aluna mengangguk dan ikut ke mobil khusus bodyguard yang lain. ************** Arten mengamuk, dia yang hanya memakai celana selutut langsung memukul semua anak buahnya karena tidak berhasil menemukan Aluna. Bahkan dia juga memporak porandakan isi kamaarnya sampai berantakan dan hancur. "Bisa - bisanya kalian kehilangan dia di wilayah sendiri? Apa kemampuan kalian sudah menurun sehingga tidak bisa menangkap gadis kecil yang lemah? " teriak Arten. Semua hanya menunduk dan tidak berani menatap mata Arten secara langsung. Arten sangat frustrasi, amarahnya sudah tidak terkendali lagi. Dia sampai mengambil pistol dan hendak membunuh semua anak buahnya. Pain langsung memberanikan diri maju ke depan. "Bos, ampuni mereka. Beri mereka kesempatan sekali lagi. Mereka masih memiliki keluarga untuk diberi makan, jika mereka mati bagaimana nasib anak istri mereka, " pinta Pain memohon. Pain belum menikah dan hidup sebatang kara. Makanya Pain tidak ingin membuat anak - anak dari teman seperjuangannya itu merasakan kehilangan sosok ayah dan sandaran hidup. Arten tertawa, kemudian membuang pistol tersebut. "Pain, kamu tidak meminta aku untuk mengampuni nyawamu? " tanya Arten serius. "Tidak, karena saya sudah tidak punya siapa - siapa lagi. Dan saya juga tidak takut mati. Karena sayalah pemimpin mereka jadi biar saya yang menanggung semua resikonya, " jawab Pain yakin. Arten tertawa keras, mana mungkin dia mau kehilangan sosok anak buah yang paling bisa diandalkan. "Baik, aku beri kalian semua satu kesempatan. Dalam waktu satu minggu harus segera ketemu!" "Terima kasih, Bos. " "Pain, apa kamu sudah menggeledah semua tempat ini? " tanya Arten mulai tenang. "Sudah, Bos. Tetapi tidak ditemukan. Dan anehnya tidak ada yang melihat dia keluar dari pintu. Padahal pintu hanya ada dua, depan dan belakang. Itupun penjagaan sangat ketat, " jawab Pain. "Hm... Kalau begitu dia pasti merubah dirinya menjadi orang lain. Apa kamu melihat ada sesuatu yang sekiranya menimbulkan kecurigaan? " tanya Arten. "Tadi hanya ada Tuan Januar yang keluar, seperti biasanya dia akan membawa banyak bodyguard, " jawab Pain. "Januar, dia setiap kemari tidak pernah memesan perempuan. Aku yakin dia tidak mungkin membawa Aluna, " gumam Arten. "Apa sudah kamu kirim foto - fotonya ke Zoan? " tanya Arten. "Belum, Bos. Kalau begitu saya kirim dulu, " jawab Pain. "Bawa kemari dulu barangnya, dan kalian semua boleh keluar! " Arten menggeretakkan giginya menahan amarah, seumur hidup baru kali ini dia gagal dalam mendapatkan wanita. "Gadis kecil, nyalimu tinggi sekali berani - beraninya kabur dariku. Jika aku temukan tidak akan pernah aku lepaskan lagi, " batin Arten memukul bantal. Tidak lama kemudian Pain datang menyerahkan aplop besar berwarna cokelat. "Pain, kamu segeralah memberi kabar pada anak buah di semua markas untuk mencari Aluna. Pokoknya harus sampai ketemu! "Siap, Bos. " Setelah Pain keluar, Arten membuka amplop tersebut. Arten terpana, pose dan expresi dari wajah Aluna sangat menggairahkan dan membuat nafsunya menggebu - gebu. "Aluna, aku harus mendapatkanmu. Aku harus menghancurkanmu, " gumam Arten. Arten tersiksa sendiri dengan hasrat yang tidak tersalurkan, tetapi dia sama sekali tidak memiliki selera dengan wanita lain. Dia saat ini hanya menginginkan Aluna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD