bc

Bisikan Cinta Sang Suami

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
love after marriage
friends to lovers
submissive
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Di mata dunia, Gevano Arkatama (29 tahun) adalah sosok suami idaman—tampan, berotot, sukses, dan memiliki kesabaran setebal baja. Namun di mata Eirenne Rosania (21 tahun), pernikahan perjodohan bisnis ini tak ubahnya sebuah rantai besi yang merenggut kebebasan dan impian mewahnya. Sikap dingin, acuh, dan kata-kata beracun Eirenne selalu disambut Gevano dengan senyuman dan kelembutan. Hingga pada malam ulang tahun Eirenne yang ke-21, Gevano yang memegang kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun secara tulus justru menerima hantaman paling menyakitkan: Eirenne menghempaskan kue itu hingga hancur berantakan, membentaknya sebagai pria tua yang memuakkan, lalu melangkah pergi.Gevano yang berlutut di atas pecahan porselen hanya bisa berbisik lirih di dalam sepinya rumah... "Happy birthday, sayang.."Namun, kesabaran seorang pria tulus ada batasnya. Saat sebuah tragedi kecelakaan berdarah melanda, ingatan Gevano terkikis, dan tatapan lembut yang dulu selalu menyambut Eirenne berubah menjadi tatapan asing yang membeku. Di situlah Eirenne baru menyadari... betapa hancurnya dunia ketika bisikan cinta suaminya tak lagi terdengar.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Ikatan Bisnis dan Malam yang Membeku
Suara gemericik air hujan yang menghantam kaca jendela tebal berlantai tiga belas itu terdengar bagaikan dentangan nada yang sumbang di dalam keheningan malam. Di dalam ruang makan rumah megah bergaya modern-kontemporer tersebut, lampu gantung kristal memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, membiaskan bayangan dua sosok manusia yang duduk berseberangan di atas meja makan marmer sepanjang tiga meter. Di sudut meja sebelah kanan, Gevano Arkatama duduk dalam balutan kemeja kain linen berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga ke pertengahan siku. Pria bertubuh tegap berusia dua puluh sembilan tahun itu memiliki rahang tegas yang dihiasi oleh gurat ketampanan yang sangat matang. Bahunya yang lebar, dadanya yang tegap berotot, serta sepasang mata cokelat pekatnya yang memancarkan keteduhan, menjadikan Gevano sosok pria yang sempurna di mata siapa pun yang memandangnya. Namun malam ini, seluruh ketampanan, kekayaan, dan pesona luar biasa milik sang CEO muda Arkatama Group seolah tak memiliki nilai sedikit pun di mata wanita yang duduk di hadapannya. Eirenne Rosania. Gadis cantik berusia dua puluh satu tahun itu duduk kaku di kursinya. Kulitnya putih bersih bagaikan porselen mahal, dengan hidung mancung yang mungil, serta bibir tipis berwarna merah muda alami. Rambut hitam gelombangnya yang panjang dibiarkan terurai kaku menutupi sebagian bahunya yang terbuka. Eirenne benar-benar tampak bagaikan sosok bidadari yang jatuh ke bumi—sebuah keindahan visual yang sempurna, namun dibalut oleh dinding es yang begitu tebal, kaku, dan membeku. Di atas meja marmer di antara mereka, tiga piring hidangan makan malam bernuansa Barat yang diracik sendiri oleh tangan Gevano masih tertata rapi. Daging steak sapi panggang dengan saus lada hitam yang hangat, sup krim jamur yang mengepulkan uap tipis, serta salad sayuran segar. Gevano telah menghabiskan waktu dua jam di dapur seusai pulang dari kantornya hanya demi menyiapkan makan malam ini, berharap aroma hidangan yang lezat dapat membuka sedikit celah komunikasi di antara mereka. Namun, Eirenne bahkan tidak menyentuh garpu atau pisau pemotong di samping piringnya. Gadis itu hanya bersedekap d**a, memalingkan wajah cantiknya ke arah jendela luar yang dibasahi hujan, menatap titik-titik air yang meluncur di atas kaca dengan tatapan mata yang teramat dingin, kosong, dan acuh tak acuh. Gevano meletakkan garpunya dengan gerakan yang teramat pelan, memastikan dentangan logam tidak menimbulkan suara bising yang dapat mengganggu pendengaran istrinya. Pria tegap itu menghembuskan napas pelan, mengulas seulas senyuman manis nan lembut di bibirnya—sebuah senyuman tulus yang selama enam bulan pernikahan ini tidak