Kedua bola bening Aluna sudah memerah dan banjir air mata, membuat Arten yang ingin melahabnya tersebut seketika teringat dengan sang kakak.
Arten tiba-tiba gemetar, dia membayangkan mungkin saat itu kakaknya juga berekspresi seperti Aluna saat hendak dilecehkan oleh Zoan.
Arten ingin balas dendam, akan tetapi nyatanya dia tidak mampu melakukannya.
"Arten, jika kamu ingin balas dendam itu merupakan sebuah kesia-siaan. Karena aku ini bukan anak kandung Papa Zoan. Aku hanya anak angkat mereka," bujuk Aluna.
"Apa aku mempercayaimu? Kamu kira aku ini orang bodoh yang bisa diperdaya?" sergah Arten.
"Aku bisa membuktikannya padamu, jika aku ini memang bukan anak kandung papa Zoan," sela Aluna.
"Kalau begitu mana buktinya?" pinta Arten.
Aluna bingung, sebab selembar surat yang menyatakan dirinya adalah anak adopsi sudah hilang dirampok bersama barang-barang lain.
"Mana?" bentak Arten.
"Lembaran kertas itu ada jadi satu dengan pasport di dalam tasku yang sudah dicuri," jawab Aluna dengan wajah memelas.
Arten tertawa, sebab Aluna tampak begitu gemetar dan ketakutan. Andaikan saja Aluna tidak memiliki hubungan dengan Zoan, mungkin Arten bisa saja menyukai gadis yang lembut dan sangat cantik itu.
"Aluna, di dunia ini aku hanya percaya pada diriku sendiri. Jadi seberapa keras kamu berusaha untuk meyakinkanku itu hanyalah sia-sia," jawab Arten berlalu pergi.
Arten tidak ingin buru-buru untuk menghancurkan Aluna, entah kenapa melihat gadis yang begitu rapuh itu rasanya dia tidak tega. Arten sangat membenci pada kelemahan dirinya sendiri, dia tidak mengira jika jauh di lubuk hatinya masih ada rasa belas kasihan. Padahal selama ini sudah tidak terhitung tangannya itu merenggut nyawa orang tanpa ampun.
*****************************
Aluna mulai merasa tenang saat Arten keluar dari kamarnya, akan tetapi perasaan itu hanya sementara. Sebab malam harinya Arten masuk ke dalam kamarnya lagi dan memaksa dia untuk memakai gaun yang mini dan seksi.
"Aku tidak bisa memakai ini," tolak Aluna.
"Apa kamu berani membantahku? Apa perlu aku lepas bajumu sendiri dan memakaikannya?" Sergah Arten.
Aluna langsung menyambar gaun berwarna biru muda itu, karena Arten masih menunggu dikamarnya Aluna memilih untuk ganti di kamar mandi.
"Cepatlah, lima menit lagi kamu ikut aku!"
Aluna enggan untuk menjawab, tapi pikirannya berkecamuk. Pakaian yang dikasih Arten sangat minim, selama ini dia tidak pernah memakai gaun yang terbuka. Karena keluarganya terhormat maka setiap hari memakai gaun yang elegan dan sopan. Apalagi dia juga terkenal sebagai putri bangsawan.
Aluna tak lupa mencuci wajahnya, saat dia memandangi wajahnya di cermin dia merasa iba pada dirinya sendiri. Seumur hidup, Aluna selalu tersenyum ceria dan tidak pernah menangis. Makanya begitu menghadapi kesulitan dan kekerasan dia agak kaget, sebab baginya itu merupakan hal yang tidak terduga.
"Aluna, jika kamu lama aku dobrak pintunya. Dan kamu tahu sendiri akibanya!" teriak Arten.
Aluna segera tersadar dari lamunannya, dia langsung keluar. Arten yang melihat Aluna sangat terkejut. Sebab Aluna tanpa make up sudah begitu cantik, apalagi jika ditambah polesan maka akan semakin mempesona.
Arten sekilas tertuju pada bibir Aluna yang merona merah, akan tetapi pemuda itu sudah terlanjur dikuasai oleh kemarahan sehingga merasa gengsi untuk menyentuh Aluna.
"Ayo!" ajak Arten.
"Kita mau kemana?" tanya Aluna panik.
"Aku ingin kamu belajar, bagaimana cara membuat aku senang. Dengan begitu mungkin aku bisa berbaik hati lebih lembut padamu," jawab Arten menyeringai.
Senyuman Arten itu justru semakin membuat Aluna curiga.
Dan apa yang dicemaskannya itu terjadi, dia di bawa ke sebuah kasino dimana banyak orang-orang yang berjudi. Di sana juga bertebaran wanita yang cantik dan menggoda para pelanggan.
