Pelayan Arten membuatkan Aluna roti bakar berisi selai nanas, seperti kesukaannya semasa tinggal di rumah istananya.
Aluna tiba-tiba meneteskan air matanya mengingat kedua orang tua angkatnya.
"Seharusnya aku tidak pergi dengan cara seperti ini, mungkin jika aku berani berterus terang pada mereka bisa saja mereka memberi kesempatan bagiku untuk menemui ibu kandungku. Terlebih lagi mereka selama ini sangat menyayangi aku," batin Aluna sambil meneteskan air matanya.
Kehidupannya sekarang bagaikan mimpi buruk, dulu menjadi Puteri yang terhormat sedangkan kini menjadi perempuan rendahan yang tidak memiliki nilai sama sekali. Dia tidak tahu apakah yang dilakukannya ini merupakan sebuah kebodohan? Namun, mengingat ibu kandungnya yang kata Arten hidup menderita juga mengiris hatinya.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus bisa hidup dengan baik meskipun aku seorang diri," batin Aluna.
Aluna menghabiskan roti bakarnya, kemudian minum segelas s**u. Setelah itu tubuhnya mulai bertenaga dan dia segera menemui Arten yang sedang duduk di ruang santai sambil bermain dengan ponsel.
"Arten, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Aluna tegas.
Arten mendongak ke atas, pemuda itu tersenyum melihat Aluna yang mulai memiliki kepercayaan diri.
"Silahkan," jawab Arten santai.
"Arten, aku bisa lakukan apapun asal jangan menjadikan aku b***k seks mu. Bukan karena aku sok suci atau bagaimana, tapi itulah satu-satunya kebanggaan yang dimiliki oleh seorang perempuan untuk suaminya nanti. Aku hanya minta beri aku alamat ibuku saja, setelah itu aku akan berusaha sendiri mencarinya," pinta Aluna tegas.
Arten terkejut, tidak menyangka jika masih ada seorang perempuan yang menjaga martabatnya demi suaminya. Selama ini yang dia temui justru perempuan yang menjual martabat untuk kesenangan atau uang.
Arten tertawa, pemuda itu semakin tertarik ingin mempermainkan perempuan bermartabat ini.
"Oh, aku lupa. Kamu ini adalah putrinya seorang bangsawan yang selalu menjaga nama baik. Tentu saja kehormatan bagi kalian adalah hal yang utama, tidak sepertiku yang kotor dan hina," jawab Arten menyeringai.
"Bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menghinamu. Tapi, dari mana kamu bisa tahu kalau aku adalah Puteri seorang bangsawan?"
Aluna ingat dengan jelas, jika dia tidak pernah menceritakan identitasnya sama sekali.
"Tentu saja aku tahu, bahkan dari sejarah masa lalumu aku juga tahu," jawab Arten memainkan rambut Aluna dan kemudian mencium aroma wanginya.
"Apa maksud kamu?" pekik Aluna.
"Baiklah, aku ceritakan sesuatu padamu. Kamu pasti akan terkejut!" kata Arten kembali duduk seperti semula.
Sedangkan Aluna masih berdiri dan menantikan kata selanjutnya dari Arten.
"Papamu bernama Zoan, dan mamamu bernama Keina. Sedangkan ibu kandungmu bernama Shela. Karena Keina lama tidak memiliki keturunan, maka posisinya sebagai istri terancam. Makanya dia menyuruh Zoan untuk menikahi siri Shela pada akhirnya lahir gadis cantik bernama Aluna. Karena Zoan dan Keina saling mencintai, Shela rela pergi tanpa membawa putrinya tersebut. Setelah itu keberadaan Shela bagaikan ditelan bumi."
Aluna merasa pusing dengan ucapan Arten barusan, karena yang dia tahu kalau dirinya hanyalah anak angkat. Tapi siapa sangka jika dia merupakan putri kandung papanya sendiri, kalau begitu kenapa mamanya begitu sayang padanya melebihi putri kandung?
"Dan kamu kira siapa yang sudah merampokmu malam itu? Semua kartu dan surat penting milikmu ada ditangan aku," timpal Arten tertawa senang.
"Apa maksud kamu, Arten? Apakah sejak awal kamu merencanakan ini?" pekik Aluna marah.
"Iya, aku merencanakan semua ini sejak awal. Karena aku benci pada papamu, dan aku ingin dia merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang paling dicintai. Satu - satunya cara menyiksa dia yang lebih menyakitkan dari kematian adalah ketika putri tercintanya yang bagaikan berlian kujadikan pelacurku," jawab Arten tertawa keras.