pernah sekali pun hilang, walau setiap hari selalu dibalas dengan lemparan batu es. "Eirenne..." panggil Gevano dengan suara baritonnya yang rendah, empuk, dan penuh dengan nada kasih sayang. Eirenne tidak menoleh. Ia bahkan tidak menggerakkan matanya sedikit pun dari kaca jendela. "Sup krimnya masih hangat, sayang," lanjut Gevano sabar, mengulurkan tangan kanannya yang tegap ke tengah meja untuk menggeser mangkuk porselen sup hangat itu sedikit lebih dekat ke arah Eirenne. "Kamu belum makan apa-apa sejak siang tadi. Bibi Dira bilang kamu cuma minum segelas jus jeruk saat pulang dari kampus. Cobalah sedikit saja, nanti perutmu bisa sakit." Eirenne perlahan-lahan memutar kepalanya. Manik mata hitamnya yang bening menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Gevano. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa hormat, dan tidak ada pendar cinta sedikit pun di dalam mata bidadari itu. Yang terpancar di sana hanyalah kejengkelan yang mendalam, rasa tidak suka yang terang-terangan, serta keangkuhan yang membenteng tinggi. "Bisa berhenti berpura-pura peduli?" desis Eirenne. Suaranya terdengar sangat dingin, kaku, dan menusuk. Gevano tersentak pelan di tempat duduknya, namun senyuman lembut di bibirnya sama sekali tidak pudar. "Aku tidak berpura-pura, Eirenne. Aku memang suamimu, dan sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan kamu makan dengan baik." "Suami?" Eirenne terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang sangat menyakitkan. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja marmer, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan yang kasar di atas lantai. "Jangan pernah sebut kata itu di depanku, Gevano," gertak Eirenne dengan tatapan matanya yang tajam dan acuh. "Pernikahan ini cuma transaksi bisnis! Jangan mentang-mentang kamu sudah menyiramkan puluhan miliar rupiah untuk menyelamatkan perusahaan Ayahku yang hampir bangkrut, kamu bisa bersikap seolah-olah kamu adalah penguasa atas hidupku!" Kata-kata beracun itu meluncur begitu mudah dari bibir indah Eirenne. Setiap kalimatnya seperti sebilah pisau tak kasat mata yang menghantam ulu hati Gevano. Pria tegap itu mengepalkan jemari tangan kanannya di bawah meja, meresapi rasa sakit yang berdenyut di dalam dadanya. Ini bukanlah pertama kalinya Eirenne melontarkan ucapan sekejam itu. Sejak hari pertama mereka berdiri di depan penghulu enam bulan lalu, Eirenne telah menegaskan batas yang teramat jelas di antara mereka. Bagi Eirenne, pernikahan ini adalah sebuah bencana besar. Di usianya yang baru dua puluh satu tahun—usia di mana ia seharusnya menikmati masa-masa indahnya di bangku kuliah, berpergian bersama teman-temannya, dan mengejar impian mewahnya—ia justru dipaksa menikah oleh orang tuanya dengan seorang pria yang berusia delapan tahun lebih tua darinya. Tuan Rosania, ayah kandung Eirenne, terancam gulung tikar akibat krisis keuangan yang parah. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan putri cantiknya untuk dijodohkan dengan Gevano Arkatama, sang miliuner muda yang sanggup menyuntikkan dana tanpa batas demi menyelamatkan nama besar Rosania Group. Eirenne merasa dirinya diserahkan seperti sebuah barang dagangan. Ia merasa kebebasannya dirampas secara paksa. Dan seluruh kebencian, kejengkelan, serta kepahitannya atas nasib tersebut, ia tumpahkan sepenuhnya kepada satu orang: Gevano Arkatama, pria yang menerima pernikahan perjodohan ini dengan tangan terbuka. Gevano menghembuskan napas pendek, menahan gejolak emosi di dadanya dengan tingkat kesabaran yang luar biasa setebal baja. Pria tegap itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Eirenne dengan pandangan mata yang penuh keteduhan. "Aku tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai transaksi, Eirenne," ucap Gevano pelan, intonasi bicaranya tetap lembut tanpa nada bentakan sedikit pun. "Sejak awal Papa menyodorkan namamu, aku menerimanya bukan karena saham atau bisnis keluarga Rosania. Aku menerimanya karena aku bermaksud untuk menjagamu, menyayangimu, dan menjadi pendamping hidupmu." "Hentikan omong kosongmu!" bentak Eirenne tajam, matanya membelalak penuh