"Sayang! Pakai bajumu. Kita kedatangan tamu." teriak Aksa begitu penampakan Miko mengisi ruang di depan pintu apartement Risa dengan dua bungkus bubur ayam.
Orang bilang, mengawali pagi dengan baik sangat penting karena itu kaan menentkan sisa hari yang akan kaujalani. Miko sebelumnya tidak peduli bagaimana caranya ia terbangun dari tidur setelah malam panjang dan mengawali pagi dengan apapun yang bisa membuat hari 'kan terasa menyenangkan. Tapi tidak hari ini. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan berolahraga, merapikan rumah hunian yang lebih mirip gudang miliknya, bahkan menyapa tetangga.
"Selamat pagi." sapa Miko tersenyum ramah pada tetangganya yang baru saja akan berangkat kerja.
"Kau bicara padaku?" tanya seorang pria yang bergaya klimis itu sembari menunjuk dirinya sendiri. Mungkin tidak meyangka Miko menyapanya mengingat hubungan mereka hanya sebatas teman penghabis malam dan menjadi orang asing begitu pagi menjelang.
"Aku bicara pada pikiran kotor di dalam otakmu."
"HAHA! Lucu sekali."
Miko membuang muka begitu pria klimis tersebut menyambut keramahannya dengan kurang baik. Jimny kesayangan pria itu berhenti tepat di halaman depan Miko.
"Selamat pagi juga, tetangga." ujarnya yang terlanjur tidak berarti bagi Miko.
"Kau bicara padaku?" balas Miko dengan mimik mencomooh.
"Aku bicara pada pohon pisang plastik itu." jawab pria bernametag Agung tersebut ketika menunjuk tanaman hias yang sedang Miko siram. Ia segera menaikkan kaca jendela mobil begitu selang di tangan Miko mengarah padanya.
"Karena hari ini aku senang, kau kumaafkan. Ck." rutuk Miko menyelesaikan sesi siram menyiram begitu Agung menghilang dari jarak pandangnya. Setelah menyelesaikan semua rutinitas yang hanya bisa ia kerjakan tiga bulan sekali itu, Miko mengerutkan dahinya ketika waktu masih belum juga beranjak dari pukul 6 pagi.
Hari ini ia berencana untuk menemui Risa lagi. Motivasinya hanya ingin memastikan apakah Risa benar-benar telah sembuh atau sedang menghukumnya. Namun motivasi itu terlalu sederhana untuk semua persiapan berelebihan yang ia lakoni saat ini.
"Apa aku terlalu rapi?" gumamnya mengoreksi penampilan sendiri di depan cermin. Setelah kemeja dengan celana bahan ala-ala pekerja kantor itu membuatnya meringis juga malu. Mau ketemu Risa saja jadi salah tingkah begini, pikirnya.
Bahkan ketika Miko telah tiga kali berganti pakaian dan memutuskan memakai celana cargo selutut berpadu kaos hitam polos andalannya, hari belum juga bergeser. Miko sempat curiga bahwa jam di rumahnya rusak, tapi teriakan penjual bubur ayam keliling yang memang selalu lewat sekitar jam 6 pagi itu mematahkan asumsi tak berdasarnya. Pria itu menimbang-nimbang apakah ia akan menunggu sedikit lebih siang sebelum menjemput Risa atau mencari alasan lain untuk segera bertemu.
Dan di sinilah ia sekarang. Di ruang makan yang didominasi warna putih bersama dua sejoli yang menyakitkan mata, atau lebih tepatnya membuat Miko merasa iritasi melihat kemesraan yang sengaja Aksa pamerkan di hadapannya.
Pria cantik itu membuatnya terkejut bukan main tadi. Niatnya ingin mengajak Risa sarapan bersama memanglah terlaksana, tapi harusnya tidak bersama Aksa. Pria itu berulang kali bertingkah manja kepada Risa, meski Risa tidak selalu meladeninya, Miko tetap merasa kesal.
"Well, aku tidak menyangka hubungan kalian sejauh ini." bukanya setelah menghabiskan sarapan. Risa melirik Aksa sejenak, memastikan bahwa prianya tidak memikirkan sesuatu untuk memancing perekelahian kekanakan yang sering ia jumpai jika kedua manusia tersebut dalam lingkaran yang sama.