"Arten, kamu tidak berniat menjualku kan?" pekik Aluna sembari memegang lengan pemuda itu erat.
"Mungkin saja, sepertinya daya tarikmu bisa memilik harga jual tinggi," balas Arten santai.
"Tidak, lebih baik aku jadi pelayan di rumahmu saja. Aku bisa membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan lain," bujuk Aluna memohon.
Arten sangat menikmati wajah Aluna ketika memohon sepertimu itu. Tentu saja Arten hanya ingin membuat Aluna takut saja agar kedepannya Aluna bisa lebih patuh.
"Wah barang baru, sepertinya dia gadis polos. Tapi terlihat begitu enak."
Aluna sangat takut saat ada seorang pria yang melihatnya dengan tatapan menjijikkan. Aluna langsung bersembunyi di balik tubuh Arten dan memegang lengan pemuda itu semakin erat.
"Pergilah!" usir Arten.
"Aku mau gadis itu, berapapun harganya aku terima," bujuk lelaki itu.
"Arten, aku mohon jangan. Aku sangat takut sekali," rengek Aluna meneteskan air matanya.
"Sekarang hanya ada satu pilihan, kamu melayani aku atau melayani para pelanggan setiap harinya? Aku yakin pasti jika kamu di sini setiap saat antrian pelanggan banyak," tanya Arten.
Aluna tidak bisa berpikir lagi, jika dia dijadikan pekerja di sini bisa saja setiap hari dipaksa melayani puluhan lelaki.
"Melayanimu saja," jawab Aluna seketika.
Arten tersenyum, sebab taktiknya itu berhasil menakuti Aluna.
"Kalau begitu ayo langsung saja!"
Aluna mengikuti langkah Arten menaiki tangga. Di bawah khusus tempat perjudian, sedangkan di lantai dua lebih mirip hotel yang pastinya tempat untuk memuaskan nafsu.
Dan di ujung terdapat ruangan besar yang sepertinya adalah tempat pribadi untuk Arten.
Arten berbaring ke ranjang, akan tetapi Aluna tidak bereaksi apapun dan justru terdiam.
"Ayo, katanya kamu mau melayani aku," tagih Arten.
"Aku... Aku sungguh tidak tahu caranya. Aku beneran tidak tahu," jawab Aluna polos.
Arten kesal tapi ingin tertawa, pemuda itu lupa jika Aluna memang gadis suci yang belum pernah melakukan hal seperti orang dewasa.
Arten segera mengambil ponsel, Taka lama kemudian datang wanita dewasa yang sangat cantik dan bohay.
"Bos, lama sekali Anda tidak kemari," sapa wanita tersebut dengan suara manja.
"Glory, tolong ajari dia bagaimana cara memuaskan lelaki!" pinta Arten
Glory melirik ke arah Aluna dan tertawa lirih.
"Siap," jawab Glory sambil melepaskan seluruh pakaiannya.
Aluna menjerit melihat tubuh Glory yang tanpa sehelai benang.
"Aluna, jika kamu berani menutup matamu lagi maka aku akan membuat kamu bekerja di sini dan melayani para pelanggan!" ancam Arte.
"Jangan!" pekik Aluna takut.
Dengan terpaksa Aluna menyaksikan Glory yang sedang memuaskan Arten, sedangkan Arten hanya berbaring saja menikmati apa yang diberikan oleh Glory.
Semakin lama Arten mulai bereaksi dan mereka berdua semakin asyik bercinta tanpa menghiraukan Aluna yang sudah berkeringat dingin.
Mata dan kuping Aluna terasa pedih, apalagi ketika dia mendengar erangan Glory yang tampak begitu ketagihan.
Aluna gemetar ketakutan bagaimanapun juga ini pertama kalinya dia melihat hal senonoh seperti ini.
Di sisi lain Arten justru sibuk melirik ke arah Aluna yang tampak merona merah dan Salang tingkah sendiri. Setelah cukup lama bermain, akhirnya Arten dan Glory mencapai puncak kenikmatan bersama.
"Kamu masih sama hebatnya seperti biasanya, Glory," puji Arten puas.
"Senang hati bisa melayanimu, Bos," jawab Glory tersenyum bangga.
"Pergilah, aku masih ada urusan!" perintah Arten.
Glory segera memakai gaunnya kembali dan pergi dari ruangan tersebut dengan kepuasan.
Sedangkan Arten yang masih telanjang berbaring lagi dengan santainya.
"Aluna kemari!" ucap Arten.
Aluna menunduk sebab merasa malu sendiri melihat tubuh Arten.