kemurkaan. "Menjagaku? Menyayangiku?! Umurmu dua puluh sembilan tahun, Gevano! Kita berjarak delapan tahun! Kamu itu pria tua yang membosankan, kaku, dan memuakkan! Kamu pikir dengan wajah tampanmu, ototmu, dan uangmu yang berlimpah itu, aku bakal bertekuk lutut dan bertingkah seperti istri penurut di depanmu?!" Eirenne melangkah maju satu tapak, menunjuk d**a tegap Gevano dengan jari telunjuknya yang lentik. "Dengar ya, Gevano Arkatama!" tegaskannya dengan suara melengking yang memecah keheningan rumah. "Aku tidak pernah meminta untuk diselamatkan olehmu! Aku tidak pernah bersyukur atas uang yang kamu berikan pada Ayahku! Sampai kapan pun, sampai ajalku tiba, aku tidak akan pernah menerima kamu sebagai suamiku! Aku benci rumah ini, dan aku jauh lebih membenci keberadaanmu di sisiku!" Suara bentakan Eirenne bergema di seluruh sudut ruangan makan yang luas itu. Siapa pun pria lain yang berada di posisi Gevano—seorang CEO berkuasa yang dipuja di dunia bisnis internasional, pria berotot tegap yang bisa mendapatkan wanita mana pun di luar sana—pasti akan merasa harga dirinya terinjak-injak secara brutal oleh kata-kata kasar dari seorang gadis berusia dua puluh satu tahun. Pria biasa mungkin sudah akan memukul meja, membentak balik, atau menggunakan kekuasaannya untuk menundukkan ketidakpastian sikap istrinya. Namun Gevano tidak melakukan semua itu. Pria tegap itu tetap duduk mematung di kursinya. Wajah tampannya memang tampak memucat pelan, dan sepasang mata cokelatnya meredup oleh lapisan rasa sakit yang amat dalam, namun ia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kemarahan. Gevano justru melangkah berdiri secara perlahan dari kursinya. Pria bertubuh tinggi tegap itu mengikis jarak di antara mereka, menghentikan langkah kakinya dua tapak di depan Eirenne. Aura keberadaan Gevano yang tegap dan dominan seketika melingkupi Eirenne. Bau wangi parfum beraroma kayu cendana dan musk yang khas dari tubuh Gevano menyeruak tajam, masuk menembus indra penciuman Eirenne. Eirenne mendongakkan kepalanya, memasang raut wajah penuh tantangan, seolah-olah ia siap menghadapi bentakan atau kemurkaan yang mungkin saja meledak dari suaminya. Namun, yang dilakukan Gevano justru di luar dugaan Eirenne. Pria tegap itu perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang teramat lembut, penuh kehati-hatian seolah-olah ia sedang menyentuh sebuah porselen yang sangat rapuh, jemari tegap Gevano merapikan helai rambut hitam Eirenne yang berantakan di dekat pelipisnya, menyelipkannya secara halus ke belakang telinga Eirenne. Sentuhan hangat dari telapak tangan Gevano seketika membuat kulit wajah Eirenne meremang pelan. "Jangan berteriak seperti itu, sayang..." bisik Gevano dengan suara baritonnya yang teramat halus, rendah, dan menenangkan. "Tenggorokanmu bisa sakit. Udara malam ini sangat dingin." Eirenne membeku kaku di tempatnya berdiri untuk beberapa detik, matanya membelalak tak percaya menatap raut wajah Gevano yang tetap memancarkan kelembutan murni tanpa ada sisa-sisa dendam atas bentakannya tadi. Rasa jengkel di d**a Eirenne seketika meledak kembali akibat gengsi yang tinggi, gadis itu menepis tangan Gevano secara kasar dari wajahnya. TAK! Suara tepisan tangan Eirenne bergaung lumayan keras. Tangan tegap Gevano terhempas ke udara, namun pria itu tidak memprotes sedikit pun. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" gertak Eirenne penuh jijik, melangkah mundur dua tapak menjauhi Gevano. "Aku mau ke kamar! Dan ingat, jangan berani-berani kamu masuk ke kamarku malam ini! Kalau aku melihatmu ada di sekitar lorong kamar tidurku, aku akan mengunci pintu dari dalam dan tidak akan pernah keluar lagi!" Tanpa menunggu balasan kata dari Gevano, Eirenne membalikkan badannya secara kasar. Langkah kaki berhak tingginya menghentak keras di atas lantai marmer, melangkah tergesa-gesa menyusuri tangga melingkar menuju ke lantai dua, meninggalkan area ruang makan dengan emosi yang membumbung tinggi. Brak! Suara pintu kamar di lantai dua terdorong dan tertutup kencang, disusul oleh suara putaran kunci dari dalam yang bergema memotong keheningan malam. Di ruang makan berlantai