Aluna merasa lemas, tidak menduga jika ternyata Arten adalah orang jahat yang menyebabkan bencana ini.
"Arten, apa yang menyebabkan kamu membenci papaku? Dia orang yang sangat baik dan dermawan, bahkan semut saja dia tidak berani melukainya?" tanya Aluna meminta penjelasan.
Arten semakin tertawa keras mendengarkan ucapan Aluna barusan, beberapa detik kemudian Arten berdiri dan mencengkeram kedua bahu Aluna dengan erat. Kedua mata pemuda itu begitu tajam dan menyala-nyala bagaikan api yang siap membakar sekitarnya.
"Kamu bilang papamu dermawan dan baik hati? Itu hanya kedoknya saja untuk menutupi kebengisannya selama ini. Jika kamu tahu siapa papamu yang sebenarnya maka kamu akan merasa jijik dan bahkan tidak sudi memanggilnya papa!"
"Kamu bohong, pasti kamu sudah salah paham dengannya!" teriak Aluna berlari ke dalam kamarnya.
Aluna menangis, dia sama sekali tidak percaya jika papanya adalah orang jahat. Aluna sangat yakin karena semenjak kecil papanya tersebut selalu bersikap lembut.
"Tapi siapa aku sebenarnya? Dalam secarik kertas tertulis jika aku adalah anak angkat, tapi Arten mengatakan aku anak kandung papa sungguhan. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Jalan satu-satunya aku harus menemui ibu kandungku. Dengan begitu identitas aku terlihat jelas," batin Aluna kebingungan.
************************
Arten sedang mengamuk, pemuda itu melemparkan semua barang-barang yang ada di depan matanya.
Arten akan selalu emosi setiap kali mengingat Zoan, karena apa yang sudah dilakukan oleh papanya Aluna tersebut telah merenggut orang yang paling dicintainya.
Arten dulu hanyalah seorang anak yatim piatu, dia hidup di jalanan dan tidak tentu arah. Bahkan untuk makan saja dia harus berkelahi dengan sesama anak jalanan, padahal waktu itu usianya baru tujuh tahun. Sering kali tubuhnya terluka hanya karena sepotong roti yang ditemukan di bak sampah.
Sampai dia bertemu dengan seorang perempuan penjual asongan, usianya sekitar lima belas tahun. Karena belas kasihan gadis itu Arten tak lagi kelaparan, dia di ajak hidup bersama sebagai keluarga dan tinggal di rumah kardus. Akan tetapi semenjak itu Arten bisa merasakan kasih sayang dan perlindungan dari seorang kakak. Karena perjuangan kakak angkatnya itu, Arten bisa sekolah. Dengan kecerdasannya Arten mampu mendapat beasiswa, sedangkan kakaknya yang sudah dewasa bekerja sebagai penjaga kantin disebuah Universitas.Hingga hal tidak terduga terjadi, dia mendapat kabar kalau kakaknya itu meninggal akibat pelecehan.
Akan tetapi kejadian itu sengaja ditutupi dan tidak proses hukum, karena pelaku merupakan mahasiswa yang merupakan putra bangsawan.
Semenjak kejadian itu Arten yang baru masuk SMP berubah sikap, dia menjadi pemarah dan penuh dendam. Ketika sudah masuk SMA dia bergabung ke grup Mafia berniat untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. Setelah bertahun-tahun ditelusuri rupanya pelaku pembunuhan beberapa tahun yang lalu adalah Zoan. Bahkan Zoan memiliki kehidupan yang sempurna dan punya Puteri yang begitu cantik di luar negeri.
Saat Arten hendak bertindak, siapa sangka jika mangsa justru menyerahkan diri sendiri dengan datang ke wilayah kekuasaannya.
"Zoan, bagaimana rasanya jika putri kesayanganmu itu aku jadikan pelacurku?" batin Arten penuh amarah.
Arten lalu menemui Aluna yang tengah menangis di kamar, melihat gadis itu Arten ingin mencabik-cabik.
Aluna tampak takut, tapi saat ingin berlari keluar pintu sudah ditendang oleh Arten sampai tertutup.
"Mau lari? Jangan harap, aku tidak akan pernah membiarkan kamu lari sebelum aku merusak kehormatan yang selalu keluargamu banggakan itu!"