"Jadi, menurutmu selama tiga tahun aku hanya memegang tangannya?" balas Aksa disertai seringai kecil, Risa berdecak malas mendengar jawaban Aksa. Kekanakan. mereka sama sekali tidak pernah melewati batas berpegangan tangan dan pelukan, Aksa mungkin sesekali menciumnya tapi itu sangat jarang terjadi. hubungan mereka lebih terfokus pada pemulihan diri masing-masing.
"Luar biasa. Sangat di luar dugaan." sambut Miko tidak melepaskan tatapannya dari Risa yang sibuk mematut bayangan kakinya sendiri.
Aksa mengangguk bangga seraya merangkul Risa dengan sebelah tangannya, mengusap bahu perempuan itu juga tidak melepaskan pandangannya dari sorot penasaran Miko pada Risa.
"Dan apa yang kau lakukan di rumah kekasih orang sepagi ini?"
Miko mengalihkan pandangan kepada Aksa yang kini tersenyum miring padanya, seolah mencela niat murninya yang tentu saja tidak 100% benar.
"Aku ingin mengajak kawan lamaku untuk sarapan bersama sebelum berangkat kerja." jawabnya begitu menekankan kata 'kawan lama' pada Aksa. Pria cantik di hadapannya itu baru saja akan membuka mulutnya tatkala deringan panggilan menjeda. Risa menghela napas dengan lega.
Go Home
Aksa menoleh pada Risa begitu melihat panggilan masuk di ponselnya, perempuan itu menepuk punggung tangan Aksa pelan sebagai izin untuknya pergi memenuhi panggilan tersebut. Aksa tersenyum dan mengecup dahi Risa sebelum beranjak meninggalkan perempuan itu bersama dengan Miko yang sedari tadi memperhatikan tiap gerak-gerik mereka.
Sesi sarapan berakhir begitu Aksa meninggalkan apartement Risa. Dan kini Miko tengah menunggu Risa yang katanya akan mempersiapkan diri terlebih dulu di dalam mobil. Bayangan tentang bagaimana Risa dan Aksa menghabiskan malam bersama benar-benar mengusiknya. Tanpa alasan yang pasti, Miko mulai berdecak kesal dan merutuki diri sendiri.
"Kau sedang apa?" tegur Risa yang tanpa Miko sadari sudah duduk di sampingnya. Pria itu menatap Risa dalam diam, menganalisa tiap inci dengan rinci. Risa menahan napasnya seketika, aroma hutan pinus itu masih sama dengan yang ia cium pertama kali dari Miko 9 tahun yang lalu. Bedanya, Risa tidak lagi merasa tenang ketika membaui aroma Miko. Perempuan itu justru menjadi gugup. Gerakan tiba-tiba Miko yang memasangkan sabuk pengaman padanya dengan sekilas itu justru terasa begitu lama bagi Risa, belum lagi tatapan menuduh Miko yang ia tidak tahu tentang apanya.
"Hari ini rapat besarnya dimulai sebelum makan siang. Kau mau kemana?" tawar Miko setelah mobilnya melaju membelah jalanan. Risa masih menatap layar ponselnya dengan kebingungan. Entah karena pertanyaan Miko atau isi pesan dari Aksa yang baru saja masuk. Perempuan itu memandangi jendela sepanjang jalan, enggan berbicara.
Miko menghela napas, lelah menanggung rasa penasaran yang memburunya dengan berbagai pertanyaan. Pria itu berulang kali mencuri pandang pada perempuan di sebelahnya kemudian mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Ada apa?" buru Risa begitu Miko menepikan mobilnya dengan tiba-tiba. Raut terkejut juga cemas samar Miko dapati dari suara pelan perempuan itu.
"Aku penasaran tentang satu hal." ucap Miko gamang. Kata-kata yang telah berada di ujung lidah itu lenyap begitu tatapan kosong manik cokelat Risa menabraknya. "Lupakan saja." imbuhnya kembali menjalankan mobil.
"Kau ingat toko Paparoti?" Miko melarikan ekor matanya pada Risa saat mendengar pertanyaan perempuan itu yang masih memandangi jendela. "Kudengar dia buka cabang di sekitar sini. Bisa kita singgah sebentar?"