bawah, keheningan yang amat pekat kembali merayap turun. Gevano berdiri sendirian di tengah ruangan yang luas dan dingin itu. Pria bertubuh tegap itu menatapi jemari tangan kanannya yang baru saja ditepis secara kasar oleh istrinya. Ujung jarinya masih menyimpan kehangatan tipis dari kulit pipi Eirenne—sebuah rasa hangat yang teramat singkat sebelum berganti menjadi rasa dingin yang menusuk ulu hati. Gevano perlahan-lahan memejamkan sepasang mata cokelatnya kencang-kencang. Helaan napas yang sangat berat, serak, dan penuh dengan keputusasaan yang tertahan terhembus perlahan dari bibirnya. Pria tegap itu mengusap wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya, meremas rambut hitamnya yang tertata rapi hingga sedikit berantakan. Rasa lelah yang teramat pekat menyergap seluruh persendian tubuhnya. Bukan rasa lelah akibat menumpuknya berkas pekerjaan di kantor Arkatama Group, melainkan rasa lelah jiwa akibat memendam cinta sendirian di dalam sebuah rumah tangga yang dingin bagaikan neraka es. "Tuhan..." bisik Gevano serak. Suaranya meluncur sangat tipis, menghilang di dalam sepinya ruang makan. "Kuatkan hatiku... Berikan aku kesabaran yang lebih besar lagi untuk menjaga wanita itu..." Pria tegap itu kembali membuka matanya, pandangannya jatuh pada tiga porsi hidangan makan malam di atas meja marmer yang kini sudah mulai mendingin total. Sup krim jamur yang ia racik dengan penuh harapan kini memadatkan lemaknya di permukaan porselen, sama seperti hati Eirenne yang kian membeku kaku dari hari ke hari. Gevano melangkah pelan mendekati meja makan. Tanpa ada raut wajah marah atau dendam, pria tegap berotot itu mulai membereskan piring-piring tersebut satu per satu. Ia membawa mangkuk-mangkuk keramik itu ke tempat cuci piring di dapur, menyalakan kran air dingin, dan membersihkan seluruh peralatan makan itu sendirian dengan telaten. Tidak ada pembantu rumah tangga yang bertugas di malam hari, karena Gevano selalu menginginkan privasi yang hangat bagi pernikahan mereka. Namun kehangatan itu hanyalah sebuah ilusi yang ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya. Seusai membersihkan dapur hingga mengilap, Gevano berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setiap tapak langkah kakinya terasa begitu berat, membawa beban duka yang tersembunyi di balik senyuman bahagianya di depan umum. Gevano menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar tidur utama—kamar tidur tempat Eirenne mengunci dirinya dari dalam. Pria tegap itu berdiri mematung di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat. Ia menyandarkan dahi tegapnya pada permukaan kayu pintu yang dingin, memejamkan matanya seraya mendengarkan keheningan di dalam kamar. Dari balik pintu, tidak ada suara apa pun. Eirenne mungkin sudah berbaring di atas tempat tidur empuknya, menatap langit-langit kamar dengan rasa benci yang masih menyala pada suaminya. Gevano mengangkat tangan kanannya, mengelus permukaan kayu pintu kamar istrinya dengan kelembutan yang teramat suci. "Selamat malam, sayang.." bisik Gevano pelan di depan pintu kamar yang terkunci. Suaranya bergetar halus di tengah hembusan angin hujan di luar rumah. "Mimpi indah ya... Jangan lupa pakai selimutmu yang tebal, udara malam ini sangat dingin." Gevano menarik kembali tangannya, pria tegap itu mengulas seulas senyuman tipis yang sangat redup dan memilukan. Dengan langkah kaku, Gevano membalikkan badannya, melangkah menelusuri lorong yang remang-remang menuju ke kamar tamu kecil di ujung lorong—kamar dingin yang telah menjadi tempat peraduannya selama enam bulan terakhir, tempat di mana sang CEO menyembunyikan rasa sakit hati dan tangisan bisunya di dalam kegelapan malam. Pernikahan perjodohan ini baru saja dimulai, dan di tengah dinding es yang tak tertembus, Gevano Arkatama terus melangkah maju dengan kesabaran tanpa batas—menawarkan seluruh cinta dan jiwanya kepada seorang wanita yang bahkan tidak sudi menyebut namanya sebagai seorang suami.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
603.8K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
903.6K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook